Travelove

Travelove
manis dan asam



Atlas saat ini benar benar berbulan madu bersama istrinya, tentu saja semua bahagia karena ternyata Atlas mendapat belahan jiwanya. Dan bahkan senyum Atlas tidak pernah lepas dari bibirnya, sementara Anisa masih bingung dan malu malu. Anisa memang mengatakan akan belajar mencintai Atlas. Namun kemewahan yang tiba tiba di terima, bahkan keramahan orang orang di sekitarnya membuat Anisa benar benar sering sungkan. Mertua yang perhatian, adik ipar yang tak pernah membedakan mereka.


Seperti saat ini Atlas datang dan duduk di sampingnya, Atlas membawa beberapa buah ceri dan buah anggur, untuk mereka santap bersama. Mereka merubah jadwal liburan mereka di Bali di dengan berlibur bersama di hotel yang berdekatan dengan pantai. Hal itu di lakukan agar mereka bisa dengan mudah kembali ke Jakarta ketika Bilqis akan wisuda.


"Mau buah?" Atlas mendudukkan diri di samping Anisa, membuat Anisa benar benar salah tingkah. Juwita dan Brayen melihat hal itu sungguh bahagia, anaknya yang kini berubah pelan pelan dalam hal menunjukkan perasaannya, sementara menantu mereka malu malu, seperti orang yang baru mengenal cinta.


"Boleh," ujar Anisa kecil, sembari mengangguk. Sungguh membuat Atlas gemas sendiri. Atlas segera mencubit pipi Anisa dengan gemas, dan mengambil buah ceri kemudian menyuapkannya ke bibir Anisa. Anisa segera membuka mulutnya kecil. Atlas semakin gemas, segera merangkul bahu istrinya dan mengecup kening Anisa.


Juwita segera masuk ke dalam pelukan Brayen dan memandang anak dan menantunya dengan haru. "Semoga mereka langgeng ya Pi," Brayen mengangguk setuju.


"Tadi sedang apa? Kenapa tidak gabung?" Atlas mengusap jari jari tangan Anisa.


"Malu," cicit Anisa yang belum terbiasa dengan semua gaya hidup orang orang kaya. "Lagian tadi video Cal_an dengan Linda, menanyakan perihal kakak."


"Kau tenang saja, aku sudah meminta beberapa orang mengawasi rumah mereka, agar jika terjadi sesuatu mereka akan bisa di tangani dengan cepat," ujar Atlas mengusap lembut pipi Anisa.


"Terimakasih," ujar Anisa merasa tidak enak merepotkan lelaki yang kini menjadi suaminya.


"Sama sama, keluarga mu juga adalah keluarga ku ok, jadi tidak usah merasa tidak enak," ujar Atlas mengusap lembut kepala Anisa.


Keduanya terlihat sangat serasi, Atlas yang agresif sementara Anisa yang malu malu, mereka benar benar terlihat sangat manis. Namun di setiap kehidupan pasti ada manis dan asamnya. Begitu pun saat ini jika Atlas dan Anisa merupakan manisannya, sementara Ahmed yang nyempil di liburan keluarga itu merupakan asamnya. Wajahnya sejak tadi masam membuat Tate dan Wira terkikik geli.


"Kenapa sih? Aneh sekali kau Ahmed," Wira memandang wajah Ahmed yang masam. Wira sejak tadi sudah hendak terkekeh, namun mencoba menahannya, ingin berpura pura bodoh saja di hadapan Ahmed, agar mengetahui kegundahan hati Ahmed, meskipun sebenarnya mereka semua tahu kegundahan hati Ahmed.


"Entah kenapa sih? Orang mereka itu sooooo sweet," ujar Bilqis mengumpulkan tangannya, gemas melihat tingkah pasangan baru tersebut. "Ih gemes banget merek, jadi pengen ah..."


Mendengar penuturan Bilqis dan Wira semakin kesal dan gusar pula hati Ahmed, rasanya ia seperti tergores pisau dan kini di beri cuka jeruk nipis pula. "Cih harusnya aku yang ada di sana," ujar Ahmed yang membuat mereka memandang arah Ahmed, Wira dan Tate sudah menahan tawa sejak tadi, namun Bilqis yang tak tahu apa apa, kini bercampur kesal dan bingung melihat tingkah calon suaminya itu. "Maksud ku aku harusnya aku dan Bilqis."


"Ayolah Qis, kan kakak sudah jelasin masa masih ga mau sih?" Ahmed mengikuti langkah Bilqis ke dalam menyusul calon istrinya yang masih acuh tak acuh kepadanya.


Semua orang terkekeh mendengar penuturan Ahmed yang sedang mengejar cinta Bilqis, kejadian kemarin memang membuat Bilqis lebih waspada kepada mulut manis Ahmed.


Ahmed duduk di samping Bilqis kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Bilqis sontak saja wanita itu terkejut. "Ah..." Bilqis hampir saja berlonjak, jika saja Ahmed tidak memeluk pinggangnya. "Kakak apa apaan sih? Iqis mau nonton ganggu aja, sana."


"Kakak temani ya," ujar Ahmed memperbaiki letak kepalanya memeluk bantal menikmati film yang tak terlalu di sukainya. Ahmed sendiri bingung kenapa hampir semua wanita menyukai drama Korea seperti ini. Bukan kah semua hanya memberi harapan palsu?


"Hahaha," Bilqis memukul pelan bahu Ahmed tanpa sengaja, ketika adegan komedi yang keluar. Drama ini memang menceritakan tentang drama keluarga, yang di dominasi oleh adegan komedi pertengkaran antar kakak beradik.


Ahmed menarik kembali ucapannya, Ahmed benar benar menikmati drama tersebut. Pasalnya Ahmed pencinta adegan komedi, yang memberi adrenalin rasa dan aura kebahagiaan.


Bilqis tertawa keras ketika melihat adegan pemeran wanita melempar kakaknya dengan bola kasti dan tepat mengenai pusaka keramat kakaknya. Ahmed justru meringis melihatnya, namun dorongan untuk tertawa lebih banyak.


Mereka sama sama terdiam ketika adegan mesra mulai di tayangkan, baik Ahmed dan Bilqis sama sama meremas ujung baju mereka. Terlebih ketika adegan pemeran pria yang hendak mencium bibir pemeran wanita. Bilqis menjadi tegang sendiri. Ahmed memutar kepalanya memandang ke arah Bilqis yang tampak terhipnotis oleh adegan drama tersebut. Ahmed segera bangun dari tidurnya, membuat Bilqis terkejut, namun pandangan mata Ahmed lebih membuat Bilqis terkejut dan mematung.


Ahmed mendekatkan wajahnya ke wajah Bilqis, Bilqis di buat tegang sendiri. Tak tahu harus melakukan apa, ada rasa segan dan gengsi, namun juga menginginkannya. Bilqis juga ingin sekali lagi adegan mereka di parkiran mall kembali terulang, sungguh sangat nikmat.


Ahmed tersenyum kala melihat Bilqis menutup matanya. Gadis itu setuju dan telah siap, setidaknya itulah yang di simpulkan Ahmed. Ahmed segera mengecup bibir Bilqis dengan lembut, merasa tidak ada penolakan Ahmed mulai menggerakkannya. Ternyata di adegan drama tersebut kedua pemeran tidak jadi menyatukan bibir mereka, karena adanya gangguan. Namun justru adegan tersebut di lanjutkan oleh penontonnya, yang tak lain adalah Ahmed dan Bilqis.


Setelah mereka saling melepaskan tautan, Bilqis menundukkan wajahnya malu, pipinya jangan di tanya sudah bersemu merah jambu. Ahmed segera menarik Bilqis untuk bersender di dadanya, sembari Ahmed memeluk erat Bilqis.


Tawa mereka kembali terdengar kala adegan selanjutnya, hingga film selesai Ahmed hendak segera bangkit, namun melihat pergerakan nafas Bilqis yang teratur, membuat Ahmed menurunkan niatnya. Ahmed mengecup pelipis Bilqis, dan memilih untuk mengambil selimut yang tersedia di sofa, menyelimuti tubuh mereka.


"Calon bini' mau mau tapi malu nih," ujar Ahmed kembali mengecup puncak kepala Bilqis, kemudian mulai menutup matanya dan ikut menyusul mimpi calon istrinya.