
Suasana mendadak menjadi canggung dan tidak lama mereka mendengar isakan dari orang yang mereka sayang.
"Hiks...hiks..hiks.."isak Pasya terdengar pilu membuat anak PISTON khawatir dan Ale langsung mendongakan kepala Pasya yang ternyata masih terlelap.
"Kenapa Le?"tanya Kanaya khawatir langsung menghampiri Pasya.
"Ga tau kayanya dia mimpi deh tapi ko Princess sampai ngeluarin air mata ya?apa dia mimpi buruk."jawab Ale khawatir karena Pasya sampai keluar keringat dingin.
"Coba bangunin dulu Bang."titah Sisca dan di angguki oleh Ale.
"Syng, Princess abang bangun."menepuk pipi Pasya dengan halus membuat sang empu terjaga dari tidurnya.
"Kenapa hmm?kamu mimpi ya?mimpi apa syang ko sampai nangis gini?"tanya Jerry khawatir sambil mengelus rambut Pasya yang sudah keringetan.
"Hiks..Bang Pasya ga mau sakit lagi, Pasya mau bahagia terus, Pasya pengen kaya dulu lagi."histeris Pasya membuat anak PISTON sedih dan segera menghampiri Pasya.
Sedangkan ketiga lelaki yang sedari tadi memperhatikan Pasya hanya memandang bingung dan bertanya-tanya,apa yang membuat gadis manis ini seperti orang yang sangat tersakiti.
"Udah syang jangan di ingat lagi yah,jangan sedih disini ada abang."ucap Riko menenangkan Pasya dan mengambil alih pangkuannya dari Ale.
"Pasya mau pulang Bang, Pasya pusing banget."pinta Pasya dengan isakannya membuat semuanya menjadi khawatir akan kondisi Princess mereka.
"Ya udah, Princess nya jangan nangis dong nanti abang-abang Princess jadi ikutan sedih nih."bujuk Jerry dan di patuhi oleh Pasya dia sudah berhenti menangis dan membenamkan kepalanya di dada bidang Riko.
"Ya udah ayo kita pulang."titah Ale namun Sisca mencegah anak PISTON karena khawatir dengan kondisi Pasya kalau naik motor.
"Bang,sebaiknya kita cari taksi aja,bahaya kalau Pasya naik motor dan kayanya Pasya ga enak badan."di angguki oleh semua anak PISTON.
"Sama gue aja."itu adalah suara Kevin.
"Gak,gue ga percaya sama lo!"sergah Jerry masih kesal.
"Udah deh Bang gue kenal baik ko sama ka Kevin dia itu emang gitu tapi dia baik ko."bujuk Sisca meyakinkan anak PISTON dan di angguki oleh mereka karena tidak mau terjadi apa-apa sama orang yang mereka sayang.
"Ya udah gue percaya sama lo. Jagain Pasya,awas aja kalau Pasya lo apa-apain."tegas Riko dan di angguki oleh Kevin.
Kevin segera melangkah keluar di susul anak PISTON lainnya. Segera dia menuju ke parkiran dan menyalakan mobilnya lalu Kevin bawa ke depan cape dan pintu samping kemudi di buka oleh Ale dan Riko segera mendudukan Pasya dengan hati-hati.
"Syang kamu gapapa kan?"khawatir Riko karena melihat mata Pasya yang menatap kosong.
"..."masih tidak menyahut.
Riko menepuk pipi Pasya dengan lembut membuat sang empu sadar dan langsung menunjukkan senyum palsunya.
"Pasya gapapa ko,abang pulang aja ya,ga usah khawatirin Pasya, Pasya udah ga sedih lagi nih."menatap Riko dengan senyuman fake nya.
Riko hanya tersenyum getir dan langsung mengecup dahi Pasya dengan sayang.
Riko mengalihkan tatapannya dari Tapasya ke Kevin dengan tajam.
"Gue percaya sama lo. Jagain ade gue."tegasnya dan hanya di jawab anggukan oleh sang empu.
"Ya udah hati-hati ya Princess."lirihnya dan mengacak rambut Pasya membuat Pasya terkekeh pelan dan menghadiahi satu kecupan di pipi Riko.
"Dah abang-abangnya Pasya!"pamit Pasya mencoba tersenyum manis untuk membuat mereka tidak khawatir dengan keadaanya.
"Dah Princess!hati-hati sayang!"teriak anak PISTON bersamaan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat yang menjadi banyak tanda tanya orang yang sedari tadi diam memperhatikan karena banyak kejadian yang membuatnya ingin mengenal sosok Pasya.
Kanaya, Sisca, Rangga, Rifan dan anak PISTON memandang kepergian Pasya dan Kevin dengan sendu.
Namun tanpa hormatnya suasana yang tadinya sedih berubah menjadi banyaknya adu bacot.
"Eh bentar-bentar,fan tadi kita kesini naik apa?"tanya Rangga
"Naik mobil."jawab Rifan belum mengerti apa maksud pertanyaan dari Rangga.
"Gue tau ogeb!"kesalnya menoyor kepala Rifan dengan sayang.
"Yah terus ngapa lo tadi nanya oncom!"kesal balik Rifan membuat Rangga yang malah kesal nambah sayang.
"Lo ga sadar kita di tinggalin ama tuh balok es!"
"Oh."jawab Rifan masih belum paham.
30 detik kemudian
"Whattt! Jadi kita di tinggalin Ga?"tanya Rifan dengan tololnya.
"Kemana aja lo dari tadi!"kesalnya bukan main.
"Lo ga lihat gue dari tadi disini sama lo?"tanya Rifan balik membuat anak PISTON yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka jengah karena ada acara tanya jawab antara kecebong dan Kodok.
"Ck udah deh ga usah lebay lo pada!kalian barengan aja sama Naya ama satu lagi tuh siapa gue belum tau lupa lagi namanya."lerai Jerry dan orang yang di sebut oleh Jerry hanya menatap penuh permusuhan.
"Ko gue sih!"pekik Kanaya dan Sisca bersamaan.
"Sekalian aja Nay buat jaga kalian berdua."sahut Jerry dengan santai tidak mengindahkan muka kesal kedua cewe itu.
"Yang ada gue yang jagain ni anaconda!"kesal Kanaya dan memandang bengis cowo yang sedari tadi sudah seperti anak hilang.
"Gini aja lo bawa motor gue aja,besok kan sekolah kalian bawa aja tapi awas ya kalau motor gue sampai hilang!"saran Sisca di hadiahi anggukan mantap oleh Kanaya.
"Yah ga jadi dong naik motor bareng ama yang manis malah dapet yang pahit lagi."lesu Rifan membuat Rangga mencebikkan bibirnya kesal.
"Lo yang pahit gue mah asem aja!"sahut Rangga dan segera melangkah mengambil kunci yang sudah di sodorkan oleh Sisca sedari tadi.
"Nyadar juga kalau lo emang asem!"gumam Rifan di belakang Rangga.
"Ya udah gue cabut duluan, makasih."Ucap Rangga tak lupa mengedipkan matanya dengan genit yang malah membuat Sisca salting sedangkan Kanaya sudah memasang wajah pengen muntah.
"So ganteng amat tu orang!"maki Kanaya setelah Rangga dan Rifan sudah berjalan ke parkiran.
"Emang ganteng."celetuk Sisca tanpa melihat kawan bicara karena sedari tadi terus memperhatikan punggung Rangga yang sudah jauh.
"Selera lo rendah!"
"Tau gue mah selera lo tinggi beda sama gue yang hanya bubuk rangginang."dramatis Sisca membuat Kanaya memutar bola matanya.
"Bang Naya sama ni curut pamit pulang duluan ya besok kita sekolah hehe."pamitnya dan segera memeluk anak PISTON sebagai bentuk tanda perpisahan sedangkan Sisca hanya melihat saja dengan hidmat.
"Ya udah sana pulang hati-hati ya,jaga kesehatannya."tutur Riko dan mengacak rambut Kanaya dengan sayang.
"Lo ga mau di peluk?"tanya Jerry yang sedari tadi memandang Sisca kasihan karena dia seperti hanya seekor nyamuk.
"Hehe lain kali aja gue belum terbiasa."gugup Sisca malu-malu kucing membuat Kanaya mendengus dengan sikap sahabatnya itu yang fakta nya biasanya Sisca selalu malu-maluin.