Yes, Boss

Yes, Boss
Dia Sakit?



Jillian baru melihat dan menyaksikan secara langsung ada spesies pria seperti Shane Hamilton Torres. Pria yang tahan berjemur hingga berjam-jam lamanya. Pria yang bertingkah layaknya bayi yang harus dilayani segala sesuatunya. Pria itu tidak membiarkannya sama sekali untuk beristirahat. Benar-benar pria egois yang sangat penyiksa.


Ia benar-benar dibuat heran dan terkejut bahwa seorang Shane Hamilton Torres adalah pria yang sangat pemalas dan juta manja. Jilly benar-benar tergoda ingin membuat sebuah artikel yang menyebut jika seorang Shane Hamilton Torres tidak lebih dari seorang bayi raksasa yang sangat rewel dimana pria itu masih membutuhkan seseorang untuk membuka kulit anggur yang ingin dinikmati. Apa susahnya menelan kulit anggur beserta buahnya? Jilly melakukan itu seumur hidupnya dan tidak merasakan ada sesuatu yang salah di dalam tubuhnya.


Haruskah aku membuat artikel seperti itu untuk merusak reputasinya? Kurasa tidak akan ada yang percaya dengan hal itu. Sama sepertiku yang juga masih sulit mempercayai bahwa dia sosok pria yang benar-benar menjengkelkan juga menjijikkan!


Jillian memasuki kamar dan melintasinya begitu saja menuju toilet. Begitu ia menggeser pintu, ia dibuat terpaku dengan penampilan kamar mandi. Ruangan itu begitu besar. Lebih besar dari kamar tidur juga toilet yang ditempati Jillian. Memiliki pancuran yang juga lebih besar dari miliknya. Bak mandi raksasa yang mampu menampung empat manusia dewasa seukurannya tanpa perlu berdesak-desakan.


Tidak ingin berlama-lama terpesona dengan kamar mandi yang bagaikan toilet pada zaman kekaisaran, Jilly mengambil sabun dan menuangkannya ke dalam bak mandi. Aroma menyengat yang begitu tajam tapi hangat, seketika memenuhi kamar mandi. Terkahir, ia mengatur suhu air, sengaja ia buat lebih dingin.


Biarkan pria itu membeku kedinginan!


Pun ia segera beranjak, mengeringkan tangan ketika bak sudah penuh dengan air dan buih tebal.


Jillian keluar dari dalam toilet dan untuk kesekian kalinya ia dibuat terpaku di tempat. Kali ini bukan karena terpesona dengan betapa indahnya desain rumah Shane, tapi karena pria itu sendiri.


Shane sedang menanggalkan pakaiannya dengan posisi memunggungi Jillian. Pria itu sedang manarik kausnya melewati kepala hingga otot-otot lengan dan bahunya terlihat.


Jillian merasa sangat berdosa menyaksikan hal itu, tapi ia juga merasa sangat kesal kepada Shane. Shane jelas tahu dia ada di sana, lantas mengapa pria itu membuka baju seenak jidatnya?


Apakah ia ingin pamer otot di hadapanku?


"Airmu sudah siap pakai." Jillian sangat mengagumi keahliannya dalam mengatur nada suaranya agar tetap terdengar santai dan tenang.


Perlahan Shane memutar tubuhnya. Jillian berani bertaruh bahwa pria egois itu sengaja berbalik dengan bergaya untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Jilly mencibir dalam hati. Shane boleh saja tampan dan menawan, tapi rasa bencinya terhadap pria itu lebih besar dari kekagumannya yang tidak sudi untuk ia ungkapkan. Mengagumi salah satu ciptaan Tuhan adalah hal yang normal asal tahu batasan. Jilly meyakinkan dirinya, bahwa yang ia kagumi dari pria itu tidak lebih karena Shane adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi fisik yang indah.


"Oh, kau di sini rupanya?" Shane meremaas kausnya menjadi bentuk sebuah bola dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor.


"Di mana lagi aku berada saat kau yang memintaku menyiapkan air mandi untukmu."


"Kupikir kau sudah selesai. Aku tidak mendengar ada suara."


"Lain kali aku akan bernyanyi sambil mengisi bak mandimu, Mr. Torres." Sumpah demi apa pun, Jilly sudah merasakan pegal luar biasa di pipinya, tapi ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum. Segala sesuatu yang ia kerjakan harus dilakukan secara riang gembira!


"Ide yang sangat bagus," Shane menjentikkan jarinya seraya melintasi ruangan. "Setelah kau menyiapkan pakaianku, kau pergilah mandi dan setelah itu kita akan makan malam."


Ternyata pria itu masih ingin kulayani di meja makan. Ya, jika aku tidak melayaninya, siapa yang akan menyiapkan serbet untuknya.


Jillian masih ingat jika tadi pagi, Shane membutuhkan begitu banyak serbet saat sedang sarapan. Jika Jillian tidak salah menghitung, ia memberikan tujuh serbet kepada pria itu.


Dengan menghentakkan kaki, Jilly melangkah menuju lemari pakaian. Mengeluarkan pakaian santai. Saat ia menarik asal pakaian Shane, sebuah map cokelat terjatuh di lantai.


Jillian mengerutkan keningnya, ia memungut kertas tersebut. Tergoda ingin melihat isinya, tapi nalurinya menolak.


Jika aku terus mengikuti naluriku, kapan misi ini akan berakhir.


Jillian berperang dengan hati dan logikanya dan pada akhirnya ia memilih logikanya.


Mengabaikan nalurinya yang diserang rasa bersalah, Jillian menarik isi map tersebut. Berharap semoga isinya bisa ia manfaatkan untuk meruntuhkan masa kejayaan pria itu. Satu-satunya alasan yang membuat Jilly tetap bertahan walau pipinya merasakan pegal luar biasa adalah bayangan senyuman jahil di wajah angkuh Shane menghilang selamanya.


Membayangkan hal itu, kedua sudut bibir Jillian terangkat. Membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan. Senyum di wajah Jillian sirna seketika begitu membaca tulisan di bagian atas kertas yang ia genggam. Nama sebuah rumah sakit tertulis di sana.


Apakah dia sakit?


Jilly mengurungkan niatnya untuk membaca isi kertas itu lebih lanjut. Jika ia ingin menghancurkan Shane, baik itu karir dan reputasinya, ia tidak ingin mundur hanya karena mengetahui riwayat kesehatan pria itu. Lebih baik ia tidak mengetahui tentang kesehatan Shane daripada nanti nalurinya tersentuh dan merasa kasihan.


Jillian kembali memasukkan kertas ke dalam amplop tersebut dan menjejalkannya ke dalam lipatan pakaian.


Jillian meletakkan pakaian Shane di atas ranjang, pikirannya masih menebak-nebak, kira-kira apa penyakit yang sedang diidap seorang pria brengsek seperti Shane?


Apakah mungkin penyakit kelamin? Satu-satunya penyakit yang masuk akal menurut Jillian.


Sisi jahat Jillian berbisik dengan kejamnya jika Shane memang pantas menderita penyakit kelamin.


Sementara Jillian sedang menduga-duga, Shane di bilik toilet sedang memperhatikan apa yang dilakukan Jillian di dalam kamarnya melalui kamera yang terpasang yang langsung tersambung ke dalam ponselnya.


"Ular berbisa ini ternyata sudah mulai melancarkan aksinya?" Shane bergumam dengan mimik tidak terbaca. Sama seperti Jillian, Shane juga bertanya-tanya, apa kira-kira yang diinginkan Jillian darinya.


Wajahnya tegang saat melihat Jillian memungut map yang terjatuh tanpa sengaja. Ia akan menyingkirkan prasangka buruknya terhadap Jillian andai wanita itu tidak bertindak lancang seperti yang dilakukan Jillian dengan mengintip isi amplop tersebut. Tapi sepertinya dugaannya tentang Jilly benar adanya bahwa Jillian tidak lebih dari seekor burung pematuk, terbukti dari tindakan Jillian yang tidak bisa menahan diri untuk tidak memeriksa isi mapnya, meski Jilly tidak membaca secara keselurahan, hal itu tidak lantas membuat Shane memberikan nilai plus padanya.