Yes, Boss

Yes, Boss
Selamat Pagi



Wangimu manis dan enak.


Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Jillian. Ia merasakan panas di kedua pipinya. Jillian mengibaskan tangan, berharap rasa panas itu segera pergi.


"Benar-benar buaya," gumamnya seraya melangkah cepat ke dalam toilet. Yang ia butuhkan saat ini adalah air dingin.


"Aku akan mandi dan setelah itu berbaring di atas ranjang, tidur mengumpulkan tenaga untuk esok hari menjadi budak pengasuh bayi raksasa itu."


Jillian memgunci rapat dirinya di dalam toilet. Memeriksa sebanyak empat kali apakah pintu sudah terkunci dengan benar. Untuk seorang Shane, ia tidak bisa menganggap pria itu sepele.


Jillian mengabaikan bathtub yang menggoda untuk berendam. Ia langsung menuju shower, mengguyur dirinya dengan air dingin.


Kurang dari sepuluh menit, ia sudah keluar dari dalam toilet. Jillian langsung menuju lemari, tempat pakaian yang sudah dijanjikan Shane kepadanya.


Betapa terkejutnya ia saat membuka lemari. Benar, yang tersedia adalah pakaian musim panas. Tapi ia tidak yakin apakah pakaian-pakaian tersebut sesuai ukurannya. Jillian bergidik membayangkan ia akan mengenakan dress minim atau atasan berlengan spagethi. Tergoda ingin mengenakan pakaiannya kembali, tetapi sayang, atasannya sudah basah. Tidak ada pilihan lain selain mengenakan salah satu dari pakaian-pakaian yang sialnya dari brand ternama. Jillian tidak akan pernah rela menghabiskan banyak uang hanya untuk sepotong pakaian. Dan malam ini, perdana baginya mengenakan pakaian mahal yang menurutnya bukan merupakan ukurannya.


"Di balik kekacauan selalu terselip kata syukur. Syukur-syukur dia tidak memberi perintah untuk menyediakan lingerie berbahan tipis."


Keesokan paginya, ia dibangunkan dengan suara alarm yang berdering nyaring. Alarm yang sengaja disetel sesuai keinginan pria itu. Jillian langsung melompat dari atas ranjang, cukup terkejut menemukan dirinya yang ternyata bisa memejamkan mata.


Sampai di dalam toilet, langsung mengguyur tubuhnya sambil memikirkan baju apa yang akan ia kenakan ke kantor. Seingatnya, ia tidak menemukan pakaian yang layak untuk digunakan ke kantor.


Jillian buru-buru menyudahi acara mandinya. Ia akan menanyakan hal itu pada Shane. Mungkin saja pakaian kantor disediakan di kamar berbeda. Jillian mencoba untuk positif thinking.


Jillian mengambil asal pakaia barunya. Sebuah dress polkadot dengan bahu tipis hingga mempertontonkan lengan dan bahunya. Harus ia akui jika dress yang ia kenakan sangat indah.


Jillian mengeluarkan isi tasnya untuk mencari karet rambut dan mungkin lipstik untuk menyamarkan wajahnya yang pucat.


Ia menemukan karet rambut dan mengikat asal rambutnya hingga membentuk gulungan. Sementara lipstik, ia tidak menemukannya sama sekali. Matanya melirik pada meja rias dimana peralatan make up dari brand terkenal juga tersedia. Segera ia menggelengkan kepala, menolak untuk menggunakannya. Ia tidak akan menikmati service yang diberikan musuhnya.


Merasa bahwa penampilannya sudah cukup layak untuk bertemu dengan sang boss, ia menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan di pagi hari dari balkon.


Matahari pagi langsung menyinari kulitnya. Semalam ia dibuat terkesiap, pagi ini ia juga masih tercengang, menatap takjub langit biru yang tidak berawan juga hamparan laut biru menawan yang menerpa pantai berpasir. Benar-benar rumah yang sangat mengagumkan, puji Jillian dalam benaknya. Jillian memejamkan mata menikmati keindahan yang menciptakan perasaan bahagia di hatinya.


"Selamat pagi, Jilly,"


Jilly membuka matanya, menoleh ke samping. Shane memamerkan senyum mautnya yang kilaunya bersaing dengan sinar matahari. Handuk kecil menggantung di leher pria itu, rambutnya masih basah dan seperti tadi malam, Shane tidak mengenakan atasan, hanya sepotong celana pendek yang menggantung di pinggulnya.


"Apa kataku tentang pemandangan pagi, lebih menakjubkan, bukan?"


Jillian menganggukkan kepala, "Menakjubkan, sangat menakjubkan."


Shane terkekeh geli, tangannya bergerak membawa handuk ke kepalanya, mengeringkan rambutnya yang tebal. "Ya, sampai-sampai membuat napas tersekat. Itulah yang kurasakan saat menikmati pemandangan dari sini untuk pertama kalinya."


Jillian membenarkan hal itu dalam hatinya. Tetapi sejujurnya, pemandangan beberapa meter darinya lah yang membuat napasnya tersekat. Walaupun ia sudah memusatkan perhatiannya pada pemandangan yang ada di hadapannya, tapi ia tidak bisa menghentikan jika seluruh indranya berpusat pada sosok Shane.


Tubuh pria itu ternyata lebih bagus dari dugaannya. Bahu bidang, berotot, tidak berlebihan. Kulitnya khas pria pada umumnya, berwarna kecoklatan. Tipikal tubuh yang dijaga tetap bugar dengan berenang dan hiburan di luar ruangan. Bukan berusaha keras dengan berolahraga seperti angkat beban atau treadmill untuk mendapatkan tubuh yang menarik.


"Nyenyak, terima kasih," Jillian menyadari bahwa Shane sedang memperhatikan penampilannya. Ia harus menahan godaan mengangkat kedua tangan untuk mengusap lengannya yang terbuka.


"Bagus. Sudah siap untuk bekerja?" Pria itu kembali melirik ke bawah sebelum mengembalikan tatapannya kepada wajah Jillian yang polos tanpa sapuan make up.


"Semalam kau belum sempat bertemu dengan para pelayan. Pagi ini, aku akan memperkenalkanmu dengan mereka.''


Jillian menganggukkan kepala dan segera bergerak untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Sejujurnya, ia sudah sangat lapar sekali.


"Jilly?"


Panggilan Shane menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menemukan mata Shane yang berkilat-kilat.


"Ya?''


"Apakah kau sudah lupa persyaratan mendasar yang kita sepakati?"


Jillian mengerutkan kening, berusaha mencerna pertanyaan Shane di tengah pikirannya yang terusik dengan ketelanjangan pria itu.


Entah Shane menyadari apa yang tengah ia pikirkan, pria itu kemudian menggeleng-geleng geli.


"Sambut aku dengan keceriaan. Di mana senyuman untukku, Jilly?"


"Masih berusaha bangun," sahut Jillia spontan.


Shane tergelak renyah, "Kukira kau tidak memiliki selera humor. Aku sempat bertanya-tanya. Omong-omong, dressnya sangat indah. Kau terlihat sangat manis." Setelah itu, Shane berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Jillian mematung, sudah dua kali pria itu menyebutnya manis. Jantungnya berdegup, hatinya membuncah. Reaksi tubuhnya bukan tanpa alasan. Manis, satu kata yang memiliki arti mendalam baginya. Seseorang pernah selalu memujinya demikian. Seseorang di masa lalunya.


Jillian segera menggelengkan kepala begitu ia mendapatkan kesadarannya kembali. Apa pun reaksi aneh yang ditimbulkan Shane terhadapnya, ia harus mengabaikannya dan mengingat tujuannya.


Untuk mencapai tujuannya, Jilly harus mendapatkan kepercayaan Shane terlebih dahulu. Mendapat kepercayaan pria itu, ia harus bertindak layaknya budak yang patuh. Melayani Shane dengan baik, memastikan kebutuhan pria itu terpenuhi dan tidak melupakan senyuman yang diharapkan Shane darinya.


Setelah ia mendapatkan kepercayaan Shane, Jilly akan membongkar rahasia-rahasia yang disembunyikan pria itu dan mengumumkannya kepada dunia. Hidup Shane akan berakhir dan ia akan tenang setelah dendam adiknya terbalaskan.


"Aku ingin kopi hitam tanpa gula," Pinta Shane setelah memperkenalkannya kepada para pelayan.


"Baik," Jillian tersenyum sambil menuangkan kopi.


"Aku mau potongan buah dan sedikit yoghurt."


Jillian kembali tersenyum sambil mengambil mangkuk dan mengisinya dengan potongan buah yang diinginkan Shane. "Katakan jika sudah cukup."


Shane memperhatikan tangan Jillian sangat ramping dengan kuku-kuku yang terawat. Shane berani bertaruh jika senyum riang itu hanya sebuah sandiwara. Sungguh ia sangat tergoda untuk meminta Jilly agar menyuapinya demi melihat senyum itu pupus dari wajah jelita itu. Alih-alih melakukan hal tersebut, Shane justru mengacungkan tangan memberi isyarat bahwa potongan buah tersebut sudah cukup.


"Aku akan memberitahumu jika membutuhkan sesuatu."