
Atlas baru saja menyelesaikan kembali akad nikahnya dengan di saksikan oleh keluarga dari kedua belah pihak, kemudian mulai berdiri dan mulai berfoto. Kini mereka berdua sah secara agama maupun negara. Tak ada pesta besar namun sederhana.
Juwita menghampiri menantunya ketika semua tamu undangan telah kembali, begitupun dengan Linda dan Atala, Linda beralasan takut jika Atala kembali kambuh, maka dari itu ia membawa Atala segera kembali, Linda juga tak ingin di pernikahan sahabatnya Atala kembali mengamuk.
Sementara itu Ahmed yang telah datang terus cemberut, meminta untuk ikut dalam ajang akad dadakan tersebut, namun selalu di tolak mentah mentah oleh yang lain. Walhasil Ahmed hanya bisa gigit jari, belum lagi melihat foto yang seharusnya foto prewedding dirinya dan Bilqis kini berganti kepala menjadi foto Ahmed dan Anisa.
Ahmed menyusul Bilqis yang hendak istirahat di kamarnya. Namun tak sengaja mendengarkan pembicaraan antara Atlas Dan juga Daniel.
Not. Daniel adalah suami Angel sahabat dari Aliya dan Juwita.
"Bagaimana? Top cer kan ide oom, langsung akad. Tinggal bagaimana cara kamu lagi buat dia betah di samping kamu," ujar Daniel membuat Atlas tersenyum bahagia.
"Iya om, ga susah, tapi nanti gimana lagi om?" Atlas tampak bingung.
"Itu nanti tinggal kamu nya saja yang mepet dia terus, awalnya terpaksa lama lama terbiasa," ujar Daniel. "Terus peluk dia, sayang dia, cium dia setiap hari, setelah itu lama lama dia akan jatuh cinta sama kamu."
"Siap om, aku ke kamar dulu ya. Nyusul istri," ujar Atlas segera berlari menuju ke kamar.
Ahmed bersembunyi, kemudian melirik ke arah Atlas yang sudah jauh di pandangan mata. Ahmed keluar dari persembunyiannya. "Om curang, kenapa Ahmed ga di kasih saran juga?"
"Kan kamu ga minta Med'i, coba kamu minta," ujar Daniel santai meninggalakan Ahmed.
"Tapi om Ahmed butuh saran," rengek Ahmed membuat Daniel terkekeh.
"Ok, tapi ada syaratnya," ujar Daniel tersenyum menyeringai.
"Siap, tapi jangan sampai gagal ya om," balas Ahmed antusias.
"Pasti itu."
Sementara itu di lantai atas Juwita baru saja menenangkan menantunya yang sejak tadi meminta maaf kepadanya, sungguh Juwita dapat melihat kesungguhan menantunya itu, dirinya juga sudah mulai curiga kepada suami sahabatnya itu dan Atlas. Sejak tadi merek sering saling melirik, sembari tersenyum penuh arti. Juwita jelas harus mencurigainya.
"Dari mana kamu?" Juwita berdiri di ambang pintu sembari menarik anaknya ke kamar lain.
"Dari bawah lah mi," ujar Atlas dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"Bukan habis menemui om Daniel kamu?" ujar Juwita tepat sasaran. Seketika Atlas menelan salifa nya sendiri, ia tahu maminya itu sangat teliti, bahkan sangat memperhatikan gerak gerik seseorang.
"Maksudnya mi?" Atlas berusaha berpura pura tidak tahu.
"Ini kalian rencanakan kan? Ayo jujur?" Juwita terus mendesak Atlas untuk berbicara jujur.
"Apanya mi?" Atlas masih kukuh pura pura tak paham.
"Jujur ga sama mami, atau..." Juwita mulai mengeluarkan jurus andalannya.
"I...iya ini rencana Atlas," ujar atlas jujur.
"Ampun mi, yang penting dia menantu mami sekarang," Atlas beraduh sakit ketika telinganya dijinjing oleh sang mami.
"Apa kamu tidak berfikir tentang nama baik keluarga kita?" Juwita benar benar kesal melihat anaknya. "Terlebih istri kamu yang merasa tidak enak, karena menjadi penyebab semua ini."
"Engga mi, semua itu anak buah om Daniel, nah kalau masalah istri Atlas mah santai, nanti juga enak sendiri dia," ujar Atlas tersenyum merekah.
"Dasar, gara gara om kamu itu, kamunya jadi ikut sableng," ujar Juwita meninggalakan anaknya dengan kesal. Jika begini ia akan meminta Anisa baik baik.
Saat Atlas hendak masuk ke dalam kamarnya, tiba tiba Ahmed datang mendekati Atlas. "Halo kakak ipar, mohon ke relaannya untuk Bilqis, yang akan saya nikahi."
"Hm, setelah liburan," ujar Atlas segera masuk ke dalam kamarnya.
Ahmed mengembangkan senyumnya merasa akan mendapatkan Bilqis dengan cepat. Ahmed segera mengendap endap hendak masuk ke dalam kamar Bilqis, namun suara Tate menghancurkan segalanya.
"Ehm... ngapain? Situ kira sudah dapat restu dari sini?" Tate membuat Ahmed seketika menegang, ingatannya kembali pada masa di mana Tate menghadiahi dirinya bogem mentah.
^^^Aduh kakak ipar galak kali ini benar benar mengesalkan. Ahmed.^^^
"Jangan mengumpat Med'i," ujar Tate meninggalakan Ahmed. "Ayo ikut bantu bantu di dalam."
Dengan langkah gontai Ahmed mengikuti langkah Tate. Gagal sudah rencananya untuk bermesraan mengalahkan pengantin sebelah. Tiba tiba Wira muncul dari arah samping membuat Ahmed mendengus kesal.
"Eh calon manten yang di langkahi sama junior, makanya jangan banyak rencana, tindakan dong," ujar Wira terkekeh. "Jangan sampai di tikung juga," bisik Wira semakin membuat Ahmed kesal.
"Wira..." Ahmed segera mengejar Wira hendak memukul Wira hingga puas, rasanya ingin melampiaskan amarahnya kepada Wira.
Wira segera berlari setelah mendengar namanya menggema di telinga, orang orang yang melihat kehebohan tersebut hanya menggeleng tak percaya dengan tingkah kedua orang tersebut, yang sejak kecil tak pernah berubah.
Sementara di kamar atas Atlas merebahkan badannya di samping istrinya yang tidur terlelap, hari ini mungkin memang melelahkan untuk istrinya itu. "Maaf ya manis," ujar Atlas segera memeluk istrinya dan mengecup puncak kepalanya. Tampaknya Atlas harus banyak bersabar pasal istrinya yang pastinya belum menerima dirinya sepenuhnya.
Tapi Atlas tetap bahagia, hitung hitung memulai tahap pacaran yang lebih syar'i alias berlebel halal terlebih dahulu, meski dengan cara yang bisa di bilang sangat licik. Deru nafas Anisa membangunkan sesuatu yang tidak sudah seharusnya ia miliki, namun Atlas menahannya dengan sekuat tenaga.
Ahmed berhenti mengejar Wira, kemudian mendekati Bilqis yang tampak baru turun dari lantai atas. Bilqis tampak santai menerima telfon dari ujung sana. Bilqis tampak begitu bahagia, membuat Ahmed segera mendekati calon istrinya. Namun wajah Ahmed kembali kesal setelah mendengar suara laki laki yang menelfon calon istrinya.
"Halo, ini siapa?" Ahmed kesal seorang laki laki berani menelfon calon istrinya.
"Kak apa apaan sih? Itu panitia wisuda, dia minta Iqis buat ceramah sebagai mahasiswa lulusan terbaik, ih apaan sih kak," protes Bilqis merebut kembali ponselnya. "Maaf ya, iya nanti aku siapkan ok."
Ahmed kesal bukan main menendang banner yang seharusnya itu adalah gambar dirinya bersama Bilqis, namun kini telah berganti Kapala. Beberapa orang yang melihat kelakuan Ahmed hanya menggeleng kecil. Tak terkecuali Wira dan Tate.
"Liburan ajak dia, serentak dengan orang yang pergi bulan madu," bisik Tate.
"Ia aku mau lihat dia ngedumel kesal sepanjang acara liburan, ketika melihat Atlas dan istrinya bermesraan."