WOMEN'S

WOMEN'S
Eps 21



Keesokannya.


Mereka sarapan bersama.


Yi En masih belum terbiasa.


Tapi Yi En berusaha untuk menyesuaikan diri.


Tidak seperti ketakutannya.


Bibinya sudah menganggapnya seperti Yi en selalu ada.


Qi Lei pun seperti biasa kadang menggoda ibunya.


Dan Yu Jiang seperti Yu Jiang biasanya.


Mereka sudah menerima Yi En.


Yi En merasa lega.


Xiang Wan tersenyum melihat wajah Yi En.


Zhu He," hari ini, ingat. Kalian semua harus pulang lebih cepat. Aku akan memasak masakan yang lezat hari ini. "


Yu Jiang tersenyum.


Lalu ia berkata," kalian bertiga harus bergantian pulang cepat. Jangan membuat kakak besar mengobrak abrik kantor kalian. "


Zhu He melirik suaminya.


Qi Lei tersenyum.


Begitu juga Xiang Wan dan Yi en.


Zhu He," kau mau aku obrak abrik kantormu."


Yu Jiang terdiam.


Lalu ia meminum susunya.


Yi En tersenyum melihatnya.


Sebelum mereka berangkat ke kantor.


Zhu He ," bibi akan meminta pengurus rumah untuk menyiapkan dan membersihkan kamarmu Yi En."


Yi En tersenyum dan berkata," terima kasih bi."


Zhu He tersenyum lembut.


Ia menatap Yi En keponakannya.


Dan ia perlahan ia memeluk Yi En.


Zhu He sangat senang melihat keponakannya masih hidup.


Xiang Wan menarik nafas melihatnya.


Zhu He melepaskan pelukannya.


Dan berkata," bibi senang sekali melihatmu. "


Yi En tersenyum dan mengangguk.


Xiang Wan," bibi kau tidak mau memelukku?"


Zhu He melihat Xiang Wan.


Lalu ia memeluk Xiang Wan," kau juga. Pasti kau sudah sangat lelah selama ini."


Xiang Wan terkejut.


Akhirnya ia pun tersenyum.


Pagi itu Xiang Wan menemani Yi En ke apartemen Wei wei.


Yi En membereskan barang barang dan bajunya.


Tapi ia tidak mengambil semuanya.


Ia sengaja meninggalkan beberapa.


Ia membiarkan agar Wei wei merasakan Yi En masih ada disana dan mungkin nanti Yi En akan sesekali menginap.


Wei Wei sengaja belum berangkat ke kantor.


Ia membantu Yi En membereskan barang barang.


Wei Wei," aku akan merasa kesepian."


Yi En melirik sahabatnya.


Xiang wan juga sedang membantu memasukan barang ke koper.


Ia tersenyum mendengarnya.


...


...


Yi en," jika kau kesepian. Kau bisa meminta Qilei kemari."


Wei wei segera menyenggol Yi En.


Lalu ia melihat ke arah Xiang wan.


Xiang wan tersenyum dan menjawab," aku tidak dengar apapun."


Yi En tersenyum mendengarnya.


Setelah selesai.


Di dekat sofa.


Wei Wei memeluk sahabatnya.


...


...


Yi En," Wei Wei, aku bukan akan pergi jauh. Kita masih bisa sering bertemu."


Wei Wei ," aku ingin memelukmu. Selama ini kau selalu ada saat aku pulang, setiap hari , setiap malam. Kau memasakkan masakan lezat untukku. Aku jadi terpelihara karenamu."


Xiang wan mendengarnya.


Lagi lagi ia dibuat tersenyum dengan kata kata Wei Wei.


Yi En tersenyum.


Ia menepuk punggung sahabatnya.


Lalu Wei wei melepas pelukannya dan berkata," tapi aku senang kau akhirnya menemukan keluargamu. Kau akan terus bertemu denganku kan?"


Yi En menatap sahabatnya.


Ia tersenyum dan mengangguk," tentu saja. Aku masih akan sesekali menginap di apartemenmu. Jika kau sedang berantem dengan Qi Lei. "


Wei Wei tersenyum.


Xiang Wan," kalian benar benar seperti anak kecil. "


Wei Wei dan Yi En tertawa kecil.


Di perjalanan.


Xiang Wan berkata," Yi En, mengenai Lu Chun...kakak tahu kau pasti ingin menyelesaikannya sendiri. Hanya saja, jika kau ingin kakak temani..."


Yi En menyaut dan berkata," aku akan menyelesaikannya. Kak Wan, kau tenang saja."


Xiang Wan menoleh sebentar ke Yi En.


Lalu ia menatap ke depan lagi.


Ia berkata," sebenarnya. Kakak ingin mendengar penjelasannya kenapa dia menyembunyikan kebenaran selama ini. Tapi, sudahlah. Kakak yakin kau ingin selesaikan sendiri."


Yi En hanya terdiam.


Xiang Wan mengerti, ini pasti sulit bagi Yi En.


Ia menarik nafas panjang.


Lalu ia berkata," bagaimana jika hari ini kita tidak ke kantor. Hanya sehari saja kita bolos. Tidak apa apa kan?"


Yi En menatap kakaknya.


Yi En," bagaimana dengan kak lien Hua?"


Xiang Wan" wah, kau sekarang yang lebih gila kerja."


Yi En tersenyum.


Xiang Wan," hanya sehari saja. Kita pergi makan. Lalu kita ke mall. Atau kau ingin kemana?"


Yi En menatap kakaknya.


Yi En berpikir sebentar lalu berkata," kakak, aku tahu kita harus kemana."


Mobil mereka berhenti parkir di depan taman hiburan bermain, disney land.


Xiang Wan dan Yi en berdiri di depan bianglala besar.


Xiang wan menarik nafas.


Ia menoleh ke YiEn," ini tempat yang ingin kau datangi?"


Yi En mengangguk senang.


Lalu ia berkata," dulu saat tinggal dipanti asuhan, aku ingin sekali ke sini. Tapi tidak pernah bisa. Aku pikir setelah bekerja aku bisa kemari bersama Wei wei. Tapi juga tidak pernah bisa."


Xiang Wan merasa simpati mendengarnya.


Sebagai kakak, ia memahami perasaan adiknya.


Lalu ia berkata," baiklah. Kita akan bermain sepuasnya. Yang pertama kita akan naik apa?"


Yi En mengangguk lalu menunjuk dengan jari tangan kanannya, " kita naik bianglala ini dulu. Lalu kita naik itu. Kita naik yang disana. "


Xiang Wan mengangguk tersenyum.


Ia menggandeng tangan adiknya, lalu mereka mulai berjalan dan menikmati setiap permainan.


Yi En begitu senang dan menikmatinya.


Bahkan ia ditemani oleh kakaknya.


Setelah seharian bermain.


Mereka pun makan di sebuah restorana jepang.


Xiang Wan tahu, Yi en sangat menyukai sushi.


Sambil makan.


Xiang Wan mengecek pesan masuk.


Ada Mo Bei yang mengirim pesan.


Mo Bei," kau sedang bersenang senang dengan adikmu. Aku akan memberikan waktu untuk kalian melepas rindu. Tapi jangan lupakan aku."


Xiang Wan tersenyum membacanya.


Yi En menatap kakaknya yang tersenyum sambil melihat handphonenya.


Yi En," kak Wan. Apa dihandphonemu ada foto Tuan Mo Bei? "


Xiang Wan menatap Yi en.


Ia berkata," tidak ada, kenapa?"


Yi En ," aku kira kau sedang memandangi fotonya. Sampai kau tersenyum sendiri menatap handphonemu."


Xiang Wan terkejut mendengarnya.


Ia sedikit malu.


Lalu ia berkata," kau ini. "


Yi En tersenyum lalu melahap sushinya lagi.


Setelah makan.


Xiang wan menelepon Judi.


Ia berkata," Ju Di, tolong bantu untuk cek job apa saja yang akan diadakan dalam kerjasama dengan United. Aku ingin melihatnya."


Yi En menoleh ke kakaknya saat mendengarnya.


Setelah Xiang Wan menutup teleponenya.


Ia menyadari Yi En menatapnya.


Xiang Wan lalu berkata," aku akan mengecek ulang kontrak dengan United. "


Yi En," kakak..."


Xiang Wan menatap Yi En.


Xiang Wan," Lu Chun harus mengerti konsekuensi apa yang akan dia terima setelah apa yang sudah dia perbuat. Meskipun dia punya alasan sendiri. Seharusnya, jika dia mencintaimu. Dia akan membiarkanmu untuk bertemu denganku. Dan jujur padaku sejak dulu."


Yi En terdiam.


Ia mengerti maksud ucapan kakaknya.


Xiang Wan menarik nafas.


Lalu ia memegang tangan adiknya.


Xiang Wan," maafkan kakak."


Yi En menatap kakaknya.


Ia berkata," aku bisa mengerti maksud kakak. "


Sore itu mereka pulang.


Yi En membereskan barang dan baju nya dikamarnya yang sudah disiapkan.


Lalu mereka makan malam bersama.


Bahkan Qilei pun sudah pulang.


Malam itu begitu hangat.


Mereka bisa berkumpul kembali.


Dalam hati Zhu He berkata," Yue Yue, kau sudah bisa tenang sekarang. "


Saat hendak tidur.


Yi En berjalan keluar dari kamarnya.


Lalu ia ke kamar kakaknya.


Ia mengetuk pintu lalu membukanya.


Xiang Wan masih duduk di kursi sambil melihat laptopnya mengecek pekerjaan yang sudah diberikan oleh Judi.


Xiang Wan," Yi En, kau belum tidur?"


Yi En masuk lalu duduk ditempat tidur kakaknya.


Yi En," kakak masih bekerja? "


Xiang Wan mengangguk," ada beberapa yang harus ku cek. Aku akan cek besok lagi."


Lalu Xiang Wan menutup laptopnya.


Dan duduk disamping Yi en.


Xiang Wan," kenapa? Kau tidak bisa tidur?"


Yi En," boleh aku tidur disini kak?"


Xiang Wan tersenyum menatap adiknya.


Xiang Wan," baiklah. Kakak juga senang kau menemani kakak tidur."


Mereka pun tidur bersama sambil berbincang.


Sebentar kemudian Yi en tertidur lebih dulu.


Xiang Wan tersenyum melihatnya.


Keesokannya.


Xiang Wan dan Yi En berangkat bersama.


Tapi Yi En meminta kakaknya untuk menurunkannya di halte bus.


Xiang Wan," kau mau kemana kakak bisa mengantarmu."


Yi En," kakak, aku bisa naik bus. Tenang saja. Jangan seperti itu."


Xiang Wan tersenyum.


Ia mengangguk," baiklah. "


Yi En," siang ini aku akan ke kak Lien Hua. Dan mungkin... nanti aku akan sedikit terlambat."


Xiang Wan menoleh ke adiknya.


Yi En," aku harus menyelesaikannya."


Xiang Wan terdiam sebentar.


Ia menatap ke depan.


Lalu meminggirkan mobilnya dekat halte bus.


Xiang Wan," hati hatilah. Hubungi kakak jika terjadi sesuatu."


Yi En tersenyum mengangguk.


Lalu Yi En membuka pintu mobil dan turun.


Xiang Wan masih melihat adiknya.


Setelah itu ia pun pergi.


Xiang Wan masih melihat Yi En di kaca spionnya.


Ia berkata pelan," kau pasti bisa menghadapinya. Yi En..."


Yi En menemani syuting Ruan Lien Hua.


Dan mau tidak mau ia bertemu dengan Lu Chun.


Yi En hanya fokus pada Ruan Lien Hua dan tidak mempedulikan Lu Chun.


Setelah syuting selesai hari sudah sore.


Ia memastikan Ruan Lien Hua sudah pulang.


Barulah Lu Chun mendekati Yi En.


Lu Chun," Yi En. Bisa kita bicara?"


Yi En," kebetulan sekali. Aku juga ingin


Bicara denganmu."


Lu Chun," kita bicara sambil makan malam. "


Yi En menatap Lu Chun.


Lalu ia berkata," baiklah. Aku yang tentukan tempatnya."


Mereka berhenti di depan bar Guan Xian.


Guan Xian melihat kedatangan Yi En dan Lu Chun.


Lalu Guan Xian memberikan mereka tempat privasi.


Dan membiarkan para tamu untuk pergi.


Lu Chun memesan steak.


Dan Yi En memesan sama.


Lu Chun," kita bisa makan dulu, baru setelah itu kita bicara."


Yi En," baiklah."


Mereka makan dan hanya diam.


Sesekali Lu Chun menatap Yi En.


Setelah mereka makan.


Lalu Lu Chun berkata," kau bisa lebih dulu bicara."


Yi En menatap Lu Chun.


Ia berkata," kau pasti sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan. Aku ingin tahu semuanya. Ceritakan padaku semuanya. Dan aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya."


Lu Chun menatap Yi En.


Ia menarik nafas.


Lalu ia mulai menceritakan semuanya.


Lu Chun," aku...takut jika aku segera memberitahumu dan kak Wan, kau akan membenciku. Dan kak Wan tidak akan merestui hubungan kita. Aku baru mendapatkanmu lagi. Aku tidak ingin tiba tiba dalam sekejap aku kehilanganmu lagi."


Yi En menatap Lu Chun.


Lalu ia menjawab," jika seandainya kau sejak awal berkata jujur. Keadaan tidak akan menjadi sesulit ini. Kau masih belum berubah. "


Lu Chun," Yi En..."


Yi En," jika kau memang mencintaiku dengan tulus. Kau akan membiarkanku untuk bertemu dengan kakakku. Kau...memikirkan dirimu sendiri. "


Lu Chun pun menyesal.


Ia menunduk.


Lalu ia mengangkat kepalanya lagi dan menatap Yi En, ia berkata," maafkan aku. "


Yi En menatap Lu Chun.


Matanya sedikit berair.


Ia berusaha menahan airmatanya.


Laki laki yang sebenarnya dia cintai, tapi sudah melakukan berkali hal yang membuatnya kecewa.


Ada rasa cinta, tapi ada rasa sakit dihatinya.


Lalu ia berkata," aku tidak bisa tidak memaafkanmu. Tapi...aku juga tidak bisa meneruskan hubungan kita. Kita berhenti sampai disini. "


Lu Chun terkejut mendengarnya.


Ia menatap Yi En.


Lu Chun," Yi En...aku mohon. Aku mencintaimu. "


Yi En," sekarang, aku mohon kau pergi. "


Lu Chun," Yi En..."


Yi En lalu berdiri.


Ia berjalan meninggalkan Lu Chun.


Lu Chun pun berdiri dan mengejar Yi En.


Ia memegang tangan Yi En, " Yi En, aku mohon. Berikan aku kesempatan. Aku akan..."


Yi En menoleh dan menatap Lu Chun.


Ia hanya diam, lalu dengan perlahan ia melepaskan tangan Lu Chun.


Yi En," aku juga mohon padamu. Kali ini lepaskan aku. "


...


...


Lu Chun begitu menyesal.


Pada akhirnya ia harus kehilangan Yi En lagi.


Ia menunduk sebentar.


Lalu Lu Chun akhirnya berjalan dan pergi.


Yi En hanya terdiam.


Hatinya begitu sakit.


Guan Xian pun mendekatinya.


Lalu memeluk Yi En.


Guan Xian belum tahu permasalahan yang sebenarnya.


Tapi yang ia tahu, kali ini mereka sudah benar benar berakhir.


Yi En minum bir begitu banyak malam itu.


Guan Xian tidak mencegahnya.


Xiang Wan yang sedang bersama dengan Mo Bei.


Mereka makan malam bersama di apartemen Mo Bei.


Sambil makan, mereka membicarakan tentang perjanjian kontrak kerjasama Qili dan United.


Xiang Wan meminta saran dari Mo Bei.


Mo Bei," jika United tidak setuju dengan pembatalan ini, tentunya kau tahu apa konsekuensinya."


Xiang Wan mengangguk," mereka mungkin akan mengajukan ke jalur hukum dan kita harus membayar denda.'


Mo Bei menarik nafas.


Lalu ia berkata," ini cukup sulit. Kau harus punya alasan kuat. Kecuali kau juga ingin melaporkan Lu Chun bahwa selama ini ia telah menyembunyikan adikmu."


Xiang Wan terdiam sebentar.


Lalu ia berkata," jika Yi En sudah bisa melepasnya. Aku akan memakai cara ini untuk berjaga jaga. Hanya saja...aku tidak tega melihat Yi En."


Mo Bei menatap Xiang Wan.


Lalu ia berkata," kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba untuk melepaskan Lu Chun."


Xiang Wan menatap Mo Bei.


Ia menjawab," tidak sekarang. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Selama ini bisa dengan begitu santai menghadapiku. Dia seperti tidak punya perasaan."


...


...


Lalu Xiang wan melihat handphonenya.


Ia masih memikirkan tentang Yi En.


Apakah Yi En sudah pulang ke rumah atau belum.


Berkali kali mencoba menelepon handphone Yi En.


Tapi tidak diangkat.


Akhirnya sekian kalinya, teleponnya dijawab.


Tapi ternyata Guan Xian yang mengangkatnya.


Karena Yi En sudah mabuk.


Xiang Wan segera menuju ke bar Guan Xian.


Ia melihat Yi En sudah mabuk berat.


Yi En sudah hampir tertidur.


Guan Xian," kau datang cepat sekali."


Xiang Wan," dia minum banyak?"


Guan Xian mengangguk.


Lalu berkata," suasana hatinya sedang tidak baik. Tadi dia datang kemari bersama Lu Chun. Aku tidak tahu apa masalahnya. Tapi yang jelas mereka sudah berakhir. Karenanya aku tidak mencegahnya untuk minum."


Xiang Wan menarik nafas mendengarnya.


Ia tahu ini berat bagi Yi En.


Guan Xian berkata lagi," aku mau membiarkannya tidur di tempatku. Atau mungkin menghubungi Wei Wei. "


Xiang Wan," aku akan membawanya pulang ke rumah."


Guan Xian mengangguk," baiklah."


Beberapa detik Guan Xian baru sadar dengan perkataan sahabatnya.


Guan Xian menatap Xiang Wan.


Guan Xian," tunggu... kau mau membawanya pulang ke rumah? Rumahmu?"


Xiang Wan baru ingat Guan Xian belum tahu bahwa Yi En adalah adiknya.


Xiang Wan," aku belum menceritakan padamu bahwa Yi En sebenarnya adalah adikku. Xiao Qing."


Guan Xian terkejut mendengar kata kata Xiang Wan.


Tiba tiba Yi En terbangun.


Meski masih mabuk.


Ia melihat kakaknya disampingnya.


Ia tersenyum.


Lalu memeluk Xiang Wan sambil berkata," kakakkk..."


Xiang Wan memegangi Yi En agar tidak terjatuh.


Lalu ia berkata pada Guan xian," besok aku akan menceritakannya padamu. Aku harus bawa Yi En pulang dulu."


Guan Xian yang masih terkejut ia hanya mengangguk.


Xiang Wan," terima kasih Guan Xian."


Guan Xian menjawab lagi dengan mengangguk.


Lalu Xiang Wan memapah Yi En berjalan keluar bar dan menuju mobilnya.


Di perjalanan,


Sesekali Xiang Wan menoleh menatap adiknya yang tertidur.


Sampai mereka di rumah.


Xiang Wan memapah Yi En berjalan masuk.


Qi Lei kebetulan juga baru datang.


Ia pun membantu Xiang Wan menggendong Yi En sampai ke kamar Yi En.


Setelah membaringkannya di tempat tidur.


Qi Lei," Yi En tidak bisa minum banyak. Aku rasa dia sedang banyak pikiran."


Xiang Wan menatap Yi En.


Lalu ia menoleh ke Qi Lei dan berkata," terima kasih Qi Lei."


Qi Lei mengangguk," baiklah. Aku ke kamar dulu kak."


Xiang Wan mengangguk.


Setelah Qi Lei keluar.


Xiang Wan membantu melepas sepatu Yi En dan jaket Yi En.


Lalu ia menyelimuti Yi En.


Saat menyelimuti Yi En.


Yi En tiba tiba membuka matanya.


Ia melihat kakaknya.


Dan matanya mengeluarkan air mata.


Lalu berkata," kakak...hubunganku dengan Lu Chun sudah berakhir. "


Xiang Wan menatap adiknya," Yi En..."


Yi En," dia...orang yang sangat kucintai, sekaligus orang yang sudah berkali kali menyakiti hatiku. Aku tidak bisa...aku tidak bisa terus bersamanya..."


Xiang Wan menyeka air mata Yi En.


Dan menggenggam tangan adiknya.


Xiang Wan pun juga menangis melihat adiknya.


Ia tidak tahu harus berkata apa.


Ia hanya bisa terus menemani adiknya.


Keesokannya.


Yi En terbangun.


Kepalanya begitu pusing.


Xiang Wan pun masuk ke kamar Yi En.


Xiang Wan," kau sudah bangun. Minumlah ini untuk meredakan pengarmu."


Xiang Wan duduk disamping Yi En.


Yi En yang sudah duduk bersandar.


Ia memegang kepalanya dengan tangan kanannya.


Xiang Wan," sudah tahu tidak bisa minum banyak. Kenapa kau juga minum."


Yi En menatap kakaknya.


Ia berkata," maafkan aku."


Xiang Wan menarik nafas.


Ia melihat adiknya.


Akhirnya berkata," sudahlah. Tidak apa apa. Minumlah dulu."


Yi En lalu meminum obat pemberian kakaknya.


Setelah meminumnya.


Xiang Wan," baguslah. Kau patuh juga."


Yi En," jadi seperti ini rasanya dimarahi dan dicereweti oleh kakak."


Yi En tersenyum.


Xiang Wan melipat tangannya.


Xiang Wan," kau bilang kakak cerewet?..."


Yi En tersenyum," aku tidak berani kak."


Xiang Wan tersenyum.


Lalu ia berkata," jika kau masih pusing. Istirahatlah dulu. "


Yi En," aku tidak apa apa kak. "


Xiang Wan," berangkatlah ke tempat syuting kak Lien Hua agak siangan. "


Lalu Xiang Wan hendak berdiri.


Yi En," kakak...maafkan aku. Aku sudah mabuk semalam. "


Xiang Wan menoleh ke adiknya.


Ia mengangguk," tidak apa apa. Kakak bisa mengerti kenapa kau sampe mabuk seperti itu."


Xiang Wan menatap adiknya.


Lalu membelai rambut adiknya dan berkata," Yi En. Kau harus kuat. Apapun keputusanmu, kakak akan selalu mendukungmu. "


Yi En menatap kakaknya.


Yi En," kakak..."


Xiang Wan," hanya saja...mungkin kakak akan membuat Qili untuk membatalkan kerjasama dengan United."


Yi En menarik nafas panjang.


Xiang Wan," baiklah. Kau istirahatlah dulu. Jangan lupa sarapan. Bibi masih ada di rumah."


Xiang Wan tersenyum.


Lalu ia berdiri, " kakak harus ke kantor dulu ."


Lalu Xiang Wan berjalan keluar kamar Yi En. Dan ia pergi ke kantor.


Yi En sarapan ditemani bibinya.


Yi En ", ini enak sekali bi."


Zhu He tersenyum senang mendengarnya.


...


...


Zhu He," bibi senang sekali. Kau suka makan apa Yi En? Biar bibi buatkan untukmu."


Yi En tersenyum.


Lalu ia berkata," aku akan suka semua masakan bibi."


...


...


Zhu He menatap keponakannya.


Ia menarik nafas lega dan berkata," kau begitu mirip dengan ibumu. "


Yi En," bibi, kapan kita mengunjungi ibu dan ayah?"


Zhu He," bagaimana jika akhir pekan ini?"


Yi En mengangguk," baiklah. Aku akan bilang pada kakak."


Zhu He tersenyum.


Di kantor.


Xiang Wan mencoba bicara pada pamannya, untuk membatalkan perjanjian dengan United.


Yu Jiang tidak bisa setuju dengan hal itu.


Itu cukup merugikan Qili.


Xiang Wan," paman aku sudah membicarakan hal ini dengan Mo Bei.


Aku akan memberitahu pada publik tentang apa yang sudah Lu Chun lakukan pada Yi En. Dengan begitu, pembatalan perjanjian dengan United tidak akan merugikan kita."


...


...


YuJiang menarik nafas panjang.


Xiang Wan," jika kita tidak melakukan hal ini. Suatu hari pun apa yang dilakukan Lu Chun akan terkuak di publik. Dan itu akan jadi boomerang untuk kita juga. Apalagi Hao Mai sudah tahu tentang rahasia Lu Chun."


Yu Jiang," baiklah. Tapi...Bagaimana dengan Yi En?"


Xiang Wan menarik nafas.


Xiang Wan berkata," aku sudah mengatakan hal ini pada Yi En. Memang sedikit sulit baginya sekarang. Lu Chun harus tahu konsekuensinya. Lagipula jika tidak sekarang, suatu hari nanti pasti juga akan ketahuan. Hao Mai tidak akan tinggal diam."


Yu Jiang mengangguk.


Siang itu, Yi En masih menemani Ruan Lian Hua.


Ia masih harus bertemu dengan Lu Chun. Meski ia sudah tidak mempedulikannya.


Hari itu syuting terakhir untuk film Ruan Lien Hua.


Yi En menarik nafas lega karena hal itu.


Saat istirahat, Yi En menemani RuanLien Hua makan siang.


Sambil Yi En memesan kopi untuk mereka.


Yi En juga membelikan untuk asisten Ruan Lien Hua.


Sambil menikmati makan siang mereka.


Yi En memberikan kabar bahwa Yi En berhasil mendapatkan projek film lagi untuk Ruan Lien Hua.


Film garapan sutradara Chen memberikan kesempatan untuk Ruan Lien memerankan lagi lagi menjadi seorang ibu pemain utama.


Yi En," aku sudah membaca naskahnya, dan aku yakin kak Lien Hua akan sangat tertarik nanti. Besok aku akan mengambil naskahnya untuk kak Lien Hua. "


Lien Hua tersenyum senang mendengar kabar gembira itu.


Ia mengangguk senang," terima kasih Yi En. "


Yi En tersenyum dan berkata," kak Lien Hua, jangan begitu. Sudah seharusnya aku membantumu. Kita adalah team bukan?"


Lien Hua tertawa mendengarnya.


Ia suka mendengar kata kata team itu.


Xiang Wan," kau memang mirip dengan Xiang Wan. "


Yi En," benarkah? Aku belajar darinya."


Lien Hua lagi lagi dibuatnya tertawa.