
Shane mendekap jantungnya begitu ia sampai di dalam kamar. Ia memastikan pintu kamar dikunci dengan benar khawatir jika seseorang akan menyelonong masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang sedang ia lakukan sekarang.
Napasnya naik turun, punggungnya disandarkan di daun pintu, menempel layaknya cicak yang melekat di dinding. Ya, saat ini ia tidak keberatan untuk cosplay menjadi cicak. Andai ia tidak bersandar di daun pintu, ia tidak yakin apakah ia masih bisa berdiri dengan tegap. Jujur, ia sudah kehilangan kekuatan di kakinya untuk menopang tubuhnya.
Tindakannya tadi benar-benar gila! Astaga, ia tidak menyangka ia bisa melakukan tindakan seperti itu. Mengecup Jillian seraya mengucapkan selamat malam. Kalimat sejak kapan kembali terngiang. Belum pernah dalam sejarah ia bersikap manis seperti itu. Belum pernah sejarahnya ia mengecup seseorang tanpa ia sadari. Dorongan itu datang secara naluri dan dampaknya terhadap jantungnya benar-benar membuatnya khawatir.
"Tindakan gila apa yang kulakukan tadi?" Sebelah tangannya menyentuh bibirnya. "Aroma pipi Jillian ada di sini."
"Kurasa ada yang salah dengan diriku." Perlahan dia melangkah melintasi ruangan tanpa melepaskan dekapannya pada jantungnya. Seperti manusia yang kehilangan jiwanya, Shane duduk di tepi ranjang. "Atau sesuatu yang salah itu berasal dari wanita itu. Ya, dia yang membuatku melakukan hal-hal konyol di luar kendaliku. Dia pasti memiliki ilmu sihir. Sekarang, apa yang dia lakukan di bawah sana? Apakah dia sudah pulang? Atau mungkin dia sedang merayakan kemenangannya karena sudah berhasil membuatku seperti pria mesum yang tolol."
"Jantung! Berhenti membuat ulah. Tenanglah, kecupan itu tidak berarti apa-apa." Tangannya mengusap lembut dadaanya seakan-akan ia memang sedang membujuk menenangkan jantungnya.
Sementara Shane sedang menenangkan dirinya atas tindakan tidak terduga yang ia lakukan, kondisi Jillian sebagai korban yang menerima kecupan yang tidak diharapkan itu juga mengalami shock. Cegukannya baru berhenti setelah lima menit berlalu. Tangannya masih menempel di pipi di mana bekas bibir Shane menempel.
Ia marah, sangat marah dengan kelancangan pria itu. Logikanya berteriak agar ia menghentikan Shane dan melayangkan tamparan kepada pria itu atas balasan dari perbuatan tidak terpuji si bayi raksasa mesum itu. Tapi yang terjadi, ia justru hanya bergeming. Kakinya seolah terpaku di lantai.
Begitu kesadarannya kembali, tubuhnya langsung merosot ke sofa.
"Kau baik-baik saja?"
Suara Maria akhirnya benar-benar mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
"Oh, ya. Sal sudah tidur?"
Jillian mengangguk, pun ia segera berdiri dari tempatnya.
"Pipimu baik-baik saja?"
"Hah?" Jillian terlihat bingung dengan pertanyaan Maria.
"Sejak tadi kau memegangi pipimu.
"Oh, ada nyamuk nakal yang menghisap darahku."
"Kau menamparnya terlalu kuat?" Maria memendarkan pandangan ke segala ruangan. Dari tadi ia tidak melihat ada seekor nyamuk pun yang berkeliaran di sekitarnya. Rumah itu bersih dan wangi, mustahil ada nyamuk. Tapi, ia juga tidak bisa meragukan ucapan Jillian karena wanita itu bukan tipe wanita yang pandai membual dan mengarang cerita. Jillian juga tidak suka berbasa basi. Meski sesama perempuan, mereka hanya berbicara seperlunya saja.
"Hmm. Aku sedikit kesal dengannya."
"Dengannya?" Maria mengernyit bingung.
"Dengan nyamuknya!" Jillian melotot kesal. Untuk pertama kalinya Maria melihat Jillian memainkan ekspresi. "Dia mencuri darahku dan aku tidak sudi."
"Tenanglah, dia hanya seekor nyamuk yang sedang mencoba bertahan hidup. Kau tidak akan kehabisan darah hanya karena dia mencuri sedikit darahmu. Mungkin saja dia sudah meminta izin kepadamu, hanya saja kau tidak bisa mendengarnya."
"Fantasi yang luar biasa. Di mana kamar Sal?"