WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Monster Itu Aku



Hal pertama yang aku lakukan adalah melihatnya datang dari jendela. Ia mengenakan jaket usang, berjalan tergopoh-gopoh dengan nafas mengembun, malam ini memang malam yang sangat dingin. Aku masih melihatnya, membuka pintu lalu berteriak dengan nada suaranya yang berat.


"Mom, ini kaleng untuk Sweatie." la masuk, namun langkahnya terhenti untuk beberapa detik ketika menyadari bahwa tidak ada yang menjawab ucapanya.


la melihat sekeliling, berjalan pelan lalu menekan tombol sakelar, namun lampu tidak kunjung menyala, ia mulai bersuara kembali. Kali ini ada nada keraguan di sana.


"Mom, kau mendengarku? Apa sambungan listrik kita rusak lagi?"


la berderap menuju dapur, namun dengan pencahayaan minim dan hanya mengandalkan sorotan dari lampu jalan yang menerobos lewat jendela, aku yakin dia mulai panik.


Ia mulai berlarian, mencari dan mencari, untuk sesaat perasaan itu kembali. Perasaan berdebar yang tidak wajar. Tanganku gemetar, jantungku berdegup dengan kencang, namun anehnya aku menyukainya semacam adrenaline ketika kau mengharapkan sebuah kejutan, dan kejutan itu adalah ketika ia melihatku disini, bersama ibu dan adiknya yang mati dengan leher tergorok di depanku.


la berhenti di sebuah pintu di samping anak tangga, terdiam hanya untuk menyaksikan kucing kesayanganya, Mrs. Sweatie atau apapun nama konyol yang ia berikan tertancap di tembok dengan kepala nyaris putus.


Aku sadar ia mulai mengeram, lalu berlari membabi-buta hingga sampailah ia di pintu dimana aku sudah menunggunya.


Pintu terbuka dan ia melihatnya. Awalnya aku tak sadar bahwa tubuh besar, tinggi dan sangar itu rupanya bisa menangis, namun di balik itu semua aku mendengarnya dengan jelas, setelah ia menangis, ia tertawa. Benar, Justin tertawa sembari mendekati mayat ibu dan kedua adiknya, lalu ia mulai terisak, menangis lagi dan tertawa lagi. Dan aku muncul di belakangnya, berucap dengan nada sumbang.


"Aku turut berduka Justin"


Ia melirikku. Aku bisa melihat pancaran matanya, kesedihan bercampur dengan amarah.


Ia berdiri menatapku. Tidak ada suara, hanya nafas berat dan aku mampu merasakanya dengan sangat jelas, ia gemetar dan parahnya, aku merasakan apa yang ia rasakan.


"Kau yang membunuh mereka?" Katanya pelan, nyaris tidak terdengar.


Jantungku mulai berdegup, awalnya pelan, namun semakin kencang, semakin kencang, semakin kencang lagi, sampai aku tidak bisa menggambarkanya. Saat aku menyadari apa yang terjadi, aku melihat Justin sudah berada di depanku. Mendorong tubuhku hingga terhempas jatuh, ia menindihku. Lengan kirinya menahan bahuku, sementara kaki kananya menginjak tangan kiriku, dengan membabi buta ia menghujani wajahku dengan pukulannya.


la berteriak dan terus berteriak, namun suaranya tidak jelas, aroma darah mulai tercium, rasa sakit, ngilu ku rasakan di wajahku. Ia terus dan masih terus memukulku.


Anehnya, aku menikmati rasa sakit itu. Layaknya kenikmatan saat kau merasakan ketakutan dan sentakan dari sesuatu yang menyakitimu, dua hal itu bercampur aduk, membuatku rileks, momen-momen itu begitu menyenangkan. Sampai, akhirnya pukulan Justin melemah atau aku yang mulai mati rasa, disaat itu lah aku bisa menendang tubuhnya dengan kakiku, mendorongnya hingga terjerembab, aku segera bangkit dan ia juga bangkit. Sebelum bereaksi lama, justin mencoba menerjangku kembali, namun seolah aku tahu apa yang harus aku lakukan, tubuhku menghindar begitu saja. Ketika Justin tepat melewatiku, aku mencengkram tengkuknya dengan kedua tanganku, lalu memukulnya tepat dibagian belakang kepalanya, lalu aku berpikir apakah aku juga harus menghujani wajahnya dengan pukulan membabi buta? Tidak!! Aku lebih pintar, aku menarik penutup kepala jaketnya, mencengkramnya kuat-kuat dengan kedua tanganku.


Ia mulai tercekik layaknya telur di ujung tanduk, ia berusaha meloloskan diri, namun aku menginjak kepalanya agar jeratanku semakin kuat. la meronta, mencakar-cakar tanganku. wajahnya memerah. Ia pasti kesakitan sekali, eranganya mulai melemah, otot lehernya mengejang. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan mati kehabisan nafas. Apa aku membiarkanya mati seperti ini? Tidak!! Ku lepaskan tanganku dari jaketnya, ku seret dan ku dudukkan di kursi, mengikatnya kuat-kuat, lalu menatapnya dengan seringai, jantungku masih berdegup kencang dan aku sangat menikmati ini.


Adrenalineku meninggi, seperti candu aku begitu menikmati momen menunggu ia sadar. Tepat seperti yang aku duga, ia sadar lalu berteriak, bersumpah serapah tentang betapa gilanya aku, betapa sinting dan tak berotaknya aku. Lalu aku diam, diam tak menggubris ucapanya sedikitpun sampai akhirnya ia lelah berteriak, lalu dengan pelan aku berbisik ditelinganya.


"Kau tahu Justin. Siapa yang menciptakan aku??"


Wajahnya menegang, tatapanya menyorot pada mataku


"Yaaaaa... Itu kau!!"


Setelah mendengar itu anehnya, Justin hanya diam, ia lurus menatap lantai, tidak ada gairah lagi di wajahnya, tidak ada dendam di matanya, dan tidak ada tangisan yang ingin keluar.


Tanpa pikir panjang, aku sadar permainan sudah selesai. Ku cengkram rambutnya, mengarahkan pisau yang ku dapatkan di dapur, pisau yang sama dengan pisau yang ku gunakan untuk memotong arteri ibu dan kedua adiknya beserta kucing konyol yang terus mengeong saat pertama kali aku menyelinap masuk ke rumah ini.


Lalu, ku arahkan pisau itu tepat di leher Justin. Sebelum suara seseorang mengejutkanku.


"Dia sudah rusak!! Bila aku jadi dirimu, akan aku lepaskan dia"


Aku berhenti sejenak, menatapnya yang bersembunyi dalam bayangan di ujung kamar. Aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya, ia seperti kucing liar yang sebenarnya.


"Sejak aku sadar bahwa kau terlalu idiot untuk menyembunyikan mayat 2 bocah itu!!" Katanya. Suaranya halus, begitu feminim namun sangat mengancam.


"Tapi tenang saja" Siluet sosok hitam itu mendekat.


"Troy sudah ku bersihkan, ku hancurkan tubuhnya dengan alat penggiling daging, mengirimkanya ke area peternakan ****, tidak akan ada polisi yang bisa melacaknya. Untuk Bastian, bersyukurlah kau menghancurkan wajahnya tepat di area pembangunan, ia sudah disemen, dan akan menjadi bagian jalan yang bisa kau injak setiap hari. Sekarang, bila aku jadi kau Bobby. Aku akan melepaskan manusia rusak itu."


Kulihat dengan jelas, mata itu ternyata memiliki warna cokelat, ia tidak sepenuhnya hitam seperti yang aku pikirkan sebelumnya.


"Jenifer" Kataku sembari mengacungkan pisauku.


"Aku akan membunuhmu!!"


"Kau tidak akan bisa membunuhku." Katanya dengan senyuman tipis di bibirnya yang merah muda.


"Setidaknya" Katanya lagi dan menyentuh tanganku, ia meluruskan jemariku.


"Gunakan ibu jari untuk menahan berat pisau, agar kau bisa leluasa memainkan sisi tajamnya.. Bobby!!" Ia berjalan melewatiku lalu bersandar menatap jendela.


Tanpa sadar, aku baru saja diam tak bergerak menatapnya.


"Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?!" Kataku tiba-tiba.


"Bukan kau tidak boleh membunuhnya, hanya saja bila kau membunuhnya kau sama sekali bukan orang yang pintar" Ia terseyum lagi, kali ini ia tidak menatapku dengan senyuman itu, namun seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Ia sudah rusak Bobby, singkatnya ketika ia sadar ia akan menjadi pemuas nafsumu. Aku yakin kau mengerti maksudku?"


Gadis itu mendekatiku. Tatapanya begitu dingin, ketika tepat di hadapanku ia berbisik.


"Apakah jantungmu masih berdebar?? Apa kau paham kenikmatan yang baru saja kau rasakan?? Apakah itu menjadi semacam candu??"


"Bagaimana kau tahu apa yang aku rasakan??"


"Kau memilikinya Bobby, sejak awal kau sama seperti dia. Kau rusak, tapi sekarang kau mencoba untuk beradaptasi dengan kerusakan yang kau miliki. Kau monster, kau hanya baru saja menyadarinya, kelak ia akan sadar dan bangkit, mencarimu, berniat dan sangat ingin membunuhmu. Dan saat itu tiba kau akan senang saat bisa bertarung denganya lagi. Kau pagam maksudku?"


Kulihat Justin yang masih diam menatap lantai. Gadis ini benar, ia sudah rusak.


"Lepaskan dia, dan ikutlah denganku, maka akan aku tunjukkan bagaimana dunia bergerak!! Bagaimana monster hidup!! Dan bagaimana cara mengendalikan nafsu membunuhmu itu yang akan terus mengerogotimu bila kau tidak segera mengendalikanya!!"


"Lalu apa yang harus aku Iakukan setelah semua yang aku lakukan ini?"


Jenifer meraih sesuatu di kantungnya, sebuah suntikan dengan obat dibotol kecil.


"Apa yang akan kaulakukan kepadanya?"


"Hanya suntikan untuk mengeluarkanmu dari sini." Ia menyerigai, lalu menyuntikkan apapun itu tepat dileher Justin, beberapa saat kemudian ia memotong tali di kursi, lalu mengajakku meninggalkan tempat itu.


"Kau tidak perlu bertanya apa yang aku berikan kepadanya. Besok kau akan tahu dengan sendirinya, akan ada sebuah berita tentang "Seorang anak yang membantai keluarganya, memutilasinya lalu menjadi Gila karenannya!!"


"Gadis ini berbahaya" Kataku dalam hati, namun kenapa aku malah menyukainya.