Yes, Boss

Yes, Boss
Pria Licik



Acara menyelesaikan masalah terhenti sejenak, berganti dengan acara dokter-dokteran. Jilly sedang mengobati hidung Shane, tepatnya berusaha menghentikan cucuran darah yang keluar.


"Dongakkan kepalamu ke atas!"


"Jangan meninggikan nada suaramu kepadaku, Jillian!"


"Darahmu tidak akan bisa berhenti jika kau terus menatapku."


"Aku ingin menghafal, mengingat setiap inci rupa wajah wanita yang sudah menyerangku dengan brutal."


"Kau ingin menuntutku?"


"Aku belum memikirkannya. Andai aku melakukannya, kau memang layak mendapatkannya."


"Kau juga layak mendapat serangan dariku!" Jilly menjejalkan kapas ke lobang hidung pria itu dengan kasar sampai-sampai Shane menahan tangannya.


"Sakit," protes pria itu dengan datar, tenang tapi dengan tatapan mematikan dalam arti berbeda dengan arti tatapan membunuh yang dilayangkan Jillian.


"Apa yang kulakukan pada adikmu. Daisy? Aku sungguh tidak mengingatnya." Ucap pria itu dengan lembut. Ayolah, mengingat nama seseorang bukan keahliannya. Ia selalu mempunyai masalah dalam hal itu sejak dulu. "Aku mungkin bisa mengingatnya jika kau berkenan menunjukkan fotonya," Shane menurunkan tangan Jillian yang masih menggantung di udara, tapi tidak melepaskan genggamannya sama sekali.


"Bagaimana bisa kau melupakan adikku setelah apa yang kau lakukan?!" Jillian menyentak tangannya. "Aku tidak tahu apa yang sudah kau janjikan padanya sehingga ia tidak tahu cara menggunakan otaknya. Demi Tuhan, dia masih berusia enam belas tahun saat kau merusaknya! Merusak masa depannya dan menjadikannya seorang..." Jilly tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Napasnya memburu dan wajahnya sudah merah karena amarah.


"Ya, aku di sini karena adikku. Karena Daisy. Kau pria paling brengsek dari deretan pria brengsek yang kutahu."


"Sepertinya kau punya banyak koleksi pria brengsek."


Komentar itu jelas tidak diharapkan keluar dari mulut Shane. Tapi ia tidak tahu harus berkomentar apa. Tuduhan Jillian terlalu mengejutkan. Merusak hidup gadis belia? Heh? Shane tidak menyangkal tentang betapa brengseknya dirinya. Ia juga tidak menyangkal bahwa sudah banyak wanita yang ia hancurkan. Untuk itulah mengapa menikah tidak ada dalam daftar hidupnya. Di matanya, ada dua jenis wanita. Wanita adalah makhluk lemah juga beracun.


Kembali kepada gadis belia, otaknya tidak bisa mengingat kapan ia terlibat dengan gadis belasan tahun. Tidak pernah sekalipun ia menyentuh gadis perawan.


"Kecuali adikmu berdandan seperti wanita dewasa yang perayu..." Shane berkata penuh hati-hati. Tapi selembut apa pun suaranya, kata-kata itu tetap terdengar seperti hinaan dan ejekan. "Aku tidak pernah terlibat dengan perawan juga gadis kurang umur..." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, wajahnya kembali mendapat serangan berupa siraman wiski. "Kenapa kau brutal sekali," Shane berkomentar santai sambil mengusap wajahnya.


Harusnya ia marah dengan perlakukan kasar Jillian yang tidak tahu batasan. Dan biasanya itulah yang akan terjadi. Shane bukan pria yang sangat murah hati. Ia akan membalas tiga kali lipat lebih buruk dari apa yang dia dapatkan. Apakah saat ini, ia sedang menahan amarahnya atau memang ia tidak bisa marah kepada Jillian? Hanya Tuhan dan Shane yang tahu.


"Ba-bagaimana bisa kau berkomentar seperti itu tentang adikku?" Manik Jillian berlinang menahan air mata. Butuh usaha agar kristal bening itu tidak meluruh dan Jillian berhasil menghalau tangisan yang wanita itu anggap sebagai suatu kelemahan. "Kau menidurinya hingga membuatnya..." Lagi, Jillian menggantung ucapannya. "Apa yang kau janjikan padanya, tuan Shane Hamilton Torres hingga gadis lugu itu bertekuk lutut di hadapanmu. Di mana nuranimu saat kau menjejalkan narkoba ke dalam mulutnya hingga menjadi seorang pecandu."


Wajah Shane untuk pertama kalinya berubah pucat dan tegang. Ia tidak percaya dengan pendengarannya, dengan kata-kata beracun yang keluar dari mulut Jillian. Pencandu narkoba? Tuduhan macam apa ini? Jelas sekali ini fitnah.


Shane mungkin bisa bernapas lega bahwa Jillian bukan merupakan suruhan pesaing bisnisnya yang berusaha mencemari reputasi perusahaannya. Namun menyadari bahwa Jillian menghabiskan waktu selama dua tahun mengawasinya untuk melakukan serangan, membuat darahnya seolah-olah membeku. Ia marah. Benarkah, Jillian tidak menemukan apa-apa?


"Apa maksudmu?"


"Mau sampai kapan kau berpura-pura bodoh?!" wajah Jillian berapi-api. "Bukankah kau yang meminta agar permainan ini segera dihentikan." Jillian menekan dadaa Shane dengan jari telunjuknya.


"Kau merayu Daisy, mengajak gadis malang itu ke atas ranjangmu. Remaja mana yang tidak senang jika dihadiahi barang-barang mewah dan perhatian dari pria tampan kaya raya. Dasar bajiingan licik! Demi Tuhan, Daisy masih berusia enam belas tahun sementara kau berusia 32 tahun. Kau lebih pantas menjadi ayahnya!"


"Masih terlalu muda bagiku untuk menjadi seorang ayah di usia tersebut," Shane menimpali dengan asal.


"Kau mencampakkan adikku seperti kotoran. Membuat hidupnya hancur tepat seperti yang kau inginkan." Jilly melayangkan tatapan jijik ke arahnya.


Shane menarik napas dalam-dalam. Merasa marah juga tidak percaya. Marah karena tuduhan yang menurutnya tidak berdasar karena hingga saat ini, ia tidak mengingat siapa Daisy yang dimaksud oleh Jillian. Ia juga merasa jijik, jijik karena pandangan Jillian menganggapnya sanggup menyembunyikan kejahatan menggelikan seperti yang dikatakan wanita itu.


"Jangan coba-coba menyangkal kebenaran itu, brengsek! Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana caramu menatapku dan juga Daisy di depan kantor kepala sekolah. Kau meminta kepala sekolah mengeluarkannya dan menggeledah asramanya dan menemukan narkoba di sana."


Ingatan Shane seketika aktif setelah Jillian menyebut sekolah. Karena ia tidak akan melupakan kejadian itu. Satu-satunya sekolah yang ia datangi dan menjadi sekolah terakhir yang ia datangi. Karena petaka itu terjadi setelah ia meninggalkan sekolah.


"Mari kita meluruskan satu hal." Ucapnya dengan nada datar. "Adikmu memang gadis yang sangat kacau," ia juga mengingat Daisy, mengingat wajah remaja tersebut. Tapi sungguh ia terkejut mengetahui jika wanita cantik yang duduk di hadapannya sekarang adalah wanita yang sama dengan wanita tambun yang duduk berdampingan dengan Daisy dua tahun lalu. Satu-satunya yang membuat Shane mempercayai hal itu adalah manik tajam Jillian yang berapi-api.


"Jangan berani-berani menyebut adikku seperti itu, bajiingan!"


"Kenyataannya memang begitu. Dia remaja payah yang sangat liar. Dalam keadaan mabuk di mendatangiku, naik ke atas ranjangku."


"Pembohong!"


"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi kau sudah terlalu banyak menuduhku dan aku harus membela diriku. Atau aku juga harus mengatakan kepadamu bagaimana Daisy merangkak merayu dan mengeluarkan kata-kata senonoh."


Jillian merasakan mual luar biasa. Otaknya tidak sanggup membayangkan Daisy seperti yang dituduhkan.


"Aku tidak akan menggambarkan detailnya, tapi karena aku menolak ajakan adikmu, dia histeris sehingga mengundang keributan. Dan apa kau tahu apa yang dilakukan adikmu yang tidak tahu diri itu. Ibuku datang dan mencoba menenangkannya dan adik sialanmu itu justru menyerang ibuku seperti yang kau lakukan kepadaku saat ini. Membuat hidung ibuku patah. Aku memang tidak akan menyangkal tentang fakta bahwa akulah yang menyarankan kepala sekolah mengeluarkan adikmu dari sana dan aku tidak akan meminta maaf akan hal itu. Dia menyentuh ibuku."


"Sekarang aku tahu dari mana adikmu yang liar itu belajar taktik menyerang. Apakah keliarannya juga dipelajari darimu, Jilly?"


Shane nyaris terlambat menyadari sebuah tangan melayang ke arahnya. Ia berhasil menahan tangan Jillian sebelum telapak tangan wanita itu mendarat di wajahnya.


Sambil mencengkram pergelangan tangan Jillian, Shane menatap mata kucing itu dengan lekat sambil berkata, "Aku tidak tahu menahu soal narkoba. Berhati-hatilah menuduhku, Nona!"