Yes, Boss

Yes, Boss
Cucu dan Menantu



Shane tiba-tiba terbahak seperti orang gila setelah Jillian tidak terlihat lagi. Tawanya bukan karena humor atau terhibur karena bahagia, tetapi karena kembali ia dibuat terkejut dengan reaksi tubuhnya terhadap sikap Jillian yang super dingin. Belum lagi tatapannya yang membunuh, menghunus tepat di jantungnya. Mata kucing yang begitu indah menurutnya.


Shane menyusul Jillian ke kamar yang sudah disediakan khusus untuk Sal. Menggoda wanita itu terasa sangat menyenangkan. Tidak terbiasa diabaikan oleh para wanita, Shane merasa ada tantangan tersendiri saat menghadapi Jillian.


Sampai di kamar Sal, Shane langsung disambut dengan suara tawa yang menggelitik yang berasal dari toilet. Meragu apakah ia harus melihat ke dalam bilik kamar mandi apa yang membuat mereka tertawa atau ia harus diam menunggu dengan manis di dalam kamar sambil memikirkan desain seperti apa yang cocok untuk Sal. Dibanding memikirkan ide, sungguh Shane lebih tergoda untuk mengintip karena penasaran akan terlihat seperti apa wajah Jillian saat sedang tertawa lepas.


"Kurasa aku tidak akan melanggar norma kesopanan karena pintunya juga tidak ditutup." Shane mengambil kesimpulan sendiri. Pun tanpa berpikir lagi, ia mengayunkan kakinya secara perlahan.


Shane bernapas lega tapi juga sedikit kecewa ketika tidak melihat sesuatu yang bisa membuat matanya segar. Jillian masih mengenakan pakaian lengkap, tapi wanita itu ikut masuk ke dalam bak mandi bersama Sal dan keduanya memainkan buih sabun seakan busa tersebut merupakan mainan yang paling menarik.


Shane membatu, terpana, tercenung menatap interaksi keduanya yang terlihat begitu alami dan hangat. Shane tidak terlalu menyukai anak kecil, tapi bukan berarti ia membencinya, namun ia tidak mempunyai mimpi akan memproduksi keturunan karena menikah tidak ada di dalam daftar hidupnya. Jadi, bagaimana mungkin ia akan memiliki anak jika ia tidak memiliki keinginan untuk mempunyai istri. Namun, melihat Sal, ia mendadak seolah mengerti apa yang dirasakan bayi tersebut. Sal begitu menyukai Jillian. Ikatan diantara keduanya begitu kuat. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Jillian begitu pintar memainkan peran sebagai seorang ibu?


Apakah sebelumnya dia sudah memiliki anak bersama suaminya yang bernama Noah?


Menyebut nama suami Jillian, Shane merasa sangat tidak nyaman. Apakah ia sedang cemburu kepada suami wanita itu? Suami yang sudah pergi untuk selamanya.


"Kau di sini rupanya?"


Dengan gerakan cepat, Shane menoleh ke belakang melewati bahunya. Seorang wanita setengah baya melintasi ruang kamar sambil tersenyum hangat.


"Mom?"


"Kau selalu mengabaikan panggilanku, Ibumu yang sudah tua ini sangat merindukanmu. Jangan terlalu kejam sebagai anak. Tidakkah kau merindukan Ibu... Suara apa itu?"


Senyum di wajah ibunya pudar seketika berubah menjadi tegang juga pucat.


"Kau membawa wanita murahan ke dalam rumah ini?" Langkah ibunya semakin lebar.


"Mom, kau...." Shane tidak melanjutkan ucapannya karena ibumu sudah berdiri di depan pintu toilet.


"Oh Tuhan," Pekikan kaget ibunya membuat Jillian dan Sal kompak menoleh.


Jillian yang juga tidak kalah kaget segera berdiri dan mengangkat Sal keluar dari bak mandi.


"Siapa kau?!" tanya ibunya penuh selidik juga dengan tatapan bermusuhan.


"Mom, dia Jillian dan bayi tampan itu Sal."


Jillian mengangguk sopan begitu mendengar Shane memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Wanita itu tidak melunak sama sekali. Tatapannya masih saja menghunus dan menilai.


"Bisa kau jelaskan dengan benar, Shane."


"Mom..."


"Ternyata sekarang seleramu bukan hanya wanita murahan yang masih single melainkan wanita murahan dengan paket komplit. Buy one get one."


"Mom, Jilly bukan wanita seperti itu." Shane menatap Jillian tidak enak hati. Ia juga khawatir wanita itu membalas ucapan ibunya dengan kasar karena melihat lobang hidung Jillian sudah kembang kempis. Ya, siapa yang tidak tersinggung dengan tudingan wanita murahan.


"Oh ya? Lalu wanita seperti apa? Bagaimana bisa kau tidak berubah sama sekali?" Ibunya memiringkan kepala, kali ini menatap Shane dengan sangat kecewa.


"Kau terlalu overthinking, Mom." Shane mengusap pundak ibunya. "Bagaimana bisa kau menyebut istriku wanita murahan."


Pengakuan Shane terang saja membuat kedua wanita beda usia itu terkejut.


"Istri?" Ibunya memastikan.


"Ya, istri dan bayiku." Shane melangkah lebar mendekati Jillian, menatap wanita itu dengan tatapan memohon agar tidak membuka mulut mengatakan sesuatu.


"Kumohon diamlah, Ibuku memiliki riwayat penyakit jantung kronis." Bisiknya dengan lembut sebelum berdiri di samping wanita itu dan merangkulnya dengan mesra. "Mengenai Sal, kita akan bernegosiasi kembali. Sekarang, tolong bekerjasama denganku. Kau hanya perlu diam saja."


"I-Istri? Bayi? Oh..." wajah sinis ibunya seketika melunak. Mata yang tadi menatap penuh intimidasi kini menatap penuh haru. "Kau tidak sedang membohongi Ibumu, Shane?"


"Kapan aku berbohong padamu, Mom?"


"Kau selalu berbohong padaku, bahkan saat kau sudah terbaring sekarat di rumah sakit. Oh Tuhan, mereka anak dan istrimu?"


"Ya, cucu dan menantumu."