W E I R D G I R L

W E I R D G I R L
|•Di labrak•|



❤❤


Dua jam Pasya rebahan namun bel istirahat yang ia tunggu belum terdengar juga. Karena Pasya boring dan tidak tau mau ngapain. Pasya mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa pesan untuk Kanaya sahabat nya Pasya dari smp.


Pasya: woy pakabar lu!?


Kanaya: eh Rumiah baru nanya lagi lo! gue kira lu udah mati!


Pasya: Bangke lu!


Kanaya: kemana aja lu ga lagi ngajak gue main!


Pasya: salah siapa juga lu ngga nanya gue lagi sombong banget lu!


Kanaya: gengsi gue kalau nanya duluan hehe✌


Pasya: makan tuh gengsi!


Kanaya: kwkwk udah kenyang gue!


Pasya: ada kabar apa nih lo sekarang?


Kanaya: lo mah ga tau gue sekarang udah punya pacar lagi!


Pasya: Basi punya pacar mulu! Ga bosan apa!


Pasya: kaya gue dong punya hobi baru!


Kanaya: gue baru lepas Status jomblo gue oncom! Gue sekarang mau belajar setia hehe...


Kanaya: Emang hobi lo apaan sekarang?


Pasya: Mamam noh setia!


Pasya: Hobi gue sekarang baperin cowo kalau sudah baper ya gue tinggalin lah lumayan dong dari pada gue boring.


Kanaya:Gue mah dari dulu juga selalu setia!


Kanaya: lo cepet berubah jangan jadi fuckgirl mulu! Ga malu apa?


Pasya: pengen muntah gue dengernya 😍


Pasya: Gue ga niat ya jadi fuckgirl! Cuman cowo nya aja yang datang sendiri udah bagus gue tolak juga gue masih baik ya!


Kanaya: Astagfirullahaladzim asli gue mah selalu setia!


Kanaya: Baik dari mananya woy!


Pasya: ya gue percaya kalau 4 bulan lo setia, tapi kalau udah bosan SETIA lo jadi Selingkuh tiap Ada waktu!


Pasya: ya baik lah kan gue ga kelamaan baperin nya Coba gue kalau terima terus si doi baper abis sama gue kan bisa gila dia kalau gue tinggalin!


Kanaya: *** lu! Kalau ngomong suka bener😑


Kanaya: ingat syang karma tak senikmat kurma! Tak semanis gue dan Tak sepahit muka mantan*!


Pasya mengedikkan bahunya acuh dia sama sekali tidak takut dengan karma karena dia sudah kebal dengan namanya sakit hati.


Pasya menutup room chat dirinya dengan Kanaya, salah satu sahabat paling terdekat dan sama-sama barbarnya dengan Pasya sewaktu SMP. Kanaya sendiri saat ini sedang berada di Bogor karena sedang mengikuti Lomba balap motor dan tidak mengikuti kegiatan MOS oleh karena itu Kanaya dapat membalas chat dari Pasya.


Kanaya sendiri tidak sekolah yang sama dengan Pasya sekarang,dia sekolah di SMA bukan SMK.


Pasya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku baju dan melangkah keluar UKS,karena lima menit yang lalu bel tanda istirahat telah berbunyi.


"Ngapa tu orang-orang pada natap gue kaya mau mangsa gue aja sih. Bikin tangan gue gatel aja pen nyongkel matanya." Batin Pasya dan mencoba acuh tidak mengindahkan tatapan seisi kantin.


Pasya melangkah menuju stan batagor dan memesan satu porsi batagor dan teh manis.


Setelah mendapatkan makanan yang Pasya inginkan,ia memilih duduk sendiri di pojok kantin.


Sejenak pasya memperhatikan banyak orang yang masih melihatnya dengan tatapan tidak suka untuk kaum hawa namun bagi para kaum adam banyak yang melihatnya secara terang-terangan dan menatap kagum. Pasya mencoba santai dan segera memakan makanannya karena jujur Pasya sekarang sangat lapar.


"Woy sya!!"teriak Sisca membuat Pasya tersedak batagornya dan jangan lupakan seisi kantin menatap Pasya dan Sisca dengan pandangan yang berbeda-beda tapi yang membuat perhatian tertuju kepada meja yang di duduki pasya adalah adanya sang ketos. Kevin!


Kevin yang melihat Pasya tersedak segera memberikan minuman yang ada di meja dan menepuk halus punggung Pasya.


"Ukhuk ukhuk ...Sis lo mau bikin gue mati karena kesedak batagor hah! Ga etis banget bikin gue malu aja sih!"gerutu Pasya kesal setelah kerongkongan nya tidak perih lagi.


"Ya..ya maaf Sya gue kira lo ga akan kaget gue kagetin."kikuk Sisca merasa bersalah namun tak urung dia tetap ketawa dan segera duduk berhadapan dengan Pasya.


"Ck bikin mood gue tambah ancur aja lo!"kesal Pasya dan lebih memilih memakan lagi batagor nya dan tidak menyedari kehadiran Kevin yang ada di belakangnya. Seakan sadar ada hal yang ganjal memenuhi pikirannya,ia melihat ke kanan dan kiri kantin melihat siapa orang yang beri dia minum namun yang di cari tidak ada membuat pasya harus menanyakan kepada sisca.


"Sis! Perasaan tadi ada yang ngasih gue minum,tapi orangnya kemana ya? Gue inget ko yang ngasih orang lain cuman gue ga liat mukanya." Tanya Pasya bingung .


Sisca bukannya menjawab dia malah mengkode Pasya dengan matanya yang mengarah kebelakang seakan mengerti apa yang di maksud Sisca, Pasya segera membalikkan badannya dan disana Pasya melihat sosok tampan namun datar yang ternyata adalah Kevin.


**** kevin! Batin Pasya sambil tersenyum kikuk.


"Udah mendingan?"tanya Kevin membuat Pasya gelagapan sendiri.


"Hmm."dehem Kevin dan berlalu begitu saja menyisakan Pasya yang cengo karena sikap Kevin dan jangan lupakan Sisca yang sudah tertawa ngakak setelah kepergian Kevin.


"Bhahaha... gimana Sya rasanya di cuekin?"tanya Sisca dengan tawa yang belum berhenti membuat pasya kesal bukan main.


"Sialan lu!"umpat Pasya tidak menjawab pertanyaan Sisca yang jelas pasti semua orang tau kalau di cuekin itu rasanya kesal bukan main.


"Haha iya iya slow dong bep. Eh btw beneran lo tadi adu jotos di kantin sama Vino dkk?"tanya Sisca setelah tawanya mereda di gantikan dengan rasa penasaran nya.


"Heem..lo bisa lihat sendiri muka gue ada yang biru nya."jawab Pasya membuat Sisca menjerit histeris karena baru sadar muka manis dan cantik Pasya yang babak belur namun sialnya tidak mengurangi kecantikannya malah kelihatan keren dan menambah kesan bad.


"Ya ampunnnn!! Pasya! Lo ga syang apa sama muka lo!"pekik Sisca membuat Pasya harus menutup telinga dan menundukan wajahnya karena malu dengan tatapan orang-orang.


"***! Bisa ga sih lu jangan malu-maluin gue."tajam Pasya membuat Sisca nyengir ga bersalah .


"Hehe refleks gue tuh." Pasya hanya memutar bola matanya malas dan lebih baik melanjutkan makannya yang sempat tertunda beberapa kali karena ocehan sisca.


Brak!


Pasya memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak emosi karena makannya sekarang terganggu lagi.


" Lo adek kelas yang berani nyari masalah kemarin sama Indri kan!" Bentaknya dan mendorong bahu Pasya membuat ia berdiri dan membersihkan baju yang ternyata di sentuh oleh yang namanya Bela,seakan yang ada di bajunya adalah kuman.


"Kalau iya kenapa?"tantang Pasya membuat Bela dan antek-anteknya naik pitam.


"Baru jadi adik kelas juga udah belagu lo! Ga takut apa lo sama kita-kita!" Bentak antek-anteknya yang bernama Claudia.


"Siapa lo? Kenapa gue harus takut sama cabe-cabean kaya lo pada!" Pasya tertawa meledek.


"Gue disini senior yah! Lo seharusnya hormatin kita!" Bentak Indri yang sedari tadi diam dan memandang Pasya penuh dendam.


"Uhhhh ini kan ka Indri yang terhormat yang sudah aku permaluin kemarin ya? Sekarang ngajak orang lain ya buat ngejatohin gue? Kemarin STUPID! Sekarang apa lagi ? Oh iya apa ga mampu ya buat jatuhin satu adik kelas makannya bawa antek-anteknya?" Ejek Pasya membuat Indri kesal dan menjambak rambut Pasya dengan brutal. Pasya hanya diam dan menatap lurus ke depan menepiskan rasa sakit dan sensasi pusing di kepalanya. Sisca yang tidak tega melihat Pasya di jambak tanpa perlawanan mau maju membantu namun karena seruan Pasya niat Sisca jadi urung dan hanya menonton dengan perasaan kalut.


"Tetap disitu!"titah Pasya tegas.


"Haha kenapa lu?sakit hah! Ini ngga sebarapa *****!" Maki Indri membuat Pasya naik pitam dan mencekal pergelangan tangan Indri dengan kuat yang otomatis jambakannya terlepas.


Plak!"ini buat lo yang so jadi senioritas!"


Plak!"ini buat lo yang udah gangguin makan gue!'


Plak!"ini buat lo yang udah jambak


rambut gue!


Plak!" Dan ini yang terakhir karena lo udah sebut gue '*****'!"


Indri langsung terjatuh dengan keadaan muka yang mengenaskan para antek-anteknya yang mau membantunya urung karena seruan Pasya.


"Kalau kalian bantu teman kalian gue ga akan segan-segan buat kalian lebih kaya yang dia rasakan."semua temannya Indri pun tidak berani maju untuk membantunya semua pergi dengan perasaan takut dan menyesal karena telah beurusan dengan sosok Pasya, menyisakan Indri yang sudah menatap takut Pasya.


Pasya segera menjambak rambut Indri ke belakang dan menatap tajam Indri membuat ia tak kuasa menahan tangisnya.


"Gue tau lo lebih tua dari gue,tapi lo songong!"bentak Pasya dan melepaskan jambakannya pindah ke dagu menekannya dengan kuat membuat mau tidak mau Indri harus menatap muka Pasya.


"Ingat! Mau lu tua mau lu muda kalo bacotnya ga ngenakin mah gue ogah ngehargainnya juga!dan sekali lagi lo bikin gue kesal dan cari gara-gara sama gue siap aja gue akan lakuin yang lebih dari ini!"bentak Pasya dan berlalu meninggalkan kantin dengan perasaan kalut di ikuti oleh Sisca,dan sedari tadi aksi Pasya ternyata dilihat oleh banyak orang termasuk Kevin dan para sahabat nya.


"Anjai tu cewe berani banget sama kakak kelas! Suka gue!" Seru Rangga dan mendapat jitakan dari teman sebelahnya yang ternyata namanya Rifan.


"Iyah ***** gue juga suka!"ucap Rifan yang ternyata sama-sama kagum.


"Sue lu! Gue kira lo jitak gue karena ga suka!"toyor Rangga balik dan Kevin sedari tadi cuman menatap pasya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.


Aksi Rangga dan Rifan terhenti karena sedari tadi mereka melihat Kevin yang diam dan menatap Pasya tanpa berkedip.


"Woy vin!"teriak Rangga namun tak di gubris oleh Kevin.


Karena kesal tidak ada sahutan dari Kevin, Rangga dan Rifan melempar kacang yang langsung membuat Kevin menatap sahabat bangsatnya dengan tatapan tajam.


"Apa!"ucapnya datar.


"Ckk lo kenapa mandang tu adkel kaya demen gitu?"tanya Rifan dan di hadiahi anggukan oleh Rangga karena dia juga pengen menanyakan hal yang sama.


"Ngga."jawabnya datar dan berlalu begitu saja meninggalkan Rangga dan Rifan yang sudah mengumpat nya dengan berbagai jenis hewan.


"Sialan punya sahabat dingin nya ga ketulungan Untung gue sabar." Umpatnya dan mengelus dadanya namun tetap tidak berhenti mengoceh.


Bel tanda istirahat telah berakhir. Semua peserta MOS diharapkan berkumpul di Aula untuk mendengar kan penuturan dari Kepala Sekolah dan Ketua OSIS.


Hingga beberapa jam kemudian, semua peserta di pulangkan. Pasya tampak menunggu bus di halte. Setelah bus datang ia bergegas masuk dan berencana untuk segera pulang.


 


'Hari ini semuanya terasa lieur!'