
Happy Milad, Putri Nutrisari. Harapannya, semoga, yang diinginkan segera terwujud. Aamiin. 🎂🥂
..
..
..
"Sekarang, jawab pertanyaanku. Apa masalahmu denganku? Kenapa kau mengincarku?"
Tidak ada lagi seringaian jahil yang terbit di wajah Shane. Wajah tampan itu kini terlihat serius, menatap Jillian dengan ekspresi dingin. Namun, wajah Jillian tidak kalah dingin menyambut ekspresi pria itu. Amarah keduanya sama-sama membara.
"Kurasa pertanyaanku cukup jelas, Miss Nelson dan aku menunggu jawabanmu."
Jillian mendengus sinis, alih-alih langsung menjawab pertanyaan yang bernada sindiran tersebut, Jillian justru memendarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar mandi. Ayolah, bilik toilet bukanlah tempat yang layak untuk berunding meluruskan masalah yang sedang mereka hadapi.
Jillian sudah menduga bahwa Shane adalah pria yang sulit dihadapi, tapi ia tidak menyangka jika sudah sejak awal Shane mengetahui penyamarannya. Sebelumnya, penyamarannya tidak pernah terbongkar. Ini pertama kali dalam sejarah karier penyamarannya terkuak bahkan disaat ia belum melancarkan misinya.
"Aku sedang berpikir, di mana aku harus duduk." Jilly mengembalikan tatapannya pada Shane yang tidak tahu malu. Pria itu memandangi Jillian sementara jemarinya memainkan buih seperti model iklan sabun murahan.
Shane akhirnya kembali menyeringai, tapi tidak berkata apa pun.
"Kita tidak sedang membahas ramalan cuaca yang bisa kita bicarakan dalam waktu singkat."
"Kita bisa menyelinginya dengan ramalan cuaca jika kau mau," jawaban enteng itu dibumbui dengan mimik menjengkelkan.
"Aku tidak terbiasa membahas hal yang tidak berfaedah dengan orang asing."
"Orang asing?" Shane menukik sebelah alisnya seakan kata itu terdengar janggal di telinganya. "Jika aku asing bagimu, kurasa kau tidak akan mengincarku, Jilly."
"Kapan kau selesai mandi?"
"Aku bahkan belum mulai dan kau sudah menerobos masuk dan menyiramku dengan wiski kesukaanku," Shane menatap botol minumannya dengan tatapan menyesal. Ia tidak berbohong tentang betapa ia sangat menyukai minuman itu, salah satu koleksinya dengan harga yang lumayan mahal. Haruskah ia menuntut rugi kepada Jillian? Akan ia pikirkan jawabannya nanti.
"Kau pantas mendapatkannya!"
"Oh yeah?"
"Aku akan keluar."
"Tidak sebelum kau memberikan jawaban yang kuinginkan."
"Di sini?"
"Kau bisa mendaratkan bokongmu di mana saja yang kau inginkan. Atau kau lebih suka bergabung denganku." Kilatan nakal berbinar-binar di mata Shane. Wajahnya mendadak terlihat mesum, Jilly sampai-sampai bergidik ngeri.
"Aku tidak melihat itu solusi." Di dalam hati, Jillian mengutuk pria itu. Pria mesum yang sangat brengsek!
"Kita berbeda pendapat kalau begitu," Shane bergumam malas. Tiba-tiba Shane bergerak menegakkan tubuh, refleks Jillian menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan?!"
"Jika kau tidak ingin bergabung denganku, keluarlah! Aku perlu membersihkan tubuhku."
Jillian langsung bergerak cepat keluar dari dalam toilet. Dengan marah ia menggeser pintu toilet dengan kasar yang diiringi tawa puas Shane.
Jillian menenangkan diri di dalam kamarnya sendiri. Duduk di tepi ranjang dengan napas terengah.
Ia membenci Shane, amat sangat membenci pria itu sejak melihat Shane berdiri di depan pintu kepala sekolah ketika pria itu menatap dirinya dan adiknya seperti kotoran yang sudah diinjaknya.
Jilly merebahkan tubuhnya, entah karena lelah, pun ia terlelap. Ketukan di pintu membangunkannya. Jillian segera bangun, melihat jam kecil yang berada di atas nakas. Sudah sejak satu jam yang lalu ia meninggalkan Shane di bilik toilet. Sepertinya pria itu sudah selesai mandi.
Ketukan terdengar lagi. "Jillian Nelson."
"Ya, aku datang," Jilly segera beranjak, sebelum melangkah menuju pintu, ia merapikan pakaiannya.
Begitu pintu dibuka, hidungnya langsung disambut dengan oleh aroma parfum juga aroma sabun.
"Kau sedang tidur?"
"Tidak, hanya memejamkan mata sejenak."
"Jadi, kau akan menjawabnya di sini atau kita perlu ditemani secangkir kopi?"
"Ah, sebelum kau mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan diri dari pembahasan ini, aku ingin mengatakan sesuatu," Shane menjentikkan jemari diiringi seulas senyum yang terbit di wajahnya.
"Aku terkesan setelah mengetahui siapa kau Jillian. Seorang wartawan. Wow!"
Jillian mati kutu. Shane selangkah lebih maju. Pria ini memang tidak bisa dianggap remeh. Tidak ada gunanya berkelit lagi karena Jillian mempunyai firasat bahwa Shane akan melayangkan serangan padanya.
"Wartawan dengan banyak penghargaan. Menyusup ke dalam hidupku untuk mengulik tentang praktik ilegal para pengusaha. Aku tidak mengetahui jika bisnisku menyimpan cerita kotor hingga kau dan rekan-rekan koranmu menjadikanku sebagai target." Shane menjeda ucapannya, menikmati mimik panik Jillian. Saat Jillian keluar dari bilik kamar mandi, sebuah email masuk ke tabletnya yang lolos dari amukan Jillian. Isi email dari informannya tentang data diri Jillian.
"Aku ingin tahu segalanya," Shane mengakhiri kalimatnya dengan nada datar tapi tajam. Jillian menemukan dirinya semakin marah. Ia kalah.
"Jika dari awal kau sudah tahu siapa aku, kenapa kau harus ikut bersandiwara dan menjadikanku pelayanmu!"
Shane tersenyum geli, "Kau berniat menghancurkanku, yang kulakukan sekarang adalah membiarkanmu merasakan sedikit rasa malu. Aku sudah lama tidak bersenang-senang dan kau tahu, aku sangat menikmatinya." Kilatan geli itu menghilang secepat kilat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkanku. Entah itu pesaing bisnis, karyawan yang mendendam atau pun membalas dendam pribadi. Diantara ketiga opsi tersebut. Dimanakah posisimu berada?"