Travelove

Travelove
nasihat Juwita



Di sepanjang pekerjaannya, Ahmed terus memikirkan nasib pernikahannya dengan Bilqis. Ahmed menahan hanya menghela nafas kasarnya. Ahmed memandang ke arah berkas kliennya dan mangut mangut, Ahmed hanya mendengarkan celotehan kliennya namun tak memperhatikan apa yang di ucapkan kliennya. Pikiran Ahmed terus berkecamuk dengan ekspresi wajah menangis Bilqis dan ucapan Bilqis. "Sudah lah kak, mungkin kita tak berjodoh," ucapan Bilqis terus terngiang di dalam pikirannya.


"Bagaimana pak? Apa masih ada yang kurang?" Ahmed tersentak keluar dari lamunannya, Ahmed segera memperbaiki duduknya dan mencoba bersikap tenang.


"Hm... begini nanti akan saya cek lagi proposal nya, nanti jika ada yang kurang akan saya tanyakan melalui sekertaris saya," ujar Ahmed.


"Kenapa tidak sekarang saja? Jadi saya bisa menjawab semua kekeliruan bapak, dan jika ada sesuatu yang di kira kurang akan saya perbaiki," Ahmed sedikit mengerutkan keningnya, bingung mencari alasan apa yang tepat untuk membuat kliennya paham.


"Begini sebenarnya saya kurang enak badan, saya harus segera ke dokter saat ini, jadi nanti setiba di rumah akan saya pelajari lagi semuanya, mohon maaf kan saya atas ketidak profesionalan saya," ujar Ahmed mencoba mencari alasan agar dirinya terlihat sedikit lebih baik, terlihat lebih sedikit berwibawa.


"Oh baiklah, terimakasih atas waktunya tuan, saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Dan satu lagi semoga anda lekas sembuh," ujar klien Ahmed mengulurkan tangannya ke arah Ahmed.


"Iya semoga," ujar Ahmed menyambut uluran tangan kliennya.


......................


Sementara di tempat lain Tate datang ke ruangan Atlas dengan wajah kesal. Ia terlihat tak bersahabat hati ini. Bahkan seluruh karyawan tak berani untuk menyapanya, ia tak seperti biasanya.


"Kakak besok jadi ke luar kota?" Tate masuk tanpa mengetuk pintu ketika Atlas tengah menerima laporan dari asisten Ar dan sekretarisnya Anisa.


"Tentu saja di tunda, kan Iqis sebentar lagi mau menikah," ujar Atlas bingung sendiri. Bagaimana mungkin ia tak menghadiri pernikahan adik bungsunya, putri satu satu nya di keluarga mereka.


"Pernikahan telah di batalkan, Iqis sendiri yang tadi datang ke pencatatan sipil, dan membatalkan jadwal pernikahannya. Tadi Tate yang menemaninya," ujar Tate mendengus kesal, emosinya kembali naik kala mengingat kejadian di restoran tadi. Adik satu satunya, adik bungsunya telah di permainkan oleh Ahmed, laki laki yang telah ia percaya akan menjaga adik bungsunya.


"Loh kenapa?" Atlas bingung sendiri. "Keluarlah kalian berdua," ujar Atlas hendak berbicara empat mata dengan adiknya. Ini menyangkut adik bungsu mereka, tentu sangat penting untuknya, kebahagiaan adiknya adalah hal yang utama saat ini.


"Kakak tahu Ahmed hanya menjadikan Iqis sebagai pelampiasan, dan tidak benar benar mencintai Iqis," ujar Tate berapi api. Sungguh dadanya masih terbakar jika mengingat hal tersebut.


"Kau tahu dan mana?" Atlas bingung sendiri di buatnya.


"Jadi tadi...


Flashback.


Iqis sejak tadi merengek ingin makan bersama Tate di restoran favoritnya, namun saat mereka sampai di sana entah kenapa saat mereka masuk mereka melihat Ahmed bersama dengan Tom, mereka kenal dengan Tom. Dan Tate tahu masalah di antara mereka. Tate dan Bilqis hendak mendekat namun langkah mereka terhenti kala mendengar percakapan mereka, Tate memandang ke arah Bilqis dengan wajah iba. Tate tak menyangka bahwa Ahmed tak membantah seluruh tudingan Tom, bahkan Ahmed terkesan membenarkannya.


Awalnya Tate ingin segera menghadiahi bogem mentah, namun Bilqis menghentikannya. Tetapi lama kelamaan Bilqis juga tak tahan, hingga akhirnya melepaskan genggaman tangan Tate. Dan Tate mendaratkan bogem mentah di wajah tampan Ahmed.


Flashback end.


"Gitu kan ceritanya," ujar Tate selesai menjelaskan masalahnya.


Atlas menghela nafasnya, Atlas sungguh kecewa mendengar penuturan dari Tate. Dirinya tak menyangka bahwa Ahmed sungguh seperti itu. Ada rasa menyesal membujuk Bilqis menerima perjodohan tersebut.


"Ya sudah kakak dan Nisa akan berangkat besok," ujar Atlas. "Pergilah ke ruangan mu, dan besok kau harus ke luar kota juga bukan?"


"Iya kak," ujar Tate.


Atlas segera menelfon papinya dan mencoba mengkralifikasi hal tersebut kepada papinya.


"Halo," ujar Brayen di ujung sana.


"Di kamar, katanya mau pergi liburan pergi duluan ke tempat tujuan kita," ujar Brayen di ujung sana.


"Lalu bagaimana?" Atlas memejamkan matanya membayangkan wajah sedih Bilqis.


"Semua baik baik saja, kamu pasti sudah mendengarnya dari Tate. Tadi papi sudah menghubungi Chandra, dan Chandra meminta pernikahan mereka hanya di undur. Ahmed memang butuh waktu untuk mengetahui isi hatinya. Dari sikap posesif Ahmed kepada Iqis sebenarnya Ahmed memiliki perasaan, namun belum menyadarinya. Mungkin dengan mereka berjauhan akan membuat mereka sadar satu sama lain," ujar Brayen di ujung sana.


"Ok Pi, kapan Iqis berangkatnya?" Atlas memijat kepalanya pusing, persoalan cinta memang memusingkan.


"Sebentar lagi, papi akan mengantar dia sekarang," ujar Brayen. "Ya sudah ini sudah mau berangkat."


Atlas menyimpan ponselnya dan segera menghubungi sekertaris nya. "Halo keruangan saya sekarang."


......................


Ahmed kembali dengan wajah lesunya, ia telah berada di depan rumah keluarga Lyansi, Ahmed berencana untuk meminta maaf dan menjelaskan semua kepada Bilqis. "Pak tolong buka pintunya," ujar Ahmed meminta satpam tersebut membuka pintu gerbang untuk Ahmed.


"Iya den," pintu itu segera terbuka untuk Ahmed.


Ahmed segera masuk ke dalam halaman dan memarkirkan kendaraannya sembarangan. Ahmed segera masuk dan menghampiri Juwita yang tengah bersantai.


"Mi Ahmed minta maaf, tapi ini semua salah paham," ujar Ahmed tiba tiba duduk bersimpuh di bawah tempat duduk Juwita.


"Eh Ahmed kenapa?" Juwita terkejut melihat Ahmed di dekatnya.


"Mi Ahmed minta maaf, Iqis mana? Biar Ahmed jelaskan dulu dengan dia," ujar Ahmed memohon.


"Ahmed... Iqis baru saja berangkat dia akan menenangkan dirinya," ujar Juwita lembut kepada Ahmed.


"Kemana mi?" Ahmed terkejut mendnwga pernyataan dari Juwita.


"Nanti akan ada saatnya kamu menyusulnya, setelah kamu menetapkan hati mu. Sekarang biarkan dia berfikir sejenak," ujar Juwita mengusap kepala Ahmed.


"Mi sampai kapan mi?" Ahmed cemas sendiri di buatnya.


"Sampai kau mampu mengetahui isi hati mu," ujar Juwita kembali tersenyum ke arah Ahmed.


"Mi ini salah paham," ujar Ahmed mengira Juwita salah paham dengan hal tersebut.


"Mami tahu, tapi kau juga harus menetapkan hati mu," ujar Juwita.


"Jadi Ahmed harus ngelakui apa mi?" Ahmed memandang ke arah Juwita dengan pandangan memelas.


"Pulang lah dulu, istirahat, pikirkan semua tentang hati mu. Tetapkan hati mu, jika masih ada dia dan kamu masih ingin melanjutkan pernikahan kalian yang pasti tertunda, pastikan kamu menghapus namanya di sini," Juwita menunjuk ke arah dada Ahmed. "Dan masukkan nama anak mami di sini."


"Tapi mi kami sudah sepakat akan membuka hati masing masing," Ahmed masih kekeh ingin bertemu dengan Bilqis.


"Iya, tapi terkadang berjauhan terlebih dahulu lebih baik, demi mengetahui sejauh apa rasa yang kita miliki," terang Juwita membuat Ahmed tertunduk lesu. "Kembali lah, karena percuma kamu menunggu di sini, Iqis sudah tidak disini."