
Jenifer adelin, ia seorang gadis yang memiliki nama yang aneh layaknya penampilanya. Dulu aku pernah berpikir ia memiliki keterbelakangan mental, karena sepanjang hari di sekolah ia tak pernah sekalipun berbicara pada siapapun. Namun justru dari sanalah aku lebih menyukainya di bandingkan anak-anak lain di sekolahku, setidaknya ia tidak pernah mau dan terlibat dengan urusan orang lain. Namun siapa sangka di balik sosok kecil nan misterius itu, ia ternyata memiliki sisi tak terduga.
Beberapa minggu ini aku tidak dapat menemukan Jenifer, bahkan di rumah tempat aku dan ia berbicara, ia tidak ada disana, tampaknya ia sudah meninggalkan rumah besar itu. Yang aku tahu ia pasti memiliki alasan kenapa ia menghilang begitu saja. Aku terperanjat saat seseorang mengirim pesan di dalam akun tersebut. Ku buka profilnya, dan ia menyebut dirinya Black_Hair. Dalam isi pesanya ia hanya menunjuk sebuah waktu dan lokasi yang ku percayai sebagai petunjuk kemana aku harus pergi.
"22.00 PM, Great avenue?"
Aku masih belum mengerti apa dan bagaimana cara menggunakan semua ini, namun yang aku tahu, saat ini aku menggunakan sebuah nama yang entah kenapa aku pilih "Red_Hat" begitulah kini aku di kenal.
***
Ku kenakan jaket abu-abu dan lalu langsung menuju kesana, sebuah tempat dimana aku akan bertemu dengan seseorang yang menyebut dirinya Black_Hair, meski terdengar familiar namun aku tidak ingin menduga-duga.
Great Avenue adalah sebuah nama apartment untuk kalangan elit. Aku hanya berdiri di balik pohon dan mengawasi tempat itu. Setelah ku lihat jam di handphoneku menunjuk angka 22.00 seseorang mengirimku pesan.
"Utara B671"
Aku tidak tahu kode apa yang di berikan, namun bila di perhatikan dengan detail, ku rasa ini tertuju pada kode angka sebuah apartment.
Aku mulai segera menelusuri tempat yang di maksud dan benar saja, sebuah pintu terbuka dan aku melihal seseorang tengah berdiri menatap jendela.
"Kau" Kataku.
"Hai Bobby, atau aku bisa mernanggilmu Red_Hat"
"Apa yang kau lakukan disini Jeni, kenapa kau tidak ada di tempatmu tinggal?"
"Itu bukan tempat tinggalku, dan bila aku jelaskan mungkin akan sangat parjang" Ucapnya sembari terkekeh.
Ku lihat dengan detail gadis itu, dan aku baru menyadarinya seluruh luka sayatan di tubuhnya dan ketika aku mengarahkan pandangan ke sisi lain, aku terdiam melihat seorang pria tewas dengan leher mengangah.
"Kau yang membunuhnya?" Kataku datar.
"Ia menyebut dirinya Gream Reaper. Sebuah nama yang lucu bukan?"
"Gream reaper" Kataku mengulangi kalimat itu.
"Ya Bobby, dia sama seperti kita, membunuh dengan obsesi yang sudah menggila. Siapa sangka seorang pria yang pendiam, dan sama sekali tidak terlihat unggul di dunia sosialnya ternyata adalah seseorang yang gila dan terobesi untuk memotong tubuh setiap korbanya." Jenifer menjelaskan.
"Jadi itukah alasan kenapa akhirnya kau membunuhnya?"
"Tidak juga. Kami sepakat untuk saling membuat kontrak jadi beginilah akhirnya" Jenifer kembali terkekeh sementara aku semakin bingung dengan arah pembicaraanya.
"Kau masih belum mengerti Bobby?!" Ia menatapku dengan gimik wajah penasaran.
"kontrak? Kau membuat kontrak denganya?"
"Kau benar-benar belum mengerti sama sekali.. bahkan setelah kau sudah mengambil alih akun salah satu dari mereka? Tunggu dulu, jangan bilang kau belum mengaktifkan jaringan dan bergabung untuk memulai permainan ini?"
"Jenifer, bukankah kau yang sudah berjanji akan menjelaskan semuanya bila aku berhasil membunuh pedofil sialan itu, tapi kau tiba-tiba menghilang?"
Jenifer tertawa lepas dan itu membuatku sedikit kesal melihatnya.
"Tenang Bobby tenang!" Katanya sembari berjalan menuju pria yang tergeletak tak bernyawa itu.
la mengambil sesuatu, itu adalah sebuah handphone, ku rasa benda itu milik pria yang terbunuh itu.
"Kau melihat ini?" Jenifer menunjuk pada layar handphone disana tertulis sesuatu.
"Gream Reaper?!"
"Pria ini menggunakan nama Gream Reaper sebagai akun miliknya, entah apa yang ada dalam pikiranya, mungkin dia pria kenakan-kanakan yang sangat terobsesi dengan sosok tokoh fiktif pembunuh yang membawa sabit besar di punggungnya atau dia hanya pria ***** yang suka berdelusi untuk membuat takut siapapun yang mencoba menantangnya, apapun itu ia pasti memiliki alasan kenapa menggunakan nama itu."
"Lalu apa hubunganya dengan handphone pria itu?!"
"kontrak Bobby, coba kau ihat ini"
"Kontrak yang ku maksud adalah kami sepakat untuk saling membunuh dan pemenangnya berhak mengkonfirmasi semua ini, dengan cara menonaktifkan akun lawanmu yang sudah tewas atau kau mengirim kode konfirmasi bila dalam batas waktu yang ditentukan dan lawanmu tidak dapat mengkonfirmasi akun miliknya, kau berhak atas akun miliknya. Kau sudah paham Bobby?"
"Untuk apa kau menginginkan akun miliknya?"
"Pertama, pada umumnya kau atau orang Iain tidak dapat membuat akun secara legal. Artinya kuota setiap akun yang sudah di ciptakan itu terbatas. Ada dua opsi untuk mendapatkan akun, pertama kau memenuhi kriteria sebagai seseorang yang pantas mendapatkan akun pribadi dari pihak penyelenggara dan mereka (pihak penyelenggara) memberi izin, maka akun baru akan lahir tetapi tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa susunan kriteria seperti apa untuk membuatmu terdaftar dalam permainan ini. Itu lah kenapa akhirnya opsi kedua adalah pilihan paling mudah. Kau hanya tinggal rebut dan ambil alih pemilik akun yang Iama dengan cara membunuh sang pemilik akun tersebut."
"Lalu?" Kataku.
"Kau berhak mendapatkan apapun yang kau inginkan, informasi apapun, uang, materi apapun kau bisa dapatkan dengan mudah. Termasuk kau akan mampu menjaga dirimu tetap stabil karena seiring berjalanya waktu obsesi yang sudah kau tanam dalam tubuhmu akan terus lapar dan lapar, kau akan terus menerus ingin merobek daging musuh-musuhmu, melihat dan mendengar mereka berteriak saat kau menggorok lehernya. Jadi Bobby sebenarnya permainan ini adalah fokus terbaik untuk tetap menjaga kesadaranmu sebelum otakmu mematikanmu sendiri."
Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Apakah obsesi adalah perasaan aneh yang membuat jantungku berdebar debar, sebuah ledakan dimana terkadang membuatku tidak sadarkan diri.
"Aku masih tidak mengerti Jeni, apa yang akan kau lakukan dengan akun-akun yang kau kumpulkan? Kenapa tidak langsung saja membunuhnya tanpa membuat kontrak sebelumnya."
"Bobby, aku tidak pernah tahu kalau kau ternyata seidiot ini. Coba kau pikirkan alasan kenapa aku menghilang beberapa waktu yang lalu? Seseorang mencoba meretas file data milikku, mencoba mencari keberadaanku, yang jelas ada seseorang yang mengincarku. Dengan adanya kontrak yang di buat maka kau bisa mendapatkan akses untuk bertemu kemudian saling membunuh dan memperebutkan akun secara legal dan diakui, namun beberapa orang menggunakan cara yang ilegal, dan pertanyaanmu tentang kenapa kami harus susah payah untuk saling merebut akun karena kami memiliki satu tujuan yang sama. Kursi 7 Absolute" Jenifer menyeringai menatapku
"7 Absolute?!"
"7 Absolute adalah 7 orang teratas yang menempati daftar sebagai pembunuh paling mematikan dalam sejarah, konon katanya mereka tidak memiliki emosi layaknya manusia normal dan tidak ada yang tahu wujud mereka. Menariknya bila kau terlahir sebagai orang normal apa pendapatmu bila kau hidup di lingkunganmu bersama mereka?! Ya intinya aku ingin duduk dan merasakan kursi itu. Untuk menjadi Absolute dan menggantikan mereka!" Wajah Jenifer terihat sangat serius.
"Lalu bagaimana cara membuat kontrak dengan mereka?"
Jennifer hanya tersenyum tipis, meraih pisau di pinggangnya lalu membuka baju pria yang tewas itu.
"Itulah masalahnya Bobby, Absolute tidak menerima kontrak dengan Ialat kecil." Tanganya dengan cekatan merobek dada pria malang itu.
"Untuk menantang Absolute kau perlu memenuhi beberapa kriteria yang sama sekali tidak mudah. Pertama, kau harus memiliki nama yang cukup berharga untuk dapat menantang mereka. Kedua, setidaknya kau pernah menghadapi 10 para pembunuh kelas A, dan terakhir kau harus memenuhi kuota akun milikmu dengan 1000 nama akun yang berhasil kau rebut dari musuh-musuhmu"
Kini Jenifer meraih sesuatu di dalam tasnya, sebuah toples kecil dan meletakkan benda itu disana. Ia menulis sesuatu di kertas dan kemudian menempelkanya pada toples itu.
"Indah bukan Bobby?"
Aku hanya diam sembari menatap benda itu. Untuk apa gadis ini meletakkan jantung orang mati ke dalam toples kosong.
"Bobby" Kini gadis itu berjalan mendekatiku.
"Coba lihat handphonemu"
"Untuk apa?" Kataku dingin.
"Aku akan mengaktifkan jaringanmu tentu saja. Kau Iihat ini? Sekarang kau sudah aktif Bobby" Jenifer menunjuk sebuah file profile.
Ketika ia melemparkan handphoneku kembali ke tanganku, aku bisa melihat dilayar handphoneku. "Akun Red_Hat terverifikasi bergabung dalam jaringan model kelas D"
"Kelas D?" kataku.
Aku bisa melihat Jenifer menahan tawa sembari memasukkan toples itu ke dalam tasnya.
"Jeni, itu artinya. Kau adalah kelas A!!"
Tiba-tiba aku merasakan itu kembali, jantungku berdegup perlahan, semakin kencang, semakin kencang dan terus menerus semakin kencang. Perasaan ini, benar-benar perasaan yang sangat nikmat.
Jenifer mengenakan tas miliknya, bersiap melewatiku, tepat ketika ia berada di sampingku ia berbisik kepadaku.
"Mulai detik ini, kau dan aku mungkin jarang untuk bisa bertemu, cepat lakukan pekerjaanmu dan lampaui aku Bobby. Maksudku Red_Hat!!"
Tepat sebelum ia menghilang, aku mengajukan pertanyaan terakhir
"Jeni, seandainya kita bertarung, menurutmu siapa yang akan menang?!"
Ia terkekeh beberapa saat lalu mengatakan.
"99 persen akulah yang akan menang, akan tetapi 1 persen yang ku berikan kepadamu mungkin lebih terdengar realistis. Sampai bertemu lagi red_Hat!!"