
Hari ini tiba saatnya perjuangan dimulai,gadis yang sudah memakai seragam dari SMK YSB itu telah siap untuk pergi ke sekolah di hari pertamanya.
Namun yang membuat sekeluarga geleng-geleng kepala adalah cara pakaian gadis itu yang tidak bisa di katakan rapih.
Bayangkan saja baju yang di keluarkan tapi pas body,rok yang pendek di atas paha,dan jangan lupakan dasi yang gadis itu ikat di kepalanya,kancing baju atas terbuka 2 dan memperlihatkan kaos hitam yang di pakai gadis itu,dengan topi sekolah yang ia pakai terbalik,namun tidak membuat kadar kecantikannya luntur,yang ada malah nambah cantik sekaligus orang yang melihatnya gemas tapi tidak dengan sang Umi.
"Ya ampun Pasya kamu mau sekolah apa mau tawuran sih!"seru Umi melihat penampilan anaknya dari atas sampai bawah.
"Hmm.."Pasya berdehem dan seolah sedang berpikir,"kayanya dua-duanya deh."jawab Pasya santai dan segera mengambil nasi juga lauk pauknya santai tidak mengindahkan ekspresi Uminya.
"Huahhh ka Pasya keren!"pekik haidar ketika telah sampai di meja makan dengan penampilan muka yang di kasih pupur belepotan kemana-mana.
Pasya menatap adiknya lalu tersenyum bangga."Iya dong harus,biar kelihatan songongnya!"sahut Pasya menghasut adiknya dengan ekspresi yang seolah sedang bergaya.
"Apaan modelan udah kaya pereman gitu aja bangga!"ejek Putri dan memandang sinis ke arah Pasya.
"Serah gue dong! Abi juga ga protes tuh!"sungut Pasya tidak terima di ejek seperti itu.
"Udah jangan berantem!cepetan makannya abisin biar nanti Abi anterin kesekolah."lerai Abi dan semua anaknya hanya bisa patuh dengan perintah Abi nya itu.
Acara makan keluarga Armand telah selesai semua anaknya berpamitan ke kanjeng ratu mereka untuk pamit sekolah dan Abi yang berpamitan untuk kerja.
"Pasya berangkat sekolah dulu mi."pamit Pasya sambil menyodorkan tangannya di susul oleh adik-adiknya.
Umi yang melihat itu dengan senang hati menyambut tangan anak-anaknya.
Sedangkan Pasya hanya mendengus dan mencium tangan Umi lalu menjulurkan tangannya lagi membuat Umi Bingung di buatnya.
"Kan tadi udah salim nya,kenapa minta salim lagi?"tanya Umi yang seperti tidak tau tabiat anaknya itu.
"Uang jajan mi!dari kemarin ga peka wae!"kesal Pasya mencebikkan bibirnya.
"Oh..."sahut Umi dengan santai dan merogoh uang yang sudah di siapkan untuk anaknya.
"Nih,kirain Umi kamu lupa gitu kan lumayan buat Umi beliin panci yang kamu udah bikin penyon."sindir Umi sambil menyerahkan dua lembar uang merah kepada anaknya.
"Ck cuman panci doang mah kecil,ntar kalau Pasya punya uang,Pasya ganti deh yang banyak biar Umi puas!"tutur Pasya dan segera menghampiri Uminya lalu mencium pipi nya sekilas dan pindah menarik lengan Abi.
"Emang kamu bisa dapet uang dari mana orang masih minta jajan sama Umi juga."kekehnya
"Gampang,tinggal malak aja!"sahut Pasya membuat Umi nya sudah geleng kepala dengan kelakuan anaknya itu.
"Abi ayo,nanti Pasya telat nih!"rengek Pasya menarik tangan Abi dan di hadiahi gelengan kepala dengan tingkah anaknya yang mendadak manja lagi.
Bukannya menuruti pinta sang anak, Abi malah menghampiri sang Umi lalu berpamitan tak lupa mencium kening istri dengan sayang.
Pasya yang melihat itu sontak menutup mata haidar yang sedari tadi memperhatikan.
"Ish...kalau mau adegan kaya gitu jangan di hadapan anak kecil dong!ga suci lagi ni mata aku!"cicit Pasya mencebikkan bibirnya kesal.
"Huhhh...ganggu aja sih tu anak!"gumam Abi membuat Umi terkekeh pelan.
"Ya udah Pasya sama Abi berangkat dulu. Assalamualaikum Umi!"pami Pasya dan menarik lengan Abi dengan paksa.
"Waalaikumsalam hati-hati!"teriak Umi ketika anak gadis dan suaminya sudah aga jauh.
Kalau kalian nanya adik Pasya berangkat sama siapa? Jawabannya adalah sama sang Umi.
***
"Tuh kan apa Pasya bilang pasti Pasya kesiangan!"kesal Pasya yang malah membuat Abi terkekeh pelan.
"Haha gimana sih,bukannya udah biasa kalau kamu sekolah selalu ketinggalan?"bingung Abi dengan tingkah anaknya.
"Iya juga ya..."gumam Pasya dan memandang pagar yang menjulang tinggi itu dengan tatapan berbinar.
"Hehe lupa... Pasya pikir Pasya anak rajin."cengengesnya membuat Abi mendelik kesal dengan pernyataan anaknya.
"Udah sana Abi lihatin dari sini aja,mau lihat seberapa badungnya anak Abi."tantang Abi kepada anaknya membuat Pasya tersenyum miring dan segera mengecup pipi Abi sekilas lalu segera keluar dari mobil dan melangkah dengan santai menatap pagar yang menjulang itu dengan remeh.
"Ckk cuman beda dikit aja tingginya sama waktu SMP."remeh Pasya dan segera memanjat pagar itu dengan santai.
Abi yang melihat anaknya seperti itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan terkekeh geli karena sifat badungnya ternyata menurun ke anak gadis nya itu.
Setelah sampai di atas Pasya menatap sang Abi dengan pandangan seakan bangga dan segera memberi ancang-ancang untuk melompat.
Pasya meneguk ludahnya kasar karena ternyata dilihat dari atas ke bawah pagar ini bisa dikatakan sangat tinggi.
"Ya allah tolong hamba mu yang imut ini."do'a Pasya menengadahkan tangannya keatas lalu dengan modal keberanian Pasya melompat dengan mata yang tertutup.
Dan
1
2
3
"Kenapa ga sakit yah?"gumam Pasya masih tetap menutup mata.
"Apa gue masih melayang?"tanya Pasya dengan mimik yang sudah seperti kelihatan ketakutan.
"Huaaa...Jangan-jangan gue udah mati!!"pekik Pasya dan tanpa sadar ia memeluk seseorang yang menahan tubuhnya.
"Eh bentar-bentar,ko wanginya kaya pernah gue cium ya?"batin Pasya bertanya pada dirinya sendiri.
Dengan perlahan Pasya mencoba membuka matanya sedikit-sedikit dan seperdetik kemudian terbuka sempurnalah matanya ketika yang ia lihat di depannya adalah manusia yang sangat tampan.
Pasya mengerjapkan matanya lucu dengan pipi yang sudah bersemu merah menatap seseorang yang ada dihadapannya dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Sedangkan sedari tadi orang yang menahan tubuh mungil Pasya hanya bisa membatin tak berdaya.
"Sialan!kenapa muka dia sangat menggemaskan!tahan woy anak orang!"batin Kevin berperang dengan logika dan hatinya.
"Eunghh bisa turunin gue ga?gue kasihan sama lo,muka lo udah merah gitu pasti berat ya nahan tubuh gue."polos Pasya yang membuat sosok itu tidak habis pikir dengan ucapan yang ia dengar.
Kevin pun menurunkan Pasya dengan hati-hati dan segera mengalihkan kegugupannya dengan merapihkan baju yang sedikit kusut dan segera memasang wajah andalannya lagi.
Pasya yang malah kelihatan sekali kalau dia gugup mencoba menetralkan kegugupannya dan memberanikan diri mendongak melihat wajah Kevin karena cowo itu lebih tinggi darinya.
"Btw makasih yah udah bantuin gue."ujar Pasya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
"Hmm."dehem Kevin dan berlalu begitu saja meninggalkan orang yang sudah tidak bisa berkata apa-apa dan wajah yang sudah sangat terlihat jelas bahwa orang itu sangat kesal.
"Dasar muka talenan!"maki Pasya dan menghentak-hentak kakinya dengan kesal sambil mulut yang masih komat-kamit memakai Kevin.
***