
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkanku. Entah itu pesaing bisnis, karyawan yang mendendam atau pun membalas dendam pribadi. Diantara ketiga opsi tersebut. Dimanakah posisimu berada?"
Wajah cantik Jillian semakin merah padam. Shane bukan hanya menang satu langkah, tapi pria itu membuatnya kalah telak. Shane pria yang benar-benar tidak membiarkan siapa pun bisa menyentuh atau mengusiknya. Intuisi pria itu begitu kuat. Ya, tanpa kemampuan itu tidak akan mungkin mampu membuatnya berada dan bertahan dalam jajaran pengusaha muda yang sangat berpengaruh.
Persiapan Jillian memang kurang matang. Jika tergetnya sebelum ini, butuh waktu setidaknya empat sampai enam bulan bagi Jilly untuk mempelajari kasus targetnya. Namun, saat menghadapi Shane, ia tidak memiliki modal apa pun selain kemarahan dan kebencian yang membara. Dan hasilnya ini, zonk!
Masa sulit yang ia lalui bersama adiknya selama dua tahun ini memupuk kebencian itu semakin dalam dan lebih dalam lagi dan sekarang, saat pria itu menangkap basah dirinya, kebencian itu semakin menjadi dan tidak terbendung lagi. Picik, licik, dua kata itulah yang menggambarkan Shane saat ini di matanya. Sungguh tangannya sudah sangat gatal untuk melayangkan bogeman ke hidung Shane yang mancung. Jilly akan tertawa puas jika darah segar bercucuran dari sana.
Jika menyerang Shane dari belakang tidak bisa, dalam artian ia gagal melaksanakan misinya, Jillian tidak mempunyai pilihan lain selain meminta tanggung jawab pria itu.
"Sepertinya tenggorokanmu tersekat," Shane masih dengan sikap mengejek yang ditunjukkan secara terang-terangan. "Sementara aku mengambilkan minuman untuk kita, duduklah di balkon dan tunggu aku di sana."
"Aku tidak mau apa-apa!" suara Jillian meningkat beberapa oktaf. Tatapannya sinis dan juga menantang. Jillian terlihat seperti singa betina yang sangat rapuh.
"Aku mau," suara Shane penuh penekanan. "Saat aku kembali, kau sudah siap menceritakan semuanya." Tanpa menunggu jawabannya, Shane berbalik meninggalkan Jilly dalam keadaan pucat menahan amarah.
Shane mengambil salah satu koleksi minuman terbaiknya. Alkohol dengan rasa yang sangat tajam. Saat ia kembali ke menuju balkon, ia berpikir bahwa Jillian dengan sikap keras kepalanya akan tetap berdiri di tempat semula dimana Shane meninggalkannya. Dan tebakannya tidak meleset sama sekali. Jillian memang masih bergeming dengan bersedekap di sana, melayangkan tatapan yang dimaknai Shane sebagai tatapan mematikan.
Shane menggerakkan kepala memberi isyarat agar Jilly mengikutinya ke balkon. Mereka duduk saling berhadapan. Tatapan keduanya saling bertaut, sementara tangan Shane membuka tutup botol dan menuangkan minuman ke gelas kristal dan mendorong salah satunya ke hadapan Jillian.
"Harganya lebih mahal dari wiski yang kau lempar ke wajahku beberapa jam lalu dan sekarang, aku juga tidak akan menghentikanmu jika ingin melemparnya kembali ke wajahku. Tapi, apa pun yang kau lakukan tidak akan mengubah apa pun, aku tetap menginginkan kebenaran."
Jilly menahan diri untuk tidak mendengus. Jika Shane bisa bersikap tenang, ia pun akan melakukan demikian, walau Jillian yakin bahwa pria itu tidak setenang yang terlihat. Semuanya masih penuh sandiwara.
Jillian meraih gelasnya dan mengendus minuman tersebut. Bibirnya merengut dengan dahi berkerut. "Baunya sangat menjijikkan!"
"Kalau begitu kau tidak usah meminumnya."
Mengabaikan ucapan Shane, Jilly justru menyesap minumannya. Tindakannya itu menunjukkan sikap perlawanannya. "Rasanya jaih lebih mengerikan dari baunya."
Shane tidak menanggapi komentarnya lagi. Pria itu hanya memperhatikan manik yang menyala-nyala menahan amarah.
Dia terlihat sangat cantik dan mengagumkan.
Meski Shane menyadari bahwa ia harus waspada kepada Jillian, namun ia tetap tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak memuji kecantikan wanita itu.
"Kita bisa memulainya, Miss Nelson?"
"Tidak ada yang salah dengan indentitasmu. Awalnya, kukira kau juga membuat identitas palsu." Senyum mengejek itu kembali tersungging.
"Kau bekerja di kantor surat kabar ternama. Surat kabar yang memberikan berita berbobot dan serius. Kalian tidak mencetak gosip murahan atau pun berita palsu. Semuanya selalu memiliki bukti. Kau salah satu jurnalis andalan mereka. Melihat kedokmu yang terbongkar olehku, aku bisa mengerti kemarahanmu dan aku tidak peduli tentang hal itu. Jadi, apa bukti yang kau dapatkan hingga aku layak menjadi targetmu dan para rekan kantormu?"
Jillian mengalihkan tatapannya dari Shane, kembali menyesap minuman yang katanya sangat dibencinya. Bukti? Jillian tidak memiliki bukti tentang praktik ilegal yang dilakukan oleh perusahaan Shane. Sesungguhnya, Jillian tidak hanya berbohong tentang referensi palsu yang ia berikan. Ia juga berbohong kepada editornya tentang penggelapan uang yang dilakukan Shane. Ya, Jilly lah yang menyebar desas desus tentang keburukan perusahaan Shane demi bisa melancarkan aksi balas dendamnya atas apa yang terjadi pada adiknya.
"Ayolah, Jillian, jangan membuang-buang waktu." Kesabaran Shane mulai menipis. "Hanya ada kau dan aku di sini. Aku sudah tahu tentangmu walau tidak sepenuhnya. Hentikan permainan ini, jujur dan akuilah."
Emosi Jillian melonjak seketika, "Bermain-main katamu?!" Ini sama sekali bukan permainan bagi Jilly. Ini menyangkut hidup adiknya yang sudah Shane hancurkan dan juga hidup...
Napas Jillian naik turun, semua yang ia lakukan, resiko dan kebohongan yang ciptakan, semuanya demi Daisy dan sekarang ia dihadapkan pada kenyataan bahwa semuanya sia-sia karena Shane berhasil membuka kedoknya. Adiknya tidak akan pernah mendapat keadilan.
Ia menarik napas ke dalam paru-parunya yang terasa sesak dan menatap Shane dengan lekat. "Kau menghancurkan hidup adikku."
Sejenak Shane terkejut, tapi detik berikutnya wajah itu kembali tenang. Sepertinya Shane juga sudah bisa menebak bahwa Jillian memang memiliki misi dalam dendam pribadi.
"Adikmu?"
"Aku sudah menghabiskan waktu selama dua tahun bermimpi untuk menghancurkanmu."
"Dua tahun?" Kening Shane mengerut dalam. "Sepertinya aku melakukan suatu kesalahan yang sangat besar hingga kau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengacaukan hidupku."
"Jangan berpura-pura bodoh! Kau sungguh tidak mengingatku, keparat?!"
"Ah, Jadi kita sungguh saling mengenal?"
"Kau merusak hidup adikku. Daisy Nelson, aku akan menghancurkan hidungmu jika kau mengatakan tidak mengingat bahkan setelah aku menyebut nama adikku."
"Daisy Nelson? Siapa dia?"
Bugh!!
Dan benar saja, Jilly melakukan apa yang sudah ia katakan. Menyerang hidung Shane hingga pria itu merasakan pening luar biasa.