
"Awalnya kukira Jillian adalah kakak sedarahmu," kalimat yang mengandung rasa penasaran itu dilontarkan dengan nada santai yang terkesan seperti angin lalu. Shane juga tidak memandang Daisy, pria itu justru terlihat serius menuliskan jumlah uang yang sudah mereka sepakati di atas selembar cek. Tepatnya, jumlah uang yang diinginkan Daisy. Shane tidak melakukan tawar menawar sama sekali.
Ia juga tidak tahu kenapa ia harus membeli bayi ini. Selanjutnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan bayi tersebut.
Benar-benar mencari masalah! Ia mengejek dirinya sendiri.
"Dia hanya wanita yang tidak sengaja diasuh oleh keluargaku."
"Jadi Jillian anak adopdsi?" Shane memastikan, walau pun ia sudah bisa menebak saat mencuri dengar perbincangan antara kedua wanita itu.
Kejutan! Pantas saja Shane tidak menemukan kemiripan diantara keduanya. Manik mata Daisy berwarna amber, sementara Jillian berwaran biru keabu-abuan.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Kau sudah menulis ceknya dengan benar?"
"Hmm." Shane merobek cek dan memasukkannya ke dalam kantongnya, mengabaikan tangan Daisy yang sudah terulur, tidak sabar untuk menerima agar dengan segera mencairkan cek tersebut.
"Sabarlah sebentar, cek ini milikmu." Shane menyandarkan tubuh ke sandaran sofa. "Siapa namanya?"
"Nama?"
"Bayinya."
"Sal. Aku mendengar mereka memanggilnya Sal."
"Sal..." Shane membeo, kepalanya dimiringkan memandangi bayi yang terus mengoceh kepada Maria. Bayi gembul yang sangat menggemaskan. Bayi itu tampan, sangat tampan. Maniknya sama persis seperti Daisy, begitu juga dengan warna rambutnya.
"Dia bayimu?"
"Kau tidak mungkin mengira aku menjual bayi orang lain, bukan?"
"Mengingat keliaranmu, hal itu bukan sesuatu yang tabu untukmu. Apakah dia bayiku juga?"
Daisy tersenyum penuh misterius. Matanya menatap nakal pada setiap jengkal tubuh Shane yang sedang dalam posisi nyaman. Pria itu berdecak geli melihat cara Daisy merayunya.
"Menurutmu, dia terlihat seperti bayimu?"
"Tidak. Aku selalu membawa pengaman ke mana-mana," jawab pria itu dengan frontal. "Dan tidak mungkin bocor."
"Lantas, mengapa kau mau membelinya?"
"Hanya ingin. Itu saja."
Daisy mengangguk acuh, "Jika sudah selesai, berikan ceknya dan bawa bayi ini."
"Tidak ada berkas atau surat menyurat. Jadi, kau perlu membuat pengakuan bahwa Sal adalah benar bayimu dan benar juga kau sudah menjualnya kepadaku dan tidak akan ada masalah ke depannya. Jika terbukti, Sal bukanlah bayimu, maka yang harus menanggung resiko dan kerugian semuanya adalah kau." Shane meletakkan ponselnya dan mulai mengaktifkan perekam suara, kemudian ia memberi isyarat pada Maria untuk meminjamkan ponsel wanita itu agar merekam wajah Daisy.
Daisy mendengus," Astaga, bukankah ini sangat berlebihan," menolak dengan tegas.
"Tidak ada yang berlebihan jika menyangkut dirimu."
"Apa maksudmu?"
Shane mengubah posisi duduknya. Kedua kakinya di lebarkan kemudian ia menumpukan kedua sikunya di atas lutut.
"Kau berbohong kepada Jillian tentang aku yang mempengaruhimu atas ketergantungan terhadap obat-obat terlarang."
"Aku membutuhkan tumbal dan alibi," Daisy mengidikkan bahunya dengan santai.
"Wuah, kau licik sekali. Omong-omong, apakah kau juga mengatakan jika aku menidurimu hingga hamil?"
Daisy tidak menjawab, tapi wanita itu justru terbahak.
"Tidak heran jika Jilly sangat bersemangat untuk membalaskan dendammu."
"Kekasihku tidak ingin ada bayi. Tapi aku ingin ada bayi untuk menjebaknya agar selalu bersamaku. Ternyata, pria sialan itu benar-benar tidak ingin ada bayi. Aku mengancamnya dan dia mengancamku kembali. Aku kalah dan berniat untuk menggugurkan bayiku, tapi Jillian bertingkah layaknya pahlawan dan aku menyesal kenapa harus mendengarkannya. Well, sekarang kurasa bayi itu tidak buruk-buruk sangat, dia bisa memberikan uang yang lumayan. Kurasa kita harus mengakhiri pertemuan ini, Shane."
"Kenapa kau membiarkan Jillian salah faham. Dia membenciku."
"Oh yeah?"
"Kau menggagalkan rencanaku dan karena ualahmu, aku dikeluarkan dari sekolah. Jillian mengirimku ke neraka."
"Kukira kau salah satu dari deretan wanita yang terobsesi denganku. Sepertinya aku salah."
Daisy kembali tertawa, "Kau terlalu menganggap tinggi dirimu. Kau bukan seleraku Shane meski kuakui ciumanmu sangat memabukan."
Shane ikut terkekeh, "Aku beruntung kalau begitu. Aku juga tidak menyukai remaja payah yang liar."
"Aku bukan remaja lagi!"
"Yeah, aku bisa melihatnya." Matanya dengan nakalnya menjatuhkan pandangan pada dadaa Daisy yang mengenakan pakaian yang cukup ketat.
"Kapan kita akan menyelesaikan basa basi ini."
"Sampai kau selesai merekam apa yang kukatakan tadi." Shane menunjuk ponselnya yang terletak di atas meja.
"Bagaimana jika aku tidak bersedia melakukannya?"
"Kau tidak akan mendapatkan uangmu kalau begitu," ucapnya dengan santai. "Aku harus makan malam lagi. Waktuku tidak banyak."
"Jillian sudah membatalkan acaranya denganmu."
"Acaraku bukan hanya dengannya saja."
Daisy tertawa, "Ya, aku tahu. Kau memiliki banyak janji temu dengan para wanita."
"Sepertinya kau sangat mengenalku."
"Ayolah, kita pernah berkencan walau hanya satu malam."
Shane berdiri dari tempatnya, "Kurasa kesepakatan ini tidak berjalan mulus. Aku harus pergi."
Sebelum Shane mengambil ponselnya, Daisy sudah merebutnya terlebih dahulu. Wanita itu langsung merekam apa yang dikatakan Shane beberapa saat lalu.
Shane memberikan ceknya setelah menerima kembali ponselnya dan memeriksa bahwa rekaman itu tersimpan dengan benar.
"Noah saudaramu?"
"Dia kakakku."
Shane menganggukkan kepala lalu memberi perintah kepada Maria agar mengemas pakaiannya juga barang-barang yang dibutuhkan Sal. Lima belas menit kemudian, Maria kembali turun membawa semua yang ia dan Sal butuhkan.
"Sampai bertemu kembali, Shane." Daisy melambaikan tangan dengan senyum manis merayu.
Shane menukik alisnya, memandangi wajah Daisy dengan seksama. Ada yang salah, tapi ia belum menemukan apa sesuatu yang terasa ganjil tersebut. Harusnya ia marah kepada Daisy atas fitnah wanita itu sehingga membuat Jillian salah faham. Tapi yang ia lakukan justru meladeni semua ingin Daisy.
"Tidak ingin memeluk Sal atau menciumnya untuk yang terakhir kalinya?"
Daisy menggeleng seraya mengibaskan tangannya, "Dia berada di tangan yang tepat."
Shane mencerna kalimat tersebut, kalimat yang mengandung makna tersirat. Menurutnya ini terlalu mudah, apakah kedua bersaudara Nelson ini sedang bersekongkol untuk mengelabuinya. Mengingat raut wajah Jillian, Shane cepat-cepat menyangkal hal tersebut. Karena aktris profesional sekalipun tidak akan mampu berakting memasang raut wajah terluka dan menyedihkan seperti yang terlihat di wajah Jillian.
"Berhentilah mengkonsumsi obat terlarang. Kau masih muda."
"Ya, akan kuingat nasehatmu. Sampaikan maafku pada Mrs. Torres."
"Atas tamparan yang kuberikan." Daisy menambahi.
"Kau sungguh mengusir Jillian?"
"Ya, sudah saatnya dia bebas. Dia harus memikirkan hidupnya." Daisy menjawab acuh tidak acuh. Tapi jawaban tidak terduga tersebut cukup membuat Shane terkejut. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kedua wanita.