
Satu hal yang harus kalian ketahui tentang permainan ini adalah, kau harus mampu berbaur, bersikap seolah semua baik-baik saja, namun percayalah, ketika aku melewati gerbang itu bersama Jenifer, aku merasakan sentakan yang begitu kuat, dingin. Seolah semua yang ada di sini adalah musuhmu, jadi dari mana datangnya perasaan yang seolah-olah ada seseorang sedang mengamatimu. Permainan ini baru saja di mulai.
Hal pertama yang aku lakukan bersama Jenifer adalah mencari tempat yang bagus, tempat yang cocok untuk bisa memantau semua yang ada di sini. Kami berdua bersikap seolah kami adalah sepasang kekasih, sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, memang sangat menggelikan dan ini bukan gayaku dalam bermain, namun aku sendiri menyadari bahwa di sini kami harus bersikap lebih hati-hati.
Kami berjalan menuju wahana komidi putar, rencana kami adalah mengawasi tempat ini, memantau setiap pergerakan yang mencurigakan, Jenifer beberapa kali tertuju pada wahana Rumah hantu, dan beberapa kali juga aku melihat dia terus mengamati jarum jam.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Bila kau berpikir sama seperti mereka, dimana tempat paling bagus untuk bersembunyi?" Jenifer menatapku.
"Tentu saja, mungkin tempat yang tertutup, atau mungkin tempat yang bisa melihat keseluruhan area!!" Untuk beberapa detik, aku bisa melihatnya tersenyum.
"Tepat sekali Bobby, jadi di mana tempat itu menurutmu?" Ucapnya.
"Rumah hantu" Kataku.
Kali ini aku mengerti maksud senyumannya,
"Jadi apa rencananya, memberikan kejutan sebagai tamu dan mendatangi mereka?"
"Aku punya ide yang lebih bagus" Katanya.
Setelah turun dari wahana itu, aku dan Jenifer pergi ke sebuah tempat. Tempat di mana kami bisa memantau semuanya, ruang kamera pengawas. Aku tidak pernah berfikir sejauh ini, namun Jenifer, ia mampu dengan tenang mencari jalan yang paling mudah, dan tentu saja tidak akan membuang banyak waktu, di sana aku melihat Jenifer mulai mengutak-atik layar komputer dan sesekali matanya melihat ke arah monitor.
"Dimana penjaganya?" Kataku.
"Entahlah, kadang keberuntungan benar-benar memegang kendali dalam perjudian" Ucapnya masih serius, hingga aku mulai sadar.
"Ini kah alasanmu melihat arah jarum jam dari tadi? Jadi kau sebelumnya sudah merencanakan semua sedetail ini, melihat kapan para penjaga meninggalkan ruangan ini. Jadi dengan leluasa kita bisa meretas kamera pengawas disini"
Jenifer masih diam, namun aku tahu bahwa apa yang ku katakan semuanya benar.
"Binggo!! Katanya seraya melihat monitor nomer 7,
"Sudah ku duga, dua orang yang mengenakan kostum maskot kelinci dan beruang ini adalah lawan kita"
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu?" Tanyaku bingung.
"Lihat si kelinci, dia membawa kapak, apakah kapak itu terlihat palsu? Bila kau melihat kapak yang dibawa maskot, maka secara tidak sadar kau akan mengambil kesimpulan bahwa kapak itu adalah aksesoris kostum"
Apa yang dikatakan Jenifer terdengar masuk akal, tidak mungkin ada yang curiga bila kostum ini cukup berguna.
"Lalu apa kita akan melawan mereka?"
"Jangan dulu, perasaanku mengatakan bahwa mereka bukan lawan yang mudah, tidak untuk bentrok terbuka seperti ini." Ucapnya,
"Bobby, kau bisa mengambilkan benda di pinggangku"
"Apa?! Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri" Kataku.
"Ayolah Bobby, kau tidak lihat tanganku sedang sibuk mengutak-atik program di sini, aku punya rencana yang bagus soal ini" Ucapnya lagi, dengan wajah masih menatap monitor.
Meski terasa kesal, namun aku segera melakukannya, ku ambil benda itu di pinggangnya, sentuhan tanganku dan tubuhnya sejujurnya membuatku tidak nyaman, terlebih saat melirik wajahnya, aku menangkap senyuman yang menyebalkan di wajahnya, bila bukan karena sebuah rencana yang ia janjikan pasti aku tidak akan melakukannya, namun di pinggangnya aku tidak mendapatkan benda apapun selain hanya balok panjang yang terlihat seperti potongan logam.
"Apakah ini?" Kataku.
"Ya, berikan padaku." Jenifer mengambilnya, kemudian menekan tombol di tengah, dan muncul sebuah kunci dari ujung benda itu.
"Apa itu Jen?" Kataku masih bingung dengan rencananya.
Jenifer tidak menjawabku, ia justru menunduk di meja yang tidak jauh dari tempat kami, di sana aku cukup terkejut melihat sebuah kamera kecil.
"Apa kau yang memasangnya?"
"Untuk jaga-jaga apakah sudah ada yang di sini sebelumnya" Jenifer menghubungkan kamera pada smartphone miliknya, dan di sana kami bisa melihat rekaman sebelumnya. "Sudah ku duga" Ucapnya sembari menyeringai.
Di video itu, kami bisa melihat bila sebelumnya ada seorang wanita, ia mengenakan jaket cokelat tebal, mengenakan kacamata hitam, dan beberapa kali ia terlihat mengutak-atik layar komputer.
"Pink Lipstick" Ucap Jenifer.
"Sepertinya, aku sudah meremehkan lawan-lawan kita Bobby. Bersiaplah, permainan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Ayo pergi dari tempat ini"
Aku dan Jenifer meninggalkan ruangan itu dan bergerak menuju taman, ku lihat jarum jam menunjukkan pukul 12 siang, cukup terik untuk membuatku berkeringat.
"Siapkan pisaumu Bobby, kita akan menyerang lebih dulu." Ucap Jenifer, matanya tertuju pada wahana rumah hantu.
Dengan infomasi yang sudah kami pegang, maka aku bisa menyimpulkan 3 peserta sudah ada di tangan kami, pertama adalah Pink_Lipstick, wanita yang menyembunyikan identitasnya di balik kacamata dan jaket kulit cokelat, Ialu dua orang yang mengenakan kostum maskot taman bermain ini, satu di antara mereka membawa kapak di punggungnya. Jadi, siapa yang akan kami temui di wahana rumah hantu ini. Setelah melewati penjaga tiket, aku cukup terkejut bahwa wahana ini di luar ekspektasiku.
"Seperti yang sudah ku duga sebelumnya" Kata Jenifer,
"Tempat ini adalah tempat yang cocok untuk bertarung" Jenifer menatapku dengan tatapan tajam.
la meraih sesuatu di balik kaosnya, sebilah pisau yang baru saja ia raih. Ia mendekatiku perlahan, tatapanya begitu tajam, tepat ketika ia berada di depanku, ia mengatakan
"Kita berpisah di sini Red_Hat, keluarlah hidup-hidup dari wahana ini. Satu lagi, beberapa dari mereka ada di sini. Semoga beruntung" Jenifer menghilang ditelan kegelapan, sementara aku bergerak menuju tempat lain.
"Black_Hair mengatakan bahwa ada beberapa orang di tempat ini, itu artinya aku akan menemukan salah satu dari mereka. Pertanyaannya, bagaimana caraku melihat bahwa itu adalah mereka?"
Seperti keberuntungan yang tidak pernah ada habisnya, entah kenapa semua berjalan secepat ini, tepat ketika aku menuruni anak tangga, aku melihatnya di depan kepalaku, seseorang. Aku melihat seseorang sedang membungkuk membelakangiku. la tampak sibuk melakukan entah apa itu namun aku juga melihat tubuh tergeletak di depannya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapku pada sosok
asing di hadapanku.
"Kih Kih Kih" Sosok itu mengacuhkanku, namun nada suaranya terdengar sedang tertawa di hadapanku.
"Kau, apa kau salah satu dari peserta?"
"PESERTA?!" Ucapnya.
Nadanya terdengar seperti teriakan, namun ada penekanan dalam suaranya yang berat. Kemudian, dia melirikku dengan wajahnya. Aku tersentak saat melihat matanya, ia memiliki rambut panjang lurus seperti seorang wanita, namun dia adalah seorang pria, pria paling aneh yang pernah ku lihat, kulitnya sangat pucat, matanya terlihat sangat leIah, dan di bibirnya ada noda darah yang masih segar.
"White_Face" Kataku yang entah kenapa teringat dengan nama itu, nama dari para peserta yang telah dirilis hari ini.
"APAKAH KAU RED_HAT????" Ucapnya.
Nada suaranya terlihat tidak normal, apa ada yang salah dengan tenggorokannya. Tanpa sadar, aku sudah meraih pisauku, menjaga jarakku agar tetap berdiri dengan aman. Pria asing itu mulai berdiri, aku cukup terkejut saat melihatnya bangkit, tidak ku sangka tubuh bungkuknya menyembunyikan hal segila ini, tingginya lebih dari 2 meter, meskipun badan dan tangganya terlihat kurus kering, namun ada aura mematikan saat ia tersenyum menyeringai ke arahku.
"AKAN KU CABIK-CABIK TUBUH KECILMU ITU RED_HAT!!!"
Aku tersentak ketika ia mampu melompat dan dengan sekali lompatan hampir saja ia meraih tubuhku, namun aku berhasil menghindarinya dengan cara berguling sebisa mungkin. Kami hanya saling mengamati beberapa saat, ketika ia mulai bergerak lagi, kali ini aku lebih siap, terlihat dari caraku menghindarinya dan mendaratkan tendanganku di wajahnya. Namun alih-alih dia roboh, dia hanya menyeringai melihatku. Manusia macam apa yang sedang aku hadapi ini.
White_Face kembali melompat dan tangan kanannya berusaha menjangkau tubuhku, namun aku kembali berguling, saat aku bangkit dari tempatku, ia menghantam wajahku dengan telapak tangannya, membuatku terhempas cukup jauh sebelum bangkit lagi. Rasa sakit di wajahku, tamparannya seperti pukulan dari balok kayu, begitu cepat dan sangat menyakitkan. Bila aku menghadapi manusia seperti ini, tentu aku bisa celaka, namun aku yakin dia juga tidak mungkin melepaskanku begitu saja. Artinya, aku harus melawannya hidup atau mati. Namun dengan tubuh dan perawakan tidak normal seperti ini, ditambah kecepatannya dalam bergerak tentu itu bukanlah hal yang mudah, jadi apa yang harus aku lakukan.
Ketika aku sedang mencoba berpikir, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Matanya, ada apa dengan pupilnya?? Apakah dia menggunakan obat-obatan, tidak. Pupilnya lebih kecil dari ukuran manusia normal, tidak hanya itu kulitnya lebih pucat dari kulit manusia normal, caranya berdiri juga tidak tegak, keseimbangannya sangat aneh, tidak hanya itu suara, kelopak matanya, apa yang sebenarnya ku hadapi ini, kecuali dia...
Ku lihat tempat wahana ini adalah wahana rumah hantu, bukan hal sulit menemukan dekorasi untuk melihat, di mana aku bisa melihat cahaya disana-sini untuk penerangan, namun ketika melihatnya dia justru memilih tempat paling gelap, sepertinya tidak salah lagi. Kelemahannya adalah...
Aku berlari sekuat yang aku bisa, dan seperti dugaanku sebelumnya, ia langsung berusaha mencengkramku, namun aku mampu menghindarinya. Kini aku mendapatkan kesempatan terbaik untuk menyerangnya setelah menghindari serangannya. Ku tancapkan pisauku tepat di punggungnya, namun ia menangkap tubuhku, membantingku dan kemudian mencekik leherku.
"*******!! Tenaga macam apa ini?!"
Tanganku mencoba menyingkirkan tangannya namun aku tidak bisa mengalahkan tenaganya yang luar biasa besar, sebelum ia mendaratkan pukulan di wajahku, aku menggigit dengan keras telapak tangannya dengan mulutku. Cukup keras sampai berhasil merobek kulit tangannya, meski aku harus merasakan aroma amis darah di mulutku, ia melepaskanku. Setelah ia melepaskanku, aku tidak membuang-buang waktuku dan meraih sebuah lampu dekor di tempat itu, memancarkan cahayanya tepat di wajahnya, seperti dugaanku, manusia besar itu berusaha melindungi wajahnya, layaknya sebuah ketakutan ia merangkak mundur menghindari cahaya yang aku arahkan kepadanya.
Tanpa pikir panjang sebelum ia kembali normal, aku mencengkram tubuh besarnya, mendorongnya, lalu dengan satu sentakan ku tancapkan pisauku tepat di tenggorokannya, sangat dalam, sampai aku bisa merasakan darah keluar begitu banyak hingga membasahi tanganku, sosok itu meraung, mencoba menyingkirkanku, sebelum ia berhasil mencengkram tubuhku, ku seret pisau itu hingga merobek setengah lehernya, hingga robekan itu menjadi luka menganga di lehernya.
Aku segera mundur dan melihatnya meraung-raung, hingga akhirnya ia tewas dengan darah yang tercecer di hadapanku. Dengan perlahan aku mendekatinya, ia sudah tidak bergerak seperti sebelumnya. Namun, aku harus berjaga, ku cari dimana ia meletakkan pagernya, ketika aku berhasil mendapatkan benda itu, aku begitu terkejut melihat nama yang ada di pager itu bukanlah "White_Face" melainkan " Potato_Head".
Ketika aku masih terjebak dalam pikiran kepalaku, aku baru sadar, rambut panjangnya hanyalah sebuah wig yang sengaja dipasang untuk menutupi bentuk batok kepalanya yang aneh. Sebelum, aku mendengar seseorang bertepuk tangan.
"Clap clap clap. Luar biasa Red_Hat, ini pertama kalinya aku melihat monster itu kewalahan dengan lawannya, aku harus memberikanmu applause. Sekarang, mari kita mulai permainannya"
Aku terdiam menatap seseorang di hadapanku, ia mengenakan setelan jas yang rapi, begitu normal untuk penampilan seseorang yang terlihat seperti bisnis man. Hanya saja di kepalanya, ia menutupinya dengan kotak snack.
"White_Face" Ucapku