
Kami hanya saling menatap satu sama lain. tidak ada gerakan yang berarti, ku perhatikan setiap detail yang ada pada dirinya.
la tampak seperti pria berusia 40 tahunan atau lebih, badanya jauh lebih gemuk dari foto yang ku lihat di file milik Jenifer, ia memiliki postur bungkuk, kakinya pendek, di wajahnya aku bisa melihat jambang yang tak di rawat, rambutnya berantakan, saat itu aku berpikir apakah benar ia seorang dokter?
Namun aku sadar, cara dia memegang pisau berbeda. Aku masih mempehatikannya dengan detail, sesaat aku tercengang ia sudah bergerak sangat cepat. Sangat-sangat cepat untuk seseorang berkaki pendek, sebelum aku terkesiap meraih pisau di saku jaketku aku tersadar, ia hanya melewatiku untuk berdiri tepat di depan anak kecil tanpa tangan itu.
Sesaat aku bergerak mundur untuk merasakan sensasi yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, kali ini jauh lebih kuat, sangat jauh lebih kuat dari ketika aku menatap bayangan keinginan membunuh Jenifer di depan mataku.
"Tidak mungkin" gubrisku pada diri sendiri, bagaimana aku bisa ketakutan hanya dengan melihat pria itu berjalan, seperti sentakan intimidasi yang meremukkan jiwaku.
Pria itu membelai rambut anak itu. aku bisa mendengar ia berbisik sementara anak itu terus menerus merintih seolah menolak entah apa yang pria itu bisikkan. Sebelum akhirnya pria itu menggorok leher anak itu hanya dengan sekali sayatan.
Aku terperangah melihat bagaimana pria itu melakukanya tanpa ekspresi, sementara arak itu mulai mengejang, darah mengalir di tangan dan wajah pria itu, namun ia hanya diam seolah-olah menikmati kehangatan darah anak itu yang membasahi tubuhnya.
Keheningan seketika mengelilingi kami. Dan saat aku masih diam mematung memperhatikanya, pria itu mulai tertawa. Awalnya ia hanya bersuara dengan volume kecil, seperti suara sesenggukan namun aku sadar ia sedang tertawa entah apa yang sedang ia tertawakan. la mulai bangkit berdiri dan melihatku dengan senyuman yang aneh.
"Kau baru saja merusak mainan berhargaku!!"
Aku bergerak mundur, ada sesuatu yang aneh terjadi kepadanya, cara dia berdiri, hingga berbicara semuanya aneh.
"Kau tahu? Dia adalah mainan terbaikku, tapi kau baru saja merusaknya. Apa kau tahu, kau akan membayar mahal atas perbuatanmu ini?"
Ku genggam pisauku, namun seketika aku melihat pria itu bergerak, cepat!! Sangat cepat sampai aku tidak sadar ia sudah mencengkram leherku. Namun reflek tanganku yang tidak kalah cepat segera mencengkram tanganya dan menyingkirkanya dari leherku, dengan cepat aku mencoba menusuk pria itu, namun ia menahanya dengan pisaunya sendiri. Kini pisau kami saling beradu satu sama lain.
Bentuk tubuh gemuk, kaki pendek namun dapat bergerak selincah ini. Siapa sebenarnya manusia ini?!
"Jadi-kau datang kemari sengaja untuk membunuhku? Siapa kau, aku tidak ingat bila bergabung dalam event bulan ini dengan orang idiot sebelumnya?!"
"Event?!" Aku mengulangi kalimatnya.
"Ya, event untuk saling membunuh seperti saat pertama aku mendapatkan akun milikku"
"Akun?! Event?!" Aku kembali mengulangi kalimatnya.
Kini aku menyadari sesuatu, jadi karena ini Jenifer membawaku untuk bertemu pria ini. Apakah aku harus membunuh pria ini karena ia memiliki sesuatu yang bisa aku gunakan.
Namun pria itu menyadari apa yang terjadi, karena setelah ia melepaskan genggaman dari pisaunya membuat keseimbanganku berkurang, ia meraih rambutku, mencengkramnya dengan kuat, lalu menghempaskan kepalaku tepat di lututnya. Kuat-kuat sekali cengkramanya, sampai aku bisa merasakan rasa sakit ketika hidungku di tendang dengan lututnya.
Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku menahan lututnya dengan sikuku, lalu melepaskan kepalaku dari cengkraman tanganya meski harus merasakan rasa nyeri dengan tercabutnya beberapa helai rambutku.
Aku bergerak mundur cukup jauh untuk mengambil ancang-ancang, sementara pria itu masih berdiri dengan tersenyum aneh ke arahku.
"Begitu rupanya?! Kau datang kemari untuk merebut akun milikku?! Pantas saja.. aku tidak bisa mengingat bila aku ikut dalam event apapun bulan ini. Jadi, apa ada orang yang terlibat yang memberikan informasi dataku kepadamu?!" Kata pria itu sambil tersenyum menjijikkan.
Aku cukup terkejut ia bisa tahu cukup banyak hanya dengan memahami situasi di antara kami, namun sekali lagi aku menyadari apa yang Jenifer katakan kepadaku.
"Lawan yang akan kau hadapi sangat berbeda dengan semua orang yang baru saja kau habisi bobby. Jadi jangan meremehkanya!"
Tanpa sadar, aku mulai merasakanya. Gemetar, jantung berdegup lebih kencang, perasaan ini.. perasaan ketakutan ini, benar-benar memenuhi isi kepalaku.
"Jadi, siapa namamu tuan?" Kataku.
"Oh, perasaan ini. Aku jadi ingat pertama kali merasakan perasaan ini yang sekarang kau rasakan. Seperti baru saja terjadi kemarin sore"
Ia tertawa sangat kencang, namun aku memahami setiap kalimatnya.
"Hei nak, bagaimana bila ku tunjukkan permainan yang menyenangkan? Aku akan melawanmu dengan tangan kosong. " Katanya sembari melemparkan pisaunya di depanku.
Awalnya aku berpikir cukup bodoh bila melawanya dengan tangan kosong namun tampaknya dia sedang menantangku. Tidak, lebih tepatnya dia sedang mempermainkanku,
"Apakah jebakan?!"
Ku letakkan pisauku di lantai, dan saat melihatnya, ia kembali mencengkram kepalaku, aku segera menghempaskan tubuhku dengan mendorong kakiku, awalnya aku bisa lepas dari cengkramanya namun aku salah, karena yang terjadi berikutnya adalah ia berhasil menendang kepalaku sebelum aku bisa berdiri dengan benar.
Tanpa ampun ia menghempaskanku dengan tubuhnya, lalu memukul wajahku dengan brutal. Sakit sekali sampai aku merasakan nyeri di kepalaku, ia memukul dengan gila namun pukulanya bukan pukulan karena nafsu melainkan pukulan yang penuh perhitungan, ia tahu titik di mana aku tidak akan bisa melakukan apapun.
"Idiot!!" Kataku pada diri sendiri.
Namun aku tidak boleh kalah, ini akan menjadi hal yang memalukan bila kau bisa mati di tangan seorang pria menyedihkan. Tapi sekeras apapun aku mencoba tampaknya pria ini lebih tahu, lebih terlatih dan lebih berpengalaman karena ia tidak memberiku ruang untuk menyerang balik sama sekali.
Sesaat sebelum kesadaranku benar-benar hilang tiba-tiba aku merasakanya.
"Rasa sakit ini, kenapa aku baru menyadarinya. Rasa sakit ini, sebenarnya NIKMAT SEKALI!!"
Aku mulai kembali sadar dan menerima semua pukulanya, semakin lama semakin membuatku bersemangat seolah-olah rasa sakit ini harus aku terima dengan senang hati. Pria itu mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi jadi, ia melepaskanku dan memperhatikanku secara detail.
Aku berdiri dengan sempoyongan, dan ia masih menatapku.
"Kau, kau menikmatinya?" Katanya terdengar ragu.
"Kau akan mati tuan!"
Seluruh tubuhku terasa nyeri namun anehnya aku benar-benar suka dengan semua ini. Setelah semua yang terjadi aku berlari menerjangnya. Ia mencoba menendangku, namun aku berhasil mendapatkan bajunya, membuatnya terjatuh bersamaku. Dengan cepat aku menindihnya dengan tubuhku.
Aku mencengkram kepalanya dengan jemariku. Ia berusaha menahanku dengan lenganya, namun entah kenapa aku merasakan getaran yang luar biasa sehingga aku bisa menyentuh bola matanya dengan ibu jariku.
"Kau gila nak, kau sudah gila ya?!" Ia berleriak.
Namun aku sudah terlalu jauh menikmatinya jadi kenapa tidak ku tuntaskan saja. Aku menekan bola matanya dengan kuat sembari mendengarkan ia mulai meronta.
"*******!! Kau akan mati nak bila melakukan ini kepadaku!!"
la terus meronta, namun aku semakin bernafsu memecahkan bola matanya, aku menekanya terus menerus, darah mulai mengalir dari iris matanya, aku terus dan terus menekanya dan ia mulai mengerang, lalu beteriak terus menerus. Dan akhirnya, teriakanya yang memekikkan telingaku menjadi penanda bahwa kini bola matanya hancur di tanganku.
Aku tertawa melihatnya mengelingjang memegangi matanya. Ia terus mengumpat dan mengumpat. Mataku kini tertuju pada sebuah besi penyangga untuk lampu ruangan, dan aku segera meraihnya, mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum menancapkanya tepat di perutnya.
Ia menjerit dan berusaha menyingkirkan itu dariku. Namun aku mengangkatnya lagi, menancapkanya kembali. Ku lakukan itu terus menerus. Suara teriakanya seperti melodi di telingaku, dan ketika aku sadar, ia sudah tewas dengan perut terbuka lebar.
Kini tubuhku serasa mati rasa atas apa yang baru saja aku rasakan, aku seperti tidak tahu apa-apa kecuali otak dan tubuhku seolah begerak atas inisiatif sendiri. Aku terduduk dan melihat mayat pria dan anak itu.
"Apa yang baru saja terjadi benar-benar gila."
Kini aku mencoba bangkit dan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang sesuai apa yang Jenifer jelaskan kepadaku. Aku menyeret tubuh pria itu dan membiarkan darahnya membekas di lantai. Saat aku menarik kakinya aku berhenti di sebuah pintu, dan benar saja di saku celananya aku menemukan sebuah kunci kecil.
Ku buka pintu besar itu, dan ku lihat anak tangga yang menuju basement. Aku menyadari bahwa ia memiliki basement yang sangat besar, namun aku yakin tidak akan ada yang suka dengan bau menyengat basementnya yang tercium seperti bau bangkai. Ku turuni anak tangga melihat kesana-kemari, ku sadari tempat ini sangat gelap untuk di tinggali, jadi manusia seperti apa yang bisa hidup nyaman ditempat seperti ini.
Aku mulai berkeliling untuk mencari apa yang aku butuhkan sampai aku menyadari basement ini dirancang layaknya seperti sebuah penjara, dan betapa terkejutnya aku bisa melihat anak-anak yang di kurung di dalam sel dengan berbagai keadaan menyedihkan.
Ku tatap satu persatu kondisi mereka, semuanya sama, di kurung dan di rantai layaknya binatang. Namun mereka memiliki kesamaan, tidak ada sepasang tangan di tubuhnya, beberapa bahkan tidak berkaki, namun kesamaan yang membuatku semakin terkejut adalah mereka semua buta.
"Mata mereka? Artinya anak kecil yang berteriak itu juga buta, jadi dia berteriak bukan karena melihatku, namun ia meronta untuk memintaku menyelamatkanya? Apakah seperti itu? Sebenarnya apa yang coba dilakukan tua bangka itu dengan anak-anak ini?"
Aku melewati pintu-pintu itu sampai akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan untuk bekerja. Disana aku bisa melihat banyaknya buku-buku usang, beberapa tumpuk kertas dan lain sebagainya. Sejujurnya aku tidak perduli projek apa yang sedang pria tua itu kerjakan, namun aku lebih tertuju pada komputer tua di sudut meja.
"Ini yang aku cari." Kataku.
Ku nyalakan dan mulai melihat semua file dan data yang aku butuhkan. Jenifer ingin aku melakukan back up data dengan semua file yang ada disini. Sadar atas apa yang aku lakukan, aku menemukan nama-nama aneh disana dan sejumlah file foto termasuk foto pria itu. Di luar dugaanku sebelumnya, ternyata ini lah yang di maksud oleh Jenifer. Akun pria ini sebelumnya pernah dimiliki oleh banyak orang. Namun yang menarik entah bagaimana pria itu mendapatkan akun ini apakah dengan membunuh pemilik sebelumnya atau apapun itu.
"Sekarang aku yang harus memilikinya." Kataku.
Ku lakukan semua perintah Jenifer termasuk melakukan pengambil-alihan informasi, kemudian sebuah pesan tiba-tiba muncul begitu saja.
"Selamat datang Bobby. Silahkan masukkan nama baru untuk akun ini dan kau bisa menjadi bagian dari kami." Aku tercekat saat menyadari.
Bagaimana mereka tau aku baru saja menghabisi pemilik sebelumnya. Saat itulah aku teringat kalimat Jenifer sebelum aku datang ke tempat ini.
"Ada seseorang yang akan mengawasi dirimu. Tenang saja, dia juga sedang mengawasi kita saat ini. Hanya saja mustahil untuk menemukanya. Yang harus kau lakukan, hanya membunuh pria itu dan mengganti nama akun sebelumnya menjadi akun baru milikmu. Setelah itu, aku akan menjelaskan segalanya padamu Bobby. "