
Kesadaranku perlahan kembali.
Yang ku ingat waktu itu adalah Jenifer berdiri di depanku mengatakan bahwa aku berhutang hidup lagi kepadanya, dan kini aku terbangun di sebuah tempat yang asing, teobak usang, aroma lembab, dan firasat yang tidak menyenangkan saat aku memperhatikan setiap detail apa yang ada di dalam ruangan ini. Tubuhku masih terasa nyeri ketika aku memaksanya untuk bangun dari ranjangku, tatapanku tertuju pada perban yang melingkar di sekujur tubuhku.
"Benar. Seharusnya aku sudah mati bila gadis itu tidak datang!" Kataku dalam hati.
Entah kenapa ketika aku mengingat segalanya aku merasakan gejolak kekesalan yang memenuhi otakku, seharusnya aku tidak terpancing, seharusnya aku mengumpulkan banyak informasi dari setiap lawanku, seharusnya aku tidak menikmati momen ***** ini dengan kepongahan serta kesombonganku. Gadis itu benar, aku terlalu awam untuk memainkan permainan ini.
Tanpa sadar, aku sudah berada diambang pintu, meski tubuhku meronta, meski rasa sakit menyertai setiap gerakanku, pasti, pasti gadis itu ada di tempat ini. Ku lihat sebuah lorong panjang setelah membuka pintu besi berkarat itu, tempat ini begitu sunyi senyap, tidak ada suara apapun selain tetesan air yang muncul dari atap, entah dari mana air itu berasal.
Aku mulai berjalan gontai menyusuri lorong asing ini, meski bertelanjang kaki namun suara hentakan setiap langkahku mengambang di dinding, dan menimbulkan suara bergantian dengan tetesan air di sepanjang lorong. Di ujung lorong, aku melihat jalan lain, namun jalan itu terbagi menjadi dua, satu berbelok dan aku menemukan anak tangga besi, tempat ini, seperti basement, laboratorium atau mungkin gorong-gorong, yang jelas tempat ini sangat nyaman bila kau menyukai kesunyian. Akan tetapi bagiku tempat ini menimbulkan semacam aura yang mengerikan, apapun itu ku rasa diriku akan menolak keras untuk hidup di tempat seperti ini.
"Kau sudah sadar Bobby?!" Sebuah suara mengejutkanku.
Tepat ketika aku berbalik, aku melihatnya. gadis itu menutup satu matanya dengan rambut acak-acakannya, wajahnya begitu dingin namun matanya menimbulkan banyak pertanyaan, sekarang aku mengerti kenapa gadis ini terlihat sangat pucat setiap kali aku melihatnya, lihat saja dia, menghabiskan waktu di tempat seperti ini, hidup tanpa matahari. Ku rasa dia benar-benar menyerupai mayat hidup, namun sekali lagi aku berusaha menyadarkan diriku, apapun dia dan bagaimanapun dia, tetap saja dia baru saja menolongku. Tanpa dia, ku rasa namaku pasti sudah tertulis di salah satu nisan di pemakaman berengsek itu.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan, tidak perlu repot-repot mengatakanya, ikutlah denganku. Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu" Gadis itu berjalan melewatiku, lalu berlalu menaiki anak tangga besi, suaranya masih menggema lalu aku mulai mengikutinya.
Aku melihat sebuah ruangan yang sangat besar, 10 kali lebih besar dari ruangan tempatku terbangun di tempat ini.
Di sini aromanya jauh lebih baik, meskipun aroma amis masih tercium di sana-sini namun tidak separah tempat di mana aku terbangun tadi. Di depanku aku melihat banyak sekali monitor dan kabel-kabel, apapun itu, ku rasa Jenifer menggunakanya untuk mengakses web aneh itu. Di setiap sudut aku mendapati almari tua dengan buku-buku tebal berserakan, tepat di tengah aku melihat meja panjang dengan beberapa kursi, Jenifer meraih sesuatu, sebuah buku lalu menatanya ulang, kemudian dia menatapku dengan tatapan menyebalkanya. Demi apapun, aku selalu dibuat sebal dengan tatapan matanya. Tatapan itu mengingatkanku pada sesuatu yang tidak ku mengerti sebelumnya, sesuatu yang hitam namun membuatku merasakan sensasi yang begitu menekan.
"Jadi, apa yang coba kau sampaikan kepadaku jen?!" Kataku membuka percakapan.
"Duduklah Bobby" Ucapnya seraya memandangku dari meja tempatnya duduk dan menyilangkan kakinya.
Aku bergegas mencari tempat duduk terdekatku, menatapnya yang kini fokus menggenggam remote TV atau semacamnya. Ketika ia menekan salah satu tombolnya, monitor-monitor di belakangnya mulai menyala satu persatu, di tengah-tengah monitor terdapat layar LCD yang cukup besar untuk bisa menikmati setiap gambar yang muncul dan di sana aku melihat foto itu, gadis yang menyebut dirinya Lolly_Girl's atau semacamnya.
"Michele Anita, usia 35 tahun, tinggi162, berat 55 kg dan terkenal dengan julukan gadis dengan permen" Ucap Jenifer dengan suara lantang.
Jenifer tersenyum dan sebaliknya aku memekik kaget saat melihat usia profil dari gadis gila itu.
"35 tahun, apa kau bercanda? Usianya tidak mungkin lebih dari 16tahun?!"
"Bobby, apapun yang kau lihat dengan matamu bisa menipu, gadis ini memiliki latar belakang yang unik, lulus dari universitas dengan mendapatkan gelar dokter bedah, dan kau tahu? Reputasinya lebih dari cukup untuk bisa memanipulasi tubuh manusia. Terlebih dirinya sendiri." Kata Jenifer yang lebih terdengar seperti nada mengejek.
Itu menjelaskan kenapa gadis ini sangat lihai memainkan pisaunya, padahal pisaunya tidak lebih besar dari pisau milikku.
"Kau tahu alasan kenapa dia memilihmu?" Ucap Jenifer.
"Karena aku lemah."
"Tidak!! Jawabanya karena kau bodoh!!" Ucap Jenifer, sudut bibirnya menunjukkan senyuman kecil yang menyebalkan.
"Namun, setelah melihat caramu untuk bertahan hidup aku kagum, ternyata kau tidak sebodoh yang aku pikirkan, kau hanya idiot. kau adalah idiot yang frontal. Bila aku jadi dirimu dalam keadaan itu, aku tidak akan mengambil resiko untuk menanggung tajamnya pisau dari lawanku, untungnya gadis permen ini, tidak lebih pintar untuk memanfaatkan situasi jadi anggap saja kau masih hidup karena keberuntung di luar keberlangsunganku terlibat di dalamnya, anggap saja, kau si idiot yang beruntung"
Jenifer melompat dari meja lalu berdiri di hadapanku, ia membungkukkan badannya, sehingga aku dapat mencium aroma parfum bunga mawar di tubuhnya. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Tidak akan ada lain kali Bobby. Ingat itu!! Aku akan mengatakanya sekali lagi, semua orang di sini, di dalam web ini, bukanlah orang amatiran, mereka tidak akan segan untuk merobek, memotong atau meremukkan tubuhmu bila mereka memiliki kesempatan." Jenifer berdiri kembali, menatap layar monitor sembari berucap.
"Pertanyaannya adalah, apakah kau juga siap untuk melakukan hal yang sama pada mereka?" Jenifer tersenyum berlalu sebelum duduk dan mulai mengetik di komputer miliknya, aku terdiam memikirkan setiap kalimat Jenifer, apa yang ia katakan, keseluruhannya sangatlah benar. Aku tidak melihat keraguan di mata gadis itu seolah-olah dia sangat ingin mengambil nyawaku.
"Bobby" Kata Jenifer.
Ku lihat dirinya yang melirik monitor besar itu dan aku bisa melihatnya dengan jelas, sebuah pesan bertuliskan "Undangan".
"Summer Party (Pesta musim panas)?"
"Aku baru saja mendapatkan sebuah undangan untuk bermain dalam Pesta musim panas, kau tidak akan percaya, bahwa pesta tahun ini dimeriahkan dengan nama-nama menyebalkan yang masuk kedalam list tahunan milikku"
"Pesta?! List tahunan?!"
Ketika Jenifer merilis nama-namanya, mataku tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat.
"Tahun ini adalah tahun yang menarik Bobby! 10 Elite kelas A yang mendapatkan black ticket berhak berpartisipasi dalam sebuah pertaruhan nyawa yang akan langsung disaksikan secara live di sebuah web, dan kau tahu? Semua orang sedang tertuju pada pesta tahun ini, terlepas dari anggota-anggota yang terlibat di dalamnya adalah bintang-bintang kelas 1, dibawah naungan 7 absolute!! Secara tertulis, pesta tahun ini adalah legal. Bukankah ini menyenangkan?!"
Entah apa yang terjadi, namun aku merasakan darahku kembali berdesir, perasaan itu kembali, memaksaku seolah-olah aku tidak dapat membendung luapan emosi ini.
"Menariknya" Lanjut Jenifer.
"Pemilik black ticket dapat mengajukan partner dalam permainan ini di luar status quo dari kelas A, yang artinya aku bisa menawarkanmu untuk mendampingiku dalam permainan tahun ini, hanya saja syarat yang harus dipenuhi adalah kau membutuhkan 3 kematian untuk menegaskan bahwa kau bukanlah seorang rookie. Yang ingin aku tahu adalah, apakah kau tertarik untuk bergabung dengan ku?" Jenifer tampak mengamati ekspresiku.
Kalimat itu, apa pun itu, kalimat yang baru saja ku dengar dari mulut Jenifer menimbulkan efek yang meledak di dalam kepalaku, tanpa sadar aku tertawa begitu keras dan mengabaikan rasa sakitku, sembari berteriak aku menatap Jenifer yang hanya berdiri mengamatiku.
"Aku ingin berpartisipasi Jen"
Ia tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
***
Malam itu, aku bisa melihat Jenifer mengamati layar komputernya. Aku masih penasaran, apa yang perempuan ini sembunyikan, pergerakanya, hingga pola pikirnya sama sekali tidak terbaca, apa yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Si pengunyah permen itu ku rasa ia adalah seorang Siver bukan?"
"Siver?! Apa maksudmu?"
"Kau tidak tahu apa itu Siver?" Aku menggelengkan kepala.
"Kau juga tidak tahu apa itu Twins? Trickers? Imagine? Divite? bahkan BriIiant?" Aku masih menggelengkan kepala.
"Sebenamya Bobby, kau perlu memahami apa itu psikologi. Dengan begitu, setidaknya kau bisa membuat perhitungan seperti apa lawanmu?"
"Psikologi?!" Kataku mengulangi kalimat Jenifer.
"Siver adalah kalimat yang diambil dari penegasan seseorang yang melakukan apapun tanpa perhitungan dan hanya mengedepankan emosi, mereka unggul dalam mengambil keputusan, karena seorang Siver lebih mengedepankan logika dalam berimprove"
"Twins, adalah mereka yang memiliki kepribadian yang tidak dapat ditebak, umumnya mereka memiliki sisi yang berlawanan, namun jangan pernah menganggap Twins Iemah, karena mereka memiliki pergerakan yang acak, apa pun itu bila aku di suruh untuk memilih bertarung dengan Twins, kurasa aku butuh seribu strategi untuk menghadapinya."
"Trickers adalah perencana yang gila, mereka fanatik pada setiap data dan momen. Sekali saja kau terjebak dalam perangkap seorang Trickers maka kau akan musnah, kau sebaiknya menjauhi lawan seperti ini bila kau tidak memiliki strategi untuk menghadapinya."
"Imagine lebih unik lagi, la yang seorang imaginator memiliki kelainan dalam mencerna kenyataan namun berbahayanya seorang imagine terletak pada seberapa besarnya ia memiliki keinginan untuk mengedepankan ideology dalam kepalanya. Seorang maniac bengis dan akan melakukan apapun, sekalipun harus mengorbankan hidupnya"
"Divite adalah mereka yang memiliki kesadaran satu. Ia tidak bisa digoyahkan oleh apapun, sekeras apapun kau mencoba untuk masuk dalam seni yang ia percayai kau hanya sampah bagi mereka, Divite lebih mengedepankan individualisme, meskipun pergerakanya mudah ditebak namun sebenarnya, mereka lebih ke batasan bahwa mereka sangat percaya diri pada kemampuanya."
"Briliant, well mereka sangat nyata dalam membentuk pola di dalam kepalanya, bila ada yang sempurna maka mereka yang Briliant adalah musuh paling mengerikan, mereka begitu sempurna, namun bukan tak bercelah, tergantung bagaimana kau bisa memainkan permainanmu. Sekarang kau lihat Bobby? Ini lebih dari sekedar bunuh-membunuh, di sini kau bermain dengan kepalamu, bukan tenagamu, sekali saja kau melakukan kesalahan kecil, kau selesai!!"
"Jadi, bila aku adalah Siver sama seperti gadis itu, terlepas dari bagaimana kau menjelaskanya, maka kau adalah..?!" Kataku.
Jennifer menatapku dengan senyuman menyebakan itu lagi.
"Briliant"
Sebuah suara terdengar, dan Jenifer mengalihkan pandanganya pada layar monitor.
"Binggo!!" Katanya seraya melirikku.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bobby, bila aku bertanya lagi siapa yang akan kau pilih dari daftar menarik ini..?!"
Ku lihat 4 daftar nama akun, dan seketika aku mengerti maksud Jenifer.
"Manon_13, apakah dia kuat?"