
Ini gila! Benar-benar gila!
Jillian memang menginginkan berada di dekat Shane untuk membalaskan dendam sang adik. Mencari celah kekotoran bisnis dan reputasi pria itu. Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa ia harus berada di sisi pria itu sepanjang waktu. Ada rasa mual yang membuat perutnya melilit membayangkan hal itu. Di lain sisi, ada dorongan yang meyakinkan dirinya itu mengikuti ingin pria itu. Mungkin saja di rumah pribadi pria itu ia bisa mendapatkan celah itu dengan mudah. Shane harus hancur, baik reputasi atau pun bisnis pria itu. Itulah harga yang pantas pria itu dapatkan menurutnya.
Mengingat Daisy yang selalu menolak panggilannya membuat semangatnya berkobar. Sekarang, ia seolah tidak mengenal adik kecilnya itu lagi.
Baiklah, mari memulai penyelidikan dari properti yang dimiliki pria ini. Jilly berucap. Semua daftar properti yang dimiliki Shane sudah ia kantongi. Sejauh penyelidikan yang dilakukan Jilly, semuanya bersih. Shane sangat taat pada hukum aturan. Semua pajak dibayar tepat waktu.
Namun, bayangan bahwa ia harus tinggal di atap yang sama dengan pria yang begitu menawan, sedikit membuatnya takut. Aura bahaya yang dipancarkan pria itu begitu keras dan nyata. Jilly tidak meragukan dirinya yang mungkin saja terpesona dengan rayuan Shane, tapi kenyataan bahwa ia adalah seorang wanita yang tidak akan bisa melawan kekuatan seorang Shane tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Ini terlalu mendadak," Jilly mencari alasan untuk menyelamatkan diri. Tidak akan ia biarkan Shane mengendalikan dan menguasainya meski pria itu secara terang-terangan menjadikannya seorang budak.
"Tidak ada yang mendadak, Jilly. Kurasa Yora sudah mengatakan dengan jelas bahwa siapa pun yang memenangkan posisi ini harus siap untuk bekerja."
Jilly menebak jika Yora adalah wanita yang melakukan wawancara dengannya pertama kali. Wanita cantik, bijaksana dan efisien. Jilly bisa menebaknya dari cara wanita itu berpakaian dan sanggulan rambut yang sangat rapi. Sepertinya ia harus mengikuti cara Yora berpenampilan untuk melindungi dirinya dari tatapan jahat Shane yang memandanginya secara terang-terangan dengan tatapan nakal.
"Ya, kau benar. Tapi aku perlu kembali ke rumahku. Ada beberapa hal yang harus kuambil."
"Jika yang ingin kau ambil adalah pakaian, sebaiknya kau mengatakan ukuranmu kepada Yora. Dia akan menyediakan apa yang kau butuhkan."
Jilly benar-benar tidak bisa berkelit. Shane sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Sumpah demi apa pun, Jilly melihat kilatan kepuasan di manik pria itu. Kilatan kemenangan. Apakah dia sudah curiga padaku? Pikiran itu tiba-tiba membuatnya tersentak panik.
"Kau sangat murah hati sekali. Tapi, kurasa itu tidak perlu."
"Kau harus melayaniku, tentu kenyamananmu juga harus kuperhatikan. Sudah saatnya berangkat." Shane mengakhiri perbincangan. Tidak menerima negosiasi juga bantahan. Shane beranjak dari kursinya, melempar kunci mobil yang ditangkap Jilly dengan sempurna. Shane menyunggingkan senyum geli disusul dengan siulan jenaka seraya berjalan keluar dari ruangan. Jilly mengekorinya dari belakang. Sampai di basement, Jilly berhenti begitu Shane berhenti di depan sebuah Porsche putih.
Jilly memang memiliki SIM meski ia tidak memiliki mobil, ia pandai mengemudi, patuh terhadap perturan lalu lintas. Hanya saja, seumur hidupnya belum pernah mengendarai mobil sport. Mengendarai mobil biasa jelas berbeda. Bagaimana jika ia membuat mobil mahal ini lecet dan babak belur.
"Ada masalah?" kening Shane berkerut memandangi Jilly. Beberapa jam bersama pria ini, Jilly menyimpulkan bahwa Shane pria yang cukup peka terhadap keadaan sekitar. "Kau memiliki SIM?" Shane kembali bertanya saat tidak mendapat jawaban dari Jilly.
Jilly memberikan jawaban berupa anggukan.
"Masalahmu sepertinya berada pada mobilnya. Baiklah, aku yang akan menyetir," Shane merebut kembali kunci mobil dari tangan Jilly. Pria itu mengitari mobil dan duduk di belakang setir kemudi.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tepatnya, Jilly memalingkan wajah ke luar jendela, berpura-pura menikmati perjalanan. Jilly menegakkan tubuh begitu mobil berhenti. Di hadapannya terlihat rumah Shane. Bangunan yang menakjubkan.
Rumah itu hanya terdiri dari dua lantai, tapi sangat luas. Terlihat seperti biara bertembok putih yang dikelilingi teras melingkar berwarna merah yang senada dengan atapnya yang membuat bangunan itu semakin terlihat menawan. Sepertinya, segala sesuatu yang berkaitan dengan Shane selalu menakjubkan. Wajar saja banyak wanita yang bertekuk lutut di hadapannya.
"Rumahku," ujar pria itu.
"Indah sekali," Jilly memberikan reaksi jujur.
"Ya, bagian dalamnya juga tidak kalah indah."
"Berapa lama aku harus tinggal di sini?"
"Kita baru beberapa menit sampai, kau sudah bosan saja. Kenapa? Kau tidak nyaman tinggal seatap denganku, Jilly?"
Jilly merasa malu karena tebakan Shane tentangnya selalu tepat.
"Kau akan di sini selama kau menjadi asistenku. Kurasa ini sudah jelas."
Baiklah, tugasnya adalah memastikan kebutuhan pemilik rumah ini terpenuhi. Jilly berharap semoga ia mendapatkan sesuatu yang berharga bersifat rahasia yang bisa ia manfaatkan. Ia memiliki tenggat waktu. Perusahaan memberikannya izin karena Jilly berhasil menciptakan gosip murahan tentang bisnis kotor Shane. Shane selalu menjadi pusat perhatian dan Jilly adalah jurnalistik yang cukup handal. Editornya mempercayainya dengan begitu mudah. Rasa bersalah menyelubungi relung hatinya. Ini adalah kebohongan pertama yang ia lakukan di tempat kerja. Kebohongan yang sangat beresiko sebenarnya.
"Ayo," Shane menuntunnya masuk. Tidak ada pelayan yang menyambut, keresahannya semakin menjadi begitu mereka masuk ke dalam rumah yang hanya diselimuti kesunyian. Hari masih sore, kemana para pelayan pergi?
Keresahannya sejenak meredup begitu menyadari keindahan rumah Shane. Langit-langitnya yang tinggi dan dinding-dindingnya yang putih diselingi ubin berwarna warni yang menutupi lantai. Ruang makan yang begitu luas.
Dapurnya seukuran rumahku, batinnya.
"Sunny adalah kokimu?"
"Ya, jika kau lapar, aku bisa memanggilkannya."
Jilly bernapas lega mendengar jika di rumah ini memang ada pelayan. Setidaknya ia dan Shane tidak berduaan. Tapi kata-kata Shane selanjutnya meleburkan kelegaan yang baru ia dapatkan beberapa detik lalu.
"Pelayan tinggal di rumah yang berbeda. Di belakang bangunan ini ada beberapa pondok. Di sanalah para pelayan berada." Ya, Shane membutuhkan privasi.
Alarm bahaya berdering di telinga Jillian, "Jadi siapa saja yang tinggal di sini?"
"Kita berdua. Kau dan aku."
"Hanya kita berdua?"
"Ya."
Jilly kembali melihat kilatan berapi-api di manik indah pria itu. Lubang hidung pria itu juga mengembang seolah sedang menahan tawa.
"Sementara kita tinggal di rumahku yang indah ini. Malam-malam di sini, hanya menjadi milik kita berdua."
Jilly merasakan kepalanya berdenyut sakit mengartikan ucapan ambigu pria itu.
"Rumah ini sudah dikelola dengan sangat baik. Kau tidak akan kuminta membersihkan lantai, tangga atau pun kebun. Kau hanya perlu mengabdikan waktumu untukku dan kita akan saling mengenal dengan baik. Tidakkah kau merasa tugasmu ini sangat mudah, Jilly?"
Jillian masih belum bisa berkata-kata. Kilatan geli di mata Shane membuat Jilly waspada. Akan ada kejutan lainnya. Pikir Jilly dengan kengerian yang terpancar di wajahnya.
"Dan sekarang, menyangkut kamarmu. Aku akan mengantarmu ke sana."
Shane membuka sebuah pintu. Sebuah kamar dengan ukuran besar terpampang di sana. Jilly tidak yakin jika Shane akan memberikan kamar ini untuknya. Ini berlebihan menurutnya.
"Ini kamarku."
Ya, Jilly harusnya sudah menduga. Semua yang dibutuhkan milliuner manja ada di sana. Ranjang raksasa yang penuh dengan bantal.
"Masuklah, kau harus membiasakan diri dengan kamarku."
Perlahan Jilly melangkah masuk meski keraguan menyelimutinya. Ini pertama kali dalam hidupnya memasuki kamar seorang pria. Membiasakan diri? Astaga, ia tidak yakin akan bisa membiasakan diri. Bayi raksasa ini benar-benar penyiksa yang sangat handal.
"Lalu di mana kamarku?" Seingatnya, tujuan mereka adalah menuju kamarnya, bukan kamar pria itu.
"Ah!" Shane menjentikkan jarinya. Dengan langkah lebar, pria itu melintasi ruangan kemudian membuka sebuah pintu di dinding kamar sebelah kiri. "Tadaa!! Ini kamarmu."
Jillian hampir pingsan. Kamarnya dan kamar Shane terhubung satu sama lain!
"Kemari dan lihatlah. Kau memiliki semuanya di sini. Lemari pakaian, meja rias dan kamar mandi pribadi."
Entah mendapat kekuatan dari mana, Jillian sudah berada di samping pria itu. Melihat kamar dengan ukuran lebih kecil dari kamar milik Shane. Ukuran bukan masalah bagi Jillian.
"Kamarku terhubung dengan kamarmu?" Meski sudah menyadari hal itu, penting bagi Jilly untuk memastikan.
"Ya, untuk memudahkan kau melayani kebutuhanku."
"Dimana kuncinya?" Diam-diam Jilly memuji dirinya yang masih bisa menjaga ketenangan suaranya.
"Tidak ada kunci. Jadi kau tidak akan kesulitan keluar masuk ke kamarku," Shane mengedipkan matanya dengan jenaka, tidak menyadari wajah Jillian yang memucat. Shane mencondongkan tubuhnya ke depan, menundukkan kepala, mengarahkan mulutnya ke telinga Jillian lalu berbisik, "aku pria sopan yang hanya akan masuk ke kamar wanita jika diundang."