
Sudah dua jam Shane meninggalkan rumah Daisy dan selama dua jam itu juga ia duduk di ruang utama sambil sesekali melirik ke arah pintu lalu ke jam tangan yang melingkar di tangannya.
Shane tidak hanya sendiri di sana tapi juga ada Maria dan Sal. Wanita pengasuh itu duduk di sofa sambil menggendong Sal yang sudah tertidur dengan pulas. Shane belum menunjukkan kamar Maria sehingga wanita itu tidak tahu harus kemana selain mengikuti Shane duduk di ruang utama. Mereka juga tidak berbicara sejak mereka sampai di rumah itu.
"Ehm," Maria sengaja berdehem memberi kode untuk memberi tahu Shane keberadaan dirinya dan Sal. Sumpah demi apa pun, bokongnya seperti terbakar karena duduk dengan diam selama jam. Maria tidak berani bergerak atau pun berbicara, dan Sal juga sudah tidur, tidak ada objek yang bisa diajak untuk berbincang.
Dehemannya itu ternyata cukup ampuh. Shane menoleh ke arah Maria dan Sal. Kening pria itu mengernyit, menatap bingung ke arah Sal.
"Apa Sal keberatan jika untuk sementara tidur di atas ranjang?"
"Biasanya Sal tidak akan menangis. Jillian selalu meletakkan Sal tidur di sebelahnya."
"Lalu kenapa wanita itu belum datang juga?"
"Apa?"
"Apa dia tidak khawatir pada bayinya."
"Sal bayi Daisy, Mr. Torres."
"Naiklah ke lantai dua. Letakkan Sal di sana dan segera lah turun. Kau belum makan malam, bukan?"
"Terima kasih, sebaiknya aku menemani Sal."
"Untuk apa kau menemani bayi yang sudah tertidur. Sunny sudah menyiapkan makan malam. Tidak ada yang akan memakannya jika kau menolak."
"Baiklah," Maria segera berdiri dari tempatnya. "Aku akan segera turun."
Shane tidak merespon, pria itu kembali melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjuk ke angka 22.15.
"Kenapa dia belum muncul juga?" Ya, dari tadi ia memang menunggu kehadiran Jillian. Dari apa yang ia lihat, Jillian sangat menyayangi Sal. Bahkan ia sempat berpikir jika Sal adalah putra Jillian. Namun, pemikiran itu dipatahkan begitu melihat ketidakberdayaan Jillian saat Daisy menolak keras memberikan Sal kepada wanita itu.
Apakah mungkin Shane bersedia membeli Sal agar dia bisa menjebak Jillian tetap di sisinya?
Bunyi bel membuatnya berjengkit kaget. Ia segera melangkah lebar menuju pintu. Dan apa yang ia tunggu sejak dua jam yang lalu akhirnya berdiri di hadapannya. Hampir saja Shane bersorak kegirangan, untung saja ia masih bisa menahan diri agar tetap terlihat cool. Ya, Jilly berdiri di sana.
"Jilly?" menyapa dengan nada juga raut bingung.
"Ya." Jilly menjawab singkat.
"Apa yang kau lakukan di sini? Jam makan malam sudah lewat dan seingatku kau juga sudah membatalkannya," Shane melalukan drama konyol.
"Boleh aku masuk?"
"Ya, tentu saja." Shane meminggirkan tubuhnya, memberi ruang kepada Jillian agar bisa masuk.
"Jilly!!!" Maria berlari menghampiri mereka. Wanita itu langsung menggenggam kedua tangan Jillian begitu keduanya berhadapan.
"Dimana Sal? Dia sudah tidur?"
"Ya. Dia sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu." Maria melirik sungkan kepada Shane sebelum merapatkan tubuhnya pada Jillian agar wanita pengasuh itu bisa berbisik di telinga Jillian.
"Bagaimana sekarang? Daisy sudah menjual Sal kepadanya. Apa kau datang untuk menebus Sal?"
"Meski aku tidak tahu berapa harga yang ditetapkan Daisy sebagai harga, tapi aku sudah bisa menebak bahwa aku tidak memiliki uang yang cukup untuk menebusnya kembali."
"Ya, dia memberikan harga yang sangat tinggi," Maria kembali berbisik. Kedua wanita itu kemudian saling memandang dengan ekspresi tidak berdaya.
"Jadi kemana kau akan pergi?"
"Aku akan mencari rumah mulai besok. Malam ini aku akan menginap di hotel. Aku khawatir pada Sal dan ingin melihatnya sebentar."
"Dia sudah tidur," Shane menyeletuk. "Hm, Maria sangat lapar, biarkan dia ke dapur untuk makan. Aku akan menemanimu melihat Sal."
Maria segera meninggalkan Shane dan Jillian di sana.
"Bayi itu milikku," Ucap Shane seraya mempersilakan Jillian untuk duduk di sofa.
"Ya."
"Dia bukan bayiku."
Pernyataan tersebut membuat Jillian terkejut.
"Kau pasti mengira jika aku adalah ayah dari Sal."
"Bukankah kenyataannya begitu? Daisy berhasil mengelabuimu. Kau membayar bayimu sendiri."
"Jadi, kau sungguh mengira Sal adalah bayiku?"
"Kau meniduri adikku!"
"Hm, cacatku begitu banyak di matamu. Bagaimana jika kita mendengarkan rekaman ini?" Shane mengeluarkan ponselnya.
"Daripada menjadi pengusaha, mengapa kau tidak menjadi jurnalis. Kulihat kau sangat hobi merekam setiap percakapan."
"Aku hanya merekam pernyataan para wanita yang membuatku pusing. Kau harus meminta maaf padaku setelah mendengarkan ini."
Percakapan Shane dan Daisy pun terdengar. Semua pengakuan Daisy terekam dengan jelas. Wajah Jillian merah padam entah karena menahan malu atau marah. Dia sudah salah faham kepada Shane. Kebencian dan amarahnya hanya sia-sia. Shane tidak memiliki salah sama sekali atas kehancuran hidup Daisy. Masalah Shane melapor kepada kepala sekolah agar Daisy segera dikeluarkan juga bukan tindakan yang bisa disalahkan sepenuhnya. Kenakalan Daisy memang sudah keterlaluan. Andai Shane tidak melakukan hal itu, mungkin selamanya mereka tidak akan tahu tentang kenakalan Daisy.
Dan mungkin Noah akan tetap hidup. Jillian berbisik di benaknya.
"Sudah kukatakan, adikmu sangat payah juga liar. Aku tidak menyentuh wanita di bawah usia 20 tahun, Jilly. Daisy juga berhasil mengelabuimu. Dan omong-omong, aku memiliki tawaran bagus untukmu juga Sal. Mau mendengarnya?"