
❤️❤️
"Malam Abi,Umi."sapa Pasya tanpa menyapa adik-adiknya dan menarik kursi untuk duduk di tengah-tengah antara Putri dan Haidar.
"Malam syang."jawab Umi dan Abi bersamaan.
"Ka Pasya ko cuman nyapa Abi sama Umi sih ke Putri sama Haidar ko ngga."gerutu Putri sambil menatap pasya kesal.
"Malam adik-adikku syang."sapa Pasya dengan nada ogah-ogahan.
"Malam juga kakak ***."jawab Haidar dan Putri bersamaan membuat pasya memandang adik-adiknya horor sedangkan Abi menatap cengo dengan kelakuan anaknya yang semakin barbar dan sang pelaku hanya berpura-pura tidak dengar karena Umi lah yang menyuruh kedua adik Pasya untuk memakinya dengan kata '***' dan Haidar menurut saja karena yang ia tau kata '***' artinya cantik sekali,sedangkan putri dia hanya tersenyum miring karena dia sudah tau maksud kata '***'.
"Dasar adik laknat."gumam Pasya tidak mau membalas ucapan adik-adiknya.
Pasya memasukkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulutnya. Tidak ikut nimbrung dengan percakapan adik-adiknya yang absurd itu. Sampai pertanyaan Abi membuat kunyahan Pasya terhenti .
"Gimana tadi sekolah pertamanya?"tanya Abi menatap anak gadisnya.
"Lumayan menantang."jawab Pasya santai dan membuat penasaran Abi dan lainnya penasaran.
"Menantang gimana?"tanya adiknya Putri mulai penasaran karena dia tau menantang maksud kakaknya itu pasti sedikit barbar.
"Di hukum 10 kali lari dan bikin anak orang malu."jawab Pasya jujur tidak takut karena pasti Abinya tidak akan marah kalau Pasya tidak cari gara-gara terlebih dahulu.
Semua yang ada di meja makan hanya bisa geleng kepala dengan tingkah Pasya.
"Bagus Haidar suka."Bangganya dan mengangkat 2 jempol untuk Pasya.
Pasya hanya tersenyum miring."Iya dong,makannya contohin dong jejak kakak biar hidup ga monoton terus."hasut Pasya kepada adiknya Haidar.
"Siap boss asal jangan lupa hospotnya."jawabnya dengan nada berbinar.
"Gampang asal lo tiap hari kasih gue permen karet."tukas Pasya dan membuat muka Haidar jadi masam tapi tetap mengiyakan permintaan sang kakak.
"Pasya jangan contohin yang ngga benar ya sama adik kamu dia masih kecil."ucap Abi menceramahi Pasya.
"Aku bukan anak kecil Abi."ucap Haidar dengan menirukan nada seperti tokoh kartun .
"Di ajarin apa de sama ka Pasya?"tanya Umi membuat Pasya gelagapan sendiri dan mengkode Haidar tapi sang empu malah menatap Pasya bingung.
"Ka Pasya ngajarin Haidar kalau di sekolah Haidar harus jahilin temen Haidar katanya biar seru harus taruh permen karet di rambut teman Haidar, Haidar lakuin dong dan temen Haidar langsung nangis terus ngadu sama guru tapi Haidar ga takut di marahin guru juga kan kata Abi Haidar harus berani jangan jadi penakut."celoteh Haidar polos membuat Pasya menyumpah serapahi adik laknatnya itu dan Abi menatap datar anak laki-laki nya sedangkan Umi sudah menatap garang Pasya dan Abi.
"Bohong tuh mi Haidar cuman lagi ngehalu. Pasya suka ngajarin Haidar yang baik-baik ko ya kan de?"ujar Pasya membela dirinya dan menatap Haidar dengan tampang melasnya dan mengkode Haidar tapi yang di beri kode cuman menatap bingung kenapa mata kakaknya jadi kelap kelip.
"Kenapa mata ka Pasya kelap kelip gitu?"kompor adiknya Putri membuat Pasya menatapnya garang sedangkan yang di tatap hanya tersenyum kemenangan.
"Euhh i..iyah ni mata gue kelilipan cabe tar dulu mau di bilas dulu."alibinya dan berpura-pura seakan akan matanya perih tapi ketika dia berdiri dan melepaskan kucekan dari matanya tiba-tiba rasa perih menjalar di matanya.
"Ko jadi perih ya?"batin Pasya bertanya pada dirinya sendiri dan melihat tangannya dan lupa kalau tadi dia ngambil cabai pakai tangan.
"Akhhh Umi perih!!"pekik nya dan berlari tanpa melihat arah menabrak apa saja yang di lewatinya membuat atensi mereka yang di meja makan tertuju pada Pasya.
"Pasya ya ampun kamu apain barang-barang Umi!OMG itu panci kesayangan Umi pasya sampai penyon gitu kamu apain!"histeris Umi melihat barang-barang kesayangan nya sudah berserakan di mana-mana.
Pasya tidak mendengar kan curhatan Uminya karena jujur saja matanya sekarang sangat panas dan membutuhkan air.
"Umiii pliss deh jangan ngoceh dulu tolong dulu Pasya udah ga kuat nih."sela Pasya memotong ocehan uminya.
Sedangkan sedari tadi Haidar cuma kelimpungan mencari air dimana karena otak nya mendadak bleng karena teriakan yang ada di mana-mana dan Haidar pun mengambil asal air di meja dan menyembur asal ke muka Pasya membuat Pasya berhenti teriak karena air mendadak masuk ke hidung nya membuat ia tersedak.
Sejenak suasana mendadak hening dan Pasya sudah mulai bisa melihat walau masih terasa perih dan atensi nya teralihkan ke barang yang di bawa haidar sejenak Pasya menatap adiknya datar karena ternyata air itu adalah es campur buatan Uminya dan sang Umi hanya menatap dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.
"De."ucap Pasya tanpa mengeluarkan suara hanya melakukan gerakan mulut dan mata nya yang melirik ke arah Uminya. Seakan sadar apa yang di maksud Pasya, Haidar pun hanya cengengesan dan bersiap-siap untuk lari sebelum singa keluar dan mengamuk membabi buta.
"KABURRRRR!!!!"Pekik Pasya dan Haidar bersamaan dan setelah itu terdengar teriakan Umi melibihi lolongan serigala.
"PASYA!!HAIDAR!!anak siapa lo semua kenapa suka bikin gue darting!!"teriaknya dan mengubah gaya bahasanya menjadi lo-gue.
"ANAK LIMINHO!!"teriak Pasya dan Haidar bersamaan sambil tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan sedari tadi Putri mengkode ke Abinya untuk segera kabur sebelum mereka kena getahnya.
"Kenapa mata kalian kaya di sumpel upil gajah kelap kelip gitu?"tanya Umi curiga dengan gerak gerik suami dan anaknya.
"Euh itu anu mi aku lupa sekarang ada PR aku ke kamar dulu. Malam Abi Umi."elaknya dan berlalu melewati sang abi sambil memeletkan lidahnya.
"Udah itu muka jangan kaya cacing kepanasan bantuin Umi beresin rumah kalau ngga jangan harap tidur di kamar."titah nya tanpa mengindahkan muka melas dari suaminya itu.
"Ko jadi abi sih mi yang kena getahnya."bela Abi pada dirinya sendiri.
"Beresin atau tidur di luar!"garang Umi sambil menatap tajam kearah suaminya dan Abi pun langsung membereskan apa saja yang ia lihat sambil menyumpah serapahi anaknya yang ga ada ahklak itu.