
Shane diundang sebagai tamu istimewa di salah satu sekolah khusus putri. Di mana Torres Hamilton merupakan pemegang saham terbesar sekolah tersebut.
Pertemuan semacam ini sebenarnya bukanlah pertemuan yang akan sudi dihadiri Shane. Tapi, ayahnya selalu memiliki segudang cara untuk menjatuhkannya. Blade Torres, pria yang mempunyai andil besar atas kelahirannya ke dunia juga merupakan musuh terbesarnya dalam hal apa pun. Shane tidak akan membiarkan Blade menang hanya karena pria tua itu mendorongnya ke dalam perangkap yang berisi ratusan para gadis-gadis segar yang masih belum matang sepenuhnya.
Shane menganggap jika undangan itu hanya masalah kecil. Ia hanya perlu menyampaikan satu atau dua kata lalu mengangkat gelasnya untuk bersulang.
Nyatanya tidak semudah itu. Wajahnya yang rupawan dan juga ketenarannya membawa masalah besar baginya. Para remaja itu mengerubuninya seperti semut. Tidak membiarkannya pergi begitu saja. Banyak kamera dimana-mana dan Shane harus menjaga sikap pada gadis-gadis itu.
Beberapa diantaranya mengajak berfoto, beberapa diantaranya mengajak berdansa dan beberapa lainnya memaksanya untuk duduk menikmati minuman bersama mereka.
Shane benar-benar terjebak. Grey, sahabatnya bahkan tidak berhasil menyelamatkannya. Pria itu juga terjebak dengan para remaja yang menurutnya hormon mereka terlalu bersemangat.
"Berkencan satu jam denganku, kau akan kuselamatkan." Sebuah bisikan merdu terdengar di telinga kirinya. Shane menoleh, menemukan gadis yang menurutnya paling manis diantara semuanya tapi juga paling berani dalam hal berpakaian. Semuanya serba ketat dan pendek. Gadis itu tersenyum nakal dengan mengangkat kedua alis menunggu jawaban atas tawarannya.
Shane tidak menyukai keramaian. Kepalanya menghentak-hentak sakit. Ia sudah hampir menghabiskan dua bungkus rokok dan menghembuskan asapnya dengan sembarang. Para remaja itu tetap tidak melepaskannya. Dadanya mulai terasa nyeri, harusnya ia menghentikan kegiatannya merokok. Namun ia tidak melakukannya sama sekali. Mual mulai menyerang. Akhir-akhir ini ia kerap mengalami hal tersebut.
Shane menyunggingkan bibirnya yang menambah kadar ketampanannya. "Kau bisa menyelamatkanku?" Ia melirik nama yang tertera di dadaa gadis itu. "Daisy? Nama yang indah."
"Kau bersedia berkencan denganku?"
"Aku akan memukul kepalamu jika kau gagal."
Sepuluh menit kemudian, Shane dan Daisy sudah berada di parkiran. Shane bisa saja kabur dan meninggalkan Daisy begitu saja, tapi ia tidak melakukannya. Berkencan satu jam, menurutnya bukan masalah, ia tinggal mengajak Daisy makan di resto mewah dan satu jam pun selesai.
"Saatnya kau menepati janjimu."
Shane mengangguk, mempersilakan Daisy masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Terima kasih atas pertolonganmu," Shane mengerling nakal.
"Kau harus menyenangkanku kalau begitu." Daisy tersenyum manis. Shane, di tengah kepala yang menghentak-hentak masih sempat melirik ke arah paha Daisy yang mulus. Dasar pria durjana mata keranjang!
Kencan satu jam berlangsung hingga tiga jam! Daisy ternyata gadis yang cukup menarik untuk sekedar mengisi waktu luang.
"Jadi kau hanya tinggal bersama kedua kakakmu, Daisy?"
"Ya."
"Dan mereka tidak tahu jika kau remaja yang sangat nakal," Shane kembali menyapu pandangan secara terang-terangan kepada Daisy yang sontak menimbulkan semburat merah jambu di pipinya.
"Aku gadis yang baik," Daisy merungut manja.
"Ya, di mata mereka kau tentunya gadis yang baik. Alkohol? Wah, usiamu masih 16 tahun dan kau sudah kuat meminumnya?"
"Aku dan beberapa temanku sering melakukannya." Daisy menggelengkan kepalanya.
"Kau mulai mabuk."
"Kau yang mulai mabuk, Shane."
"Hmm, aku tidak menyangkalnya."
"Bagaimana jika kita bersenang-senang sedikit, Shane."
"Bersenang-senang?" Shane mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. "Seperti ini?" bisiknya dengan nada sensual. Alkohol selalu berhasil membuat semua orang hilang akal.
"Ya, seperti ini," Daisy menurunkan tatapannya ke bibir Shane yang sensual.
"Kau memiliki kekasih?" Tangan Shane kini berada di pipi Daisy.
Alis Shane menukik sebelah, "Membalasnya dengan merayuku?"
"Membalasnya dengan bersenang-senang denganmu. Dia akan cemburu kepadamu."
"Ah, aku mengerti. Aku sedang dimanfaatkan."
"Kau tidak akan mengerti." Daisy menyapu bibir Shane dengan jemarinya dan Shane dengan tololnya memejamkan mata menikmati sentuhan tersebut. Alkohol memang pembawa petaka karena di detik selanjutnya bibir keduanya saling memagut satu sama lain.
Shane menggelengkan kepala mengenyahkan kenangan itu. Apa yang ia katakan kepada Jillian tidak sepenuhnya bohong tapi juga tidak sepenuhnya benar.
"Andai tidak mengingat jika Daisy adalah remaja yang baru berusia 16 tahun, aku sudah menendangnya ke jalanan."
"Sekarang aku tahu dari mana adikmu yang liar itu belajar taktik menyerang. Apakah keliarannya juga dipelajari darimu, Jilly?"
Shane nyaris terlambat menyadari sebuah tangan melayang ke arahnya. Ia berhasil menahan tangan Jillian sebelum telapak tangan wanita itu mendarat di wajahnya.
Sambil mencengkram pergelangan tangan Jillian, Shane menatap mata kucing itu dengan lekat sambil berkata, "Aku tidak tahu menahu soal narkoba. Berhati-hatilah menuduhku!"
"Setelah aku melihat apa yang terjadi dengan adikku, kau pikir aku percaya dengan karanganmu. Aku memiliki bukti bahwa kau dan Daisy menghabiskan waktu bersama sehari sebelum dia dikeluarkan. Kau dan dia mabuk-mabukkan. Aku memiliki fotonya. Kau dan Daisy menjalin hubungan dan kau mencampakkannya!"
"Dia mengatakannya begitu?"
"Itulah kenyataannya! Kau menjebak adikku hingga membuatnya..."
"Hingga membuatnya?"
"Hingga membuatnya dikeluarkan dan sekarang ia masih harus mendapatkan perawatan. Kau adalah monster yang mengerikan. Monster yang berhasil membongkar kedokku yang membuat usahaku sia-sia. Kau aman dengan segudang rahasia yang kau miliki dan aku harus menyerah dengan dendam dan kebencianku. Kau akan dengan mudah menyangkal semuanya. Aku akan keluar dari rumahmu malam ini juga. Aku kalah."
"Kau pikir semuanya sudah berakhir dan aku membiarkanmu pergi begitu saja?"
"Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. Kau sudah mendengar semuanya dan bahkan aku tidak melihat sedikit penyesalan di wajahmu yang angkuh."
"Aku memang tidak menyesal dan aku tidak akan meminta maaf kepadamu. Aku tidak memiliki salah apa pun kepadamu. Justru sebaliknya, kau lah yang mempunyai masalah denganku. Kau menyusup ke dalam hidupku. Kau dan rekan kerjamu bersekongkol. Kau pikir aku akan tinggal diam saat kau mengusik hidupku."
"Apa maksudmu?!"
"Sudah ada gosip yang beredar tentang diriku di media. Kau sudah menyebabkan sesuatu, membangkitkan kecurigaan orang-orang, menimbulkan desas desus miring. Kau tidak bisa pergi tanpa meluruskan semuanya." Ya, Shane mendapat panggilan dari Yora bahwa Shane dikatakan melakukan pencucian dana atas investasi para kliennya.
"Kenapa aku harus meluruskannya disaat aku belum melakukan apa pun?"
"Seperti kau yang tidak percaya denganku, aku pun demikian. Aku tidak ingin mengambil resiko apa pun menyangkut kesehatan bisnis dan juga reputasiku."
"Ya, aku jelas tahu tentang hal itu. Alasan mengapa kau mencampakkan adikku dengan begitu kejam."
"Tetaplah bekerja untukku sampai kau berhasil menyelesaikan masalah ini."
"Tidak bisa!"
"Tentu saja bisa." Shane bergumam datar. "Kau tidak mengundurkan diri dari pekerjaamu atau aku akan menyerahkan salinan pengakuanmu kepada editormu, pengacaraku juga polisi." Shane mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ya, ia merekam perbincangan mereka.
"Dan kenyataan tentang adikmu yang liar dan pecandu juga akan tersebar. Aku tidak tahu berapa banyak hukum yang kau langgar, tapi kau jelas sudah melanggar kode etik yang seharusnya kau junjung. Karirmu akan berakhir dan mungkin kau juga akan berakhir di penjara."
"Dasar bajiingan!" Jillian menerjang dengan begitu cepat. "Berikan ponselnya!" tangannya terulur dengan gemetar.
"Tidak akan." Shane mengangkat kedua tangannya ke udara. "Jangan berpikir untuk mencurinya karena aku sudah menyalinnya secara otomatis. Seharusnya kau memikirkan matang-matang sebelum melawanku. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Kau butuh tenaga untuk menyelesaikan masalahku esok hari."