WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Awal Dari Segalanya



"Ada sebuah permainan yang sangat menarik. Permainan ini sangat-sangat menyenangkan, menyenangkan dalam definisi yang sebenarnya bagi seseorang seperti kita"


Jenifer masih terfokus menatap layar komputernya, lain halnya denganku yang hanya diam mendengarkanya. Namun di balik itu semua sebenarnya tersimpan pertanyaan terbesarku, apa maksud dari ucapanya sebelumnya, tentang obsesi yang ia katakan kepadaku.


"Well, coba lihat ini" Jenifer tertawa sembari melirikku.


la melirik komputer miliknya seolah mengatakan "Lihat ini". Tepat ketika aku mendekatinya, aku bisa melihat seseorang tewas dengan leher terbuka lebar.


"Apa ini? Semacam gambar disturbing?" Kataku dengan senyuman meremehkan.


"Coba lihat ini lebih teliti" Jenifer memintaku untuk melihat jemarinya yang menunjuk semacam nama dengan beberapa akun.


Di sudut aku melihat beberapa chat room, aku tidak mengerti apa semua ini. Seperti facebook, twitter atau semacamnya hanya saja ini sangat berbeda. Dan aku bisa merasakanya hanya dengan melihatnya saja.


"Manon_666. Apa-apaan nama ini?" Kataku sembari melirik Jenifer.


Jenifer hanya terfokus pada layar komputernya sembari jemarinya terus mengetik yang sama sekali tidak ku pahami. Karena ia tidak menjawab pertanyaanku, wajahku berpaling siap meninggalkan tempat itu sebelum ia mengatakan


"Bobby, aku yakin kau ingin menanyakan sesuatu kepadaku?"


"Ya, dan kau tidak akan menjawabku kan?!" Kataku terdengar sangat sebal.


la menatapku lalu berdiri di hadapanku.


"Ini adalah permainan yang ku bicarakan untukmu sebelum memasuki fase yang jauh lebih dalam, maka aku menunjukkan ini Bobby"


"Fase? Lebih dalam?! Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan"


Jenifer masih menatapku hanya saja kali ia duduk di meja dengan melipat tangan sembari mendengarkan suara ping!! Ping!! dari komputer itu, yang ku pikir adalah sebuah pesan.


"Aku ingin bertanya kepadamu bobby."


Kali ini nadanya terdengar serius.


"Apa yang kau rasakan saat kau menyakiti mereka? Kesenangan, kebahagiaan atau sesuatu yang tidak bisa kau jelaskan dengan kata-kata?! Apa jantungmu berdebar? Apa kau merasakan darahmu berdesir jauh lebih cepat, tangan dan kakimu gemetar namun anehnya justru kau menikmatinya? Apa itu yang kau rasakan?" Kali ini Jenifer menatapku, ada senyuman tipis di sudut bibirnya.


"Kau benar. Aku memang merasakan itu semua lalu apa?"


"Apa?!" Jenifer mengulangi kalimatku. kali ini dia mendekatiku.


"Kau bertanya lalu apa? Sekarang biarkan aku bertanya kembali? Sekarang apa? Apa yang akan kau lakukan bobby? Kau sudah membunuh semua orang yang melukaimu. Apa? Katakan apa yang akan kau lakukan?"


Aku terdiam memikirkan apa yang akan Jenifer katakan dan apa maksud pembicaraan ini. Sebelum aku menemukan jawabanya Jenifer membisikkan itu ditelingaku.


"Obsesi"


"Obsesi? Apa maksudmu? "


"Awalnya perasaan itu hanya akan tumbuh menjadi kesenangan, perlahan-lahan ia akan semakin tumbuh menjadi semacam candu, ia akan terus dan terus mengerogoti otakmu, menjadi semacam ketertarikan yang begitu kuat sampai akhirnya perasaan itu menjadi obsesi!! Mungkin sekarang kau bisa mengendalikanya, namun semakin jauh kau melawan perasaan itu maka kau akan semakin tenggelam dibuatnya, dan setelah kau tenggelam, kau tidak tahu siapa dirimu dan apa yang terjadi karena kau akan terbawa naluri, dibutakan oleh instingmu sampai kau lupa kenapa kau bisa menjadi seperti ini. Jadi Bobby, aku mengatakan bahwa apa yang terjadi kepadamu tidak lebih dari sebuah obsesi, obsesi untuk terus dan terus membunuh."


"Obsesi" Aku mengulang kalimat itu namun ada sesuatu yang mengguncang tubuhku seolah kalimat itu menjadi pemicunya.


"Tapi Bobby, kau tidak perlu khawatir karena fase yang terjadi kepadamu adalah fase yang juga pernah ku hadapi"


"Apa maksudmu?"


Jenifer melirik komputernya kembali lalu melirikku. Aku melihatnya, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Mereka menyebut ini sebagai Death Game. Bunuh dia dan kau bisa terus bermain. Kau pernah mendengarnya Bobby? Sebuah permainan yang diciptakan untuk saling memburu satu sama lain, mengejar satu sama lain atau mungkin lebih tepatnya membunuh satu sama lain."


"Jadi maksudmu apa yang aku lihat tadi adalah?" Kataku sembarii menatap layar komputer yang menampilkan background hitam dengan layar chat pribadi.


"Kau mau bermain denganku Bobby?"


"Aku tidak mengerti Jeny, tapi tampaknya kau menikmati ini? Jadi kau ingin permainan seperti apa?"


Jenifer menatap layar komputernya dan mengetik dengan cepat lalu menunjukkan sebuah akun dengan file foto.


"Kau beruntung, ada seseorang yang pernah mendapatkan akses datanya dan dia mau membantuku setelah membuat kesepakatan denganku. Tapi dia akan menjadi jalan bagimu untuk masuk dalam permainan ini. Sebelum aku menjelaskan lebih rinci apa yang kita mainkan, lebih baik aku fokus pada dirimu yang mungkin akan mati dalam permainan ini"


"Tidak Bobby!! Aku tidak suka bergurau dengan orang asing sepertimu."


Kini file-file terbuka dan menampilkan beberapa foto hitam putih.


"Siapa pria ini?" Kataku menatap sebuah foto dengan pria berpostur sedikit gemuk, mengenakan kaca mata bulat yang membuatnya terlihat seperti kutu buku, wajahnya terlihat aneh dengan hidung panjang dan rambut hitam pendek klimis. la lebih sering mengenakan baju kemeja dengan celana hitam panjang.


"Pria ini? Bila aku menyuruhmu untuk membunuhnya apa kau bersedia babby?"


Aku menatap Jenifer, mencoba mencerna setiap kalimatnya.


"Kenapa aku harus membunuhnya?"


"Bagaimana bila aku mengatakan bahwa pria ini adalah seorang dokter yang bejat yang sangat suka menculik anak kecil untuk di jadikan mainan dan budak nafsunya. Tidak hanya itu, ia adalah kolektor dari organ tubuh dan menjadikanya semacam seni dengan cara mengeringkanya sebelum menancapkanya pada papan kayu. Lebih buruk lagi, ia seringkali melakukan eksperimen konyol dengan anak-anak menjadi bahan objeknya, intinya pria ini tidak lebih seperti kita!!"


"Kau selalu mengatakan kita, kita dan kita?! Bahkan aku tidak tahu apa maksud kita yang kau bicarakan?"


Jenifer mendekatiku lalu berucap dengan dingin.


"Kau, aku dan dia sebenarnya apa bedanya?? Kau belum mengerti posisimu? Kau adalah psychopath yang setidaknya belum tahu kenapa kau harus hidup Bobby!! Kau belum mengerti siapa dirimu yang sebenarnya?!"


"Jadi maksudmu aku adalah pembunuh sepertimu?"


"Ada akses data di rumahnya, aku membutuhkan itu untuk membawamu lebih jauh dari ini semua. Karena bila aku menjelaskan saat ini, kau hanya akan bingung. Percayalah, kau akan tahu sebuah jawaban setelah menghabisi pria ini!! Jadi bagaimana bobby?"


"Hanya membunuhnya, begitu kan?"


Jenifer mengangguk, dan saat itu aku tau dia tidak bisa ikut campur dalam hal ini, dan aku juga tahu, aku baru saja menyalakan pemicu dalam permainan ini.


***


Malam itu hujan turun, Aku mengenakan mantel kuning untuk berjalan melewati San Fierro street nomer 23, sesuai dengan apa yang Jenifer jelaskan aku harus melewati beberapa blok ke selatan sebelum menemukan sebuah rumah tua bergaya Victoria.


Ku lihat kesana-kemari untuk memperhatikan, jalanan sangat sepi, sesuai dengan apa yang aku tahu untuk menyusup ke dalam sebuah rumah maka aku melompati pagar dan kemudian membuka pintu belakang dengan peralatan yang ku miliki. Membunuh satu orang, itu tidak sulit bagiku. Namun aku masih teringat apa yang Jenifer katakan kepadaku.


"Berhati-hatilah orang yang akan kau hadapi bukan orang yang sama seperti orang yang kau habisi sebelumnya. Jangan meremehkan dia sedikitpun"


Aku tidak tahu maksud ucapanya, namun bila dengan membunuh pria ini aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengangguku maka akan aku lakukan.


Pintu terbuka dan aku menutupnya kembali. Kali ini aku berjalan lebih lambat agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Ku lewati beberapa ruangan. Aku menyadari sesuatu rumah ini penuh dengan barang-barang antik bernilai tinggi.


Jenifer mengatakan ia adalah seorang dokter. Penuh dedikasi, penuh dengan penjiwaan namun dengan rahasia yang tersimpan rapat.


Tiap aku mengingat wajahnya di foto yang Jenifer tunjukkan padaku entah kenapa aku melihat seorang pria aneh yang sama sekali tidak ku mengerti untuk apa aku harus repot-repot untuk membunuhnya.


Namun, semua itu berubah. Saat pertama kali aku memasuki rumah ini, aku merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang sama sekali tak ku pahami, seseorang seperti mengawasiku. Ku lihat anak tangga, menaikinya perlahan. ku teIusuri lorong panjang, sebelum aku melihat sesuatu yang aneh. Rumah ini sangat tua dan besar, sehingga aku bisa melihat pintu berjejer di sepanjang lorong, ku buka satu persatu pintu namun aku sama sekali tidak menemukan kehadiran pria itu.


Sesuai informasi data yang Jenifer katakan, pria itu selalu berada di rumah tepat pada pukul 7 malam. Yang aku lakukan hanya berputar dan berputar kesana kemari, sampai aku menyadari sesuatu.


"Basement" Kataku.


Aku melihat sebuah pintu besar dengan kayu dari pohon jati, pintu itu tepat di utara dari anak tangga, dan di sana aku bisa melihat pintu itu terkunci dengan rapat. Apa pria itu tinggal di sana? Aku mencoba mencari jalan lain jadi aku menelusuri sebuah lorong lain. Akan tetapi, aku kembali merasakan sesuatu seolah-olah ada yang mengawasi.


Ku lihat kesana-kemari dan perasaan campur aduk merasukiku, sebelum aku akhirnya menyadari ada seorang anak menatapku layaknya sebuah patung.


la bernafas dengan terengah-engah, berdiri tegak menatapku dengan ekspresi ketakutan, aku mendekatinya perlahan untuk memastikan ia adalah manusia, dan akan melumpuhkanya bila ia melakukan tindakan yang gegabah.


Ku perhatikan dengan detail sampai aku menyadari bahwa ia tidak memiliki sepasang tangan. Bibirnya di sumpal dengan karet hitam yang melingkar di kepalanya, sedangkan kakinya terikat dengan rantai kecil dan pasung kaki dari kayu.


"Apa yang terjadi disini?" Kataku dalam hati.


Tanpa sadar ku buka karet di bibirnya untuk sekedar tahu apa yang terjadi, ku lepaskan perlahan ikatan itu.


"Aaarggghhhhhh" Ia berteriak sangat kencang hingga hampir membuatku terlonjak dan aku menyadari, di sudut ruangan seorang pria menatapku dengan kaca mata bulatnya. Ia berdiri dengan memegang pisau di tangannya.


"Sepertinya ini akan semakin menarik" Kataku.