Two Mobsters Fall In Love

Two Mobsters Fall In Love
episode 30: Akhir Yang Indah (Tamat)



Gavriel tidak tahu, bahwa pak Kim berdiri kembali dan menyondongkan pistolnya. Claudia yang menyadari nya pun langsung mendorong Gavriel dan tembakan tersebut langsung mengenai tepat di dada Claudia.


Sontak Gavriel terkejut dan menopang Claudia yang melemah, akibat tembakan tersebut. Seluruh tamu dan kerabat Gavriel kaget dan langsung menatap tajam wajah pak Kim.


Claudia pun pingsan dan semua tamu, juga kerabat Gavriel, langsung maju untuk menghabisi pak Kim. Pak Kim yang ketakutan langsung menembak langit agar semua ketakutan. Tapi semua tidak takut dan malah maju untuk menghabisi pak Kim dengan amarah mereka masing masing.


"Hyahhh"


Akhirnya pak Kim pun mati dan Claudia langsung di bawa ke rumah sakit, untuk di lakukan tindakan operasi.


Setelah menghabiskan waktu 10 jam. Akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi tersebut. Gavriel yang sudah ketakutan akan kehilangan Claudia, langsung berdiri.


"Apa dia baik baik saja dok?." Tanya panik Gavriel.


Petir dan Bella berusaha menenangkan nya.


"Dia baik baik saja, hanya terkena di bagian pinggir dadanya dan sekarang dia sudah sadar. Jangan terlalu berisik, itu akan membuatnya tidak nyaman." Jawab dokter tersebut tersenyum.


"Terima kasih banyak dok, terima kasih." Ucap Gavriel sangat berterima kasih.


"Terima kasih dok." Kata Bella dan petir bersamaan.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu." Jawab pak dokter langsung meninggalkan mereka.


Merekapun langsung masuk ke dalam, untuk melihat keadaan Claudia.


"Apa kau baik baik saja?." Tanya Gavriel masih khawatir dengan nya.


"Aku baik baik saja kok. Ini semua berkat bantuan mu." Jawab Claudia menatap wajah Gavriel dan tersenyum untuk menenangkan suasana hati nya.


"Sebenarnya kak, ada yang mau kukatakan pada kakak." Ucap Bella.


Claudia langsung menatap wajah Bella. "Apa itu?." Tanya Claudia.


"Kami sudah mengetahui semuanya, teman kakak nya Petir yang sudah memberitahukan nya, saat kami sedang di dalam."


Seketika itu Claudia langsung menatap wajah Gavriel dan kembali fokus ke Bella. "Jangan khawatir"


"Ya, kau benar. Kakak lah yang salah, kakak meninggalkan nya karena sesuatu itu."


"Dan kakak tidak mau membawa pengaruh buruk untukku, jadi kakak."


"Kak Claudia istirahat saja, kakak ingin jus, biar ku ambilkan, atau apel. Ayo Bella kita ambil." Ucap Petir langsung keluar bersama Bella.


"Ya, ya." Sahut Gavriel.


"Hehehehe,"


"Dahh." Ucap Claudia melambaikan tangannya.


Setelah Petir dan Bella pergi. Claudia langsung menatap wajah Gavriel.


"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?." Tanya Claudia menatapnya.


"Karena lebih baik kalau mereka tidak tahu. Apa gunanya Claudia, permusuhan antara ayah kita dan saling melenyapkan. Kenapa, kita ini harus memulai awalan yang baru dan tidak ada lagi yang perlu melihat ke belakang." Jawab Gavriel.


"Tapi kenapa kau bilang kau yang salah, dan bukan aku?." Tanya Claudia kembali.


Mengelus tangan Claudia dan mengecup kening nya. "Begini ya, di negara ini, dan di negara negara lainnya. Hal-hal kecil seperti ini sering terjadi, termasuk kita. Hahahah." Jawab Gavriel mendekati wajahnya.


Claudia pun ikut tertawa. "Hahahaha"


1 Minggu pun berlalu. Dimana Claudia sudah boleh pulang dari rumah sakit dan Gavriel yang mengantarkan Claudia untuk pulang ke rumahnya.


"Sekarang kau sudah boleh pulang. Apa kau bahagia?." Tanya Gavriel sambil tersenyum.


"Aku sangat bahagia, karena sudah boleh keluar dari rumah sakit yang membosankan itu. Aku jadi mau menghirup udara di luar." Jawab Claudia ikut tersenyum.


"Kalau begitu mari kita pulang." Ucap Gavriel membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Claudia masuk ke dalam.


Di dalam perjalanan menuju rumah Claudia. "Gavriel, ada yang mau kukatakan padamu." Ucap Claudia menatap nya.


"Apa itu?." Tanya Gavriel kepadanya.


"Bagaimana kalau kita bertemu nanti malam dengan waktu 5 menit yang kau janjikan. Heheheh." Jawab Claudia tersenyum.


"Hahahah, baiklah. Aku akan menjemput mu nanti malam." Tersenyum Gavriel.


Sesampai rumah Claudia. "Terima kasih banyak sudah mengantarkan ku, kau jadi repot repot." Ucap Claudia melambaikan tangannya dari luar.


"Tidak apa apa, kalau begitu aku duluan dan sampai jumpa nanti malam." Jawabnya langsung pergi dari tempat tersebut.


Malam pun tiba, di mana Claudia sudah bersiap siap untuk menunggu Gavriel. Dan disisi lain, Gavriel yang sudah bersiap siap dan langsung pergi untuk menjemput Claudia.


Sesampai rumah Claudia, dan Claudia sudah menunggu di depan rumahnya. Gavriel langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Claudia.


"Apa kau sudah siap tuan putri?." Tanya Gavriel tersenyum bahagia.


Berdiri. "Aku sudah siap, kalau begitu mari kita pergi, sebelum waktunya di mulai." Jawab Claudia ikut tersenyum.


"Baiklah, kau masih sama saja seperti dulu. Kalau begitu mari kita pergi sekarang." Ucap Gavriel.


Merekapun langsung pergi ke lokasi yang sudah di tentukan Gavriel. Sesampai Lokasi tersebut.


"Kita sudah sampai tuan putri." Ucap Gavriel langsung membukakan pintu untuk Claudia.


"Terima kasih banyak Gavriel." Jawab Claudia bahagia.


Gavriel sudah menyiapkan tempat yang begitu indah untuk mereka berdua. "Wah, apa semua ini kau yang menyiapkannya?." Tanya Claudia kagum dengan tempat tersebut.


Gavriel mengangguk malu malu. "Kau memang sama ya dari dulu, dan waktunya akan di mulai sekarang."


"Aku hanya ingin mengobrol lama dengan mu saja dan menghabiskan pembicaraan kita dengan mengobrol dan mengetahui satu hati." Jawab Gavriel tersenyum.


"Kenapa anak ini seperti itu, biasanya dia menyiapkan hadiah yang begitu indah. Aneh." Ucap batin Claudia melirik nya.


"Padahal aku lagi kepengen es krim tau." Ucap Claudia menatapnya.


"Kau ingin es krim. Diamlah di sini, aku akan membelikannya untuk mu." Ucap Gavriel langsung meninggalkan Claudia untuk membeli es krim.


Setelah Gavriel pergi. "Anak itu begitu menggemaskan. Aku jadi tidak percaya, kalau dia seorang mafia." Ucap batin Claudia salting sendiri.


Setelah beberapa menit Claudia menunggu Gavriel. Akhirnya Gavriel datang juga, sambil membawa dua es krim tersebut.


"Es krim nya datang." Ucap bahagia Gavriel.


Tepuk tangan. "Wah, aku sudah lama menunggu mu tau." Ucap Claudia langsung mengambil es krim yang ada di tangan Gavriel.


"Terima kasih banyak Gavriel."


"Sama sama tuan putri." Tersenyum bahagia melihat Claudia bahagia.


"Ehm, enak banget es krim ini. Rasanya masih sama seperti dulu." Menikmati es krim tersebut.


"Tentunya aku tidak melupakan variasi kesukaan mu itu."


"Coklat belgia choco chip kan. Aku tidak akan melupakan itu." Jawab Gavriel.


"Kau masih sama seperti dulu, masih mengingat kesukaan ku."


"Tentu dong."


"Kalau kita berbincang begini, aku jadi ingat masa masa kita berjumpa dulu ya." Membayangkan masa masa dulu.


"Hahahah, benar banget tu. Aku jadi rindu masa itu." Jawab Claudia sambil menatap langit yang indah.


"Sekarang kita sudah sangat dewasa ya, sudah tidak seperti dulu lagi." Tersenyum Gavriel.


"Tentu saja dong, kan kita ga mungkin masih kecil saja." Tertawa tipis Claudia.


"Sebenarnya, aku mengajakmu kesini, karena ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Ucap Gavriel mulai serius kepadanya.


Menatapnya. "Apa itu?." Tanya Claudia.


"Bolehkah kau berbalik badan dulu. Ada kejutan yang mau kuberikan padamu." Ucap Gavriel.


"Kejutan apa sih, aku jadi penasaran." Tersenyum Claudia.


"Sudahlah, kau berbalik badan dulu, jangan bawel deh." Ucap Gavriel.


"Okey, okey." Langsung berbalik badan dan membelakangi Gavriel.


"Ini adalah waktu yang tepat untuk aku mengungkapkan perasaan ku kepada Claudia." Ucap batin Gavriel langsung mengeluarkan hadiah tersebut dan hadiah tersebut adalah cincin pernikahan.


Gavriel pun langsung bertekuk lutut dan menunjukkan cincin tersebut kehadapan Claudia.


"Kau bisa berbalik badan lagi dan menghadap kehadapan ku." Perintah Gavriel.


Claudia pun berbalik badan dan betapa terkejut nya Claudia, plus bingung.


"Kau sedang apa dan cincin apa itu?." Kebingungan Claudia.


"Kamu tau gak, kadang aku heran sama diri sendiri pintar berenang tapi selalu tenggelam." Ucap Gavriel tersenyum.


"Kenapa tenggelam. Kan pandai berenang?." Tanya Claudia, sambil menaikkan alisnya.


"Kenapa aku selalu tenggelam ke senyuman mu itu." Ucap Gavriel.


"Sebenarnya, sejak dari dulu dan sampai detik ini. Aku tetap mencintaimu dan cintaku tidak pernah berubah sedikit pun. Bahkan aku selalu menunggu kehadiran mu disisiku dan aku tidak mau menikah, sebelum orang yang aku nikahi itu kamu."


"Jadi, bersediakah kau menemani ku seumur hidup dan kita melewati waktu bersama sama. Apakah kau bersedia menikah denganku." Ucap Gavriel terus terang dan langsung menunjukkan cincin tersebut.


Claudia terkejut. "Apa kau benar benar melakukan ini, ini tidak prank kan." Memastikan.


"Kau boleh menembak ku lagi, jika itu kebohongan." Jawab Gavriel terus menatap nya.


"Entah kenapa, cinta ku kepada mu juga tidak berubah dari dulu dan aku selalu menunggu momen ini, dan sekarang kita sudah bersama."


"Kalau begitu, aku bersedia menikah dengan mu." Jawab Claudia sangat sangat bahagia.


"Aku mencintaimu Claudia." Ucap Gavriel memasangkan cincin tersebut ke jari kelingking Claudia.


"Aku juga mencintaimu." Ujar Claudia juga dengan bahagia.


Gavriel pun langsung berdiri dan memeluk badan Claudia dengan erat dan Claudia sangat bahagia di hari yang bahagia.


1 Minggu pun berlalu. Di mana tiba hari pernikahan Gavriel dan Claudia.


Sekarang Claudia sudah ada di ruang rias pengantin. "Akhirnya kakak ku menikah juga dengan kakaknya Gavriel. Aku sangat bahagia kak." Peluk Bella bahagia.


"Terima kasih banyak adikku. Kau jadi semakin bahagia, karena sudah menikah dengan Petir ya." Jawab Claudia ikut bahagia.


Disisi lain, Gavriel yang sedang menyambut tamu bersama adiknya Petir.


"Cieee, akhirnya kakak ku menikah juga dengan kak Claudia. Itulah yang aku tunggu tunggu selama ini, the best deh kakak ku ini." Ucap Petir menyenggol tangan Gavriel yang sedang fokus menyambut tamu.


"Terima kasih banyak adikku, mana mungkin abang mu ini mau sendiri saja." Jawab Gavriel ikut bahagia.


"Kalau begitu, sana kakak jemput kak Claudia. Biar aku yang menyambut tamu dan sebentar lagi pak pendeta akan datang, jemput kak Claudia secepatnya kak." Ucap Gavriel.


"Baiklah, baiklah, aku duluan dulu." Jawabnya langsung menuju ke ruang rias.


Sesampai di ruang rias tersebut. "Apa aku boleh masuk?." Tanya Gavriel dari luar.


"Masuklah." Jawab Claudia yang sudah siap.


Gavriel pun masuk dan Gavriel terkejut dengan penampilan Claudia yang sangat cantik.


"Astaga, apa ini benar benar wanitaku." Masih tidak percaya Gavriel sampai melamun.


"Eh, kau Gavriel. Ada apa, hey. Kenapa melamun." Menyadarkan Gavriel yang melamun.


"Hey." Mencubit perut Gavriel.


"Aduh, maaf ya. Abisnya kamu cantik banget sih." Mencubit pipi Claudia.


"Ehem, romantisan lagi deh, sudah sana cepat kalian keluar, pak pendeta sudah datang tu." Ucap Bella mendorong Claudia untuk mendekat ke Gavriel.


"Baiklah, baiklah. Kami duluan."


"Silahkan tuan putri." Ucap Gavriel mempersilahkan tangan nya untuk menggandeng tangan Claudia. Dan mereka pun langsung keluar dari ruang rias tersebut dan menuju ke pelaminan.


Merekapun langsung berpegangan tangan dan bertatapan dengan penuh kebahagiaan. "Tuan Gavriel, apa kau bersedia menikahi seorang wanita bernama Claudia dan menerima kekurangan dan kelebihan nya. Apakah kau juga bersedia bersama selamanya sampai maut memisahkan dan sampai sakit maupun sehat." Ucap pendeta tersebut.


"Aku bersedia." Jelas Gavriel sambil tersenyum kepada Claudia.


"Dan nona Claudia, apakah kau bersedia menerima Gavriel sebagai pasangan hidupmu, baik sakit maupun sehat dan sampai mau memisahkan kalian."


"Aku bersedia." Jelas Claudia juga.


"Kalau begitu kalian resmi menjadi sepasang suami istri dan sekarang waktunya berciuman, untuk menandakan cinta kalian." Ucap pendeta tersebut.


Gavriel dan Claudia pun langsung berciuman dalam kebahagiaan mereka.


Setelah acara pernikahan, saatnya pemotretan. Pengantin silahkan berfoto." Ucap fotografer tersebut.


"Aku mencintaimu Claudia." Ucap Gavriel bahagia.


"Aku juga mencintaimu sayang." Ucap Claudia ikut bahagia.



Terima kasih banyak buat temen yang udah bantu ramein novel aku.


Sukses dan panjang umur buat kalian semua sayang.


Love you.


Tamat.