Two Mobsters Fall In Love

Two Mobsters Fall In Love
episode 27: Geng Motor



Beberapa hari pun berlalu di mana pernikahan Jack dan Jennie berlangsung. Seluruh tamu dan keluarga sudah di dalam gereja untuk melaksanakan pernikahan.


"Apa mempelai pria sudah siap menerima keadaan nona jennie. Baik di kala sakit, sehat dan hingga mau memisahkan." Ucap pendeta tersebut sambil meletakkan kitab tersebut di atas kepala mereka berdua.


"Aku bersedia." Jawab Jack sambil menggenggam tangan Jennie.


"Dan nona jennie. Apakah kau bersedia bersama tuan Jack, baik di kala sakit, sehat dan hingga mau memisahkan kalian." Ucap kembali pendeta tersebut.


"Aku bersedia." Jawab Jennie bahagia.


"Kalau begitu sekarang kalian resmi menjadi suami istri. Dan waktunya untuk berciuman." Ucap pendeta tersebut lalu menurunkan kitab nya.


Jack dan Jennie pun saling berciuman bahagia, pertanda pernikahan sudah berlangsung dan mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


"Adikku akhirnya menikah dengan pria yang di cintainya." Ucap pak Oscar menangis bahagia.


Dan Gavriel sedang bersama Claudia. Begitu juga Petir bersama Bella dan mereka berpegangan tangan sedangkan Gavriel dan Claudia masih malu malu.


Mereka semua pun keluar gereja dengan bahagia dan semua tersenyum bahagia. Gavriel dan Petir yang mengenakan jas hitam, sangat tampan. Begitu juga dengan Claudia dan Bella yang sangat cantik di pernikahan tersebut.


Mereka semua langsung datang ke acara pernikahan Jack, yang di adakan di rumah pak Oscar.Semua tamu sangat bahagia dan menikmati musik tersebut dengan diiringi tarian bersama.


Gavriel dan Claudia yang tidak ikut menari berdua dan berdiri samping sampingan. Merekapun tidak sengaja bertatapan kembali dan tersenyum untuk menenangkan suasana.


Setelah pernikahan Jack dan Jennie selesai. Claudia pun akan kembali ke restoran ya bersama Bella.


"Kami pulang dulu kakak dan petir." Ucap Bella tersenyum dan tidak lupa untuk berpamitan.


"Kalian hati hati lah." Jawab Gavriel ikut tersenyum dan Claudia melambaikan tangannya kepada Gavriel dan tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya.


Claudia pun pergi bersama Bella. Di kamar Claudia, Claudia yang sedang melamun setelah kembali dari pesta pernikahan Jack dan Jennie.


"Apa aku masih mencintainya. Aku benar benar masih mencintainya dan aku ingin sekali memilikinya." Ucap batin Claudia sambil memeluk bantal guling nya.


"Aku mencintainya." Tersenyum sendiri Claudia salam keadaan salting.


Tiba tiba ponselnya berdering. Sontak Claudia langsung mengambil ponselnya."Ini nomor siapa ya. Nomor tidak di kenal." Ucapnya langsung mengangkat teleponnya.


"Halo, siapa ya?." Tanya Claudia.


"Saya tuan Kim. Apa kau melupakan saya?." Jawab yang tidak lain lagi ialah pak Kim.


"Oh, anda pak Kim. Ada apa ya menghubungi saya?." Tanya ya kembali.


"Apa kita bisa bertemu malam ini, akan saya kirim lokasi nya. Ada yang mau saya katakan pada anda." Jawab pak Kim.


"Saya akan kesana dan kirim lokasinya." Ucap Claudia tidak menyadarinya.


Claudia pun langsung memakai jaket nya, agar tidak masuk angin. "Untung saja Bella sudah tidur. Jadi lebih aman." Ucap batin Claudia langsung masuk ke mobilnya dan menuju ke lokasi tersebut.


Di perjalanan. "Kata si kim itu, lokasinya tidak jauh dari sini. Tapi kenapa tidak sampai sampai." Ucapnya sambil melihat lokasi tersebut di ponselnya.


Tiba tiba datang seorang geng motor dan mengelilingi mobilnya dan sontak Claudia mengerem mobilnya.


"Ada apa ini, kenapa ada geng motor. Menganggu saja." Ucapnya langsung keluar dari mobilnya.


Geng motor tersebut masih terus memutarinya dan mereka memakai topeng dan membuat Claudia tidak mengenalinya.


"Hai gadis cantik, kau kelihatan ya cantik. Sangat cocok untuk ku jadikan istri. Mari ikut dengan ku." Ucap geng motor tersebut masih terus memutarinya.


"Pergi kalian, atau aku akan menembak kalian." Ucapnya melihat detail mereka.


"Aku harus menghubungi Gavriel untuk meminta pertolongan kepadanya." Ucap batin claudia mengambil ponselnya dan langsung mengangkat nya.


Saat telepon sudah menyambung. Geng motor tersebut langsung mengambil ponselnya dan melemparkannya. "Kau tidak bisa menghubungi siapa siapa lagi nona. Kau memang di takdir kan untuk ku." Ucap bos geng motor tersebut.


Ternyata ponsel Claudia menyambung dan gavriel mendengarkan percakapan mereka. "Claudia sedang tidak baik baik saja. Aku harus menolongnya." Ucap gavriel langsung menuju ke arah motornya dan melaju cepat untuk mencari lokasi.


Di perjalanan mencari claudia. "Dia dimana, aku harus cepat menemukannya sebelum terjadi sesuatu kepadanya." Ucap tajam Gavriel dan fokus untuk berkendara.


Disisi lain. Geng motor tersebut pun tertawa. "Diam atau aku tembak kalian sekarang juga. Jangan coba coba mendekatiku." Ucap claudia menyondongkan pistolnya ke arah mereka.


Geng motor tersebut langsung berhenti dan turun dari motornya. Mereka pun langsung menghampiri claudia. "Aku punya rencana, aku harus berpura pura ketakutan. Agar mereka lengah dan disitu juga aku akan menghabisi mereka semua. Rencana baru saja di mulai sayang." Ucapnya langsung berubah ekspresi menjadi ekspresi ketakutan.


"Ja, jangan, aku mohon jangan lakukan sesuatu kepadaku." Ucap claudia memulai akting nya dan menyembunyikan pistolnya.


"Berikan pistolnya kepada kami dan kami tidak akan jahat kepada mu sayang." Ucap bos dari geng motor tersebut sambil mengelus pipi Claudia.


"Aku akan memberikannya, tapi kalian jangan sakiti aku. Bisakah?." Ucap claudia memasang wajah lemah.


"Sungguh gadis yang malang, baiklah. Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Asalkan kau memberikan pistol itu kepadaku." Jawab bos tersebut tidak mencurigai nya.


"Preman preman ini tidak membawa senjata. Jadi aku bisa memukuli mereka. Untung saja aku punya kekuatan silat, jadi aman." Ucap batin claudia.


"Cepat berikan kepadaku." Ucap preman tersebut.


"Cepat." Ucap teman teman dari geng motor tersebut.


Saat claudia mau memberikannya. Tiba tiba gavriel datang. "Hei, mau apa kalian mengganggu wanita." Ucap Gavriel langsung memberhentikan motornya dengan keren.


Sontak preman preman tersebut menoleh ke arah gavriel. "Siapa kau, berani beraninya memerintah kan kami?." Tanya preman tersebut.


Gavriel langsung turun dari motornya dan menghampiri mereka. "Kau tidak tahu siapa aku, aku gavriel. Mafia di kota ini." Jawab gavriel menatapnya dengan tajam.


"Wah, kau ternyata mafia ya. Aku ingin melihat seberapa kuat dirimu itu. Hingga terpilih menjadi mafia di kota ini. Kalau begitu lawan aku." Ucap preman tersebut mengejeknya dengan senyuman nya.


"Siapa takut, maju sini kalian semua." Ucapnya sambil menyondongkan tangan nya untuk bersiap berkelahi.


Dan merekapun saling berkelahi. Setelah beberapa menit, akhirnya preman tersebut kalah juga dan Gavriel langsung menghampiri Claudia.


"Apa kau baik baik saja Claudia?." Tanya Gavriel menatapnya.


Menaruh pistolnya di kantung celana nya lagi. "Aku baik baik saja. Aku baru saja mau menghabisi mereka. Tapi kau sudah datang, jadi aku tidak bisa memulai aksi ku deh." Jawab Claudia ikut menatapnya.


Tiba tiba salah satu dari preman tersebut bangun dan menuju ke arah belakang punggung Gavriel untuk memukulnya. Claudia yang langsung menyadarinya sontak mendorong badan Gavriel dan Claudia memukul bagian perut preman tersebut dengan kakinya.


"Hiyahhh." Ucap preman tersebut.


"Awas Gavriel." Ucap claudia mendorong Gavriel dan langsung memukul bagian perut preman tersebut dan preman itu pun langsung pingsan di tempat.


"Wah, silat mu cukup hebat juga. Sejak kapan dirimu mempelajari silat ini?." Kagum Gavriel sekaligus bertanya.


"Aku sudah lama mempelajari nya, sejak kita berpisah 10 tahun yang lalu, aku mempelajari silat untuk menjaga diriku. Ini baru permulaan kok." Jawab claudia tersenyum karena di puji oleh Gavriel.