
"Shane si brengsek Hamilton Torres?!"
Shane tergelak, "Nama tengah yang sangat bagus. Bagaimana kabarmu?"
Daisy terkekeh sinis, matanya menyapu penampilan Shane yang masih terlihat persis seperti dua tahun lalu. Tampan dan menawan.
"Tidak pernah sebaik ini."
Shane menganggukkan kepala, "Ya, aku bisa melihatnya."
"Kudengar kakakku mencoba menjebakmu untuk mengacaukan hidupmu."
"Ya, begitulah yang terjadi." Shane membenarkan sambil melirik ke arah Jillian yang perlahan bangkit untuk berdiri.
"Apakah dia merayumu?"
"Apakah mengusap kepala termasuk dalam kategori merayu?"
Shane hampir tertawa saat matanya beradu dengan manik tajam Jillian. Lihatlah! Wanita itu selalu berubah ganas saat berhadapan dengannya dan entah kenapa Shane lebih menyukai sosok Jillian yang garang dibandingkan sosok lemah yang diperlihatkan di hadapan Daisy.
"Tergantung bagaimana dia memainkan jemarinya di rambutmu." Daisy memiringkan kepala untuk menatap Jillian. "Kau merayunya?" Daisy melayangkan tatapan mengejek. Percayalah, Daisy sangat ahli memainkan ekspresi wajahnya.
"Aku tidak merayunya."
"Jadi apa yang dia lakukan di sini jika bukan penasaran denganmu?"
"Aku tidak tahu."
"Lalu apa yang kau tahu, Jilly?"
"Kami hendak makan malam."
Celetukan Shane terang saja membuat kedua wanita itu kembali memusatkan perhatian kepada Shane. Ck! Pria itu memang suka mencari perhatian. Terutama perhatian para wanita cantik.
Shane terkekeh santai begitu melihat wajah Jillian yang merona menahan amarah. "Aku tidak berbohong. Kau mengatakan ingin mengganti pakaian."
"Kita sudah membatalkannya."
"Membatalkannya? Setelah apa yang kau lakukan beberapa saat lalu, kau pikir aku bisa menerima pembatalan sepihak seperti tadi. Jelas tidak, Jilly."
Daisy semakin melayangkan tatapan tidak suka pada Jillian saat mendengar cara Shane menyebut nama Jillian.
"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat," sarkasnya.
"Hmm, kami berbagi atap yang sama. Bisa dikatakan berbagi ruang kamar yang sama. Hanya pintu sebagai pembatas."
"Tutup mulutmu, brengsekk!"
"Aku berbicara fakta."
"Kau dan Jillian tinggal satu atap?"
"Ya, dia tinggal di rumahku."
"Wuah, jadi ternyata kau berhasil menjeratnya, Jilly?" Daisy melayangkan pertanyaan tersebut pada Jillian tanpa menghapuskan tatapannya yang dengan sengaja mencemooh Jillian.
Jillian diam, tidak ingin menanggapi. Baik Daisy maupun Shane, sama-sama membuat mentalnya tidak sehat. Amarahnya terpancing dan tidak ada gunanya mengikuti amarah yang berkecamuk di benaknya. Tindakan itu hanya akan membuatnya terlihat bodoh.
Yang ia inginkan saat ini adalah Sal. Syukurlah, perlahan tangisan bayi itu mereda berubah menjadi sesegukan kecil. Apakah Sal sudah makan malam? Sudah meminum susunya?
"Apa yang kau lakukan pada Maria?"
"Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya. Hanya menguncinya di dalam kamar. Jadi kau sungguh berusaha merayu Shane?"
"Aku tidak merayunya."
"Inikah cara yang kau sebut untuk balas dendam. Yang kulihat kau justru bersenang-senang, Jilly."
"Terserah kau mau berkata apa."
"Ya, kau akan meninggalkanku setelah menemukan pria yang mampu memberikanmu rumah."
"Kata-katamu menyakitiku, Daisy."
"Oh yeah?"
"Shane pria kaya yang sangat tampan. Bukankah dari dulu kau selalu bermimpi tentang kehidupan putri disney. Wow! Selamat, kau mendapatkan umpan yang tepat."
"Ouh, kau tersinggung atau malu?"
"Aku tidak seperti yang kau tuduhkan!" Tidak ada gunanya membela diri. Daisy tidak akan percaya padanya setelah apa yang dikatakan Shane dengan santainya. Pria itu memperburuk keadaan.
"Tidur di rumah seorang pria, kau ingin menyangkalnya?"
"Itu terjadi begitu saja."
"Terjadi begitu saja? Apa yang sudah kalian lakukan?"
"Ya Tuhan, Daisy, apa kau sungguh mengira aku akan melemparkan tubuhku ke hadapannya?"
"Aku tidak akan terkejut jika kau melakukannya. Bukankah hal yang serupa juga kau lakukan pada Noah."
"Aku dan Noah..." Jillian menghentikan kalimatnya saat menyadari bahwa masih ada Shane di sana menyaksikan perdebatannya dengan Daisy.
"Kalian berdebat dan menyebutku di dalamnya. Aku terdengar seperti pria murahan yang tidak punya selera."
"Kau memang pria yang tidak punya selera." Kalimat itu dilontarkan dari dua suara yang berbeda. Jillian dan Daisy.
"Well, kembali kepada bayi itu, kau ingin menjualnya?" Shane mengarahkan dagunya kepada Sal yang sudah tertidur sambil mengemuut jempolnya.
"Kau ingin membelinya?"
"Berapa harga yang harus kutebus?"
"Apakah Sal terlihat seperti barang sehingga kalian berdua melakukan tawar menawar?"
"Dia terlihat seperti boneka di mataku. Sepertinya menyenangkan rasanya memiliki satu koleksi boneka hidup yang bisa tumbuh."
"Sal tidak akan kemana-mana, dia akan tetap bersamaku!"
"Kau bahkan tidak memiliki rumah, bagaimana kau ingin menghidupinya."
"Kau sungguh mengusirku?"
"Kau tidak memiliki hak apa-apa di rumah itu lagi. Rumah itu milikku."
"Rumah itu memang milikmu, aku tidak akan merebutnya."
"Ya, kau terlalu serakah jika menginginkannya. Ayah ibuku, kau mencuri kasih sayang mereka. Lalu, Noah, kau bahkan dengan rakusnya menginginkan Noah menjadi milikmu."
"Kita keluarga."
"Tidak. Kau bukan keluarga. Kau hanya orang asing yang kebetulan mendapat belas kasihan dari keluargaku. Kau sangat ahli memainkan peran sebagai makhluk menyedihkan untuk mendapat belas kasih dan kebetulan sekali, keluargaku yang malang memiliki hati yang sangat mulia."
"Kau mempermalukanku, Daisy."
"Ah, kau masih punya malu rupanya, setelah apa yang kau lakukan, aku terkejut kau masih memiliki rasa malu. Enyahlah, jangan urusi hidupku lagi. Aku muak padamu dan aku sangat membencimu, Pembunuh!!"
Jillian bergeming dengan wajah pucat. Wajah wanita itu tampak sangat shock. Jillian hampir saja tersungkur jika Shane tidak menahan tangannya.
"Jika kau menginginkan bayi ini, ikuti aku." Daisy berkata kepada Shane seraya berbalik, berjalan kembali menuju rumahnya.
"Kau baik-baik saja?"
Jillian tidak menjawab, ia justru melepaskan tangan Shane dari lengannya kemudian berbalik mengikuti Daisy. Shane praktis juga mengikutinya.
Daisy sudah duduk di ruang utama dan Sal kini berada di dalam gendongan Maria.
Jillian melirik bayi itu sebelum melarikan kakinya ke lantai atas untuk mengemas pakaiannya. Ia sudah cukup dipermalukan. Apalagi yang bisa ia harapkan di sini? Masalah masa depan Daisy, sepertinya bukan tanggungjawabnya lagi untuk mengurusinya. Jillian akan menemui pengacara keluarga Noah untuk memberitahu agar semua warisan keluarga tersebut diserahkan pada Daisy setelah adiknya itu genap berusia 21 tahun. Jillian hanya bisa berharap, di usia tersebut, Daisy benar-benar sudah dewasa dan mengerti apa yang disebut dengan kehidupan.
Sepuluh menit kemudian, Jillian turun dengan membawa satu koper. "Aku hanya membawa pakaianku. Apakah kau ingin memeriksanya lagi?" Jika Daisy sudah menganggapnya asing, makan ia pun harus bertingkah layaknya orang asing.
"Aku akan menghubungimu jika aku kehilangan sesuatu," Sahut Daisy dengan kejamnya.
"Kembalilah ke tempat rehabilitasi setelah kau mendapatkan uang yang kau inginkan."
"Nasehat yang sangat tidak bermutu."
"Bawalah Maria bersamamu, Sal akan tenang bersamanya." Kalimat itu ditujukan kepada Shane. Setelah mengecup Sal berulang kali, ia mengucapkan selamat tinggal dan ucapan terima kasih kepada Maria.
"Noah, maafkan aku. Aku gagal."