WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
The Ending( Aku Boddy )



"Aku tahu, alasan kenapa kau datang" Seseorang tengah tersenyum, tatapannya tajam menatap ke pemandangan malam kota.


"Salam untuk anda, Dr. Gin" Seorang gadis membungkuk, sebelum membuka bukunya,


"Genderang perang akan segera ditabuh, lantunan musik pesta mulai dipersiapkan, sementara pion-pion sudah mulai tersusun rapi. Akhir dari pertempuran ini akan segera mencapai puncaknya"


"Pion, apakah kau menganggap aku adalah salah satu pion itu?!" Kini tatapannya beralih, ia melihat dengan sorot mata kosong.


"Maafkan saya sudah lancang. Namun Mr. Trap dan Thousand_Face sudah mulai bergerak, kini biarkan aku menagih janjimu padaku, ku mohon pertimbangkan anda untuk berada di pihak saya"


"Life, sejujurnya aku tidak berpihak pada siapapun dalam perang ini, namun kau berbeda. Begini saja, aku tidak memberikan kesetiaanku kepada siapapun, tapi ku pastikan aku ada di pihakmu saat perang mulai bergulir"


Life menatap Gin, sebelum akhirnya ia melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti, ia berbalik dan menatap Gin, ia masih terlihat seperti biasa, tampak begitu anggun dengan baju kedokteran, rambutnya terurai indah, dengan senyuman mengerikan ia masih menatap pemandangan malam kota.


"Semoga anda beruntung dengan pertempuran anda malam ini, aku akan dengan senang hati menyaksikannya" Life menghilang dari balik pintu.


***


Sweet_Chocolate menatap ke arahku.


"Jangan masuk kesana" Ucapnya.


"Apa yang mau kau katakan sebenarnya Swetie!!" Aku melihat gejolak mata ragu, namun hatiku sudah mengeras. Bila aku Ingin melihat dunia yang selama ini gelap, dan dengan cara ini satu-satunya yang bisa membuatku paham kenapa aku begitu nyaman dengan dunia hitam saat ini.


"Kau tidak harus mendengarkan omong kosong pria tua itu bila hanya ingin mencaritahu siapa dirimu!!" Sweet_Cocholate tak mengendurkan nada suaranya, ia menatap keras kutukan yang akan diucapkan pria yang selama ini membuatnya hidup.


"Kau ingin aku membunuhmu?" Kataku terdengar lembut, namun ada ancaman serius dalam ucapanku.


"Itu lebih baik, dari pada aku harus melihatmu mati. Dan kau pikir kau bisa hidup setelah kau mati, omong kosong pria tua itu tidak seharusnya kau dengar!!"


Tersentak, tiba-tiba Sweet_Chocolate menegang saat aku mencekik lehernya, aku terus dan terus menatap gadis itu dengan tatapan kosong seolah-olah bila memang harus kehilangan, aku siap kehilangan lagi, malam ini adalah malam dimana Black_Hair, gadis yang memperkenalkanku dengan dunia ini akan melawan seorang Absolute, satu dari 3 Absolute terkuat. Jadi apa artinya bila aku harus kehilangan lagi. Serpihan kengerian dalam pikiranku mulai bermain. Kemudian, semua yang ada di hadapanku mendadak menjadi gelap gulita. Sweet_Chocolate menghilang ditelan kegelapan itu. Lalu, suara-suara itu mulai muncul kembali dalam kepalaku.


"DASAR CACAT!!'' ''BOCAH ******* KAU!!" "KENAPA ANAK HARAM SEPERTIMU BISA HIDUP" "LIHAT SI ***** MUNAFIK INI, BEGITU DUNGU KAH UNTUK TAHU SIAPA DIRINYA?"


"Tidak" Ucapku,


"TIDAK, AKU TIDAK DUNGU BODOH!!" Teriakku.


Suara cacian hina itu berubah menjadi suara tawa yang menggema dalam gendang telingaku, Aku tersentak oleh rasa sakit di kepalaku, kuku jariku terasa nyeri seperti dicabut satu persatu dari jemari, sementara bola mataku menegang, lidahku terasa kelu oleh racun.


"Apa yang terjadi?" Ucapku dalam tekanan rasa sakit yang luar biasa.


"APA YANG TERJADI PADAKU?!"


Hingga sedetik kemudian aku melihatnya, senyuman seseorang menyadarkanku. Pandanganku berganti menjadi sebuah pemandangan seorang anak kecil, ia sedang bermain sebelum seseorang mendekatinya.


"Ayah lihat, aku baru saja mendapatkan tikus ini"


"Dari gudang bawah tanah" Ucap anak kecil itu.


"Apa lagi yang kau lihat? "


"Hanya beberapa mayat yang terpotong" Katanya dengan polos.


"Oh, kau mau memotong tikus itu? "


"Boleh"


Pemandangan berganti, kini aku melihat anak kecil itu, terikat di kursi dengan tubuh telanjang, di bawahnya ada baskom berisi air es, lalu terlihat seseorang melecuti tubuh anak itu, daging merah yang terkoyak di punggungnya, namun anehnya anak itu hanya menatap kosong apa yang ada di hadapannya.


"Apakah dia mati?" Tanyaku dalam hati.


Hingga suara seseorang menjawabnya.


"Kau pikir dia mati?"


Aku melihat kesana-kemari guna memastikan siapa yang berbicara, namun aku tidak mendapati siapapun di sini, di manapun.


"Kau tidak perlu mencariku, kenapa tidak kau coba saja jawab pertanyaanku?"


"Ku rasa dia masih hidup." Kataku ragu.


"Ku pikir juga begitu, lalu kenapa dia tidak memilih mati saja, bukankah itu lebih terlihat realistis. Lagipula ia hidup dengan kondisi seperti itu, menurutmu?"


"Entahlah" Kataku.


Hingga, akhirnya aku menyadarinya.


"Ia mati, tunggu apakah kau adalah?"


"Aku? Aku kembali Bobby, kembali untukmu" Aku tercekat.


**


Aku terikat di sebuah kursi, tangan dan tubuhku penuh luka menganga, dan tepat di bawahku, aku melihat air dimana-mana.


"Kau sudah sadar bocah kecil?"


"Thousand_Face. Kau tahu siapa aku?"


Pria tua itu tersenyum.


"Selamat datang kembali, Eliot Boddy"