Yes, Boss

Yes, Boss
Tidak Nyaman



Pagi-pagi sekali, Jillian sudah sibuk mengurusi Sal. Maria hanya diam memperhatikan. Ia hanya akan mengambil alih tugas menjaga Sal jika Jillian benar tidak ada di rumah. Terkadang Maria sangat salut dengan kecekatan Jillian mengurus bayi Sal mengingat Jillian bukanlah seorang wanita yang pernah memiliki anak. Jillian juga bukan seperti Maria yang sudah dibekali ilmu sebagai babysitter yang handal. Andai ada orang lain yang memperhatikan cara Jillian merawat Sal tanpa mengetahui cerita sebenarnya, mereka akan menganggap bahwa Sal memang putra kandung Jillian.


"Bayiku pintar sekali," puji Jillian dengan bangga saat bayi itu mengulurkan sendok ke arah mulut Jillian. Ya, saat ini Sal sedang menikmati sarapan paginya dan Jillian selalu membiarkan Sal menyuapi dirinya sendiri.


"Kau tidak ke kantor? Ini sudah jam tujuh," Maria mengingatkan.


"Aku sudah meminta izin untuk datang terlambat satu jam. Aku akan memandikan Sal sebelum aku pergi."


"Kalau begitu apa kau keberatan jika aku meninggalkan kalian berdua untuk mandi?"


"Silakan, Maria." Jillian tersenyum samar dan tipis, nyaris tidak terlihat tapi Shane yang berdiri beberapa meter dari mereka bisa melihatnya dengan jelas. Menurutnya, itu senyum Jillian paling tulus dalam beberapa hari ini.


"Jantung ini berulah lagi," seraya meletakkan tangan tepat di dadaa. "Sepertinya aku perlu menemui dokter."


Melihat Maria beranjak pergi dari, Shane mendekat.


"Morning," mengatur suara agar terdengar sesantai mungkin. Jillian yang sedang duduk di lantai bersama Sal, mendongakkan kepala.


"Morning," Jillian menyahut dengan nada yang tidak kalah ringan. Shane memperhatikan ekspresi wajah wanita itu. Datar seperti bisanya. Kemudian Shane memperhatikan area di sekitar mata, tidak ada kantung mata yang berwarna lebam sama sekali yang artinya tidur Jillian tidak terganggu sama sekali.


Shane menemukan dirinya kesal sendiri melihat kondisi wanita itu. Dia bahkan belum memejamkan mata sama sekali. Selain jantungnya yang berulah, ia selalu terbayang-bayang dengan wajah Jillian. Saat mencoba memejamkan mata, wajah Jillian juga muncul dengan delikan mata tajam. Dia bukan pria yang percaya akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi ia tidak yakin apa yang ia rasakan ini adalah cinta. Tapi jika bukan sedang jatuh cinta, lantas apa namanya?


Shane memilih untuk tidak mencari jawabannya.


"Aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Aku serius, Jilly," suaranya memelas. Shane memang sangat yakin dengan hal itu. Tapi hingga kini, ia belum mengingat dimana mereka bertemu. Mungkin ia terbiasa melupakan nama seseorang, tapi tidak dengan wajahnya.


Jillian mengangkat Sal dan segera berdiri di hadapan Shane. "Mungkin kau masih bermimpi. Sepertinya kau butuh air dingin untuk mengembalikan kesadaranmu." Jillian berjalan melewati pria itu. Baru dua langkah, ia kembali berhenti. "Aku melihat kotoran di matamu sebesar biji jagung. Ck!"


"A-apa?!" Shane refleks membersihkan matanya dan ternyata Jillian hanya berbohong.


"Dasar pembohong!" Shane menyejajarkan langkahnya dengan Jillian. Wanita itu mengabaikannya dengan terus mengajak Sal berbicara. Bocah tampan itu juga mengoceh tidak jelas seakan mengerti dengan apa yang dikatakan Jillian.


"Kau tidak bekerja?"


"Bekerja."


"Aku akan mengantarmu."


"Aku sudah memesan taksi."


"Kau tinggal membatalkannya."


"Kenapa aku harus membatalkannya?"


"Karena aku ingin mengantarmu."


Jillian menghentikan langkah, lalu menatap Shane dengan lekat kemudian berkata, "Hanya karena aku tidak menamparmu atas kelancanganmu tadi malam, bukan berarti aku menyukainya. Dan disaat aku menolak kebaikanmu dengan jelas, harusnya di sini kau juga faham, Mr. Hamilton Torres. Aku tidak nyaman berada di dekatmu." Jillian kembali melanjutkan langkah, sementara Shane mendadak lupa bagaimana cara untuk mengayunkan kakinya.