Yes, Boss

Yes, Boss
Trik Murahan



"Oh, bayiku... Aku merindukanmu," Jillian membanjiri wajah bayi laki-laki yang langsung menyambutnya dengan ocehan tidak jelas juga semburan ludah kemana-mana.


"Ya, ya, Mom tahu jika kau juga merindukanku. Apa dia rewel?" Jillian bertanya kepada Maria, wanita berusia 23 tahun yang bekerja sebagai pengasuh Sal, bayi tampannya.


"Dia pria yang baik, Sal merengek saat dia merasa haus dan lapar. Sisanya dia hanya mengoceh sambil memukul-mukul album yang menampilkan fotomu. Sal sangat merindukanmu. Omong-omong, kemarin Daisy menghubungimu sebanyak dua kali."


Sal masih saja mengoceh, ocehan yang dianggap Jillian sebagai hiburan yang sangat manis. Wanita itu tertawa, bukan hanya bibirnya yang terbuka lebar, tapi juga kedua mata tajamnya berbinar cerah. Bersama Sal, Jillian terlihat lebih hidup. Tidak kaku dan sinis seperti yang terlihat di hadapan Shane. Tidak ada senyum pura-pura sama sekali. Di hadapan Sal senyumnya muncul dengan natural dan tulus apa adanya.


"Aku akan menghubunginya nanti. Sal sudah sarapan?"


"Ya, aku hanya belum memandikannya."


"Aku yang akan memandikannya. Tolong siapkan pakaiannya, Maria." Jillian membawa bayi menggemaskan itu ke lantai dua, ke kamarnya.


Rumah itu terdiri dari empat kamar. Satu kamar, dulu ditempati orang tua mereka. Satu kamar untuk dirinya dan Daisy, satu kamar untuk Noah dan satu kamar yang tersisa untuk pelayan. Tapi kini, hanya dua kamar yang dipakai. Kamar Noah dan kamar pelayan. Ya, sejak dua tahun yang lalu, Jillian menempati kamar Noah.


Sampai di kamarnya, Jillian menarik napas panjang, foto Noah dengan ukuran yang cukup besar langsung menyambutnya.


"Hai," Jillian mengangkat tangan mungil Sal untuk melambai ke foto pria itu. "Merindukanku?" senyum menggoda mengembang di wajahnya yang cantik, tapi matanya memancarkan kesedihan. "Aku dan Sal akan mandi, jangan coba-coba mengintipku, Noah."


Jillian membawa Sal ke bilik toilet, mengajak Sal berbincang. Tepatnya, ia mengadu tentang apa yang sedang ia alami selama 48 jam terakhir.


"Dia pria licik yang sangat tampan." Hinaan dan pujian ia sandingkan dalam satu kalimat. "Aku minta maaf karena harus meninggalkanmu selama dua hari. Namanya Shane Hamilton Torres. Benar-benar pria yang sangat menyebalkan. Mom tidak ingin kau seperti dia, jadilah seperti Noah, pria tampan yang sangat baik hati. Noah pria idamanku, Sayang." Kini tubuh Sal sudah polos tanpa sehelai benang. Jillian memasukkan tangannya ke dalam bak mandi, mengukur suhu air. Kemudian ia dan Sal masuk ke sana. Sal langsung merasa bahagia, mandi dengan cara seperti ini memang favoritnya Sal.


"Dia hanya memberiku waktu tiga jam sebelum kembali ke kantornya. Tapi nanti malam, kita akan tidur bersama lagi. Kau senang?"


****


Sosok anggun itu melangkah keluar dari pintu putar bersama rekan kerjanya. Jillian terlihat menikmati obrolannya bersama temannya tersebut. Shane bertanya-tanya bagaimana rupa wanita itu jika sedang tersenyum dengan tulus? Selama dua hari ini, yang Shane lihat dari seorang Jillian adalah topeng kepalsuan. Satu-satunya kejujuran wanita itu terhadapnya adalah tentang betapa benci Jillian terhadapnya.


Benar, jika Daisy ada di atas ranjangnya. Masalah ia tidur dengan Daisy, ia yakin bahwa ia tidak menyentuh gadis itu. Shane tidak sembarang menyentuh wanita. Remaja jelas tidak ada dalam listnya. Hanya ada dua jenis wanita yang ia ladeni. Wanita dewasa yang membuatnya tertarik dan wanita yang ia benci. Ia akan menikmati malam menyenangkan bersama wanita yang menurutnya menarik atas dasar suka sama suka dan ia akan membuat wanita yang ia benci meminta ampun. Dan selama ini, ia lebih sering berurusan dengan wanita yang ia benci, wanita sampah yang murahan. Lalu, apa yang membuatnya berdiri di sini, di depan kantor Jillian? Seumur hidupnya, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Menunggu dan menjemput. Di manakah posisi Jillian sebenarnya? Wanita yang membuatnya tertarik atau wanita yang ia benci?


Jillian belum menyadari kehadirannya. Waktu tiga jam yang diberikan Shane kepadanya, berakhir hingga enam jam. Wanita itu menghubunginya dan meminta waktu agar Jillian bisa menyelesaikan masalahnya di kantor redaksinya.


Rekan kerja Jillian lah yang pertama kali menyadari kehadiran Shane yang berdiri di samping mobil mahalnya. Wanita itu menganggukkan kepala sementara tangannya menyikut Jillian untuk memberi kode.


Mata mereka akhirnya beradu. Shane tersenyum seraya melambaikan tangan untuk menyapa. Jillian tidak membalas senyuman ataupun lambaian tangannya. Ya, Shane sudah menduga hal itu.


Ia melihat Jillian berbicara kepada rekannya, kemudian keduanya saling melambaikan tangan dan Jillian berjalan menuju ke arahnya.


"Ini kejutan yang menyenangkan," katanya begitu berada di dekat pria itu. Suaranya terdengar datar, sementara wajah cantiknya terlihat lelah.


Shane kembali tersenyum, matanya menyapu penampilan Jillian. Ada rasa senang yang tidak bisa ia jelaskan menyusup ke dalam sanubarinya. Sejak Jillian meninggalkan rumahnya tadi pagi, pikirannya tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan wanita itu. Wajah Jillian memenuhi benaknya sepanjang hari dan jantungnya terus saja berulah. Kini, setelah Jillian berdiri di hadapannya dengan wajah flat, jantungnya semakin berulah, bertalu-talu tidak karuan.


Angin meniup rambut Jillian, membuat beberapa helai menutupi wajah wanita itu. Shane mengulurkan tangan mengembalikan. rambut tersebut ke balik telinga Jillian yang halus. Jemarinya tanpa sengaja menyentuh daun telinga Jillian. Wanita itu tersentak tapi tetep bergeming di posisinya.


"Aku memikirkanmu sepanjang hari," akunya dengan jujur dan ia senang melihat reaksi Jillian yang melebarkan mata mendengar pengakuannya.


Setelah jam makan siang, ia tidak berhenti melirik jam tangannya, tidak sabar untuk menantikan pertemuan ini. Sepanjang hari ia juga memikirkan cara membersihkan reputasi bisnisnya tentang penggelapan dana yang ia lakukan. Untuk sementara, ia akan membiarkan Jillian tetap bekerja di sebagai jurnalis. Wanita itu sendiri yang nanti akan membersihkan namanya dengan tulisan ajaibnya dan semua media akan mempercayainya. Sesederhana itu sebenarnya karena kantor redaksi tempat Jillian bekerja memang perusahaan yang berbobot. Berita yang mereka terbitkan akan diikuti perusahaan lainnya.


Setelah semuanya selesai, ia akan meminta Jillian kembali ke sisinya dan mencari tahu apa sebenarnya yang ia rasakan. Karena hingga detik ini, ia belum menemukan jawaban di mana ia pernah bertemu dengan Jillian selain di depan kantor kepala sekolah. Shane yakin dan sangat yakin bahwa pertemuan di sekolah bukan satu-satunya pertemuan yang pernah terjadi diantara mereka dan yang membuatnya bingung, mengapa ia begitu terusik?


"Ini mungkin akan terdengar sangat gila, tapi bagaimana jika kita makan di luar malam ini?"


Jillian kembali melebarkan matanya sebelum akhirnya ia mengerjap selama berulang kali. "Kau sehat?"


"Sangat sehat dan bugar."


"Ini memang sangat gila."


"Ya, tapi aku tidak ingin mendengar penolakan."


"Aku bukan budakmu lagi."


"Tapi kau tawananku, Jilly. Satu bulan, aku akan memberi kebebasan kepadamu selama satu bulan untuk membersihkan reputasi bisnisku. Tapi ada beberapa hal yang harus kita bicarakan. Dan kurasa tidak ada salahnya kita membahasnya sambil makan bersama."


"Aku tidak makan malam."


"Ini masih sore."


"Aku menolak untuk pergi denganmu."


"Jangan memancingku untuk menyerahkan rekaman ini kepada..."


"Baiklah. Aku juga sedikit sangat lapar. Tapi aku harus mandi terlebih dahulu. Sebutkan saja nama restorannya, kita akan bertemu di sana tepat jam tujuh malam."


"Aku akan mengantarmu ke rumahmu dan menunggumu bersiap."


"Rumah kita tidak searah, kau tidak perlu melakukannya."


"Aku tidak peduli walau pun tidak searah. Masuklah," Shane membuka pintu lebar-lebar. Tidak memberi celah bagi Jillian untuk menolak. Ia juga sengaja melantangkan suara agar rekan kerjanya yang hilir mudik mendengar percakapan mereka yang sesekali menatap penuh penasaran ke arah mereka. Siapa yang tidak mengenal Shane.


"Bagaimana harimu?" Shane bertanya begitu mobil mulai melaju.


"Cukup melelahkan."


"Ya, aku bisa melihatnya."


"Kami membahas tentangmu."


"Oh yeah?"


"Hmm, aku mengatakan kepada mereka bahwa informasi yang kudapatkan tentangmu ternyata salah."


"Mereka percaya begitu saja?"


Jillian menganggukkan kepala.


"Wah, kau pembohong yang sangat profesional."


Jillian memilih untuk tidak menanggapi ledekannya.


"Kenapa kau menjemputku?" setelah diam beberapa saat, Jillian bertanya.


"Aku sudah mengatakannya tadi, aku memikirkanmu."


"Kau membuatku dalam masalah. Besok mereka akan berbondong-bondong melayangkan pertanyaan kepadaku."


"Lalu apa masalahnya?"


"Tidak akan ada masalah jika pria yang menemuiku bukan seorang Shane Hamilton Torres."


Shane tergelak, "Apa yang berbeda dariku? Aku pria single begitu pun denganmu. Kurasa pertemuan seperti ini sangat normal."


"Aku tidak ingin namaku tercatat dalam sejarah."


"Tercatat dalam sejarah?"


"Sebagai salah satu dari deretan para mantanmu."


"Astaga!"


Jillian menatapnya dengan kengerian yang berlebihan.


"Apakah aku sebegitu buruknya di matamu, Jilly."


"Ya," sahut Jillian dengan ringkas. "Kau bisa menurunkanku di sini."


Shane menghentikan mobilnya. Matanya memindai sekitar, mencoba menebak di mana rumah Jillian.


"Aku ingin ke super market." Jillian menunjuk bangunan di depan mereka. "Ada beberapa hal yang ingin kubeli."


"Aku akan menemanimu."


"Tidak perlu."


"Apakah ini caramu agar aku tidak tahu kau tinggal di mana?"


Wajah Jillian merona merah, tudingan Shane ternyata tepat sasaran. Ya, Jilly tidak ingin Shane menginjakkan kaki ke rumah mereka.


"Salah satunya. Aku tidak suka pria mendatangi rumahku. Terutama pria sepertimu."


Shane lagi dan lagi tertawa meski ia sedikit tersinggung dengan pernyataan terus terang Jillian.


"Jangan membenciku berlebihan," Shane mengulurkan tangan menyentuh pipi Jillian. "Tidakkah kau pernah mendengar bencilah musuhmu sekedarnya saja. Karena yang berlebihan bisa berubah haluan menjadi cinta. Bisa bahaya jika kau jatuh cinta kepadaku, Jilly." Tubuh Jillian berubah kaku di bawah sentuhannya. Ia mengira, Jillian akan menyentakkan tangannya dengan penuh amarah.


Jillian menatap Shane dengan lekat. Jantung Shane jungkir balik saat melihat pantulan dirinya di manik indah itu. Lalu terdengar suara Jillian dengan begitu sangat menggoda. Serak dan terengah.


"Sepertinya kau menderita penyakit yang kusebut dengan delusi pria kaya."


"Oh yeah? Apa itu?" Shane membelai pipi Jillian dengan ibu jarinya. Wajah Jilly sangat mulus.


"Sindrom yang membuat penderitanya berpikir bahwa mereka sangat menarik dan menggoda. Kekayaan mereka adalah daya tarik bagi banyak wanita. Para penderita sindrom ini mengira semua wanita akan tertarik pada mereka. Kau termasuk salah satunya, Shane." Jillian menarik tangan Shane dari pipinya. "Kau memamerkan tubuhmu yang indah secara berulang kali di hadapanku. Menatapku dengan tatapan sendu mematikan, merayuku dengan suaramu yang berat dan seksih." Kini Jillian meletakkan tangannya di pipi Shane.


Shane praktis memejamkan mata. Jantungnya semakin menggila.


"Kau harus mengerti, Shane, tidak semua wanita terdorong ingin menelanjangi diri mereka di hadapanmu." Jillian menyurukkan tangan ke rambut Shane. Wanita itu juga mencondongkan tubuh hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.


"Trik semacam ini tidak berlaku padaku, Shane." Jillian berbisik di atas bibir Shane. Andai Shane bergerak sedikit saja, bibir mereka sudah pasti menyatu. Shane bisa merasakan hembusan napas Jillian yang terasa sangat manis di kulitnya dan sangat menikmatinya. Percikan-percikan kecil menjalari dirinya hingga tubuhnya menghangat.


"Aku tidak menginginkanmu. Jadi berhentilah menggunakan trik murahan seperti ini kepadaku." Jillian memundurkan tubuhnya dan segera keluar dari mobil."