Yes, Boss

Yes, Boss
Diawasi



Jillian meletakkan pakaian Shane di atas ranjang, pikirannya masih menebak-nebak, kira-kira apa penyakit yang sedang diidap seorang pria brengsek seperti Shane?


Apakah mungkin penyakit kelamin? Satu-satunya penyakit yang masuk akal menurut Jillian.


Sisi jahat Jillian berbisik dengan kejamnya jika Shane memang pantas menderita penyakit kelamin.


Saat hendak beranjak dari kamar Shane, mendadak Jilly menghentikan langkahnya. Ia kembali melintasi ruangan menuju lemari pakaian. Tadi ia merasa ada yang salah selain kelancangannya. Hanya saja ia tidak tahu apa kesalahan yang terasa janggal itu. Dan sekarang ia mengetahui jawabannya. Matanya menangkap sesuatu yang sudah tidak asing baginya. Matanya menangkap benda kecil bulat itu sedang merekam dirinya. Ya, benda itu adalah kamera.


Ayolah, Jillian bukan wartawan yang baru berkecimpung di lapangan kemarin sore. Ia sering melakukan tugas dalam keadaan menyamar guna menumpas kejahatan para pengusaha kaya.


Jilly menahan diri untuk tidak membanting pintu lemari tersebut.


Jilly terdiam sejenak, meski sudah tahu bahwa dia sedang diawasi, ia masih membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Maniknya memindai ruangan tersebut, ruangan yang dipenuhi dengan perabotan mahal.


Matanya berhenti di tempat tidur maskulin dan mewah, seperti dugaannya ia menemukan benda yang sama dengan apa yang baru saja ia lihat di lemari pakaian.


Pria ini sedang bermain-main denganku!


Di saat akal sehatnya mulai bisa mengerti apa yang sedang terjadi, di bilik toilet, Shane yang melihat kecurigaan muncul di mata Jilly, menyeringai penuh kemenangan.


Shane memperhatikan tubuh kaku Jillian, Shane berani bertaruh bahwa naluri wanita itu juga sudah terbit, sudah bisa menebak situasi yang sedang dihadapinya.


Setelah beberapa menit berlalu, raut wajah Jillian mendadak berubah sinis. Ia memiringkan kepala dengan alis berkerut, melangkah mendekati kamera tersebut. Di depan kamera itu, Jillian meluruskan pandangannya seolah sedang berhadapan dengan Shane dan kenyataannya kedua manusia itu memang sedang saling memandang.


Shane menarik kedua sudut bibirnya, terkejut dan terhibur dengan kepintaran Jillian yang langsung menyadari keberadaan kamera. Kejelian Jillian membuat Shane berani mengambil kesimpulan bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan.


Jillian tiba-tiba bergerak, menyentak dan menghancurkan kamera hingga Shane kehilangan wajahnya di layar ponsel untuk sesaat sebelum wajah Jillian kembali muncul dari kamera-kamera lain yang terpasang di televisi, tirai jendela dan dalam sekejap Jillian berhasil menemukan benda-benda malang itu hingga tidak ada yang tersisa lagi. Wajah wanita itu berkerut marah. Shane yakin jika Jilly sudah pasti melayangkan sumpah serapah kepadanya.


Shane meletakkan ponselnya, menunggu bahwa serangan akan segera datang. Mendengar derap langkah kaki yang tidak sabar, Shane menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk menerima badai yang akan menerjang. Astaga! Ia terkejut menemukan dirinya yang mendadak tegang dengan debar jantung yang sangat berat. Shane mendadak merasa ruang toiletnya kekurangan ventilasi.


Pintu toilet digeser dengan kasar. Manik mereka langsung beradu. Tanpa memutuskan tautan mata mereka, Jilly berderap lurus ke arahnya yang sedang bersantai di dalam bak mandi yang penuh dengan buih busa. Shane tidak mengenakan apa-apa di tubuhnya tapi sepertinya hal itu tidak membuat Jilly terpengaruh sama sekali. Hampir-hampir sebuah siulan keluar dari mulutnya karena tidak terpana dengan posenya.


Shane mendongak, menatap Jilly yang sudah berdiri di samping bak mandi, memperhatikan dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang dilayangkan secara terang-terangan. Wajah Jilly merah padam, jelas menunjukkan kemarahannya. Kedua tangan mungil itu terkepal di masing-masing sisi. Napasnya menderu tidak teratur. Jilly terlihat seperti hendak menelannya bulat-bulat.


Dan secara tidak terduga, Jilly memungut ponsel Shane dan melemparnya ke dalam bak mandi lalu dengan kasar menyiram wajah Shane dengan gelas berisi wine yang berada di pinggiran bak. Entah sejak kapan wine itu ada di sana. Jilly berpikir jika Shane memang sudah mempersiapkan diri untuk menonton kekonyolannya dan pemikirannya tersebut membuatnya semakin marah.


"Tidak ada senyuman riang untukku, Jilly."


"Sejak kapan kau mengawasiku!"


"Bagaimana jika kau duduk dulu," Shane meringis geli saat tawaran manisnya itu disambut dengan tatapan membunuh.


"Aku hanya mengusulkan," ujarnya dengan tenang, tidak terpengaruh dengan tatapan Jillian. Bohong, sesungguhnya jantungnya memompa lebih cepat.


"Sejak kau memasuki ruanganku untuk melakukan wawancara akhir," Shane menjawab pertanyaan Jilly saat wanita itu hanya bergeming, tidak berniat menanggapi leluconnya yang tidak mengandung humor sama sekali. "Ayolah, Jilly, kau begitu sangat mudah ditebak. Referensimu palsu. Kami mengetahuinya."


Jilly menggeram dalam hati. Nalurinya sudah menjerit bahwa semuanya terlalu mudah dan Yora, hanya dalam sekali pandang, Jilly sudah bisa menebak bahwa asisten pribadi pria itu tipe pekerja yang sangat jeli dan teliti.


"Jadi maksudmu, dari awal ini hanya permainan?"


Shane melihat kilatan kebencian yang menggebu-gebu di manik Jilly membuatnya sangat terusik. Apa kesalahannya sehingga Jillian begitu sangat membencinya. Inilah yang akan ia cari tahu.


Shane membiarkan senyumnya tersungging meski sesungguhnya itu bukan reaksi yang ia inginkan. "Dan ini sungguh permainan yang menyenangkan. Kau memainkan peranmu dengan sangat baik. Apa kau tahu, Jilly, kau pelayan yang sangat luar biasa."


Dipenuhi rasa amarah, Jillian meraih botol wiski dan menuangkan isinya ke atas kepala Shane hingga cairan itu membasahi rambut dan wajah Shane. Bukannya merasa puas, Jillian justru merasa marah mendapati ekspresi wajah Shane yang masih tetap terlihat tenang, bahkan tidak ada kernyitan yang terlihat meski cairan itu menetes-netes dari wajahnya.


Otak Jillian terasa terbakar mengetahui jika Shane sudah sejak awal menyadari penyamarannya. Sejauh mana pria itu mengetahuinya, Jillian tidak ingin memikirkan hal itu saat ini. Ia benar-benar sedang marah, sangat marah. Shane benar-benar ahli mempermainkan seseorang. Bagaimana bisa adiknya terjebak dengan pria tidak berperasaan ini dan sekarang dirinya lah yang jatuh dalam perangkap Shane.


Dengan perlahan, Shane mengusap wajahnya. Tatapan tenangnya kini berubah tajam.


"Well, sekarang aku sudah siap mendengar alasan mengapa kau ada di sini, Jillian Nelson." Nada dan kata-kata yang ia ucapkan penuh penekanan.


"Ada berapa kamera yang kau pasang untuk mengawasiku?!"


"Apa masalahmu denganku, ular pembohong?" wajah Shane benar-benar berubah dingin.


"Bukan aku yang ular di sini. Kau lah ular pembantai! Aku tanya, berapa banyak kamera yang kau gunakan untuk mengintaiku?"


"Cukup banyak untuk mengawasi setiap pergerakanmu jika diperlukan."


"Kau mengawasiku saat sedang tertidur, saat sedang..." Jilly tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Saat sedang mandi? Itukah yang ingin kau katakan? Aku tidak kesulitan menemukan wanita yang bersedia memamerkan tubuhnya di hadapanku tanpa aku harus melakukan tindakan hina dengan mengintip. Aku tidak seperti dirimu, Jilly. Aku cukup tahu diri," ejek Shane. "Sekarang, jawab pertanyaanku. Apa masalahmu denganku? Kenapa kau mengincarku?"