
Sebuah dialog terbuka terjadi di Alun-Alun Ibukota Kekaisaran Mawar Putih. Dialog yang diadakan untuk membahas mengenai Kota Benteng Abadi yang beberapa bulan terakhir membuat kacau kekaisaran itu.
Rombongan yang dibawa oleh Chen Kai hanyalah dirinya sendiri dan 4 Tetua Chen saja, sedangkan 100 Pasukan Benteng Abadi ditugaskan untuk berjaga-jaga di Kota Benteng.
“Sekarang saya sudah paham mengenai pemikiran Anda. Saya hanya bisa mengatakan bahwa rencana itu benar-benar kejam, Tuan Muda. Banyak orang akan menjadi korbannya,” ucap Tetua Chen Yi.
“Setidaknya kamu harus bisa berpikir licik sepertiku Tetua Chen Yi, karena kamu akan menggantikanku melakukan hal-hal seperti ini di masa depan, jadi belajarlah dariku,” jawab Chen Kai sambil tersenyum.
Percakapan dua orang itu berhenti karena rombongan itu sudah sampai di tengah alun-alun kota yang sudah dijaga ketat oleh pasukan kekaisaran yang terlihat cukup kuat, meski tidak sekuat Chen Kai dan 4 Tetua Chen.
“Selamat datang di Ibukota Kekaisaran ini, Sahabatku!” Kaisar Mawar Putih menyambut kedatangan Chen Kai dengan baik, khas seorang kaisar yang ingin merangkul musuhnya lebih dalam.
“Senang bisa bertemu dengan Anda, Wahai Kaisar Mawar Putih!” Chen Kai membalas dengan membungkukkan sedikit badannya, kali ini dia akan berperan layaknya seorang bangsawan tingkat tinggi.
“Aku tidak menyangka bahwa kamu hanya membawa 4 orang saja sebagai penjaga, apakah kamu tidak takut aku melakukan sesuatu?” Kaisar Mawar Putih duduk di kursi yang ada ujung meja panjang yang ada di tengah alun-alun itu.
“Kenapa saya harus melakukannya, bukankah isi surat yang Anda tulis itu sangat menyiratkan mengenai ketulusan. Jadi, saya benar-benar sangat menghargai itu.” Chen Kai ikut di kursi yang sudah ditempatkan di ujung meja lainnya.
“Hahaha! Ternyata kamu tidak seburuk yang dibicarakan orang-orang, aku senang kamu bisa berpikir demikian, apalagi setelah kamu mengacaukan kekaisaranku ini.”
Kaisar Mawar Putih menatap tajam Chen Kai sambil meletakkan dua tangannya di meja itu. Tak lupa, dia juga sedikit mengeluarkan tekanan kultivasinya untuk memberikan tes awal untuk Chen Kai.
*BOOOM!
Meskipun tekanan dari kaisar itu sudah berada di Jalan Surgawi Puncak sama seperti kekuatan Chen Kai sebelum peperangan dimulai.
“Jadi, sekarang apakah Anda sudah puas mengetes kekuatan saya? Jangankan Anda, bahkan 4 Tetua Chen yang saya bawa ini bisa menghancurkan semua orang yang ada disini, apakah Anda ingin mencobanya?”
Chen Kai memberikan jawaban atas ketidaksenangannya itu dengan sebuah kekuatan yang mungkin hanya para leluhur kekaisaran saja ini saja yang mampu menahannya.
*WUSH!
Tiga orang kakek tua berjubah putih tiba-tiba muncul dan menahan tekanan Chen Kai itu secara langsung. Mereka bertiga terlihat sangat tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
“Hentikan tekanan kultivasimu Anak Muda, kalau kamu meneruskannya, bisa-bisa semua orang biasa di Ibukota Kekaisaran ini akan terluka!” Salah satu dari 3 Leluhur itu berbicara dengan wibawa yang tinggi.
“Bukan aku yang memulainya dan tolong kakek tua yang itu menghentikan hawa membunuhnya! Kalau tidak, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi di Ibukota ini!” ancam Chen Kai menunjuk salah satu Leluhur lainnya.
Leluhur yang merasa mengeluarkan hawa membunuhnya itu langsung terhenyak, karena dari tatapan Chen Kai, dia bisa merasakan sebuah hawa membunuh yang begitu kental.
Leluhur itu langsung menghilangkan hawa membunuhnya. Kaisar Mawar Putih juga sudah bisa duduk dengan tenang lagi. Akhirnya, dialog terbuka yang bisa disaksikan semua penduduk itu dimulai.
“Maaf atas ketidaksopanan sebelumnya. Sekarang, bagaimana kalau kita langsung membahas mengenai tawaran yang sudah aku berikan sebelumnya mengenai Wilayah Khusus Kota Benteng Abadi? Bagaimana pendapatmu?”
Kaisar Mawar Putih langsung membuka pembahasan mengenai inti dari dialog terbuka ini.
“Aku…”