
"I love you," bisik Tate dengan senyuman, tanpa mengharap balasan yang terucap dari bibir Dini. Karena reaksi Dini tadi cukup memberinya balasan.
Keduanya saling tersenyum, Dini yang baru pertama kali seseorang menyentuh bibirnya dengan bibir, kini wajahnya semakin memerah. Dini benar benar terkejut, ini adalah kali pertama dirinya ber*ci*uman.
"Kenapa hm?" Tate sengaja menggoda Dini, demi mendengar reaksi wanita itu.
"Malu," cicit Dini dengan bibir yang di tarik ke atas, bahkan wanita itu menggigit pelan bibirnya ketika mengingat momen ketika bibir mereka saling bersentuhan.
"Kenapa hm? Ini pasti yang pertama kan untuk mu," Tate kembali menggoda Dini, membuat pemilik wajah imut tersebut menjadi tersipu, dengan menganggukkan kepalanya pelan. "Coba menghadap ke sini."
Tate gemas sendiri ingin kembali lagi mencicipi bibir tersebut, ia menyukainya, sungguh! Bibir itu amat sangat manis, dan membuat Tate secara pribadi tertarik dan kecanduan. Namun baru saja bibirnya hendak menyentuh tempat pendaratan sempurna, tiba tiba negara api menyerangnya.
"Yu hu... jadian, berkat Ahmed ganteng dong," suara yang amat sangat tidak ingin Tate dengar kini muncul juga. Tate seharusnya memperkirakannya.
Ahmed pasti menghasut, atau membujuk, atau apapun itu. Agar adiknya, si makhluk polos itu untuk mengintip dirinya dan Dini. Bahkan untuk menahan kesalnya, kini Tate memilih untuk memeluk Dini, sang kekasih hati yang fresh from room of hospital.
"Kakak... jangan ganggu kakak ini," benar saja Bilqis menarik Ahmed yang sibuk mengejek pasangan baru tersebut. Ahmed cukup bangga karena merasa merupakan jembatan untuk jadi jadiannya Tate dan Dini, alias pak comblangnya.
"Kak," Dini sedikit salah tingkah mendorong tubuh Tate yang memeluknya.
"Med'i keluar," perintah Tate tanpa mau melepaskan Dini. Tate terlalu senang, dan kesal. "Dek keluarkan Med'i dari sini."
Tate segera memerintahkan Bilqis untuk mengeluarkan Ahmed dari ruangan tersebut. Pastinya itu akan lebih efektif untuk Ahmed si budak cintanya Bilqis.
"Kakak tu ya, kalau kita di ganggu gitu gimana? Kakak mau?" Bilqis mulai mendeskripsikan kejadian tersebut mana kala jika menimpa momen ketika Ahmed hendak bermesraan dengan dirinya, namun ada gangguan. Bilqis tahu Ahmed pasti kesal setengah mampus.
"Jadi kamu mau kita begitu juga? Di tempat yang aman ya, ga enak kalau di tempat ramai. Ga elegan, dan ga bisa lama lama," Ahmed mengikuti keinginan Bilqis, namun tetap menggoda Bilqis. Bahkan Ahmed tak segan segan menjawil hidung mancung Bilqis di lorong rumah sakit.
"Kakak..." Bilqis justru kesal karena malu dengan tingkah Ahmed. "Udah ah aku mau pergi aja ah."
"Cie yang langsung ngajak pergi, kodenya keras banget lagi," Ahmed segera menyusul langkah lebar Bilqis, dan kembali menggoda calon istrinya. Baginya menggoda calon istrinya merupakan hal yang menyenangkan. Tidak ada yang menyenangkan selain hal tersebut.
"Udah ah kak, jangan mancing emosi ya," Bilqis justru semakin kesal dengan tingkah Ahmed, dan itulah yang di inginkan Ahmed. Melihat wajah kesal Bilqis yang menurutnya sangat amat menggemaskan.
"Iya aku turutin kok, mana sih katanya yang mau emosi, jangan di mobil. Kita sewa kamar VVIP juga gimana?" Ahmed justru kini menarik tangan Bilqis seolah bersiap siap menuju ke arah resepsionis.
"Kak jangan ngajak berantem ya," Bilqis menghempaskan tangan Ahmed yang hendak menariknya, jelas Bilqis tak setuju dengan hal yang pasti akan membuatnya malu. Bilqis memilih meninggalkan Ahmed yang menurutnya sedikit tidak waras tersebut.
"Mau di banting," Ahmed semakinmenghida Bilqis yang mendahuluinya.
"Au ah," Bilqis yang lelah menghadapi sikap Ahmed yang sangat amat suka melihatny kesal, kini mengalihkan perhatiannya dengan membuka pintu mobil untuknya. "Kak..." Bilqis mengeluh karena ternyata pintu mobilnya masih terkunci.
"Kenapa sih cantik," Ahmed semakin gencar menggodanya.
"Aku mau masuk ke dalam mobil ih," Bilqis memandang Ahmed dengan kesal pasalnya laki laki itu dengan sengaja tak membukanya kunci.
"Cie yang ngodein buka pintu," Ahmed segera membukakan pintu untuk Bilqis agar segera masuk.
..........
Sementara itu di ruangan Atlas, tampak laki laki itu tengah sibuk membaca berkas, waktu kembali masih lama, dan Atlas masih harus berjibaku dengan pekerjaan.
Namun sebuh ketukan menghentikan aktifitasnya. "Masuk," ujar Atlas. Di susul dengan suara pintu yang terbuka, kemudian suara seorang wanita yang kini merangkap jug menjadi istrinya.
"Maaf pak ada tamu yang ingin bertemu," Anisa tetap berusaha bersikap profesional meski suaminya adalah seorang CEO, karena bahkan hingga sekarang dirinya masih tetap bawahan sekaligus asisten suaminya sendiri.
"Memangnya ada janji jam segini?" Atlas berdiri dan mengecek jam bi tangannya, laki laki itu sengaja berdiri agar istrinya melihat kekusutan bajunya.
"Tidak pak tiba tiba salah satu orang yang mengantar proposal kerja sama kemarin ingin bertemu," Anisa tampak tersenyum memperhatikan stylish bos sekaligus ceo-nya.
"Atas nama siapa?"Atlas tersenyum melihat istrinya memperhatikan detailnya.
"Ibu Zahra, dari perusahan fashion yang baru kemarin yang ingin bekerja sama," jelas Anisa segera mendekat sedikit ke arah Atlas.
"Hm, ya sudah biarkan masuk," ujar Atlas mengibaskan tangannya, seolah kesulitan ketika merapikan pakaiannya.
"Baik pak," Anisa mendekat dan merapikan pakaian dari Atlas.
"Terimakasih sayang," Atlas tiba tiba memeluk pinggang Anisa, kemudian mengecup bibir Anisa.
"Mas ini di kantor," Anisa berusaha menghalau Atlas, agar tak kembali mengecup bibirnya.
"Iya, panggil tamunya. Jangan lupa suruh ob untuk mengantar minuman ke sini. Terus temani saya menemui tamunya," ujar Atlas tetap mampu mencuri ciuman dari Anisa.
"Baik pak," Anisa kembali berjalan layaknya model.
"Atas nama ibu Zahra? Pak Atlas setuju bertemu dengan anda," Anisa memanggil tamu perusahaan mereka.
"Ok," Wanita itu dengan angkuh nya melewati Anisa.
^^^Cih bisa bisanya Atlas menikahi wanita udik sepertinya. Pakai pelet pasti.^^^
"Halo Atlas, aku yakin kamu pasti tak akan menolak kerja sama antar perusahaan kita," wanita itu segera duduk dan tersenyum menggoda ke arah Atlas.
"Hm, duduk lah," Atlas segera mengalihkan pembicaraannya, dengan meminta sang dewa.
"Permisi pak, ini berkas yang kemarin," Anisa segera masuk ke dalam dan kngecilkan bing dengan pembicaraan mereka.
"Kau tak berubah sejak dulu Atlas," wanita itu kembali mencoba untu menggoda Atlas.
"Kau juga tak berubah, selalu mendekat kala ada maunya, dan selalu suka melirik milik orang lain," ujar Atlas menohok.