WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Manon_13



"Kau tidak bisa menilai sebuah buku hanya dengan melihat sampul depannya"


Kalimat itu terus menerus terngiang-ngiang di dalam telingaku, kali ini, aku hanya mengamati ratusan atau ribuan orang berjalan di sekelilingku.


Mereka menampilkan berbagai ekspresi wajah yang berbeda, mereka memiliki dunia, mereka memiliki tujuan dalam setiap langkahnya, namun aku?! Hanya berdiri di belakangnya, memandangi, mengamati dan mungkin mengagumi. Untuk orang sepertiku tentu saja aku menyimpan banyak sekali pertanyaan, apa yang membuat definisi dari seseorang untuk terus hidup. Sampai saat ini, aku masih terus mencari dan mungkin akan terus dan terus menerus mencari.


Ku lihat jam menunjukkan pukul 13.00, sebuah kereta akan segera tiba sebentar lagi, dan tepat ketika kereta itu tiba, permainan akan segera di mulai.


***


Ku amati jalur kereta yang menjadi tujuanku sejak pertama kali aku mengatakan kepada Jenifer bahwa aku akan menerima tantangannya. Tantangan dari seseorang yang menyebut dirinya sebagai Manon, sejujurnya aku tidak mengerti arti sebuah nama Manon. Banyak hal yang bisa dihubungkan dengan nama itu mulai dari sebuah tragedi tua di rusia tentang salah satu metode membentuk tentara paling ekstrim yang mereka sebut dengan inisial MA-NON atau mungkin sebuah nama dari 17 iblis yang sangat dikutuk, namun angka 13 di belakangnya seolah-olah memberiku isyarat itu bukan angka yang bagus untuk dihadapi. Siapapun orang yang ada di balik nama ini, aku tidak akan lagi meremehkannya.


Aku berdiri di depan mesin pengambil minuman kaleng, sementara mataku awas mengamati jarum jam di atas stasiun, tempat keramaian berpusat. Ada yang unik dari bagaimana kami sepakat memilih tempat ini, pertama ku rasa dia dan aku sama-sama tidak suka dengan gaya permainan klasik, di mana kau tinggal memilih tempat sepi lalu kau bisa saling melempar pisau atau semacamnya atau apapun itu, terdengar klasik namun ide dengan tempat yang ramai memberikan sentuhan eksentrik di mana kami bisa bermain fair, dengan menggunakan banyak mata atau orang-orang sebagai juri dalam permainan kami. Namun dengan setujunya dia atas penilaian dari tempat yang ku ajukan memberiku kesempatan untuk mengamati dan menilai bahwa Manon bukanlah orang normal yang selama ini ku pikirkan, alih-alih aku menebaknya ku rasa aku langsung tahu dia memiliki tujuan yang pasti, tidak salah bila aku menyatukan semua puzzle yang ia berikan, Manon memiliki penyakit Narsisme yang tinggi. Ku rasa kali ini aku pasti benar.


"Ting!!" Suara pertanda kereta komuter telah tiba terdengar dan seketika keramaian berpusat di sana. Ku ambil soda kalengku dan mulai menikmatinya sembari berjalan mengitari tempat itu, mengamati satu persatu gerakan orang yang keluar dari sana.


Pria tua dengan jaket kantor, ibu tua dengan belanjaan di tangan, atau gadis dan pria muda dengan seragam sekolah, seharusnya aku tahu, ini adalah jam sibuk dimana aktifitas sedang tinggi- tingginya di stasiun ini.


Mataku masih mengawasi dengan seksama, semuanya ku amati sedetail mungkin bahkan aku dapat melihat ekspresi-ekspresi itu, semuanya terlihat sangat normaI.


Apakah Manon tidak keluar dari kereta, bila dia tidak keluar dari kereta itu artinya, dia sudah ada di luar kereta, bila asumsiku benar maka zona tempat kami bermain benar-benar membutuhkan perhatian yang paling besar, ini menarik. Ku rasakan detak jantungku perlahan mulai berdetak semakin cepat, sementara mataku mencoba mengawasi semua tempat, sekaligus aku mencoba untuk tetap bersikap setenang dan senormal mungkin.


Tepat ketika aku mulai bergerak, mengarsir zona yang setidaknya luput dari perhatianku. Aku terhenti saat menabrak seseorang.


Seorang gadis, dengan seragam sekolahnya, la terjatuh namun saat aku akan membantunya berdiri ia memberikan senyuman yang aneh. la berlalu sembari berucap dengan suara yang lirih.


"Aku suka dengan topi merahmu kak"


la bergegas masuk ke lautan manusia namun aku tahu, ia meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang sangat jelas, sebuah tanda. Tanda bahwa ia tahu siapa aku. Sebuah boneka "Mario bross" dengan topi merahnya. la sengaja meninggalkannya seolah-olah hanya untuk memberiku sebuah pesan.


"Aku tahu itu kau Red_Hat!!"


"Sial!!" Pekikku.


Ku lihat kembali kemana perginya gadis itu, namun ia sudah menghilang di tengah kerumunan manusia.


"Sial-sial-sial " Umpatku berkali-kali saat sadar apa yang terjadi.


Dia adalah Manon_13. Seorang gadis dengan seragam sekolah.


Seperti yang Jenifer katakan sebelumnya, kadang aku begitu bodoh untuk tampil begitu mencolok namun tetap saja, diriku sendiri seolah menegaskan bahwa dengan ku kenakan topi merahku maka permainan akan berada di tensi paling menyenangkan. Secara tidak langsung, aku juga seorang Narsisme, apapun itu, aku sangat menikmati permainan ini dan aku sudah tidak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya.


Aku mulai berkeliling, mencari dan mencari kemana keberadaan gadis itu, tepat saat aku berdiri tepat di depan gerbong kereta, aku melihatnya bersandar pada tembok dan mengamatiku dengan senyuman nakalnya. Ia mengenakan headset di telinganya, aku sama sekali tidak mengerti apa tujuannya, untuk seseorang yang sudah saling mengenali, kenapa?? Kenapa ia bisa setenang itu?!


Sebelum ia melakukan sesuatu. Sebuah gerakan yang menunjukkan layar smartphonenya ke arahku. Tepat ketika ia menekan tombolnya, "Tap!!" semua benda elektronik di tempat ini mati total termasuk terdengarnya sistem alarm bahwa tempat ini baru saja diretas.


Selanjutnya, semua orang mulai panik, terdengar suara pengumuman bahwa semua orang harus meninggalkan stasiun dengan tertib, namun efek suara alarm menyebabkan kekacauan yang tidak dapat dikendalikan hanya dengan sebatas ucapan untuk tetap tenang dan tertib, ku rasa tidak ada orang yang cukup waras untuk mendengarkan perintah seperti itu dan memilih bergerak dengan insting umum manusia yang sebenarnya, Barbar.


Tidak dapat ku jelaskan betapa sangat kacaunya tempat ini.


Saat ini ribuan orang saling menabrak satu sama lain, berlarian ke sana kemari mencari jalan keluar, dan tepat ketika pandanganku kembali melihat posisi di mana gadis itu berada sebelumnya, ia sudah menghilang.


Lawanku kali ini, jauh lebih professional dari sebelumnya. Itu terlihat jelas dari bagaimana ia menjalankan skenario serapi ini, ini buruk, sangat buruk, mungkin ia sudah mempersiapkan banyak kejutan bagiku.


"Astaga!!"


Seorang pria mengejutkanku ketika ia menarikku dan memintaku untuk menjauh dari area rel kereta, sistem benar-benar kacau dan bila sistem tidak segera dibenahi akan terjadi kecelakaan dimana dua kereta komuter yang sudah melaju cepat akan saling bertemu di stasiun ini.


Ku lihat jam di layar handphoneku, bila asumsi dari petugas itu benar, maka kemungkinan itu akan terjadi 10 menit lagi, sekarang dengan semua skenario itu bila aku menjadi gadis itu, rencana macam apa yang sedang aku persiapkan. Sebelum petugas di depanku berteriak, saat gadis itu baru saja melewatiku tersenyum dan menghilang lagi di tengah kekacauan, ku amati petugas di depanku yang terkapar dengan darah mengucur deras dari baju seragamnya, tepat di area bahunya gadis itu baru saja menikamnya.


"Sial"


Apa yang sebenarnya gadis berengsek ini rencanakan. Aku mulai berlari menembus keramaian, namun aku tidak juga menemukan di mana keberadaan gadis itu.


Kenapa dia seperti sangat menguasai medan ini, apakah sebelumnya dia pernah melakukan hal ini. Gadis macam apa yang membuat rencana serandom ini hanya untuk melawanku, dan kenapa dia memilih tempat umum, kecuali.


"Sial-sial-sial-sial" Umpatku.


Aku memikirkan kembali semua puzzIe ini.


"Keramaian, Narsisme, Eksentrik"


Aku mulai memahami cara bagaimana gadis ini melakukan segala rencananya, selama ini ternyata ia mencoba memberikan pesan kepadaku. Aku mulai melawan arus dimana orang-orang sedang meninggalkan stasiun, ku naiki anak tangga penyebrangan yang akan langsung menuntunku berada di area yang tidak mungkin dipikirkan semua orang saat keadaan sedang kacau.


"Jembatan penyebrangan Stasiun utama"


Tepat seperti dugaanku. Gadis itu berdiri di jembatan penyebrangan tepat di atas rel kereta komuter yang akan melintas beberapa menit lagi. la melihatku dengan tatapan tenang, seolah-olah ia tahu bahwa cepat atau lambat aku akan segera menyadarinya. la menatapku sejenak beralih pada ponselnya lalu melemparkan senyuman menyebalkan itu dan berucap dengan nada yang sangat anggun.


"Wah, ternyata kau type yang lambat untuk menyadarinya ya?!"


Ia berdiri dengan tangan menggenggam payung hitam.


"Kau butuh waktu lama, bahkan aku harus sampai membunuh orang lain agar kau sadar"


"Bila memang ini yang kau inginkan sebelumnya, kenapa tidak langsung saja memilih tempat yang sepi. Kenapa harus membuang-buang waktu untuk berdebat denganku untuk memilih tempat?" Kataku menatapnya.


"Pertama bila aku melakukanya, kau akan berpikir kenapa aku langsung menerimanya, kau pasti curiga dan semakin seseorang curiga semakin berbahaya dia dalam pikirannya. Kedua, aku hanya ingin melihat reaksimu bila aku menempatkanmu pada situasi seperti ini. Ketiga, permainan akan seru ketika kita memainkannya dalam tempo yang tepat!"


"Jadi" Kataku lagi.


"Jadi, kau akan berdiri dan berbicara banyak hal atau mulai segera bergerak sebelum aku melakukan?!"


Gadis itu mulai berjalan mendekatiku. Tidak, dia tidak berjalan, dia melompat. Hanya butuh waktu sepersekian detik untukku segera menyadarinya bahwa dengan sekali lompat ia mampu atau mungkin nyaris menempatkan ujung runcing payungnya tepat di jantungku, hanya saja aku mampu bergerak sedikit lebih cepat.


"Pisau di ujung payungmu?!" Kataku membuka ancang-ancang.


"Bukan pisau, hanya sebuah besi tajam yang berkarat, cukup efisien untuk membuat luka yang dalam" Katanya sembari memberikan kedipan mata.


Apapun yang terjadi saat ini, aku sama sekali tidak mengerti. Dia hanya berdiri dengan tangan menggenggam payung, namun mampu membuatku merasakan perasaan berdebar, sesuatu seperti gejolak dan ketakutan campur aduk menjadi satu di dalam pikiranku.


"Berbahaya! Gadis ini berbahaya!!"


Tanganku sudah menggam pisau secara terbalik, berjaga bila ia mendekatiku lagi. Bila melihat bagaimana dia menyerangku, aku bisa berasumsi dia adalah orang yang mempertimbangkan segalanya, caranya bergerak dan melompat sama sekali tidak wajar, menyerupai seorang atlet anggar.


Benar. Apakah dia menguasai anggar, bila itu benar, pertarungan ini akan berat sebelah, pisau yang ku gunakan terlalu kecil untuk meladeni payungnya. Berpikir. Aku harus berpikir apa yang akan aku lakukan bila aku disudutkan seperti ini.


"Lama" Katanya, dan ia melompat lagi, aku bersiap menghindar. Namun, kali ini dia menebak pergerakanku. Ku jatuhkan kakiku dan berhasil lolos dari ujung jarum sialan itu, namun akibatnya ia menghempaskan wajahku dengan sabetan payungnya. Aku terpental dan segera bangkit.


"Berengsek!!"


Kesialan sepertinya benar-benar berpihak kepadaku, tidak hanya lincah ia juga mampu berimprovisasi dengan keadaan, gadis ini sangat mengerikan.


Tenang. Ku coba untuk menenangkan diriku. Situasi, benar. Aku yakin situasi di sini masih bisa digunakan hanya bagaimana aku bisa memancingnya, atlet anggar?


Bila dia benar-benar menggunakan teknik anggar untuk bertarung itu artinya ia hanya mengandalkan tempo dan ritme, ia bukan penyerang atraktif, namun gerakan defensifnya lah yang patut aku waspadai, semua orang tahu, seorang atlet anggar memiliki gerakan bertahan paling mematikan, ia mampu merubah situasi dari bertahan menjadi menyerang hanya dalam waktu beberapa detik. Dengan keadaanku seperti ini, bermain dengan menjaga jarak adalah saat yang tepat namun, bila ini terus dan terus aku gunakan hal ini bisa menjadikan pertarungan ini sangat menguras tenagaku, karena otomatis aku hanya akan bertahan.


Apa aku menyerangnya saja secara membabi buta, namun dengan pisau sependek ini, sama saja dengan bunuh diri. Apa, apa yang harus ku lakukan. Bobby! Apa yang harus ku lakukan bobby!!


Gadis itu masih berdiri tegak dengan posisi mengayunkan payungnya, la hanya mengamatiku, namun dari cara berdirinya ia sedang mengambil ancang-ancang, melihat itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Apa yang akan dilakukan seorang atlet anggar tanpa pedangnya? Aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Baiklah Manon. Mungkin kau benar-benar unggul dalam situasi ini, bila aku boleh bertanya. Kanapa kau memilihku dari banyaknya peserta yang ada? Apakah karena aku masih tergolong baru?"


"Apa?! Aku memilihmu?! Bukankah kau yang mengajukan tantangan kepadaku?!" Gadis itu menatapku aneh.


"Jenifer sialan" Batinku dalam hati.


Dia yang memilih lawanku, pantas saja, bagaimana mungkin orang dengan class yang cukup bagus mau menantang bukan ditantang.


"Sekarang!!" Ucapku.


Aku bergerak mundur, lalu melesat maju dengan cepat, tepat seperti dugaanku, gerakan mundur selangkahku lalu melesat secepat mungkin membuatnya terkejut dan memasang kuda-kuda bertahan, untunglah aku sedikit memahami seni berpedang seperti ini. Bila semua seperti perkiraanku, gerakan pertama sebelum menusukkan benda sialan itu di jantungku, hanya saja bagaimana bila aku memiliki 2 pisau, bukan hanya di tanganku, namun di saku jaketku. Aku akan melepaskan pisau pertamaku.


Ku lepaskan pisau di sakuku, membuatnya cukup terkejut, namun alih-alih menepis pisauku dengan payungnya, ia hanya menghindarinya dengan mengesampingkan tubuhnya, menurunkan payungnya lalu menusukkannya tepat di tubuhku.


"Sial!!"


Aku tidak bisa menghindarinya dan menerima sakit saat benda tajam itu menembus jaket dan bila aku tidak cepat-cepat menghentikan gerakanku dengan menahan benda itu, mungkin tubuhku sudah berlubang. Namun berkat ini, situasinya berbalik 180 derajat, ku rebut payung itu dari tangannya, memutarnya sekuat tenaga, ia mencoba mengambil kembali payungnya, namun situasi mendukungku, tepat di tangan kananku aku masih menggenggam pisauku secara terbalik. Ketika tepat ia berada dalam jangkauanku, ku sayatkan pisauku tepat di wajahnya.


Darah memenuhi wajahnya, ia bergerak mundur untuk sementara, kedua tangannya gemetar meraba wajahnya, dan tepat saat itu, ku tancapkan ujung tajam payungnya tepat di wajahnya, menembus kedua tangannya, mendorongnya terus menerus sampai menabrak pagar besi jembatan, dan tepat di ujung pagar, ku tarik dengan kuat payung itu dari wajahnya, dan seketika teriakan nyaring yang memekakkan telinga terdengar keras, ku hempaskan tubuhnya hingga terjatuh dari ketinggian ini, jatuh terhempas di atas kerikil tepat di antara rel kereta api.


Ku lihat ia masih hidup, tangannya gemetar sementara kakinya mendorong tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, suara kereta terdengar dari jauh. Sistem belum pulih sepenuhnya, dan tepat beberapa menit lagi, dua kereta akan saling bertemu di sini, dan berjalan terus menuju stasiun selanjutnya, dan saat itu terjadi, gadis ini akan menjadi seonggok daging yang tercecer terlindas kereta yang melintas.


"Aargggh" Suara teriakan gadis itu yang kemudian lenyap menyadarkanku, bahwa terkadang peluang sekecil apapun bisa menjadi kesempatan untuk membalikkan keadaan bila kau jeli memainkannya.


Aku bergegas pergi, setelah melemparkan payung hitam itu. Hingga aku baru menyadarinya, Jenifer sedang bersandar di jalan keluar stasiun, menatapku dengan senyuman menyebalkannya.


"Kau menang jagoan!"


Aku baru saja melewatinya, sebelum ia mengatakan sesuatu.


"Tahu gedung yang dalam proses pembangunan di pusat Cortuis city? Datanglah ke sana, seseorang menunggumu di sana"


"Siapa namanya?"


"Dia menyebut dirinya, Michael. Ku rasa dia maniak bentuk tubuh" Ucap Jenifer sembari tersenyum sebelum menghilang dari hadapanku.