
Satu minggu setelah kejadian itu, aku hanya menghabiskan waktuku di dalam rumah.
Semua orang di lingkunganku berduka, tidak henti-hentinya mereka para tetanggaku datang ke rumah ini untuk sekedar melihat keadaanku atau memberikan makanan seadanya. Beberapa menaruh belas kasihan, beberapa bicara bagaimana ini bisa terjadi, bunuh diri di hadapan anaknya.
Aku tidak pernah menyadari bahwa diriku menyimpan semua ini sendirian, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana aku tidak bisa membantunya disaat ia depresi sejauh ini. Namun, entah kenapa tidak ada kesedihan di dalam diriku. Sekuat apapun aku mencoba bersedih dengan mengingat momen ketika aku bersamanya, aku sama sekali tidak merasakan kesedihan itu. Sebaliknya aku justru merasakan perasaan lain. Sebuah kebebasan, sesuatu yang selama ini menghambatku. Aku tertawa seharian ketika memikirkannya.
**
Pagi itu, aku sudah mengenakan seragam sekolahku, menggantung tas di punggungku dan berdiri menatap jalanan, aku menunggu bus sekolah tiba.
Ketika Bus berhenti di depanku, aku dapat melihat pandangan-pandangan itu. Semuanya menatapku dengan pandangan berduka, beberapa berbisik ketika aku melewatinya, rasa kasihan terdengar dimana-mana, padahal sebaliknya, aku tersenyum sendirian tanpa ada satupun yang tahu, aku tidak pernah merasakan diriku segila ini sebelumnya.
Aku duduk di samping gadis aneh itu, ia melirikku sekilas sebelum kembali menatap jalanan kosong, pandanganya masih sama seperti sebelumnya. Ia tidak tertarik denganku sama sekali. kini aku bisa melihat tiga anak memuakkan itu menatapku dengan seringai berengsek seperti biasanya, tampaknya mereka sedang merencanakan sesuatu terhadapku.
Kelas dimulai dan aku lebih banyak menatap kosong bukuku, di sana aku terus mencoret-coret kertas itu dengan garis-garis yang tidak ku pahami, tampaknya aku hanya ingin menyibukkan diriku. Beberapa anak yang duduk disampingku memandangku aneh, namun aku tidak perduli. tepat ketika bel istirahat terdengar, aku mendengar Justin, Bastian dan Troy mendatangiku.
Mereka berdiri di depanku dengan senyuman ***** mereka, namun aku tidak perduli. Tanganku masih sibuk mencoret-coret kertas dibuku tulisku.
"Kau sedang apa idiot?"
Aku tidak menghiraukanya.
"Aku bilang kau sedang apa idiot?? APA KAU TULI?!" Troy mengetuk-ngetuk kepalaku, namun tetap aku tidak perduli, hanya saja, sensasi aneh mulai merasukiku. Kali ini, sensasi itu mampu ku rasakan perlahan-lahan.
"TERNYATA SELAIN IDIOT KAU JUGA TULI YA SEKARANG" mereka tertawa.
"KASIHAN.. DIA DITINGGAL IBU JALANGNYA." Mereka masih tertawa.
"BILA AKU JADI DIRIMU, PASTI AKU JUGA AKAN BUNUH DIRI"
Aku bisa merasakan adrenalinku meninggi, desir darahku yang bergerak pelan, aku bisa merasakan nafas mereka saat tertawa, bahkan aku bisa mendengar jam dinding yang berdetak, semuanya sangat pelan, sangat nyata dan sangat menggodaku, sampai aku mendengar.. (?)
Troy menjerit histeris, ia berguling dilantai dengan menutup matanya dan terus menerus menjerit. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, aku bisa melihat dan merasakan semuanya begitu cepat namun aku dapat menangkap setiap momennya. Momen bagaimana ketika Troy mencoba menampar wajahku, namun entah bagaimana caranya aku menepis tanganya, mencengkramnya kuat-kuat. Lalu menancapkan ujung penaku tepat di matanya, lalu ia menjerit seperti saat ini.
Sekarang aku hanya duduk di depan guruku. Ia berceloteh tentang luka Troy tepat di matanya yang untungnya tidak terlalu serius, dan bagaimana aku melakukanya. meski ia sempat mengatakan berduka atas meninggalnya ibuku dengan cara yang tidak lazim. Ia berkata aku tetap salah telah melakukan itu, namun sekali lagi, aku sama sekali tidak merasakan perasaan apa-apa. Jadi aku keluar dari tempat itu dengan perasaan biasa saja.
Di lorong beberapa anak memandangku aneh, beberapa wajahnya tampak ngeri melihatku. Mereka berbisik, berkata satu sama lain, bagaimana aku yang pendiam bisa melakukan itu. Apakah karena efek ibunya yang bunuh diri, apapun yang mereka katakan, aku tidak perduli.
Aku berjalan menuju kelas, sampai aku melihat gerombolan anak mendatangiku. Menyeretku dan membawaku ke gedung lama. Di sana aku melihat Justin, Bastian dan Troy dengan perban diwajahnya. Gerombolan anak yang membawaku pergi meninggalkan tempat ini, hanya tinggal kami berempat.
Justin yang pertama mendekatiku, dengan cepat ia memukul keras perutku, menjambak rambutku dan menendangnya dengan lutut, tidak berhenti disana, ia memojokkanku ke tembok dan menghantamkan kepalaku ke tembok berkali-kali. Ia memaksaku berdiri, memegang tubuhku dan Bastian kini memukul keras wajahku berkali-kali, rasa sakit dan nyeri mulai terasa di tubuhku.
Tanganku gemetar, dengan pandangan berkunang-kunang.
Troy bangkit dari tempatnya duduk, ia meraih tongkat pemukul baseball, menghantamkanya diperutku lalu memukulkan keras di rahangku. darah menetes dari wajahku. Mereka tertawa, membuka celananya dan mengencingiku yang terjatuh di lantai dan tidak bisa bergerak lagi.
Anehnya, aku sama sekali tidak merasakan rasa takut sama sekali. Sebaliknya, aku tertawa ketika mereka memperlakukanku seperti itu.
Aku duduk diam memandang kosong apa yang ada di depanku. Sekarang aku mulai tertawa, tertawa sangat keras sampai aku tidak tahu apa yang aku tertawakan. Tanganku masih gemetar namun bukan karena rasa takut, jantungku berdegup sangat kencang sampai aku tidak bisa mengendalikanya. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Kenapa perasaan ini begitu menyenangkan, begitu mengebu-ngebu, begitu nikmat, begitu... tidak ku mengerti.
Aku melihat tongkat baseball Troy tergeletak di depanku. Tampaknya ia sengaja membuangnya, ku raih benda itu lalu aku memikirkan sesuatu, sesuatu yang gila, yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tenawa sangat keras, hingga perutku terasa sakit. Tertawa ternyata sangat menyenangkan.
**
Bel sekolah terdengar. semua anak-mulai meninggalkan sekolah, aku terdiam di sudut gedung melihat seseorang. Troy yang tampak bingung karena rantai sepedanya
yang putus, sebenarnya aku lah yang memutuskanya.
Aku mendekatinya perlahan, di tanganku aku mengenggam tongkat pemukul baseball itu. ketika tepat berdiri di belakangnya, aku berujar dengan tenang.
"Butuh bantuan Troy?"
"Kau?" ucap Troy melihatku.
Sebelum ia bereaksi, aku menghantamkan tongkat itu tepat di tenggorokannya, ia jatuh dengan menggeliat menyentuh lehernya, tanpa berpikir panjang ku hantamkan pemukul baseball itu sekuat mungkin hingga menghantam wajahnya, dan ia pingsan.
Ku seret badan bongsor itu ke gedung tua. baunya benar-benar seperti ****, ku telanjangi badanya dan ku ikat di kursi, ia tersadar beberapa jam kemudian dan aku sengaja menungguinya dengan senyuman yang aneh. Entahlah, aku tersenyum dan tertawa sepanjang hari ini.
Ketika ia tersadar, satu-satunya yang ia lakukan adalah terkejut melihatku yang duduk memandangnya. Ia meronta namun sadar bahwa tubuhnya terikat di kursi, telanjang dengan mulut tersumpal. "Oh **** kita sudah bangun.." "Bagaimana perasaanmu ****?"
Troy meronta namun ikatanku lebih kuat dari tenaganya yang sudah terkuras seharian ini, aku mulai berdiri mendekatinya, ku elus kepalanya dan berbisik kepadanya. "**** tetaplah ****, hanya bisa oik-oik. " teruslah meronta Troy, katakan kepadaku bagaimana rasanya?
"Tolong!! lepaskan aku!! tolong. Maafkan aku.. maafkan aku" Troy menangis di depanku.
Aku tidak pernah menduga ini sebelumnya.
Namun entah kenapa melihat Troy seperti itu membuatku jijik.
"Katakan kepadaku Troy, kenapa aku harus melepaskanmu??"
"Aku tidak akan pernah menganggumu lagi, aku bersumpah tidak akan pernah menganggumu!! tolong ku mohon Bobby, lepaskan aku!!"
Aku tersenyum menatap Troy dan sekuat mungkin ku hantamkan tongkatku ke rahangnya, kali ini beberapa giginya rontok. Troy mulai memuntahkan darah, wajahnya merah seperti anggur tua, namun entahlah ini sangat menyenangkan, seolah aku tidak mau berhenti. Ku ayunkan terus menerus tongkatku hingga kursi yang Troy duduki terjatuh ke lantai.
Troy berusaha berteriak namun suaranya lebih seperti suara bayi yang menangis, tidak begitu jelas, dan tidak akan ada yang mendengarnya. Jadi aku akhirnya membuat kesepakatan dengan Troy.
"Begini saja anak ****. Biarkan aku memukul kepalamu lebih dari 100 kali, bila kau masih hidup setelah aku melakukanya. aku akan melepaskanmu, setuju?"
Troy menatapku dengan tatapan menunta ampun, namun sebaliknya aku tidak lagi mengenal apa itu permintaan ampun.
"Kau sudah gila Bobby!! kau sudah gila"
Troy terus mengoceh namun aku mulai mengangkat tongkatku, menghempaskanya tepat di wajahnya.
"Satu" kataku.
Troy menjerit, ku angkat lagi kuayunkan lagi, dan aku terus melakukanya.
"Dua puluh enam. Ayo Troy tetaplah hidup" Teriakku diiringi suara tawa.
Troy sudah tidak bergerak tepat di pukulan ke enam puluh tujuhku, namun aku tidak perduli, dia harus aku pukul seratus kali. dan tepat ketika pukulan ke seratus, aku bisa melihat kepalanya sudah tidak berbentuklagi.
"Sayang sekali, si **** ternyata mati" kataku.
Ku buka ikatan dikursi, lalu ku seret tubuh itu tepat dibelakang gedung. Aku sudah menggali tanah, kulemparkan tubuh busuk itu menutupinya lalu meninggalkan tempat itu dengan tenang.
Sekarang, Babiselanjutnya.
Hari semakin larut, dan aku melihat gerombolan anak di sebuah gang, beberapa menghisap rokok dan beberapa tampak menengak miras. Beberapa saat kemudian seorang anak mendekatiku, ia tinggi bertubuh tegap dengan rambut di tutup oleh hoodie jaket. Ia mendatangiku yang bersembunyi di kegelapan gang lain.
"Temanku bilang kau mencariku?" katanya dengan suara berbisik.
Aku tidak bisa melihat wajahnya begitupun sebaliknya, namun aku mengenali suara itu. jadi ku katakan.
"Ya, tapi aku meninggalkan uangku disana, kau mau ikut mengambilnya.." kataku yang juga berbisik.
"Oke, tapi kau harus tahu. Barangku ini harganya tidak murah" katanya dengan nada mengejek.
"Akan aku bayar berapapun."
Dia mengikutiku, ku giring dia di sebuah gang lain, melewati pagar besi, dan tepat ketika tempat itu sepi, ku lemparkan benda itu. Ia menatap benda itu sebelum sadar apa yang aku lemparkan adalah rantai sepeda milik Troy.
"WTH!! Apa-apaan ini? " katanya tampak kaget.
Aku mendekatinya dan langsung menghantam keras wajahnya. Ketika ia terjatuh, ku raih rantai sepeda Troy dan mengikatnya kencang dileher anak itu.
"Bastian, kau pasti juga ingin segera bertemu Troy kan? Aku akan membantumu bertemu denganya."
Bastian mencoba melepas cengkramanku, namun aku menganjalnya dengan kakiku sehingga rantai itu terus mencekiknya dengan kuat, tepat ketika cengkramanya melemah, aku melepaskanya, Bastian terjatuh dan mencoba berdiri dengan nafas terengah-engah.
"Kau sudah gila Bobby!! kau sudah tidak waras!!" katanya.
"Terimakasih" dan ku ayunkan rantai itu tepat di wajahnya.
kini aku terus mengayunkan rantai itu menghujam terus menerus kepalanya, ia menjerit dan terus menjerit sama seperti Troy, namun jeritanya seperti musik di telingaku. tepat ketika jeritanya berhenti, ia sudah tewas di tempatnya dengan wajah hancur.
Ku seret tubuhnya dan ku tutupi dengan benda-benda usang yang aku temukan.
"Tinggal satu lagi." Aku semakin bersemangat melakukannya.