Travelove

Travelove
Tidak tahu posisi



"Kau juga tak berubah, selalu mendekat kala ada maunya, dan selalu suka melirik milik orang lain," ujar Atlas menohok.


Anisa melipat bibirnya, menahan tawanya. Atlas segera memberikan kode ke arah Anisa untuk duduk di sampingnya. Ini semakin membuat Zahra semakin kesal.


"Kau..." Zahra terlihat sedikit menggeram, namun sedetik kemudian wanita itu tampak tenang kemudian tersenyum.


^^^^^^Sabar Zahra, kau butuh kontrak ini. Jangan memperlihatkan emosimu sekarang, sebaiknya kau tenang. Jangan membuat masalah.^^^^^^


"Wah terimakasih," ujar Zahra mengalihkan perhatiannya dengan seorang office boy yang membawa air mineral, bertanda Atlas tak terlalu menerima kehadiran wanita tersebut.


Biasanya jika ia kurang menyukai seseorang yang berkunjung ke tempatnya, Atlas lebih cendrung menyuguhi nya air mineral. Sementara jika ia merasa nyaman dengan tamunya, dan juga bersahabat dengan perusahaan yang tengah ia pimpin, maka ia akan menyuguhkan minuman berwarna dan beberapa cemilan.


"Silahkan di minum buk," ujar Anisa, tampak mulai membuka beberapa berkas yang akan menjadi salah satu perjanjian kerja sama mereka, jika Atlas berkenan. Anisa berinisiatif segera membuka botol air mineral untuk ketiganya, takut takut kalau wanita itu tiba tiba berakting menjadi wanita lemah lembut, dan tiba tiba meminta laki laki yang di anggap pangerannya untuk membuka botol air mineral tersebut.


Atlas diam diam tersenyum melihat aksi sekertaris sekaligus istrinya tersebut. Yang mana gaji yang diterima istrinya itu jauh melebihi gajinya. Pasalnya seluruh pendapatannya pada akhirnya di pegang oleh Anisa.


^^^Dia cukup cerdik juga, memang tidak salah aku memilihnya. Atlas memang benar benar memuji kepiawaian sekertarisnya itu.^^^


Lain Atlas maka lain pula Zahra, wanita itu kesal karena Anisa membuka kan botol itu untuk mereka. Rencananya untuk terlihat tak berdaya gagal total sudah. Anisa melangkah lebih dahulu di bandingkan langkahnya.


^^^Cih, sok kuat sok keren. Zahara mendelik melihat ke arah Anisa. Awas kau aku balas nantinya.^^^


Zahra melipat bibirnya ke dalam, bertanda gadis itu tengah kesal dan geram.


"Ehem," Atlas berdehem, membuat Zahara segera memandang ke arah Atlas.


"Ah iya ada apa Tlas?" Zahra mencoba terlihat akrab di hadapan Anisa, berharap wanita yang ada di hadapannya ini cemburu buta.


"Bisa kita mulai?" Atlas mengangkat sebelah alisnya, bertanda ia tengah malas berlama lama duduk di hadapan wanita tersebut, meski istrinya berada di sampingnya, namun ia khawatir jika atmosfer Zahra yang cendrung negatif mempengaruhi istrinya yang saat ini tengah ia program dengan program hamil.


"Sebentar lagi waktunya jam pulang kantor, saya harap and tidak membuang waktu saya percuma," Atlas mengalihkan pandangannya ke arah jam tangannya, ia tampak sedikit kesal, karena seharusnya ia mengurusi hal lain dulu, namun kedatangan Zahra yang tiba tiba sungguh membuat Atlas harus menunda pekerjaannya. "Saya tak menunggu anda untuk melihat sekertaris saya dengan penuh permusuhan. Waktu saya terlalu berharga untuk itu."


Anisa tampak tersenyum mendengar ucapan dari Atlas, begitu pula dengan Zahra. Wanita itu berfikir bahwa Atlas tak terlalu menerima Anisa dengan baik. Karena hanya mengakui wanita itu sebagai sekertaris. Ia bersorak, dalam hati menertawakan Anisa.


"Baiklah begini ini merupakan tawaran dari perusahaan kami," ujar Zahra bersemangat.


"Silahkan bacakan," ujar Atlas mengerutkan keningnya, pikir Atlas wanita itu sungguh aneh. Atlas memintanya untuk membacakan, namun Zahra malah menyerahkan dokumen.


"Bukannya sekertaris mu sudah mengetahuinya?" Zahra memandang Anisa dengan sinis, ia tampak tak terlalu menyukai Anisa. Terlihat jelas dari kilat matanya.


"Maaf nona, kami tak sempat membaca berkas anda, terlebih anda datang secara mendadak. Berkas yang lebih dahulu datang jelas lebih di utamakan. Sekertaris anda mengantar berkas baru kemarin, dan seharusnya anda membuat janji terlebih dahulu, tidak tiba tiba langsung datang ke tempat kami," ujar Anisa sopan. Anisa sadar betul tidak terlalu di sukai oleh wanita yang ada di hadapannya ini. Anisa mampu melihat kilat permusuhan dari wanita itu, Anisa pikir wanita itu tidak menyukainya karena tadi tidak segera memasukkannya.


"Kau tidak profesional tampaknya, tugas mu untuk membaca setiap dokumen yang masuk, kenapa milik ku bisa terlampaui?" Zahra jelas kesal, ia seharusnya di dahulukan karena ia dan Atlas dulu adalah teman sekolah. Jadi Zahra pikir seharusnya Anisa mendahulukannya.


"Maaf nona sesuai dengan yang saya sebutkan tadi dokumen anda harua menunggu giliran, pasalnya dokumen lain telah datang terlebih dahulu. Mohon maaf jika tindakan profesional saya membuat anda kesal, namun sesuai yang anda ketahui kami mendahulukan dokumen yang lebih cepat, dan tentu saja mempertimbangkan yang memang memiliki kualitas presentasi yang baik untuk perusahaan kami," jelas Anisa tersebut, Anisa itu tahu jika wanita yang ada di hadapannya ini dulu teman SMA Atlas.


"Kau, kau memangnya tak membaca setiap dokumen yang masuk secepatnya? Seharusnya kau membacanya," geram Zahra, ia tahu prosedur yang di sebutkan oleh Anisa. Namun ia merasa harus di dahulukan.


"Maaf nona itu memang prosedur kamu, jika tidak menyukainya, atau ingin di periksa terlebih dahulu silahkan antar dokumen terlebih dahulu. Dan seharusnya anda tahu bahwa CEO kami orang yang amat sibuk, namun tetap memilih untuk tetap melayani sikap tidak profesional anda. Yang terus menggerutu, mengatas namakan teman SMA, lalu datang pada tanpa sebuah janji," ujar Anisa menohok. Ia memang dituntut untuk hal tersebut, berbicara mewakili CEO nya menghadapi sikap kekanakan dari klien.


"Kau..." tampak Zahra sangat kesal dengan setiap ucapan Anisa yang memang benar adanya. Zahra memandang Atlas yang tampak menarik sudut bibirnya tersenyum. Laki laki itu tampak puas dengan ucapan sekertaris sekaligus istrinya.


"Anda tahu? Seharusnya CEO kami saat ini tengah memeriksa berkas, yang sangat penting, namun anda mengganggu nya. Anda tidak tahu kan? Setelah ini kami harus sedikit lembur karena anda bersikap tidak profesional dan mengganggu setiap rencana yang telah kami atur," jelas Anisa semakin membuat Zahra kesal.


"Kau terlalu lancang mengatakan hal itu kepada ku, bahkan Atlas sendiri belum berbicara sepatah katapun tentang diriku," geram Zahra menatap ke arah Anisa dengan tajam.


"Sekertaris ku tahu apa yang seharusnya ia lakukan..."


Tring...


Sebuah alarm berbunyi dari ponsel Atlas, ia pikir itu adalah alarm yang menandakan waktu pulang telah tiba. "Ah saat nya pulang, anda benar benar membuang waktu berharga saja, hampir satu jam anda datang secara tiba tiba, dan tak menghasilkan apa apa," ujar Atlas segera merentangkan tangannya.


"Sekertaris mu itu yang mengesalkan, seharusnya dia tahu posisi tak terlalu banyak bicara," ujar Zahra menyalahkan Anisa.


"Kita tahu disini siapa yang tahu posisi..."