Yes, Boss

Yes, Boss
Bagaimana Kabarmu?



"Aku tidak menginginkanmu, jadi berhentilah menggunakan trik murahan seperti ini kepadaku," Bisikan mematikan itu disampaikan dengan senyuman iblis yang menggoncangkan debaran jantung Shane.


Perlahan dengan gerakan yang sangat manis, Jillian menurunkan tangannya lalu mengangkat tatapannya hingga beradu dengan mata Shane yang perlahan terbuka.


"Jangan khawatirkan tentang aku yang terlalu membencimu. Kurasa aku tidak tertarik dengan makan malam. Terima kasih tumpangannya." Jillian memutar tubuh dan segera turun dari mobil. Alih-alih masuk ke supermarket, Jillian justru melangkah cepat melewati gedung supermarket tersebut.


Satu menit berlalu, Shane baru menemukan kesadarannya. Hal pertama yang pria itu lakukan adalah memegang jantungnya kemudian ia tersenyum lalu terbahak. Pun ia segera turun untuk menyusul Jillian.


"Oh Tuhan, tadi itu menyenangkan!" Shane berlari, tapi begitu melihat Jillian langkahnya justru berhenti. Wanita itu sedang berdebat dengan seorang wanita yang tidak asing di mata Shane. Dan kali ini ia langsung bisa menebak siapa wanita itu. Daisy, wanita yang disebut Jillian sebagai adiknya.


"Kau mau membawanya kemana?" Jillian berusaha merebut Sal dari gendongan Daisy. Bayi tampan itu sedang meraung-raung menangis histeris sambil mengulurkan kedua tangan ke arah Jillian.


"Aku hanya ingin membawanya jalan-jalan." Daisy menjawab santai dan berusaha menjauhkan Sal dari jangkauan Jillian.


"Berikan dia kepadaku." Dengan wajah panik, Jillian mencoba membujuk Daisy. "Aku akan menenangkan Sal. Oh Sal, Mom ada di sini, jangan menangis, Sayang."


"Kau dengar itu Sal, jangan menangis atau aku akan melemparmu..."


"Daisy!!"


"Ouh, kau membentakku? Lihatlah, Sal semakin takut dan tangisannya yang bising sungguh membuatku muak!" Wajah Daisy berubah pias.


"Daisy, kumohon..."


"Mohon? Itulah yang kulakukan padamu, Jilly." Daisy menyeringai sinis. "Kau mengabaikan panggilanku selama dua hari dan kau juga mengabaikan permintaanku untuk melepaskanku dari tempat mengerikan itu."


"Kau melarikan diri?"


"Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa tinggal diam di sana hingga mati secara perlahan. Kau ingin membunuhku juga, Jilly?"


Jillian tersentak dengan pertanyaan yang bernada menghakimi tersebut. Sejak dua tahun lalu, hubungan keduanya menjadi dingin layaknya di kutub utara. Tidak ada keharmonisan sama sekali. Mereka menjadi asing satu sama lain. Daisy selalu melayangkan tuduhan yang sama setiap ada kesempatan. Usaha yang dilakukan Jillian untuk menyembuhkan Daisy dari ketergantungan obat terlarang, Daisy anggap sebagai bentuk usaha Jillian untuk menyingkirkannya.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" Lirih Jillian dengan nada yang menyiratkan luka yang begitu dalam.


"Lalu bagaimana aku harus berpikir tentangmu, Jilly? Kau tidak bersedia membantuku, kau mengurungku dan kau bahkan berhenti mengirim uang untukku. Bukankah bayi sialan ini yang menjadi alasanmu. Tidak bisa mengirim uang setiap bulan karena harus memenuhi kebutuhannya." Daisy menatap Sal dengan penuh kebencian, tangannya mencengkram erat lengan rapuh bayi itu hingga kembali terdengar lengkingan kesakitan.


"Daisy, kumohon, berhenti menyakiti Sal. Berikan dia kepadaku."


"Tidak!"


"Mereka mengatakan kau menggunakan uangmu untuk membeli obat-obat terlarang, bagaimana bisa kau menyuap para petugas dengan... " Jillian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Kau ingin menuduhku menggunakan tubuhku?" Daisy tersenyum sinis. "Bukankah cara yang serupa juga kau lakukan untuk merayu Noah, Jilly. Oh, Noah yang malang, dia harus mengalami kejadian naas sehari setelah pernikahanmu."


Terlalu terkejut dengan kata-kata beracun Daisy, Jillian sampai-sampai mundur beberapa langkah sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Dasar pembawa petaka! Kau menghancurkan hidupku, menghancurkan hidup Noah, menghancurkan hidup keluargaku! Kau benalu yang tidak tahu diri! Dasar wanita pengeruk harta! DIAMLAH ANAK SIALAN!!" Daisy berteriak histeris pada Sal yang semakin menangis ketakutan.


"JANGAN MEMBENTAKNYA!" Jillian terbakar emosi. Kembali ia melangkah mendekat dan berusaha merebut Sal.


"Jangan menyentuhnya, sialan!"


"Kau melukainya dan membuatnya takut."


"Maafkan aku. Aku bersalah. Tolong maafkan aku." Jillian mengiba dan memohon. Tidak ada gunanya meladeni kemarahan Daisy yang sudah kehilangan kontrol. "Aku salah, aku memang salah, Daisy."


"Maafmu tidak akan membuat hidupku lebih baik. Maafmu tidak akan membuat Noah hidup kembali."


Jillian terdiam, sebulir air mata meluruh membasahi wajahnya. Batinnya berteriak menyangkal bahwa semua yang terjadi karena dirinya. Daisy bukan satu-satunya orang yang merasa bersedih atas kematian Noah. Jillian tidak bisa membandingkan rasa sedih dan rasa kehilangan siapa yang lebih besar diantara dirinya dan Daisy. Tapi adakah yang lebih menyakitkan selain mendapat kabar kematian pria yang baru menikahimu dalam hitungan jam.


Jillian kehilangan belahan jiwanya di hari yang sama saat Daisy mendapat musibah. Musibah yang sebenarnya terjadi karena ulahnya sendiri. Kenakalan remaja yang lepas dari pantauannya dan Noah. Daisy menyalahkan Jillian karena Noah dan dirinya terlalu sibuk terhadap hubungan mereka hingga mengabaikan Daisy. Ini sebenarnya hanya pembelaan yang tiada berarti yang dilakukan Daisy.


Tapi terlepas dari semuanya yang terjadi, Jillian tidak bisa menyalahkan Daisy sepenuhnya. Di matanya, Daisy remaja labil yang masih sangat mudah untuk dipengaruhi. Kesalahan yang ditimpakan kepadanya, tidak bisa diterima oleh hatinya hingga ia mencari subjek yang lebih layak untuk dipersalahkan atas semua kekacauan dalam hidup mereka. Siapa lagi kalau bukan Shane Hamilton Torres. Pria yang disebut Daisy sebagai pria yang meracuninya atas semua tingkah lakunya yang buruk.


Jillian langsung mempercayainya begitu saja mengingat jam terbang Shane yang memang suka mempermainkan wanita dan cara pria itu menatap mereka dua tahun lalu juga menjadi salah satu alasan bagi Jillian mengapa Shane menjadi salah satu pria yang layak ia benci.


"Andai aku memiliki kuasa untuk hal itu, Daisy, percayalah, aku akan mengorbankan apa pun untuk membuatnya hidup kembali," rintihnya dengan nada pilu.


"Cih! Omong kosong! Menyingkirlah!"


"Kau mau membawa Sal kemana? Kau tidak bisa membawanya tanpa aku tahu kemana tujuanmu?" Jillian menghadang langkah Daisy. Daisy benar-benar tidak bersimpati apalagi terenyuh dengan tangisan Sal.


"Jillian, apakah kau tidak tahu siapa dirimu? Sadarlah! Apa hakmu menghadangku? Jika kau memiliki rasa malu, tidakkah sudah seharusnya kau pergi dari rumah kami."


"Ka-kau mengusirku?"


"Sudah seharusnya kau pergi dari sana. Kau bukan siapa-siapa lagi di keluarga Nelson!"


"Daisy..."


Daisy mendorong Jillian hingga terjatuh.


"Kau tidak bisa membawa Sal begitu saja, Daisy." Jillian menahan kaki Daisy yang langsung ditendang wanita itu.


"Aku akan menjualnya, membuangnya atau apa pun itu. Bukan urusanmu!"


"Berapa harga yang harus kubayar jika aku menginginkan bayi itu?"


Jillian dan Daisy sontak menoleh ke sumber suara. Shane berdiri di sana, melirik ke arah Jillian sebelum memokuskan pandangan pada Daisy lalu bayi yang ada dalam gendongan wanita itu.


Daisy terlihat lebih dewasa dari yang ada di dalam ingatannya, tapi hal itu tidak lantas membuatnya terkejut karena wajah Daisy tidak berubah sama sekali. Hanya lebih matang.


"Hai, Daisy."


Perangai Daisy juga tidak berubah. Masih liar dan urakan. Bagaimana bisa Daisy mendorong Jillian dan berkata kasar. Dan apa yang ada di pikiran Jillian saat membalaskan dendam Daisy kepadanya.


Shane benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat dan dengar. Jillian sudah menikah dan dari yang ia dengar, sepertinya suami wanita itu sudah meninggal. Lalu, apakah bayi itu anak Jillian dan suaminya?


Selain terkejut melihat cara Daisy memperlakukan Jillian, Shane juga terkejut dengan reaksi tubuhnya yang sangat emosi melihat Jillian diperlakukan dengan buruk. Jillian seperti ular berbisa di hadapannya tapi kenapa wanita itu terlihat seperti kelinci yang sangat malang di hadapan Daisy yang usianya jauh lebih muda darinya. Kenapa Jillian diam diperlakukan dengan begitu buruk dan kenapa hatinya berdenyut sakit melihat cara wanita itu diperlukan. Sejak kapan ia memiliki jiwa ksatria yang ingin melindungi seseorang? Ia merasa asing dengan perasaannya. Apakah ini yang dikatakan jatuh cinta?


Akal sehatnya menolak pernyataan itu. Jatuh cinta bukan sesuatu hal yang mungkin terjadi padanya. Menikah tidak ada dalam listnya begitu pun dengan jatuh cinta. Lantas, perasaan apa yang ia rasakan kepada Jillian? Kenapa wanita itu selalu membuatnya bertanya-tanya hanya dalam hitungan hari.


"Shane si brengsek Hamilton Torres?!"


Shane tergelak, "Nama tengah yang sangat manis. Bagaimana kabarmu?"