WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Panggung Impian



Bagai patung di lantai keramik, aku hanya menatap Thousand_Face yang tersenyum sembari duduk di mimbarnya. Aku masih termenung ketika ledakan rahasia besar dalam diriku tiba-tiba meledak dan membinasakan semua ideologi tentang dunia yang selama ini aku lihat.


Aku masih mengingat dengan jelas kalimat dari pria tua sinting itu, tentang kematian, tentang kegelapan yang menyelimutiku, tentang rahasia yang ku pikul. Kematian yang ia maksud selama ini rupanya adalah kelahiran baru dari monster yang selama ini hidup dalam diriku, dalam kepalaku. Kini aku tahu, aku mengerti segalanya. Jutaan skenario yang selama ini menghantuiku kini tersusun rapi, kini aku tidak lagi bertanya kenapa ketika diriku melihat seseorang tewas aku merasakan detak jantung menggebu-gebu, perasaan tidak pernah puas, nafsu tak terlampaui itu kini telah menemukan tempatnya.


"Aku ingin merasakan mimbarmu" Ucapku tanpa basa-basi, seperti tahu apa yang terjadi.


Thousand_Face berdiri, alih-alih mempersilahkan bocah yang sebelumnya hanya bermata kelinci kecil itu, kini menjelma menjadi anjing buas. Anjing buas yang seharusnya ia binasakan sebelum menggigit tuanya, namun seperti apa yang selalu menghantui Thousand_Face selama ini, bila ia takut dengan seekor anjing, lalu apa gunanya ia duduk santai di mimbar ini, padahal di luar sana terdapat serigala buas yang sedang mengamatinya. Lonjakan memori dalam kepalanya seolah memutar ulang pertarungannya dengan seorang Absolute lain, Gin. Nama ******* yang selalu mengganggu mimpinya, menjelma bagai hantu dan menggerogoti isi kepalanya, ia masih ingat bagaimana ia hampir di binasakan oleh seorang Absolute.


"Kau hanya paku kecil yang menganggu langkahku Ramond" Ucap Gin di bawah terang bulan, rambutnya terurai panjang memukau, namun Thousand_Face tak bergeming melihat kematian yang dibawa wanita itu.


"Kau dijuluki sebagai si pencuri jantung" Ucap Thousand_Face ragu,


"Kini aku tahu kenapa mereka menjulukimu seperti itu"


"Pencuri?" Gin tertawa kecil,


"Aku hanya pengangum seni Tuhan, salahkah aku menjadi pengangum seni, itu seni kehidupan?!"


Thousand_Face hanya menangkap bila seni yang ia maksud merujuk pada puluhan jantung yang ia dapat, wanita gila itu seolah menganggap kehidupan tidak lebih dari detak jantung pada tubuh manusia.


"Aku mendengarnya" Gin tersenyum,


"Suara menggairahkan itu, ku rasa aku akan menempatkan jantungmu pada koleksi istimewaku Ramond"


"BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN NAMA MENJIJIKKAN ITU GIN!!" Teriak Thousand_Face sebelum ia menghantam tubuh Gin, namun dengan cekatan Gin mencekik leher dan dengan terampil ia mematahkan Iengan pria malang itu.


"Aku berharap malam ini mendapatkan perlawanan yang memuaskan, namun sungguh aku kecewa, bukankah kau menginginkan kecantikan yang ku miliki, satu dari ratusan wajah yang ingin kau koleksi" Gin tersenyum lagi, dan tiba-tiba bagai petir di siang bolong, kengerian seperti masuk ke dalam pikiran kosong Thousand_Face, ketika la melihatnya. Mata Iblis yang tidak pernah ia lihat ada pada manusia.


"Elisabeth" Ucap Gin lembut,


"Namanya adalah Elisabeth dan dia bilang kau boleh pergi, kembalilah suatu hari nanti saat kau siap, dan ketika kau kembali aku ingin kau bisa menyetarakan dirimu dengan diriku lagi" Gin tersenyum kembali.


Namun, malam itu tidak akan pernah Thousand_Face lupakan, hinaan memuakkan itu seolah menjadi parasit yang mendekam dalam kehidupannya, maka ia berjanji sebelum ia berhasil membunuh satu Absolute murni, ia tidak layak untuk bertatap muka dengan Gin, Gin si malaikat pencuri jantung.


"Apakah ucapanku mengganggumu?!" Ucapku.


"Kau tahu, aku sudah menunggu momen ini sangat lama, jadi Boddy atau Bobby, siapapun yang saat ini berdiri di sini, mari kita berpesta dengan benar?!"


***


Langkah kaki menggema di anak tangga, seseorang melangkah dengan tenang, dibalut jaket hitam ia berjalan tanpa meninggalkan jejak suara. Keheningan seolah menjadi teman baiknya. Ketika ia menatap pintu di ujung tangga, ia mengingat momen itu lagi, semua memori yang membawanya sampai di depan pintu ini. Pintu dimana ia akan menghadapi dia lagi, dia yang sudah mencuri segalanya. Pintu terbuka, dan terlihat tempat lapang yang luas, seharusnya tempat sebesar itu adalah tempat yang pantas untuk mendaratkan helicopter, namun hari ini, tempat ini adalah panggung megah yang sudah ia tunggu selama ini. Panggung tempat ia menari dangan dia, dia yang disebut malaikat pencuri. Kilatan matanya menangkap sosok itu, la berdiri di ujung lantai, menatap bangunan indah yang membentang di sepanjang kota, bagai berlian di tengah oase, ia melihatnya lagi. Pencuri masa lalu, pencuri yang ia puja selama ini, pencuri yang akan ia bantai malam ini.


Kibaran jas kedokteran yang ia kenakan tersapu angin, rambut panjang terurainya memukau di tengah bulan purnama, dan tentu saja, sorot matanya yang menghipnotis.


"Ku pikir ini masih terlalu cepat untukmu dapat berdiri di panggung ini, merpati hitamku?" Ucapnya, suaranya lembut dan memabukkan.


"Ku pikir juga seharusnya begitu, namun aku melihat badai, badai besar yang akan menyapu segalanya, aku tidak ingin melihat badai itu menganggu kilauan berlian milikku."


"Apakah badai ini cukup memukau untuk mendekatiku?"


"Baiklah, jadi kenapa tidak dimulai saja pertunjukkannya, Black_Hair? " Wanita itu meraih sesuatu di jas miliknya.


"Gin, malam ini biarkan masa lalu itu terbakar di mata ku."


***


Aku menghantam rusuk Thousand_Face, tubuhnya terpelanting namun dengan mudah ia berdiri kembali, lonjakan kesenangan memenuhi isi kepalaku. Sedari tadi, kami hanya saling melempar pukulan kosong. Senyum senang tergambar di wajahku. Aku tidak pernah merasakan bisa mengendalikan kenikmatan yang selama ini mengendalikanku, seperti terlahir kembali perlahan aku mengerti dan memahami bahwasannya aky kini dapat menyatu dengan dia, dia yang tinggal dan hidup dalam diriku.


Seperti kolaborasi tak terbaca, aku dapat menikmati pertarungan ini tanpa rasa takut atau rasa kecil, karena siapa yang berdiri di hadapannya, bukanlah orang tua ringkih yang hanya bisa dinilai hanya dari luar.


Aku kembali menerjang tubuh Thousand_Face, sebelum ia mulai bereaksi, aku menghantam wajahnya. Dengan sigap aku mencengkram wajahnya, menghantamkannya pada lantai di bawahnya. Namun Thousand_Face bukanlah pria yang akan remuk hanya karena bocah ingusan, ia meraih leherku, mencengkeramnya kuat-kuat, melemparkanku begitu saja sampai tubuhku terbanting menerjang lantai.


Gemertak tulang Thousand_Face terdengar. Senyuman itu masih belum hilang dari wajahnya. Aku berdiri, memasang kuda-kuda untuk siap menghantam kembali.


***


Black_Hair menendang Gin dengan kaki kirinya namun Gin mampu menghindarinya dengan mudah, ketika Gin bersiap membalas balik serangannya, Black_Hair tepat berada di sampingnya, menendang dengan kaki kanannya, Gin terhempas hingga terkulai menghantam lantai. Gin bangkit, la menatap Black_Hair dengan tatapan tertarik, alih -alih sebaliknya Black_Hair menatap Gin dengan sengit. Gadis itu tau, lawannya bukan orang sembarangan.


Gin meraih sesuatu di dalam jasnya, sesuatu yang bercahaya.


"Jarum" Ucap Black_Hair dalam hati, Gin menggenggam jarum di antara jemarinya.


Sebelum Black_Hair sadar apa yang akan dilakukan wanita yang ada di hadapannya, Black_Hair bergerak cepat untuk mundur, menjaga jarak agar wanita itu tidak berada di dakatnya. Namun Gin lebih tahu apa yang harus ia lakukan, ia melemparkan jarum itu dengan terstruktur, Black_Hair mencoba menghindarinya sebisa mungkin, namun kecepatan dan ketepatan Gin dalam mengunci lawan lebih unggul, satu jarum tepat menancap di tangan kiri Black_Hair, ia terpaksa melakukannya karena salah satu jarum yang Gin lemparkan tertuju pada wajahnya. Dengan cekatan Black_Hair melepaskan jarum itu dari tangan kirinya. Rasa nyeri langsung terasa ketika Black_Hair melepaskan jarum itu dari tangannya. Darah mengalir, meski hanya sebuah jarum namun entah kenapa jarum yang baru saja Gin lepaskan memiliki sensasi yang lain.


"Tenang saja" Ucap Gin,


"Itu hanya jarum biasa. Namun, aku tidak bisa menjamin, apakah jarum berikutnya akan memiliki rasa sensasi yang sama seperti sebelumnya"


Black_Hair kini mengganti posisi pisaunya dengan posisi terbalik. la tahu, Gin lawan yang berbahaya bila ia membiarkannya bertarung dengan jarak jauh seperti ini. la memilih, mungkin bertarung dengan jarak dekat akan lebih menguntungkan, namun entah kenapa Gin menampilkan ekspresi yang aneh. Senyuman ganjil yang paling ia benci ketika bertarung dengan lawan yang penuh tipu daya.


"Siapa sebenarnya kau Gin?" Ucap Black_Hair dalam hati.


"Jadi, sekarang kau akan menyerangku atau kau mau aku yang datang kepadamu, Jenifer Aurel?" Ucap Gin.


Tiba-tiba Black_Hair merasakan sengatan yang kuat ketika mendengar nama itu.


"Aurel!! Kau, Kau yang telah membunuh kedua orang tuaku di depan mataku?! Kau akan aku binasakan Gin!!!"


Black_Hair melesat, menyerang Gin dengan membabi buta, namun Gin seperti tau apa yang akan dilakukan gadis itu. la dengan sigap dan cekatan menghindari serangan itu, di tengah serangan-serangan itu, Gin mencoba menangkap lesatan tangan Black_Hair. Namun gadis itu masih sulit untuk ditenangkan, sebelum Black_Hair menjatuhkan pisaunya tepat di depan Gin, saat melihat kilatan pisau itu terlepas, Gin terlambat ketika tangan Black_Hair mencengkram rambut Gin, menariknya dan tepat tangan kanannya, Black_Hair meraih pisau lain dari saku jaketnya.


Gin mencoba menghantam kilatan pisau itu yang tepat mengarah di wajahnya, namun Black_Hair tau apa yang akan Gin lakukan, dengan gerakan cepat Black_Hair melompat sebelum menghunuskan pisaunya, Gin memalingkan wajahnya namun kilatan pisau itu menggores wajah Gin dan melukainya. Entah apa yang terjadi pada Black_Hair, karena tiba-tiba Gin mampu merebut pisau itu dari tangannya. Kemudian menendang tubuhnya hingga terhempas.


Kini Black_Hair berusaha menjauh dari Gin, ia menjaga jarak karena tiba-tiba perasaannya menjadi aneh. Rambut Gin tergerai menutup wajahnya. Kemudian, ia mulai bangkit dari tempatnya, berdiri menatap kosong Black_Hair, sorot mata itu sangat lain. Gin seperti menjadi jati diri yang berbeda.


"Sejujurnya, aku tidak ingin kau mengenal dia Jeni. Tapi kau yang memaksaku untuk memperkenalkanmu dengan pembunuh orang tuamu yang sebenarnya",


"Perkenalkan, dia adalah Elisabeth!!"