W E I R D G I R L

W E I R D G I R L
|•Beneran suka?•|



❤❤


Pasya telah sampai di rumah minimalis yang di dominasi warna putih dan krim serta taman indah dan rapi di depannya.


"Umi pasti bakal introgasi gue sekarang." Gumam Pasya dan menarik napas bersiap-siap menerima siraman rohani dari sang Umi.


Sesampainya di pintu Pasya segera masuk dan tak lupa mengucapkan salam.


Cklek


"Assalamualaikum."ujarnya dengan lesu


"Waalaikumsalam." Teriak umi dari arah dapur dan menghampiri sang anak.


"Udah pulang ka?"tanya Umi membuat Pasya mendengus sebal karena pertanyaan Uminya.


"Ckk Umi mah, kalau Pasya belum pulang Pasya ga mungkin disini mi."jawab Pasya kesal dan mencium tangan Umi dengan pandangan tetap ke bawah supaya tidak kelihatan muka Pasya yang sudah babak belur namun tetap Pasya menyembunyikan bagaimana pun juga Uminya dapat melihat dengan jelas wajah yang lebam dan jangan lupakan penampilan Pasya yang sudah tidak bisa di katakan seorang pelajar.


"Ya ampun Pasya ini muka kamu kenapa? Masa kamu di hukum sampai segini nya sih?"khawatirnya dan memegang dagu sang anak melihat banyak nya luka di setiap wajahnya.


"Pasya berantem."gumam Pasya yang masih terdengar jelas oleh Umi.


"Berantem? Sama siapa kamu berantem? Sama cewe? Tapi kenapa bisa segini nya? Atau kamu berantem lagi sama cowo? Sakit ga? Aduh syng kenapa kamu dari dulu suka berantem sih? Ga sayang apa tuh muka jadi kaya badut gitu!" Omel Umi Pasya tanpa jeda membuat Pasya jengah dan mencoba untuk tetap sabar.


"Pasya berantem sama cowo yang kurang ajar sama Pasya. Terus udah berantem sama cowo Pasya berantem lagi sama cewe. Gapapa bonyok juga yang penting Pasya tetap cantik."jawab Pasya membuat Uminya geleng-geleng kepala dengan kelakuan anak gadisnya.


"Pasya,kamu itu perempuan. Perempuan pantang banget dengan namanya berantem dengan cowo apalagi jotos gitu. Banyak di luaran sana yang ngga mau wajahnya kaya kamu nah kamu malah santai banget ngga malu apa keluar mukanya kaya gini?"celoteh nya masih tidak puas menceramahi Pasya membuat ia jengah sendiri.


"Ckk mi Pasya itu bukan kaya cewe-cewe di luaran sana yang ada luka dikit nangis kejer-kejer. Muka Pasya kaya gini juga udah biasa lagian udah lama juga Pasya ga berantem lagi. Udah Pasya mau ke kamar dulu Pasya cape mau tidur ntar bangunin aja pas mau maghrib."ujarnya dan melangkah pergi ke kamar setelah mencium sekilas pipi Uminya, menyisakan Umi Pasya yang menghela napas dan mencoba sabar dengan kelakuan anak gadis yang sangat barbar itu.


Setelah menyimpan peralatan sekolah nya pasya segera menuju kamar mandi,beberapa menit kemudian Pasya keluar dengan wajah yang sudah terlihat segar.


Pasya segera memakai baju dengan kaos oblong yang menutupi pahanya dan hanya menggunakan celana pendek sepaha serta mencepol asal rambutnya yang memperlihatkan leher jenjang mulusnya.


Pasya memandang dirinya sendiri di cermin dia melihat kondisi wajahnya dan malah membuat Pasya tersenyum manis sambil sesekali tertawa.


"Karya yang kurang indah."gumamnya dan segera melangkah menuju kasur nya untuk segera mengistirahatkan pikirannya yang sialnya hari ini adalah hari tersialnya Pasya.


Tidak lama setelah pikirannya berkelana dengan kejadian tadi siang di sekolah dengan sosok yang datar dan dingin itu,terdengar dengkuran halus dari gadis berparas cantik itu,dia sudah mengarungi mimpi dengan posisi tidur yang tidak bisa di katakan tidur seorang gadis.


Sedangkan di tempat lain tepatnya di tempat tongkrongan nya Kevin dan para sahabat nya. Ada lelaki yang terus memikirkan gadis yang selalu memenuhi pikirannya sampai Rangga yang berceloteh dan bertanya tidak ia indahkan sama sekali.


"Lo masih ingat ga cewe tadi yang berantem sama Indri dkk?"tanya Rangga pada kevin dan Rifan.


"Inget. Emang kenapa dia? Mau lo gebet? Mana mungkin dia mau sama anaconda kaya lu!" Ujar Rifan membuat Rangga berdecak kesal tapi ta urung juga ia menceritakan sosok Pasya yang ia tau.


"*** lu! Ternyata nama dia tuh Pasya,terus katanya dulu waktu di Smp dia anak yang pinter tapi nakal nya ga ketulungan. Katanya juga dia bisa nyanyi. Terus punya sahabat yang sama-sama nakal tapi temennya itu kaya tomboy dan pembalap cuy cantik lagi tapi sih masih cantikan Pasya kemana- mana!" Cerita Rangga membuat kevin tertarik dan menatap Rangga dengan pandangan ingin tau.


"Tau dari mana ?" Tanya kevin membuat Rangga dan Rifan curiga bahwa sahabat nya yang dingin ini pasti menyukai Pasya.


"Ck kalau udah bahas soal tuh cewe lo langsung nyahut. Kelihatan banget kalau lu suka sama dia."decak Rifan membuat Kevin kesal karena pasti sahabat nya akan beranggapan seperti itu .


"Tu anak udah terkenal ke sekolah yang lain juga, dia tuh bukan nakal kaya cewe pada umumnya yang suka main sama cowo atau minum-minum di club. Cuman dia tuh ga suka peraturan sekolah dan sekolah ga bisa ngeluarin Pasya dan temannya itu karena mereka aset sekolah kan mereka yang selalu ikut lomba antar sekolah dan sekolah nya selalu menang. Apalagi suara nya pasya merdu banget dan dia juga suka nyanyi di Cafe tapi katanya udah ga manggung lagi karena bokap nya nyuruh dia berhenti. " Jawab Rangga dengan cerita yang ia dapatkan entah dari mana.


" Iya pantesan banget dia kelihatan bad gitu tapi sumpah gue lihat dia malah kelihatan imut dan gue salut juga dengan keberanian nya."ucap Rifan memuji Pasya sambil membayangkan sosok Pasya.


"Btw vin lo tau ga dia masuk jurusan apa?"tanya Rangga


"Palingan dia ambil jurusan akutansi apalagi kata lo dia pinter pasti dia masuk kesana." Tebak Rifan dan di angguki oleh Kevin juga Rangga.


"Gue cabut duluan." Ujarnya dan bertos ria ala lelaki pada umumnya.


Setelah Kevin pergi Rangga dan Rifan hanya mengedikkan bahunya acuh karena itu udah kejadian biasa bagi mereka.


Sementara itu di rumah kediaman Armand di ruang keluarga terjadi adu bacot antara Haidar dan Pasya.


"Muka ka Pasya di lukis sama siapa tuh? Ko kaya masih amatir gitu ngelukis nya?"tanya Haidar membuat seisi rumah ketawa termasuk pembantu di rumah Pasya yang mencoba menahan tawanya.


"Adik siapa lu? Ko pinter amat bacotnya?" Tanya Pasya sambil menelusupkan muka Haidar ke ketiak Pasya dan menjepitnya membuat Haidar sesak bukan main.


"Ya ampunnnn ka! Hidung mancung aidar bisa pesek nih! Nanti Haidar ga ganteng lagi."pekik nya namun tak di indahkan oleh Pasya.


"Pasya lepasin adik kamu, kasihan tuh mukanya udah merah gitu."titah Abi membuat Pasya melepaskan adiknya itu padahal ia belum puas membuat adiknya itu menderita.


"Bebas lo sekarang. Tapi kalau ga ada Abi, gue bikin lo kaya ayam penyet!"ancamnya namun tidak membuat haidar takut.


"Udah-udah jangan ribut mulu!ga bisa apa sehari aja kalian pada akur?"jengah Abi dengan kelakuan anak-anaknya.


Pasya, Haidar,dan Putri saling bertatapan Seakan berpikir 'akur'? Sama aja kaya nunggu anak ayam melahirkan pikir mereka bertiga.


"Mustahil !" Ucap mereka bertiga bersamaan dan mereka pun saling pandang dengan tatapan permusuhan.


"Ckk dasar! Lagian itu muka kamu kenapa ka? Ko bisa gitu?"tanya Abi karena baru sadar muka Pasya ada luka lebamnya.


"Anak kamu berantem lagi bi." Jawab Umi membuat Abi menatap anak gadisnya itu jengah dengan kelakuannya yang seperti bukan anak gadis.


"Astagfirullahaladzim Pasya! Baru juga Abi bilang kemarin jangan bikin ulah kamu ga dengerin Abi yah?"


"Pasya ngga bikin masalah! Pasya cuman Bela diri aja. Masa Pasya diem aja gitu di lecehin sama anak cowo. Abi tau kan kalau Pasya ga suka di pegang sama cowo apalagi tadi dia colek dagu Pasya terus mereka bilang Pasya suka main sama om-om. Karena pasya kesal yah Pasya pukul dia." Cerita Pasya membela dirinya sendiri karena tidak mau Abinya salah paham.


"Terus siapa yang menang ka?"tanya Haidar antusias.


"Menurut lo? Ya pasti gue lah!" Songong Pasya membuat Haidar berdecak kagum dengan sosok kakaknya itu.


"Wiss besok-besok ajarin Haidar adu jotos ya ka! Biar Haidar bisa pukulin anak songong itu!"serunya dan di hadiahi acungan jempol oleh Pasya.


"Ckk diam dulu de! Abi lagi bicara sama kakak mu."membuat Haidar diam karena takut dengan tatapan Abinya.


"Huhhh.. iya maafin Abi, Abi pikir kamu bikin ulah duluan. Abi bangga sama kamu kalau kamu bisa jaga diri tapi Abi ga mau kamu kenapa-kenapa sya."khawatirnya


"Abi,pasya udah besar. Pasya bisa jaga diri, Abi sama Umi ga perlu khawatir toh Pasya udah biasakan malahan ini mah ga seberapa bagi Pasya. Kata abi juga kan pasya harus berani ga boleh takut."jawab Pasya mencoba menepiskan ke khawatiran orang tuanya.


Abi dan Umi hanya bisa menghela napas anaknya ini sangat keras kepala mereka rasanya sudah jengah dengan kelakuan anak gadisnya itu.


"Ya udah ini udah malam kalian pada tidur besok kan sekolah."titah Abi dan di angguki oleh anak-anaknya.


"Ya udah Pasya ke kamar duluan,malam Abi Umi."pasya berdiri dan mencium pipi kedua orang tuanya di ikuti oleh adik-adiknya.


"Malam syang."jawab Abi dan Umi bersamaan.