
**
"Dasar aneh!! Anak bodoh!! Idiot!!"
"Kenapa sih anak ini masih hidup?!"
"Kalau aku jadi dia, mungkin lebih baik bunuh diri!!"
Kau mendengarnya. Aku yakin kau mendengarnya, suara-suara itu, suara menyebalkan itu!!
"Payah!! Freak!!"
"Aku tidak payah."
"Kau payah *****"
"Aku bilang aku tidak payah!!'
"Lihat, anak ini bilang dia tidak payah. Kalau begitu idiot!! "
"Aku tidak idiot!!"
"Idiot yang payah!!"
"AKU BILANG AKU BUKAN ANAK PAYAH!!"
"Kring............!!!" "Kring......!!"
"Hanya mimpi? Semua itu hanya mimpi? Syukurlah hanya mimpi. Tapi...?"
"Bobby.. kau sudah bangun nak? Bersiaplah, ini hari pertamamu sekolah setelah libur panjang."
"Iya bu, sial ternyata mimpi itu akan kembali"
Oh, apa aku bilang mimpi itu kembali? Ya. Kau akan tahu maksudku sebentar lagi. Tentang semuanya dan ku harap kau menyukainya.
Aku ingat semuanya dengan jelas, siapa dan dimana aku berada, sekolah adalah tempat yang menyenangkan, hanya saja sekolah bukan untuk anak sepertiku. Sekolah adalah neraka bagiku, karena kau tahu? Di neraka kau bisa melihat dan menemukan setan tertawa dan di sekolah kau juga akan melihat setan-setan itu. Hanya saja, mereka kecil sepertiku dan satu lagi, mereka berwajah manusia.
"Hai bu, kau masak omelette lagi?"
"Ya, masakan yang praktis untuk anakku tersayang." Kecupan bibir itu mendekat ke pipiku dan aku menolak untuk pagi menyebalkan ini.
"Ibu, sebentar lagi aku berumur 17 tahun ingat. Tidak ada ciuman lagi untuk anak 17 tahun." Kataku kepadanya, tersirat wajah sedih untuk beberapa detik. Kemudian ku ucapkan, "Tapi untuk hari ini, kau boleh menciumku bu."
Wajahnya kembali hangat. Ya ibuku, satu-satunya manusia yang ku cintai saat ini. Satu-satunya harapan yang menguatkanku hingga saat ini.
"Kau benar Bobby. Kau sudah dewasa, dan ibu harus memperlakukanmu seperti orang dewasa" katanya dengan senyuman mencurigakan,
"Tambah omelettenya!" Seketika itu kami tertawa lepas, sebelum suara ban berdecit terdengar di telingaku.
Inilah saatnya, saat dimana aku akan menjalani aktifitas menyebalkan itu lagi.
"Selamat datang kembali di Neraka." kataku mencoba untuk kuat saat ku angkat tas sekolahku dari kursi "Aku pergi dulu bu. Eh ibu, kau akan kerja lagi hari ini? Kenapa kau tidak libur saja? Kau terlihat lelah."
Ibu menatapku lagi dengan senyuman hangat itu mencoba mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Sebenarnya, dia tidak baik-baik saja, aku tahu semuanya, semua pekerjaan yang ia lakukan. Namun aku, Bobby Aldiart adalah anak yang baik jadi aku akan diam dan berpura-pura tidak tahu semuanya. Walaupun aku membencinya.
***
Aku bisa melihat tatapan menyebalkan itu tepat ketika aku melangkah masuk ke dalam bus sekolah, tatapan berengsek yang mereka berikan langsung kepadaku ketika melihatnya. Tatapan jijik, kemarahan, hingga tatapan penghinaan, semua ini seperti sudah jadi sarapan pagiku. Seperti biasanya, Bobby adalah anak yang baik, jadi ia hanya akan mengacuhkan itu semua dan berpura-pura tidak tahu bahwa mereka semua membenciku.
Semua bangku penuh, beberapa sengaja diisi oleh tas mereka agar aku tidak duduk di sana. Hanya satu tempat duduk untuk orang sepertiku, bangku paling ujung. Bukankah orang aneh harus duduk dengan orang aneh? Dan peraturan itu berlaku untukku.
Di sana aku bisa melihat seorang gadis, gadis pendiam yang bahkan tidak ku kenal siapa dirinya, dia terlalu tertutup dengan semua orang, tidak pernah bicara atau melakukan hal yang mencolok, menutupi wajahnya dengan rambut hitam lebatnya hingga membuat ia di cap aneh, sama sepertiku. Mungkin kami senasib, namun anehnya kami juga tidak berteman, yang terpenting ia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengangguku. Berbicara tentang "Aneh" aku tidak mengerti kenapa aku dicap aneh hanya karena aku kikuk. Benar, aku memiliki kesensitifan terhadap tempat yang ramai, sejak kecil aku hanya berani menatap orang asing dari balik kaki ibuku, aku hanya berani melihat dunia dari dalam jendela rumahku, sehingga bertemu orang banyak membuatku takut, aku juga bukan orang yang cakap dalam berbicara, setiap aku berbicara nada suaraku terdengar terbata-bata sehingga beberapa anak mulai menyebar rumor tentang diriku, mulai dari aku adalah anak yang terlahir prematur, idiot, ***** atau semacamnya, keluargaku pun tak luput dari rumor, ayahku sudah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan, namun yang terjadi, mereka menganggapku lahir sebagai anak haram, anak pembawa sial dan siapapun yang bergaul denganku akan terkena dampak sial dariku. Sejujurnya aku sangat membenci ini semua, namun sekuat apapun diriku, aku tidak bisa melawan, aku terlalu takut untuk melawan, jadi aku diam ketika mereka mulai sering menghajarku. Aku hanya bisa diam menerima itu semua, mungkin aku memang terlahir sebagai anak idiot.
Bus berhenti dan beberapa anak mulai berdiri dari tempatnya, berjalan keluar dan bergegas menuju ke gedung sekolah, kecuali Justin, Bastian dan Troy.
Aku benci mereka dan mereka lebih benci kepadaku. Mereka hanya melihatku dengan seringai di wajah mereka, aku berusaha tidak memperdulikanya dan berjalan melewati mereka. Kemudian, ini aneh biasanya satu di antara mereka akan menjegalku dengan kaki mereka, atau menarik lenganku hingga tersungkur, namun hari ini tampaknya mereka sedang tidak ingin mengangguku. Aku pikir itu bagus, aku sudah berdiri dipintu bus bersiap untuk turun, sebelum seseorang mendorongku hingga terjerembab. Kulihat siapa diantara mereka yang melakukanya sebelum aku melihat Troy memandangku dengan senyuman menyebalkanya. Justin dan Bastian ikut tertawa melihatku. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat bersiap berdiri untuk membalas mereka, namun ketakutan itu kembali. Aku berdiri susah payah dengan siku berdarah karena aspal, namun mereka tahu si Bobby payah tidak akan pernah membalas.
Aku mencoba mengabaikan rasa sakitku bersiap untuk kembali berjalan ke gedung sekolah saat Troy memanggilku.
"Halo idiot!!"
Aku mengabaikanya, namun mereka terus berteriak tentang idiot, sumpah serapah dan semacamnya, "Idiot!! Teruslah lari!! Teruslah kabur, menangis dan carilah ibu jalangmu."
Ibu ******? Aku berhenti sesaat, entah kenapa tiba-tiba aku berhenti seolah seseorang memaksaku untuk berhenti.
"Ibu ******?" kataku mengulangi kalimat itu dan menatap wajah mereka yang masih tertawa.
"Hei, hei.. lihat si idiot ini. Lihat dia menatapku dengan tatapan marah. Apa dia marah?! Apa dia marah waktu aku memanggil ibunya dengan sebutan ******?! Apa kau marah idiot sampah??"
"Hentikan!!" kataku dengan geram, "Jangan lanjutkan.. ku mohon!!" Entah bagaimana tiba-tiba aku mengatakan itu, sejujurnya aku tidak mengerti namun anehnya, aku menyukai sensasi saat mengatakan ini.
"Kau bilang apa?! Kau menantangku idiot?"
Troy mendekatiku, tatapannya tampak tidak terima dengan apa yang aku lakukan, dari tiga anak ini, Troy adalah anak yang memiliki badan paling besar dan gempal, wajahnya dipenuhi jerawat dengan rambut kriting, semua orang melihat Troy seperti monster untuk anak dengan usia 17 tahun. Namun anehnya, aku sama sekali tidak merasakan sensasi ketakutan seperti biasanya, sebaliknya ada sesuatu yang memenuhi isi kepalaku. Sesuatu, seperti sebuah kesenangan.
"JAWAB AKU IDIOT!! APA KAU TIDAK TERIMA?!" Troy mencengkram kerah bajuku, berteriak seperti kesetanan, tentu saja ia tidak mau di anggap remeh oleh Justin dan Bastian, dan untuk ukuran pertanyaan yang ku ajukan adalah penghinaan terbesar baginya.
"JAWAB IDIOT. DASAR ANAK ******!!"
"Blam...!!" Tanpa sadar aku menghempaskan badan Troy yang besar itu hingga menghantam badan Bus sekolah, Justin dan Bastian tampak terpaku memandangku. Namun anehnya aku menyukai sensasi ini. sensasi yang tidak bisa ku jelaskan dari mana asalnya, sensasi melihat Troy menggeliat dan mencoba melepaskan cengkramanku. Sensasi ketika semua anak memandangku dengan rasa takut.
**
Aku hanya berdiam diri di dalam kelas, beberapa kali aku melihat Justin, Bastian dan Troy memandang ke arah bangkuku, namun aku mencoba mengabaikan semuanya.
Sekali lagi pikiranku kembali saat aku menghantamkan tubuh Troy, saat itu tubuhku seperti bergerak sendiri. Sebelum itu ada sebuah perasaan aneh muncul, menghilangkan rasa takutku dan mengantikanya dengan sensasi gila yang sama sekali tidak aku mengerti, apapun itu, sepertinya Justin, Bastian dan Troy tidak akan terima semua itu. Sial, sepertinya mereka akan menuntut balas. Tepat seperti yang aku duga, ketika bel istirahat terdengar, tiga anak itu langsung menghampiriku, beberapa anak mulai melangkah keluar karena tidak ingin terlibat dengan apa yang terjadi, aku bisa mendengar Justin berbisik di telingaku.
"Ikut kami atau ku seret kau dari tempat ini!!" Nadanya mengancam dan terdengar geram.
Tanpa bisa melakukan apa-apa, aku mulai berdiri dan berjalan mengikuti Justin, sementara Bastian dan Troy berjalan di belakangku. Perasaan takut itu kembali menyelimutiku, jantungku berdegup kencang, nafasku kian berat, aku mencoba memikirkan bagaimana aku bisa mendapatkan keberanian itu kembali namun tampaknya sia-sia, semakin aku berjalan semakin ketakutan menyelimuti isi kepalaku.
Aku sadar bahwa Justin membawaku ke sebuah tempat yang jarang dikunjungi oleh anak-anak, sebuah toilet tua yang sudah lama tidak digunakan di gedung lama. Aku pernah mendengar rumor tentang tempat ini, beberapa anak mengatakan ini adalah tempat merokok dan menenguk miras dengan aman, beberapa bilang tempat ini sempurna untuk menghajar dan membully murid lemah, namun apapun tentang rumor itu tampaknya semuanya benar.
Ku lihat Justin berhenti di sebuah ruangan kosong yang tampak tak terawat, Troy dan Bastian mendorongku masuk ke dalam tempat itu.
"Jadi Bobby, kau suka bermain bukan?!" Justin menatapku dengan tatapan dingin,
"Bermainlah dengan Troy.. ku lihat kau cukup berani menantangnya!!"
Ku lihat Troy melangkah ke depan, ia membuka baju seragamnya melemparkanya hegitu saja ke lantai, ku lihat badan gempal besarnya, ukuranya tidak seperti anak SMU, sebelum aku bergerak ia menghantam rahangku dengan tinjunya, ku rasakan gemertak di rahangku sampai aku sadar, bibirku memuntahkan darah.
"Kau tahu? Kau baru saja meremehkanku..!! dasar SIAL kau anak berengsek!!"
Troy menjambak rambutku, memaksaku berdiri lalu menghantamkan kepalaku tepat di lututnya. Sakit...sakit sekali. Ku rasakan nyeri di hidungku, namun Troy belum puas, ia menendang perutku dengan kakinya sampai aku tersungkur keras dilantai, sebelum aku sadar apa yang terjadi, sesuatu menghantam wajahku dengan keras, aku mencoba sadar namun pandanganku sudah kabur, dan aku baru sadar apa yang baru saja menghantamku iaIah sebuah patahan dari kursi kayu.
Troy memandangku dengan jijik dan aneh. Aku tidak merasakan sensasi itu lagi, hanya ketakutan yang ada pada diriku.
Troy kembali berjalan ke arahku, bersiap mengayunkan kayu itu lagi, namun justin dan Bastian menghentikanya, aku hanya bisa mendengar beberapa kalimat dari mereka tampaknya telingaku terganggu akibat pukulan itu.
"Hentikan!! kau bisa membunuhnya."
"Sudah Troy, kita tinggalkan saja anak bodoh ini. Kita bisa menghajarnya lain kali"
Aku hanya bisa diam memandang ke langit-langit, seluruh badanku nyeri dan mati rasa. Ketika mereka meninggalkanku di tempat ini. jadi, tadi itu apa?
Bobby apa benar kau lahir hanya untuk di hajar, hanya untuk dikatai idiot? Aku kembali memikirkan semuanya, ingatan saat aku dibully sejak kecil tiba-tiba muncul dalam kepalaku, kenapa aku selalu dibully, apa salahku pada mereka, kenapa aku diperlakukan seperti binatang? Benar sepertinya lebih baik aku mati. Untuk apa aku hidup bila hanya mendapatkan semua ini, kulihat patahan kayu itu, aku berusaha bangkit meski rasa nyeri langsung ku rasakan dalam tubuhku,
"Apa aku bisa mati dengan kayu ini, apa bila ku pukulkan benda ini sekuat mungkin ke kepalaku aku bisa langsung mati?" Tiba-tiba aku melihat bayangan ibuku.
"Tidak, aku tidak boleh mati. Aku masih memiliki ibu di rumah yang menungguku pulang. " Hari itu aku pulang ke rumah dengan luka di tubuhku.
*
Satu-satunya yang aku lakukan ketika aku berada di rumah adalah duduk diam menatap teras rumahku dari balik jendela. Ku lihat jam di dinding sudah pukul 10 malam. Ini aneh, seharusnya ibu sudah pulang bekerja, tapi kenapa ia belum terlihat dari ujung jalan ini. Apa sesuatu terjadi kepadanya?
Detik, menit, jam telah berlalu, hingga akhirnya aku melihat bayanganya masuk dan membuka pagar. Aku langsung membukakan pintu, namun, ibu hanya melewatiku dan seolah tidak memperhatikanku, ia menutupi wajahnya dengan sapu tangan.
"Bobby, pergilah tidur ini sudah malam." Perintahnya, suaranya terdengar seperti baru saja menangis, namun aku mencoba untuk tidak bertanya.
Aku berjalan menuju kamarku, diam dan memikirkan semuanya. Tiba-tiba ingatan tentang apa yang Troy katakan terdengar di telingaku.
"IBUMU ITU ******"
"Ibu!!" kataku. Apa sesuatu terjadi kepadanya?pagi itu aku tidak mendengar suara ibu memanggilku, aku melangkah ke luar dari kamar dan menemukanya terduduk lesu di depan meja makan, aku sudah mengenakan seragam sekolahku karena tidak ingin mendengar omelanya, namun tampaknya tidak ada omelan ibuku yang cerewet pagi ini. Ia menatap kosong ke meja makan, disana aku melihat sebuah pistol yang tergeletak.
"Bobby" Katanya pelan, aku tersentak.
Wajahnya sudah ia tutupi, namun lebam itu masih terlihat disana, namun aku berusaha untuk tidak bertanya, ibuku tidak suka aku banyak bertanya.
"Apa kau tidak merindukan ayahmu?"
"Apa?" kataku tergagap.
Sudah lama kami tidak membahas tentang ayah di rumah ini. lalu, kenapa tiba-tiba.
"Sudahlah." ibu kembali tersenyum menatapku.
Namun, entah kenapa senyuman itu terlihat palsu di depanku, itu bukan senyuman milik ibuku.
"Kenapa Bobby? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Ibu, apa kau..?!" kalimatku terhenti beberapa saat. Namun, apa yang baru saja ku pikirkan. Itu tidak mungkin, ibu tidak mungkin ingin mengakhiri hidupnya. Aku mencoba meraih pistol yang ada di depanku dan tepat ketika aku akan meraihnya, tiba-tiba ibuku menampar tanganku.
"JANGAN!!"
Aku terdiam melihat wajahnya, ia menangis, air mata itu.
"IKUTLAH IBU. Ikutlah ibu bertemu ayahmu Bobby, MAUKAH KAU IKUT MATI BERSAMA IBU?"
Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi, karena aku hanya diam melihatnya. Setelah aku sadar, aku menatapnya putus asa, dan berbagai pertanyaan memenuhi isi kepalaku.
"Maaf Ibu, mati bukanlah jalan keluarnya." Dan ketika aku mencoba menghentikanya. ia tersenyum untuk terakhir kalinya.
"Maaf." Dan mengarahkan pistol itu tepat di kepalanya.
"Dorr...!!"
"Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan ibuku!?" Ia tewas dengan kepala berlubang di hadapanku.