
Anisa dan Atlas saat ini turun dari mobil yang sama, membuat semua orang memandang ke arah keduanya. Semua orang telah heboh dengan video tentang kedatangan keluarga Lyansi di rumah sakit, terlebih para wartawan juga menyoroti Anisa dan Atlas yang bergenggaman erat.
"Aku dengar tadi pagi mereka telah menikah, itu dari sepupu bos sendiri. Dan katanya mereka akan berpacaran halal," bisik salah satu di antara mereka.
"Ah... Sweet, aku jug mau..."
"Paling juga tuan Atala di guna guna," salah satu di antaranya mencebikkan bibir.
"Dasar tukang iri," ujar yang lain.
"Iya mana mau tuan Atala dengan dia, lah kalau hitung kenal, lama kita kenal dengan tuan Atala," ujarnya membela diri.
"Situ kenal dia, dia yang ga kenal situ. Memangnya bos Atala tau kalau kamu hidup? Tau muka kamu seperti apa? Tau kalau kamu kerja di sini? engga kan? Makanya jangan iri," ujar wanita yang satunya. "Lah beda sama dia, tiap hari ketemu, liat liatan, pak bos tau kalau dia sekertaris nya, tiap hari ngobrol, kemarin juga pergi keluar kota bareng, liburan juga bareng keluarga bos, masa guna guna satu keluarga sih?"
"Terserah, percaya sukur, ga percaya ya sudah," ujarnya meninggalakan yang lain. Sungguh sebenarnya wanita itu iri kepada Anisa, baru beberapa minggu masuk, kini berhasil menjadi istri dari CEO mereka, berbeda dengan dirinya yang sudah tiga tahun, bahkan kesempatan untuk berbicara saja tidak pernah dia dapatkan. Benar kata temannya bahwa bahkan bosnya saja mungkin tidak tahu adanya dirinya.
Anisa yang mendapat pandangan aneh dari orang orang menjadi tidak enak sendiri, Anisa segera memundurkan tubuhnya, berjalan selayaknya sekertaris Atala.
"Kamu kenapa?" Atala menghentikan langkahnya.
"Ini di kantor mas," cicit Anisa membuat Atala terkekeh kemudian mengangguk paham.
Asisten Ar tersenyum melihat hal tersebut, sungguh asisten Ar bersyukur mendapat nyonya yang dapat di atur, penurut, bonus pintar dalam beradaptasi. Mereka segera masuk ke ruang sendiri sendiri. Dan mulai mengerjakan tugas kantor yang lumayan menumpuk.
Bunyi telfon membuat Anisa segera mengangkatnya. "Halo..."
"Halo bisa kamu ke ruangan saya? Tolong antar laporan keuangan minggu lalu, sekalian kamu rekap yang katanya ada kejanggalan, kita meeting."
"Baik pak, saya tutup pak," ujar Anisa sopan, di kehidupan sehari hari saja dirinya masih canggung, terlebih di kehidupan kantor, dirinya di tuntut harus profesional.
Anisa segera berjalan memasuki ruangan CEO yang tak lain merupakan suaminya, Anisa yang menyadari tatapan orang orang berusaha tidak memperdulikannya, dan memilih untuk berkonsentrasi membawa setumpuk berkas laporan keuangan yang menurutnya ada yang mengganjal,
"Masih mau aja bawa banyak, padahal bisa nyuruh orang, kan ga akan ada yang nolak, dia kan istrinya si bos," bisik salah satu karyawan.
"Iya kalau aku sudah ku suruh asisten Ar itu."
Tepat setelah mereka mengatakan hal tersebut, asisten Ar datang dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Mau saya bantu nyonya?"
"Ah iya tolong sebagian," ujar Anisa tidak enak.
"Kenapa tidak semu?" Asisten Ar bingung sendiri melihat nyonyanya yang mau repot-repot.
"Ini kan tugas saya, lagian ini lingkungan kantor jadi harus profesional," ujar Anisa membuat asisten Ar tersenyum.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan Atlas, yang telah di hadiri oleh Bilqis di sana. Bilqis tersenyum ke arah keduanya.
"Halo kakak, lama ga ketemu, sekita liga jam yang lalu," ujar Bilqis membuat Atlas menggelng pelan.
"Iqis juga ikut?" Anisa tersenyum duduk di samping Bilqis.
"Iya lah, kan Iqis sekarang direksi keuangannya, terus kata kakak kemarin ada yang salah dengan laporan keuangan," ujar Bilqis penasaran, pasalnya ia juga baru memasuki lingkungan kantor tersebut menjelang adanya panggilan wisuda.
"Cie yang kalau di kantor manggil pak, tapi di rumah manggil sayang," goda Bilqis membuat Atlas menggeleng.
"Kamu itu sudah terkena virus aneh Ahmed ya," ujar Atlas membuat Bilqis terkekeh.
"Lah dari pada kakak sama om Daniel, eh..."
Atlas terkejut mendengar kaa kata Bilqis, Atlas takut jika Bilqis mengetahui tentang penjebakan dirinya terhadap Anisa. Maka jika sampai di telinga Anisa Atlas' takut Anisa akan marah, dan meninggalkan dirinya. Meskipun saat ini dirinya masih harus jaim di hadapan Anisa, setidaknya pelan pelan dirinya mulai masuk secara perlahan kedalam hati Anisa.
"Apaan sih dek," ujar Atlas. "Ayo kita langsung saja, masih banyak pekerjaan yang lain," Atlas berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mereka segera memulai diskusi keuangan yang di maksud Anisa. Benar saja ternyata memang ada keganjalan dalam laporan tersebut. hal itu segera membuat Atlas mengangguk dan mulai berfikir keras kemana uang tersebut perginya, dan kepada siapa.
"Ar tolong selidiki tentang kemana dana sebesar seratus sepuluh juta ini," ujar Atlas membuat asisten Ar mengangguk.
"Iya tuan, akan segera saya laksanakan," ujar asisten Ar.
"Iqis biar Iqis yang selidiki tentang aktifitas dan peralatan apa saja yang memang di beli untuk kantor beberapa bulan lalu," ujar Atlas lagi.
"Iya kak, nanti Iqis selidiki."
Setelah berdiskusi Bilqis dan asisten Ar segera keluar dari ruangan Atlas. Hanya tersisa Anisa yang sibuk membereskan berkas berkas tersebut. Atlas tersenyum segera mendekat dan memeluk tubuh Anisa dari belakang.
"Mas, ini di kantor," ujar Anisa berusaha menahan detak jantungnya.
"Iya tidak apa apa, ini kan waktunya makan siang," ujar Atlas mengecup pipi Anisa.
"Mas malu," keluh Anisa dengan wajah yang memerah.
"Malu sama siapa?" Atlas mengusap lembut pipi Anisa.
"Ih mas..." Anisa malu sendiri jadinya.
"Kapan kakak mu akan akad nikah?" Atlas mengalihkan pembicaraan mereka. Sembari duduk dan membawa Anisa ke dalam pangkuannya.
"Malam besok, Linda juga katanya tidak enak, takutnya ada fitnah atau semacamnya," ujar Anisa dengan wajah yang memerah. Atlas benar benar terlalu dekat, sehingga membuatnya malu sendiri.
"Hm," Atlas membalikkan tubuh Anisa untuk menghadapnya. "Jadi kamu kapan siap untuk memiliki anak?"
Mendengar kata anak, sungguh Anisa menjadi malu sendiri. Wajahnya memerah membuat Atlas gemas sendiri. "Mas, kita baru kenalan loh," Anisa berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya kan bisa di mulai dari ranjang dulu," ujar Atlas segera membaringkan tubuh Anisa di atas sofa. Atlas segera menindih tubuh Anisa, yang berada di bawah kukungannya.
"Maas..."
Atlas tersenyum mendengar suara bergetar Anisa, tangannya yang sedikit amatir bergerak kesana kemari mengusap bagian bagian yang katanya mampu membuat perempuan merem melek.
Atlas mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup bibir Anisa secara perlahan. Anisa yang terkejut hanya bisa mematung sesaat. Detik berikutnya Anisa menutup matanya kala melihat mata Atlas tertutup.
^^^Mungkin ini saatnya. Anisa.^^^