WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Death Game



Gadis itu membawaku ke kediaman yang sangat besar.


la hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun kepadaku bahkan sejak dari tadi.


Ketika aku ingin bertanya sesuatu kepadanya, ia mendesis memintaku untuk diam, saat itu lah aku baru sadar ia membawaku ke kediaman orang lain.


"Apa kau tidak mau tahu siapa yang membuat ibumu bunuh diri?" Katanya sembari menatap ke jendela dengan mimik wajah yang tenang.


"Apa maksudmu?" Kataku.


"Kau pasti menyadarinya, luka lebam di wajahnya dan kenapa ia menjadi lebih pendiam, hingga akhirnya ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya" Kini Jenifer menatapku, tatapan yang begitu kelam dan mengintimidasi.


"Kau melihat pria yang di sana? Ia begitu bahagia menikmati makan malamnya bersama keluarganya. Bukankah begitu?" Ucap Jenifer sembari melihat tepat di jendela rumah besar itu.


"Ya..." Kataku sembari mengamati apa yang coba gadis aneh ini jelaskan kepadaku.


"Sayangnya di balik wajah ceria dan sosok ayah yang mencintai keluarganya, di luar sana ia adalah ******** yang memasok narkoba untuk merenggut nyawa orang lain. Termasuk ibumu."


Aku terdiam beberapa saat ketika mendengarnya.


"Selama ini aku yakin kau tahu bagaimana cara ibumu mendapatkan uang? Dan sebelum ibumu tewas, ia terikat kontrak dengan pria itu, pria itu terus-menerus menghujani ibumu dengan pukulan di wajahnya. Bahkan ia mengancam akan membunuhmu bila ibumu tidak bisa melunasi hutangnya, lalu kau tahu sendiri hasil otopsi itu bukan?!"


Aku masih terdiam mendengar penjelasan Jenifer. Aku tahu, aku tahu hasil otopsi itu, dan bagaimana ia dilecehkan dan bagaimana ia mendapatkan luka lebam itu. Tiba-tiba perasaan itu kembali, jantungku mulai berdegup dengan kencang, sesuatu seperti merasukiku kembali.


Namun Jenifer hanya menyeringai menatapku.


"Apa yang kau ketawakan?" Kataku sembari menatap tajam wajahnya.


"Bukankah ini lucu Bobby. Bukankah manusia adalah makhluk yang lucu? Lihatlah semuanya, saling menyakiti dan saling menghancurkan lalu saling membunuh. Bukankah itu hal yang lucu?"


"Apa maksudmu?!"


"Kau akan mengerti maksudku nanti. Sekarang kau mau berpesta denganku? Aku butuh jantung segar untuk malam ini."


Jenifer berdiri, lalu menuju kediaman itu. Ku lihat ia meraih sebilah pisau lipat dari kantong jaketnya.


Aku meraih sebuah tongkat di pekarangan, ku ikuti langkah gadis itu. la membuka pintu dengan cekatan hanya menggunakan sepotong kawat kecil.


Langkahnya begitu pelan dan gerakanya begitu santai, semua itu seperti sudah ia lakukan ratusan kali bahkan tanpa meninggalkan suara sedikitpun.


"Sekarang apa?" kataku.


la berhenti lalu berbalik menatapku.


"Kau ingin menghabisi pria itu bukan? Sebelum itu sebaiknya ku singkirkan semua orang yang berpotensi menganggu. Ngomong-ngomong, pria itu ada di lantai dua, terlelap dalam tidurnya."


Jenifer berlalu, menghilang begitu saja dari pandanganku. Aku mulai menaiki anak tangga, berjalan di lorong lalu terhenti di sebuah pintu.


"Ini dia!! Aku akan membunuhnya." Kataku.


Tepat ketika tanganku akan meraih gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan aku melihat seorang wanita yang terkejut menatapku. Butuh beberapa detik untukku sadar bahwa wanita yang ada di depanku ini berpotensi akan sangat mengangguku. Sebelum ia berteriak, ku hempaskan tongkat itu menghantam tengkoraknya. Ia tersungkur dengan darah mengalir, namun aku tertuju pada sosok pria itu yang melihatku dengan wajah terkejut.


"SIAPA KAU?! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ISTERIKU??"


Deg!! Deg!! Deg!! Jantungku berdetak lebih cepat-lebih cepat, perasaan ini. Aku melangkah masuk, berjalan linglung mendekati pria itu yang lalu bangkit menantangku.


"******* KAU!!" Teriaknya dan langsung mendorongku hingga menerjang tembok.


Namun anehnya, aku tidak menghindarinya, padahal aku bisa melihat gerakannya di depan mataku. Namun entah bagimana sinkronisasi otak dan jantungku yang tidak stabil, aku menghantam perutnya dengan lututku, ia berteriak saat aku mencengkram wajahnya dengan tanganku, tanganku yang lain menghujankan tongkat itu menghantam tepat pelipisnya. la terjerembab jatuh dan menggeliat. Ku jatuhkan tongkatku, berdiri di atasnya. Aku tidak tahu sejak kapan aku bisa berkelahi seperti ini. Semua ini seolah-olah sudah biasa aku lakukan, membaca gerakan lawan lalu melakukan serangan balik dengan sangat efektif.


"Berdirilah!!" Kataku.


"Siapa kau?? Apa yang kau inginkan?? Uang?? Aku bisa memberikanmu, tapi lepaskan keluargaku!" Ia mengerang sembari menatapku.


"Kau ingat dengan wanita yang bunuh diri yang beritanya sempat membanjiri media masa? Kau akan membayarnya malam ini. " Kataku dengan suara sedikit sumbang.


"Apa kau anak dari wanita itu? jadi kau benar-benar anak dari wanita ****** itu?" Ia mencoba berdiri, suara tawa terdengar dari nada suaranya.


Apa dia baru saja mengatakan wanita ******?! Pria ini akan mati dengan cara yang tragis. Aku menendang wajahnya. Ia tersiksa namun aku terus dan terus menendang tubuhnya. Sampai ku rasakan sebuah hantaman keras dari tengkukku, ku lihat apa yang terjadi sampai aku sadar wanita yang ku hantam tadi sudah sadar dengan tangan mengenggam tongkat itu.


Aku baru saja melakukan tindakan yang fatal seharusnya aku menghantamnya hingga tewas. Tiba-tiba terdengar suara Jenifer.


"Kalian memiliki anak gadis yang lucu!!"


Kami menatap ke arah pintu. Saat Jenifer melangkah masuk dengan pisau di tanganya.


Wanita itu tampak shock saat itu juga ia berteriak dengan gila sembari meneriakkan nama seseorang.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN EMELY!!!" Wanita itu berlari, bersiap melewati Jenifer.


"Tunggu!! Jangan pergi. Dia Cuma menggertak!" Teriak pria yang ada di belakangku.


Namun Jenifer melakukanya dengan sangat elegan, ia mencengkram lengan wanita itu sebelum melewatinya, menendang kakinya lalu menggorok lehernya dengan cepat.


Wanita itu meronta dengan darah mengalir deras di lehernya. Aku melihat hal gila karena wajah Jenifer terlihat sangat bahagia melakukanya.


"Aku hanya mengatakan kalian memiliki anak gadis yang cantik. Hanya itu!! bodoh!!"


Saat itu juga aku sadar, aku berdiri berbalik, lalu ku rebut tali itu, menghantam perut pria itu dan menjerat lehernya dengan tali. Ia meronta dan terus meronta, namun aku menjeratnya semakin kuat. Beberapa saat kemudian, pria itu tewas begitu saja di tanganku. Aku menatap Jenifer yang melihatku dengan senyuman yang aneh.


"Kau benar-benar payah Bobby. Kenapa kau begitu ragu untuk membunuh wanita ini? Bagaimana bila tidak ada aku di sini? Kau pasti sudah mati!!"


"Jadi apa kau juga membunuh gadis kecil itu?" Kataku memastikan.


Jenifer melirik sesuatu di belakangnya, saat itu lah aku sadar, gadis itu sedari tadi melihat apa yang kami lakukan.


"Kelak semua ini akan menjadi terauma dalam hidupnya, ia akan membalas dendam pada kita."


Kami meninggalkan rumah itu setelah Jenifer membedah isi tubuh pria dan wanita itu, hanya untuk mendapatkan sebuah organ jantung yang entah kenapa sangat aneh menurutku. Kali Ini, Jenifer membawaku ke kediamanya yang sebenarnya.


***


Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, Jenifer bukanlah gadis biasa. Aku masih menatap kesana-kemari seperti orang idiot. Tempat tinggalnya tidak seperti yang ku bayangkan. Sangat jauh berbeda dengan penampilan yang ia tunjukkan.


"Kau tidak pernah bilang kalau kau adalah anak orang kaya?!" Kataku sembari memperhatikanya yang sibuk meletakkan jantung-jantung itu ke dalam toples.


"Kau tidak pernah bertanya Bobby. Lebih tepatnya kau tidak pernah berbicara denganku bukan?!" Katanya menjawab pertanyaanku.


"Sejak kapan kau melakukan ini?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?!" Ia menyeringai.


"Kau terlihat sudah biasa melakukanya!!" Kataku sembari melihat tumpukan toples dengan organ jantung di dalamnya.


"Aku selalu memperhatikanmu, selalu Bobby. Aku yakin aku memiliki insting yang kuat, dan sadar instingku mengatakan kau bukan orang biasa. Saat ini kau tidak jauh berbeda denganku!"


"Apa maksudmu?"


"Dunia ini memiliki sisi yang berbeda Bobby. Kau paham maksudku?"


Aku tidak mengerti apa yang gadis ini coba katakan. Namun ia berdiri tepat di hadapanku, lalu mengatakan.


"Kau terobsesi untuk membunuh bukan? "


"Apa?"


"Sudahlah Bobby, jangan menutup-nutupi itu lagi. Aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana kau menghancurkan kepala Troy, menghancurkan kepala Bastian, dan kau juga berniat merobek tenggorokan Justin. Aku melihatnya, melihat bagaimana kau tertawa saat melakukanya."


"Langsung jelaskan saja apa yang ingin kau katakan kepadaku?!" Teriakku.


"Obsesi yang kau memiliki adalah penyakit, kau akan terus dan terus menerus membunuh, membunuh dan membunuh lagi. Kau tidak akan bisa menghentikan penyakit ini. Karena dengan melakukan ini dalam lubuk hatimu kau merasa hidup. Sayangnya..." Gadis itu duduk di meja dan menatapku dengan senyuman di bibirnya.


"Cepat atau lambat kau akan tertangkap, kau tahu apa hukuman untuk pembunuh sepertimu? MATI!!"


"Tapi aku yakin kau tidak keberatan untuk mati. Karena semua manusia pasti akan mati bukan Bobby? Ada cara lain untuk memuaskan nafsumu untuk membunuh tanpa harus berurusan dengan hukum." Jenifer membuka komputer di belakangnya, mengetik sesuatu lalu aku bisa melihat dengan jelas apa yang tertera disana.


"Death Game"