
Ku teguk sebotol air putih untuk menghilangkan dahagaku, aku menatap sebuah jalanan kosong, dengan jaket tebal abu-abu dan topi merah yang ku kenakan untuk melindungiku dari suhu dingin di mana malam semakin larut.
Aku menatap jam pada layar handphoneku. Mengamati sisi ke sisi, ini adalah Jeferson Street, tepat ke barat dari jarakku berdiri terdapat sebuah area pamakaman kota, dan itu adalah tempat di mana aku baru saja membuat kontrak dengan seseorang.
Awalnya, aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan akun ini, aku hanya terus melihat dan melihat aktifitas di Web gila itu, mereka terus dan terus membuat kontrak, berbekal dari informasi yang aku dapat dari Jenifer setidaknya aku sedikit paham tentang cara mereka bertransaksi hingga sepakat untuk membuat kontrak, setiap harinya lebih dari selusin akun saling membuat kontrak dan ketika mereka akhirnya setuju satu sama lain, maka Web gila itu akan merilis daftar siapa saja yang akan berpesta. Apa aku baru menyebut pesta?! Ya, setidaknya itu lah yang tertulis di dalam Web ini. Sebuah pesta untuk saling membunuh mereka menyebutnya "Pesta lilin". Aku tidak mengerti filosofi lilin yang mereka maksud, namun yang jelas mungkin penggambaran lilin yang mereka gunakan untuk menunjuk pada umur mereka masing-masing, bagiku ini tidak lebih dari permainan bocah, terlalu konyol namun entah kenapa jantungku berdebar-debar setiap kali melihat daftar salah satu pembuat kontrak di coret dengan foto biodata yang seharusnya menjadi rahasia itu dirilis. Seolah biodata yang terungkap itu mengatakan.
"Kau kalah maka kau harus siap dunia menelanjangi kematianmu bedebah!!"
Aku masih menimbang-nimbang apakah aku mulai menantang akun lain, saling membuat kesepakatan lalu setuju untuk merilis kontrak kami. Lucunya, meski web rahasia ini bersifat independen, namun terdapat beberapa kode etik yang seolah mutlak harus dipatuhi, bila kau sudah membuat kontrak maka apapun yang terjadi tidak boleh ada pelanggaran kontrak karena bila itu terjadi, dia yang tidak terlihat yang akan menyelesaikanya. Ketika Jenifer mengatakan itu, aku bisa merasakan aroma kematian di depan mataku.
Siapapun yang berada di balik pembuatan web ini, ia benar-benar manusia yang gila, tidak!! Iebih dari gila, maniak sinting yang begitu menikmati ini semua, namun yang terpenting dari semua ini adalah kami mendapatkan kepuasan masing-masing. Pihak web juga menjamin setelah kontrak disepakati tidak akan ada lalat pengganggu dalam penyelesaian pesta, karena lokasi sudah benar-benar dibersihkan untuk menghindari bocornya informasi antar pemilik akun. Sungguh permainan yang gila, ku rasa aku mulai paham cara bermain disini.
Ku lihat profilku dimana disana tertulis "Red_Hat" dengan foto profile topi merah. aku sedikit mengerutkan dahi setiap melihatnya, kenapa aku bisa menggunakan nama topi merah?! Kenapa bukan Jason atau Freedy, atau Haniball mungkin, nama yang sedikit keren untuk seorang yang menikmati momen ini, namun sudahlah, aku sudah memilih nama itu, setidaknya aku tidak sekonyol nama "Lolly_Girl's" atau "Pink_Lipstik89" atau sejenisnya.
Tunggu dulu .!! mataku menatap layar, di mana aku bisa melihat 2 akun dengan nama aneh membuka balok percakapan.
"Waoww, kau membunuh **** lamban itu. Kau keren" Ucap akun bernama Lolly_Girl's
Sementara Pink_Lipstik89 mengirimiku sebuah lokasi di dekat stasiun central, 2 manusia aneh sedang menantangku. Tanpa sadar aku tertawa begitu keras, entah kenapa jantungku berasa berdetak dengan sangat cepat.
Aku membalas Lolly_Girl's yang ku tenggarai seorang gadis, namun Pink_Lipstik89 juga terdengar seperti nama searang wanita. Ku buka akun mereka satu persatu dan aku menemukan fakta gila. Pink_Lipstik berada di kelas C, dengan 12 kali membuat kontrak dan 12 kali ia menyingkirkan lawannya. menariknya ia memposting korbanya dengan cap bibir merah muda di wajah korbanya. Yang lebih menarik lagi, ia adalah seorang fetis kepala. Ku rasa ia memiliki kemiripan dengan Jenifer, bedanya adalah kepala korban-korbanya mungkin lebih menjual untuk menjadi koleksi di kediamanya.
Berbeda dari Pink_Lipstik, Lolly_Girl lebih aneh lagi, ia lebih sering memposting berbagai bentuk tubuh, namun foto-foto itu sengaja dipotong dengan caption yang sama.
"Aku ingin ini!!"
Bila Pink_Lipstik89 sudah membuat kontrak 12 kali, maka Lolly_Girl's sudah membuat kontrak 4 kali dan berada di kelas D bersamaku.
Tanpa berpikir panjang, aku membalas pesan itu.
"Kontrak gadis kecil?!"
Beberapa saat kemudian ia membalasku.
"Jeferson Street, 12 malam April 13"
Tidak beberapa lama, kemudian akun kami dirilis dalam kontrak "Pesta Lilin".
Suhu dingin mulai menusuk sendi-sendi tulangku. Ketika aku mengamati situasi aneh itu, aku melihat kilatan cahaya yang melintas. Beberapa mobil baru saja melewatiku, ku amati dengan kedua mataku, mereka melesat masuk menuju gerbang pemakaman, ketika aku melihat keanehan ini, aku menyadari sesuatu.
"Untuk apa ada pemakaman malam-malam seperti ini?"
Aku mulai mendekati area pemakaman, melesat masuk perlahan lalu mengamati situasi aneh ini. Segila apapun orang yang ada di dunia ini, tetap saja untuk apa menguburkan seseorang di malam buta seperti ini.
Ku amati dari jauh dan aku bisa melihat rombongan orang itu mengenakan setelan jas berkelas, beberapa mengenakan gaun hitam, yang menarik perhatianku adalah gadis seusiaku yang menangis di atas peti mati, ku lihat kembali jam di tanganku dan aku belum melihat tanda-tanda si sialan itu muncul. Apa dia mengerjaiku? Tapi itu tidak mungkin, dia tidak akan bermain -main dengan kontrak yang sudah dirilis.
Aku mengamati keluarga aneh itu hingga akhir, dan setelah acara berduka di malam buta yang konyol itu berakhir, mereka kembali ke mobil mereka masing-masing. Entah perasaanku atau bukan, firasatku mengatakan seseorang yang entah di mana sedang mengawasiku, apakah gadis kecil itu menatapku dari jarak tempatnya berdiri. Ku amati kembali gadis itu, sebelum meninggalkan tempat itu ia meletakkan sesuatu, sebelum akhirnya mereka semua lenyap ditelan kabut malam.
Aku berjalan mendekati makam yang baru itu. Di sana tertulis "R.I.P Vailea". Siapa pun yang terbaring di sana, usianya masih terlalu muda untuk mati seperti ini. Ketika aku melihat-lihat nisan bergaya British itu, aku melihat sebuah kertas di atasnya, ku raih kertas itu dan ketika aku membukanya, aku melihat seseorang meninggalkan pesan.
"Rest in Pieces (Beristirahatlah dengan tubuh terpotong) Red_Hat"
Sebuah mobil tiba-tiba muncul dan melesat ke arahku. Sebelum aku bereaksi, mobil hitam itu berhasil menghantam tubuhku. Aku tersungkur dengan sangat keras, tubuhku serasa mati rasa. Seseorang melangkah keluar, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Sial!!" Kataku mengeram menahan rasa sakit.
Suara langkah kaki terdengar, beberapa saat kemudian aku bisa merasakan seseorang berdiri di depanku. Aku hanya dapat melihat sepatu hitam kecilnya, ketika suara tawa itu muncul aku bisa menebak itu siapa.
"Gadis kecil. Jadi kau sudah merencanakan ini?"
"Oh, kau memanggilku gadis kecil. Apa karena namaku adalah Lolli?? Sebenarnya bila kau perhatikan dengan detail Lolly menggunakan Y bukan I, dan aku menggunakan nama itu merujuk pada kesukaanku pada permen Lollipop Red_Hat" Katanya dengan suara bahagia.
Tubuhku masih mati rasa, namun anehnya dia sama sekali tidak menghabisiku padahal ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri lawanmu.
"Kenapa kau tidak membunuhku?! Apa kau berharap aku merasakan rasa sakit?"
"Kau salah paham Red_Hat. Aku tidak mau membunuhmu dengan keadaanmu seperti ini!!"
Mendengar itu, aku mencoba memaksa tubuhku, ku angkat kepalaku sehingga dapat melihat wajah menyebalkan itu sedang menatapku yang tengah duduk santai di atas mobilnya.
"Apa maksudmu keparat. Kau meremehkanku?!"
"Jangan marah begitu, aku benci melihat wajah marah, kau bisa cepat tua"
"Kau benar-benar"
Aku berlari untuk menerjang tubuhnya, namun entah apa yang terjadi ia menghindariku, lalu mencengkram bagian belakang leherku, membenturkanya dengan sangat keras di kap mobil, memelintir kedua tanganku dan menginjaknya dengan satu kakinya, tubuhku terkunci begitu saja tanpa bisa bergerak.
"Sudah ku bilang. Jangan salah paham. Aku tidak mau membunuhmu bukan karena kasihan tapi aku tidak suka membunuh tanpa melihat wajah ketakutan atau kesakitan di wajah korbanku. Jadi, kita mulai dengan memotong daun telingamu" Ia menyeringai.
Aku bisa merasakan ia sedang meraih sesuatu di kantongnya, sebilah pisau. Ku rasakan rasa nyeri di telingaku, darah mulai menetes, rasa nyeri itu mulai terasa sakit.
"Argghhh" Aku mulai berteriak, tubuhku mengejang mencoba melawan sensasi itu, ku rasakan daun telingaku mulai robek.
Ia terus mengiris dengan lihai. Tubuh, tangan dan kakiku tidak dapat bergerak, kecuali aku mengambil resiko, ku sentakkan kepalaku meski harus ku korbankan telingaku, namun untung saja gadis itu bereaksi sangat cepat sebelum ku sentakkan kepalaku. la melepaskanku dan menjauh dari tempatku berdiri.
Ku rasakan daun telingaku hanya robek sedikit meski begitu darah terus mengalir.
"Aku tidak menyangka kau akan mengambil resiko seperti ini" Katanya dengan wajah menyebalkan itu.
"Sekarang, ayo main lebih serius."
Gadis itu merengangkan tubuhnya seolah ia sedang melakukan pemanasan. Aku tidak boleh gegabah lagi, bila melihat gerakanya menghindariku ku rasa ia sangat menguasai cara mempertahankan diri, jadi aku tidak akan bisa menang bila bermain frontal denganya. Aku harus lari, cuma itu jalan keluarnya.
Ku raih pisauku yang terjatuh di tanah, sementara gadis itu sudah meletakkan pisau itu secara menyiku seolah bersiap menghunuskanya kepadaku.
Tanpa berpikir lagi, aku mulai melesat meninggalkan tempat itu, anehnya gadis itu tidak mengejarku, ia hanya menatapku pergi seolah-olah dia tahu apa yang aku pikirkan. Aku berhenti berlari saat ku rasa aku sudah aman, rasa nyeri di telingaku sudah berubah menjadi rasa sakit yang membakar.
"Seperti ini kah cara mereka saling membunuh? Gila!! Ini benar-benar gila!! Dia sudah mempersiapkan semuanya dan dengan idiotnya justru aku menerima tantanganya, dab aku sudah masuk dalam permainanya"
Ku tatap pisau di tanganku dan memikirkan segalanya.
"Tidak ada jalan untuk kabur, jadi apa yang harus aku lakukan? Seandainya aku adalah Jenifer apa yang akan aku lakukan?"
Ketika pikiranku sedang melayang, tiba-tiba gadis itu sudah ada didepanku.
"Kau masih amatir. Awalnya ku pikir kau seorang yang luar biasa, kau bisa membunuh maniak itu tidak lebih dari kelinci yang melarikan diri dari pemburunya" Katanya dengan nada kecewa.
"Siapa kau sebenarnya, dan bagaimana kau tahu maniak itu?" Kataku
"Dia adalah pamanku. Kau tahu, saat melihat dia sudah tewas aku cukup senang, setidaknya dulu dia sering kali membuatku trauma. Kau pasti sudah melihat semua koleksinya bukan? Keinginanku adalah membunuhnya namun dia selalu berhasil memberikan dampak trauma sehingga aku selalu ketakutan setiap melihat matanya, namun sekarang kau sudah menghabisinya dan sebagai tanda kehormatan dariku, aku akan menghabisimu" Ucapnya, sembari berjalan mendekatiku.
Saat itu jantungku tiba-tiba berhenti berdetak, rasanya sesuatu seperti ketakutan merasukiku begitu saja. Tanpa sadar aku menjatuhkan pisauku begitu saja. Mata itu, mata gadis itu menunjukkan sesuatu yang pernah ku lihat sebelumnya, Jenifer. Dia terlihat seperti Jenifer.
Saat itu. Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu.
Aku berhenti bergerak dan membiarkan ketakutan menyelimutiku, tepat ketika gadis itu menikam perutku, aku melihatnya, celah untuk selamat dari ini semua. Sebelum ia melepaskan tikaman pisaunya, aku mencengkram lehernya dengan kedua tanganku, menjatuhkan tubuhku hingga ia terjatuh di bawahku, dan saat itu ku rasakan perutku terasa dicabik-cabik, namun aku tidak tinggal diam, posisiku di atas sehingga aku dengan Ieluasa mengayunkan tinjuku di wajahnya, dia terus menghujani perutku dengan pisaunya, puncaknya, aku berhasil menahan tanganya, merebut pisaunya, lalu dengan cepat ku tancapkan benda itu tepat di wajahnya. la berteriak sangat keras seolah kesetanan, pisau itu tepat tertancap di antara kedua matanya.
Aku merangkak menjauh dengan darah terus mengalir dari perutku. Namun aku masih mampu berdiri meski badanku penuh dengan darah. Gadis itu masih berteriak berusaha menarik pisau di wajahnya.
"Kontrak!! Kontrak!!" Hanya itu yang bisa ku katakan.
Bila asumsiku benar, maka kontrak berakhir bila salah satu dari kami benar-benar tewas, artinya-artinya.
Aku dengan linglung melihat kesana kemari.
"Pisauku, dimana pisauku, dimana aku menjatuhkan pisauku"
Ketika aku berhasil meraihnya, aku terkejut gadis itu sudah berdiri di belakangku.
"Kau bocah ******* keparat"
Dia belari mencoba menerjangku, namun sepersekian detik itu, aku berhasil menghindarinya, membuatnya tersungkur dan dengan cepat ku gorok lehernya, hingga aku bisa merasakan arterinya terpotong dan mengalirkan darah di sana. Beberapa saat kemudian ia tidak bergerak lagi.
Kini aku tersungkur dengan luka di perutku.
"Sakit, sakit sekali *******!!"
Bila perhitunganku tidak meleset, perasaan ini-perasaan ini. Jenifer, Jenifer pasti ada disini. Kontrak sudah berakhir, Jenifer pasti menolongku.
Aku mulai merasakan sesak nafas, aku berusaha tetap bernafas dengan mulutku, apakah aku akan berakhir konyol seperti ini. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang. Aku mendengar langkah kaki mendekatiku.
"Bobby. Kau berhutang lagi kepadaku"