
"Kau harus tetap bekerja untukku."
Jillian menatapnya tidak percaya, otaknya membeku, pita suaranya tidak berfungsi.
"Ini adalah gagasan paling konyol yang pernah kudengar," Jilly berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar diantara hembusan angin.
Shane menyesap minumannya, "Ini adalah solusi."
"Kau tidak mungkin berharap aku akan menyerahkan hidupku dengan bekerja denganmu."
Shane menatapnya dengan sorot mata kasihan yang dibuat-buat, "Seharusnya kau memikirkan matang-matang sebelum melawanku. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Kau butuh tenaga untuk menyelesaikan masalahku esok hari."
Alih-alih beranjak dari sana, Jillian justru menghempaskan dirinya ke kursi.
"Minum?" Shane kembali menawarkan minuman dengan santainya.
Jillian menatapnya dengan tatapan kosong kemudian menggelengkan kepala.
"Kau tidak mungkin ingin aku berada di sisimu setelah mengetahui betapa aku sangat membencimu."
"Ya, aku juga tidak menyukaimu. Memiliki sekretaris yang merupakan ular berbisa tidak ada dalam daftar hidupku."
"Sepertinya kau tidak mengerti apa yang sudah kujelaskan padamu. Sebesar apa dendamku padamu."
"Jelas aku tahu sebesar apa kemarahanmu kepadaku karena gagal membalaskan dendammu. Lupakan dendammu, maslahku dan Daisy, aku akan menyelesaikannya sendiri."
"Kau tidak akan bertemu dengan Daisy!" sentak Jillian dengan gusar.
"Aku akan bertemu dengan siapa pun yang kuinginkan," tandas Shane dengan telak. "Aku tidak butuh izin siapa pun."
"Kau pria..."
"Brengsek? Hmm, aku tahu itu," sahutnya setengah merenung.
"Aku membenci segala hal tentangmu!"
"Baguslah, karena aku juga tidak menyukai segala hal tentangmu." Jelas ini jawaban bohong. Shane menyukai mata Jillian yang tajam dan berapi-api. Ia juga menyukai rambut panjang Jillian saat tergerai dan tergoda ingin menyingkirkan helaian rambut yang terbang menempel di pipinya. Secara fisik, ia menyukai semua yang ada pada Jillian.
"Kau membenciku dan aku tidak menyukaimu. Bukankah semuanya akan sangat menyenangkan," kelakarnya tanpa tertawa.
"Apa kau sudah gila!"
"Bagaimana tidak menyenangkan, aku bisa melihat wajah cantikmu setiap hari dan aku bebas meluapkan kemarahanku kepadamu karena kau sudah berusaha membalaskan dendammu. Keadaan berputar, aku memutarbalikkan semuanya. Kenyataan bahwa wanita yang ingin menghancurkanku ada dalam perangkapku. Oh Jilly, ini sungguh akan sangat menyenangkan."
Jillian menarik napas dalam-dalam, ia melotot ke arah Shane untuk waktu yang cukup lama. Berbagi emosi berkelebat di sana, bibirnya dirapatkan, matanya menyala-nyala. Selalu begitu dalam ingatan Shane.
Jillian berdiri dari kursi,"Kurasa sudah saatnya aku mengucapkan selamat malam," demi kesehatan mentalnya, Jillian memilih mengakhiri percakapan.
"Apakah aku perlu menjawab dengan berkata semoga bermimpi indah, Jilly."
"Tidak akan pernah ada mimpi indah sejak kau menghancurkan hidup Daisy dan kini memerangkapku," ucapan sengit itu dilontarkan dengan sepenuh hati. Ada kegetiran di sana yang seakan menyatakan bahwa Jillian benar-benar sangat muak meladeninya.
"Aku tidak akan meminta maaf."
"Sepertinya kau terlalu cepat mengucapkan selamat malam. Bagaimana jika kau duduk kembali dan kita bisa membahas tentang Daisy kembali."
"Jangan menyebut nama adikku dengan mulut kotormu."
"Jika kau sudah beraksi seperti ini, aku penasaran, apa tindakan dan aksi balas dendam yang sedang disiapkan oleh kakak tertua kalian." Shane kembali menyesap minumannya, menikmati sensasi yang membakar tenggorokannya. Dari balik gelas, dahinya berkerut saat menemukan wajah Jillian terkejut, pucat, dan bercampur murung.
"Kau mungkin hanya akan tinggal nama." Jillian berbalik setelah mengatakan hal itu. Shane tercenung, bukan karena mendengar jawaban Jilly, tapi karena suara wanita itu yang gemetar.
***
Jillian berjalan menuju ranjang seperti manusia yang kehilangan jiwanya. Pertanyaan Shane tentang kakak pertama Daisy seperti sebuah tamparan keras bagi Jillian. Perlahan, air matanya meluruh. Andai Noah masih hidup, apa yang akan dilakukan pria itu terhadap Daisy, adik kesayangan mereka. Jika Noah masih hidup, Jillian tidak akan terjebak di sini. Noah lah yang akan mengambil alih semuanya.
Jillian menelan ludahnya dengan susah payah. Dadaanya terasa sesak luar biasa. Noah, satu-satunya pria yang ia percayai. Pria yang memilih pergi meninggalkan semuanya dan dengan kejamnya membawa serta hampir seluruh hatinya. Noah, pria terbaik dalam hidupnya.
"Aku gagal, bagaimana ini, Noah? Aku tidak bisa menjaga Daisy. Menjaga adik kesayanganmu. Maafkan aku," Jillian membiarkan air matanya meluruh sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara hingga akhirnya ia tertidur dalam keadaan menangis dan menahan rindu yang teramat dalam.
Cahaya mulai menyelinap masuk ke dalam kamar. Malam sudah hilang, matahari mulai terbit. Melawan kantuknya, Jillian segera bangun. Pikirannya langsung merekam ulang pada percakapannya dengan Shane tadi malam. Ia kehilangan pekerjaannya dan Jillian tidak peduli dengan itu. Tapi, Shane menggunakan Daisy untuk menjebaknya. Benar-benar pria yang sangat picik dan licik.
Jilly keluar dari kamar menuju ke lantai bawah. Di sana, Shane sedang menikmati sarapannya. Mata keduanya saling bertaut sementara Jillian berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Jillly."
Jillian tidak menjawab, ia menarik kursi, memilih posisi terjauh dari pria itu.
"Kopi?" tawar Shane sambil meraih poci.
Jillian ragu sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Kupikir kau tidak bisa menuangkan kopi sendiri."
Shane tersenyum, "Budakku sudah naik pangkat menjadi sekretaris sungguhan. Aku bukan pria manja." Shane mendorong kopi ke hadapan Jillian.
"Aku harus pulang ke rumahku dan sebelum bekerja denganmu, setidaknya aku harus menjelaskan kepada editorku kenapa aku harus berhenti."
"Aku akan mengantarmu."
"Itu tidak perlu!" Jillian memekik sampai-sampai ia berdiri dan membuat kopinya tumpah. Reaksi yang sangat berlebihan menurut Shane.
"Maksudku, aku hanya perlu mengganti pakaianku dan mengambil beberapa barang. Kurasa aku bisa menjadikan gaji yang kau tawarkan sebagai alasan aku mengundurkan diri. Jangan katakan bahwa kau berubah pikiran tentang gaji yang kau tawarkan."
"Aku sangat murah hati. Tidak akan ada yang berubah dari yang sudah kita sepakati. Pikirkan cara untuk menghentikan gosip tentang penggelapan dana juga gosip tentang kesehatanku yang terganggu. Astaga, apa mereka menginginkanku segera mati."
"Bukan hanya aku yang memiliki dendam padamu."
"Apa kau juga dalang yang menyebarkan gosip tentang kesehatanku, Jilly?" Shane bertanya dengan nada menuduh. Masalah kesehatannya, hanya keluarganya yang mengetahuinya, hanya beberapa dari keluarganya. "Kau melihat catatan medisku."
"Aku tidak membacanya!"
"Oh yeah?"
"Aku mungkin salah satu dari musuhmu yang akan dengan sangat senang hati menjatuhkanmu. Tapi, menggunakan kesehatan seseorang bukanlah cara yang akan kugunakan. Aku tidak sehina dirimu. Mengingat tabiatmu yang suka bermain perempuan, kurasa kau memang sangat pantas mendapat azab berupa penyakit kelamin memalukan!"
Seketika Shane terbatuk-batuk, "Siapa yang kau sebut menderita penyakit kelamin?!"