WHO Revenge!!

WHO Revenge!!
Aku Kembali Bobby!!



"Aku pernah mendengar, ada seseorang yang bisa membunuh Dr. Alfi Adams, dan nama pembunuh itu begitu asing, bahkan aku juga terkejut, karena setahuku pak tua itu bukan orang yang mudah untuk dibunuh." Ucap pria asing itu,


"Namaku adalah White_Face. Dan aku begitu terhormat bisa bertemu dengan seseorang yang bisa mengalahkan salah satu anggota dari Drug Imagination, namun sayangnya, kau jauh dari yang ku harapkan, kemenanganmu ku rasa hanya sebuah kemujuran dari nasibmu yang cukup baik" Katanya lagi.


Kami hanya saling menatap, dalam jeda itu tercipta keheningan yang sangat senyap, sampai aku bisa mendengar suara detak jantungku yang berdebar-debar. Benar, pria asing yang menyebut dirinya White_Face, dia bukan orang sembarangan, cara dia melihatku dari balik topengnya, seperti hujan intimidasi yang dilakukan Death kepadaku. Kenapa aku bisa gemetar hanya dengan melihat matanya.


"Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan kepadaku?"


"Kepadamu?!" Katanya mengulangi, ia merogoh sesuatu di dalam jasnya, sebilah pisau yang sangat cantik.


"Ini adalah Angle Knife, salah satu dari ratusan pisau koleksiku yang paling aku sukai, aku berhasil mendapatkannya setelah bertarung mati-matian dengan salah satu anggota dari "Hukum Tuhan", hal yang harus kau ingat dari penampilanku yang nyentrik adalah, aku suka dengan aksesoris dari lawan-lawanku, itu memberiku kesenangan karena aku jadi bisa mengingat setiap momen pertarunganku. Jadi Red_Hat" Ucapnya masih dengan nada lembut,


"Kita lihat, apa yang bisa ku ambil darimu"


Dep! Aku tersentak saat melihat sebilah pisau melayang di depan wajahku, dan ketika aku sadar, pria ini mencengkram wajahku dengan tangannya, begitu cepat sampai aku tidak menyadarinya.


"Respon yang menarik. Tidak banyak orang yang bisa lolos ketika aku melemparkan pisauku" Katanya.


la menghempaskan tubuhku, membuatku terbanting dengan sangat keras, lalu menghajar wajahku dengan tangan kanannya, pukulannya begitu intens, namun menimbulkan rasa nyeri yang gila, aku tidak pernah menduga sebelumnya, di balik tubuh kurus itu ada tenaga sebesar ini. Aku menahan pukulan berikutnya menggunakan sikuku, tabrakan antara tulang dan tulang memberiku jeda, meski terasa nyeri namun aku bisa fokus pada tangan kirinya, dengan cepat aku menggigit bagian yang bisa wajahku capai, ia melepaskan cengkramannya dari wajahku dan segera aku memanfaatkan itu untuk menendang perutnya, lalu menjauh darinya sejauh dia tidak bisa menjangkauku lagi.


"Gerakan yang luar biasa, aku terkejut anak sekecil dirimu bisa lolos dari gerakanku yang sudah ku latih ini"


Aku mengambil pisau yang selama ini ku letakkan di pinggangku.


"Black cobra! Itu adalah pisau yang bagus, kecil tajam dan mematikan, terlebih bila kau bisa menggunakannya untuk menggorok leher lawanmu. Kau benar-benar menarik Red_Hat!!"


"Bahaya, pria ini berbahaya!!" Ucapku dalam hati, aku tidak pernah setakut ini bahkan ketika berhadapan dengan Death saat itu, ketakutan ini jauh lebih besar.


"Siapa kau White_Face?"


"Kau ketakutan Red_Hat, apa benar kau ketakutan kepadaku?" Ucapnya, meski ia hanya berdiri dengan tangan kosong, namun tubuhku seolah menolak untuk mendekatinya,


"Jadi kau benar-benar takut ya? Apa kau mau lari? Apa kau akan meninggalkan tempat ini Red_Hat? Kenapa kau tidak menyerangku? Kau bisa membunuh Potato_Head, jadi apa yang kau tunggu, majulah Red_Hat?!"


Entah apa yang ku pikirkan, setelah konfrontasi yang ia lakukan, aku berlari menuju ke arahnya, seolah nafsu kemarahan sudah memenuhi kepalaku, namun seperti yang ku duga, meski ia hanya menggunakan tangan kosong, ia mampu melakukan tindakan yang di luar nalar, ia menerima seranganku dengan tubuhnya, pisauku begitu dalam tertancap di dadanya, anehnya pria sinting ini justru tersenyum, lalu memukul wajahku sangat-sangat kuat. Aku terhempas dengan tubuh menghantam lantai, ia mendekatiku setelah mencabut pisau di tubuhnya, memutar pisau itu di tangannya, seolah benda itu hanya mainan anak kecil.


"Kau naif sekali, kadang kabur adalah rencana yang tidak buruk, kau menyerangku setelah ku konfrotasi, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, sekarang aku jadi bingung. Bagaimana bisa kau membunuh Dr. Alfi, padahal dia sangat kuat."


White_Face kini berdiri di depanku, sementara aku hanya menatapnya dari bawah. Tubuhku terasa kesakitan, ia kemudian membuka kotak snack di wajahnya, dan saat aku melihatnya, aku tidak tau harus mengatakan apa.


Kini aku tidak tau ekspresi apa yang ia tunjukkan. Di balik topeng dari kotak snack itu, terdapat wajah yang mengerikan.


"Dr. Alfi pernah menangkapku, dan kau tahu apa yang dia lakukan pada wajahku, dia menyiram wajahku dengan cairan yang ku perkirakan adalah asam sulfat, aku berteriak sangat-sangat-sangat dan sangat keras, namun aku hanya ingat dia tertawa semakin keras, seolah-olah jeritan rasa sakitku adalah musik baginya, ia terus melakukan itu sepanjang hari, sampai aku lupa rasanya rasa sakit itu sendiri, aku bahkan tidak bisa membedakan bagaimana rasa kematian itu sendiri, hingga dia puas mendengar jeritan rasa sakitku. Aku selalu mendengar dia berbicara. "Bahwa kematian adalah akhir, namun rasa sakit adalah awal dari hal yang kau tidak akan bisa capai sebelum merasakannya."


"Terdengar lucu bukan kalimatnya? Aku selalu dan selalu memikirkan kalimatnya, namun hingga saat ini aku tidak tau makna tersirat dari ucapannya. Suatu hari, ia melepaskanku. Anehnya, saat aku bisa membunuhnya, dan seharusnya bisa, justru tubuhku menolak, ada ketakutan yang begitu besar, yang menjadi penyakit dari pikiranku seolah-olah trauma ini membuatku ketakutan tiap berhadapan denganya. Sekarang aku sadar, bahwa Drug Imagination bukanlah kelampok yang diisi oleh orang-orang sembarangan, hal itu juga berlaku untukmu Red_Hat, ketakutanmu bukanlah hal yang asing, ketakutanmu menandakan bahwa perbedaan kita sangatlah jauh, jadi biarkan aku menghabisimu dengan tenang!!"


White_Face menghujamkan pisau itu tepat di perutku, aku bisa merasakan sakit itu, dan perlahan nafasku mulai tersengal, sepertinya ini adalah akhir dari hidupku. Selama ini, aku jadi mengerti rasa sakit yang ku rasakan rupanya bukan apa-apa ketika kau berhadapan dengan kematian yang sebenarnya, kelopak mataku yang menangkap bayangan wajah buruk itu perlahan Ienyap, kegelapan segera menyelimuti pengelihatanku, dan gelap, sangat-sangat gelap. Kecuali...


"Hai Bobby. Kau merindukan aku?"


Sebuah suara. Aku mendengar seseorang, siapa itu? Siapa yang berbicara itu?


"Ternyata kau sudah lupa denganku. Bobby, bukankah kau pernah bilang kita adalah sahabat selamanya"


"Sahabat? Kapan aku punya sahabat?"


"Lama Bobby, lama kita bersahabat, sebelum kau menutup hidupmu dengan penindasan, sebelum kau mengenal apa itu kasih sayang, sebelum dan sebeIum kau mengenal semuanya, kita adalah sahabat"


Ku buka perlahan mataku, lalu aku melihatnya, seseorang. Ada seseorang yang sedang berdiri di depanku, siapa dia. Siapa yang sudah mengaku menjadi sahabatku. Sipa kau?


"Maukah kau meminjamiku tubuh itu, sebentar saja. Aku hanya ingin memberitahu apa arti rasa sakit pada pria itu?!"


"Meminjam tubuhku?" Kataku bingung.


"Ya Bobby ya. Pinjami aku dan kita ajari apa itu rasa sakit yang sebenarnya."


"Entahlah. Tapi apa kau tau apa itu rasa sakit?"


Siluet asing itu terlihat tersenyum sebelum kegelapan menyelimuti lagi. Lalu.. gelap, gelap, dan aku terbangun dengan nafas tersengal, darah di perutku sudah tertutup oleh sebuah kain hitam. Dan saat aku sadar, aku melihat sesuatu yang mencengangkan, White_Face, ia menunduk di depanku. Dengan kepala tertancap pisau Angle Knife, di wajahnya terukir ekspresi yang mampu ku baca, sebuah ekspresi ketakutan, ketakutan yang menggambarkan kengerian, apa yang terjadi. Bagaimana aku masih bisa hidup. Hingga, aku melihat yang sebenarnya, di tembok belakang tempat ia menunduk di depanku, ada sebuah tulisan yang ditulis dengan darah.


"Bobby, aku kembali."


"Siapa? Siapa yang sudah kembali?" Kataku,


"Apa ini perbuatannya? Apa dia sudah menolongku? Siapa." Sampai aku melihat tulisan di akhir.


"Tertanda. Boddy!!"