Travelove

Travelove
I love you



Ahmed dan Bilqis tengah datang mengunjungi rumah sakit, sekaligus mengantarkan berkas titipan dari Atlas untuk Tate. Namun pada saat datang tadi Tate tengah menemani Dini untuk belajar berjalan, di bantu oleh tongkat bantu jalan, yang telah di sediakan.


"Ah kalian datang, aku titip temani Dini dulu ya, solnya mau beli makanan di bawah," ujar Tate menepuk pundak Ahmed.


"Titip Dini dek, jangan sampai di ganggu sama Med'i," ujar Tate mengecup puncak kepala Bilqis. Entah kenapa semenjak kejadian Dini, perasaan ingin melindungi adik bungsu perempuan satu satunya semakin tinggi, ia takut sesuatu terjadi kepada adiknya.


"Eh cium cium," kesal Ahmed melihat calon istrinya di cium. Meskipun dengan kakak kandung calon istrinya.


"Eleh yang ga boleh cium cium itu situ," ujar Tate melempar botol kosong ke arah Ahmed dan segera keluar dari ruang rawat inap tersebut.


"Eh buang sampah sembarang ya," kesal Ahmed segera membuang botol kosong tadi ke dalam tong sampah. "Kakak ipar kapan sembuh nya?"


Ahmed segera duduk di samping tempat tidur, dan memperhatikan Dini yang masih berlatih. Kakinya terasa sedikit kaku, meski lebih baik dari kemarin.


"Ini sudah mendingan," ujar Dini memperhatikan langkahnya, Dini sedikit menyunggingkan senyuman.


"Yang cepat ya, biar aku bisa nikahin Iqis," ujar Ahmed membuat Bilqis cengong sendiri, tak menyangka ucapan tersebut keluar dari mulut laki laki yang memaksanya menjadi sekertaris.


"Memang kenapa kalau saya skit?" Dini menghentikan langkahnya, membuat Bilqis mendekat. Bilqis mengusir Ahmed dari samping bangker kemudian menuntun Dini untuk duduk.


"Yah gitu deh, acara lamaran ulangnya belum bisa di buat, karena calon suami kakak ga mau ninggalin kakak," ujar Ahmed dengn wajah di buat semenderita mungkin, berharap Dini mampu membujuk Tate agar mau datang barang sebentar saja. Karena Bilqis sedikit keberatan jika Tate tidak hadir di acaranya.


"Hah?" Dini terkejut, ia masih bingung arah tujuan Ahmed berbicara. Dini segera mengambil air yang di berikan Bilqis. "Terimakasih Iqis."


"Siap kak," ujar Bilqis segera meletakkan peralatan Dini ke pojok ruangan agar tak mengganggu yang lain.


"Masa ga tau sih," Ahmed melanjutkan ucapannya, ia penasaran bagaimana kelanjutan hubungan antara Tate dan Dini.


"Maksudnya?" Dini tampaknya masih belum memahami maksud dari Ahmed. Bahkan kening Dini tampak berkerut, karena bingung dengan maksud ucapan Ahmad.


"Si Tate," Ahmed mulai tampak seperti ibu-ibu kompleks yang hobi bergosip, ketika sedang berkumpul dengan ibu-ibu lainnya saat berada di penjual sayur keliling.


"Kenapa dia?" Dini tampak begitu penasaran dengan kelanjutan dari cerita Ahmed. Ia bahkan sampai mencondongkan tubuhnya.


"Kak bisa diam ga sih," Bilqis yang mengerti akan keadaan Tate yang tak siap mengungkapkan isi hatinya, kini mencoba menghentikan ucapan bibir ember dari Ahmed calon suaminya.


"Iya sayang ni baru mau diam," Ahmed segera memeluk pinggang Bilqis, yang tampak tak ingin Ahmed membocorkan rahasia kakaknya. "Wah jangan jangan si Tate tak pernah menyampaikan isi empedunya," namun baru saja iya mengatakan ingin diam, ternyata Ahmed kembali melanjutkan gosip terhangatnya.


"Kak Iqis tutup mulut kakak lama lama ya," Bilqis mulai geram dengan Ahmad, yang masih saja melanjutkan pembicaraannya. sebenarnya Bilqis ingin Dini mengetahui perasaan Tate dari mulut Tate sendiri.


"Pakai mulut juga ya," Ahmed justru memoyongkan bibirnya ke arah Bilqis. "Wah si Tate gengsi gede juga rupanya."


"Kak..." Bilqis yang geram kini mulai merengek kepada Ahmad, bahkan Bilqis sedikit mencubit perut Ahmed.


Namun tak disangka-sangka, ternyata Ahmed segera menuju bibir Bilqis, kemudian tertawa melihat wajah kesal bercampur memerah milik Bilqis. "Nah kan enak kalau di bekap gini mulutnya, apalagi kalau lebih lama tambah endol deh."


Plak.


Sebuah ketukan mendarat di kepala Ahmed, ternyata Tate telah kembali dari kantin. Tak ada yang menyadari masuknya Tate ke dalam ruangan tersebut, hal itu terjadi karena mereka terlalu fokus dengan topik pembicaraan mereka.


"Itu yang ke enakan lo Med'i," Tate segera mendekat ke arah Dini, Tate segera membukakan sebuah snack untuk Dini. Karena tahu Dini tengah lapar, akibat terlalu memposir tenaganya untuk belajar berjalan.


"Eh kakak ipar," Ahmed justru dengan santai menghadapi Tate. "Sweet banget."


"Calon, catat..." Tate tampaknya masih malas dipanggil kakak ipar oleh Ahmad, karena sebenarnya Ahmed lebih tua dibanding dirinya.


"Bentar lagi ya, Minggu ini pokoknya mau lamaran," Ahmed memandang gemas ke arah Bilqis, yang terus mengulur waktu dalam proses lamaran kedua.


"Ih pemaksaan," Bilqis memutar bola matanya, meski sebenarnya Bilqis telah meyakini bahwa Ahmad memang mencintainya, namun untuk urusan menikah Bilqis kira itu terlalu cepat.


"Dari pada pemendam, bilang cinta sama Dini aja susah minta ampun," Ahmed justru menyinggung Tate, yang tampak memilih untuk memendam perasaannya.


"Med'i..." Tate geram sendiri mendengar ucapan Ahmed.


dini seketika memandang ke arah Tate, entah ia merasa mengerti maksud ucapan Ahmad sejak tadi. Ia memperkirakan bahwa tante memiliki perasaan kepadanya, namun tidak berani mengungkapkannya.


"Cie malu," Hamid bukannya takut justru laki-laki itu menggoda calon kakak iparnya. "Lihat tu calon kakak iparnya juga malu malu."


"Kakak..." Bilqis semakin gemas segera menarik Ahmed dari hadapan Tate dan Dini. "kak berkasnya ada di atas meja."


"Iya sayang," Ahmed berucap sembari ditarik paksa keluar dengan Bilqis. "Ini bekap dong tapi aga lamaan dikit."


Sementara di dalam ruangan dini tampak menunduk malu, seketika ia sedikit gugup berada di samping Tate. Tate yang merasa semuanya telah terbuka, menarik nafasnya kemudian mencoba memegang tangan Dini.


"Yang dikatakan Ahmed memanglah benar, aku memang benar jatuh cinta kepadamu. Jadi aku ingin kamu menjadi istriku kelak, aku tahu ini terlalu cepat untuk kamu, namun aku juga tidak ingin terlalu lama memendam perasaan ini," Tate mencoba memandangi wajah Dini yang masih menunduk.


"Kenapa? Karena kasihan?" Dini tampak sedikit tidak percaya diri.


"Hm, tidak juga aku hanya rasanya ingin selalu melindungimu, aku tidak bisa melihatmu dalam keadaan bersedih terlebih seperti kemarin aku sangat sakit," ungkap Tate membuat dini memandang ke arahnya. "Mau ya Din."


Dini memandang lekat mata indah milik Tate, ia mencari sebuah kebenaran dari mata tersebut. Namun ternyata ia menemukan sebuah kejujuran di sana. Dini menggigit bibir bawahnya, iya terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya.


Tate yang melihat hal tersebut segera mendekatkan wajahnya, dengan sedikit ragu ia semakin mendekatkan wajahnya. Tate mencoba mengecup bibir Dini. Cup. Bibir mereka menyatu, Dini terdiam membeku. Tate menggerakkan bibirnya dengan lembut hingga beberapa saat.


"I love you," bisik Tate dengan senyuman, tanpa mengharap balasan yang terucap dari bibir Dini. Karena reaksi Dini tadi cukup memberinya balasan.