Travelove

Travelove
malam yang menakutkan



Sementara di tempat lain Atlas dan Anisa baru saja sampai di salah satu tempat yang di maksudkan, mereka tengah duduk dan mengistirahatkan diri di gazebo. Mereka memang memesan dua kamar yang terkoneksi dengan satu kolam berenang dan teras, di lengkapi dengan gazebo. Anisa tengah duduk sembari menelfon sahabatnya, demi melihat keadaan kakaknya. Tampak kakaknya tengah makan sembari duduk di sofa ruang tamu, tampak memperhatikan toko kecil mereka.


"Hati hati ya kalian di sana," ujar Anisa tersenyum ke arah kamera.


"Iya kalian juga semangat kerjanya, kak Atala baik baik saja kok di sini," ujar Linda dari seberang sana. "Sekarang kunjungan kaki laki sudah jarang, mau beli barang pun sales-nya aku minta cewek, biar kakak ga marah marah lagi, atau mesan sama agen minta antar karyawan cewek, biar kak Atala ga di tinggal sendirian."


"Iya Lind, nanti aku bawain gantungan kunci deh," ujar Anisa membuat Atlas menggeleng, bagaimana mungkin janji membawa oleh oleh hanya sebuah gantungan kunci.


"Yey makasih ya, kak Atala beliin baju atau apa gih, kasihan bajunya sudah pada mulai kekecilan, berat badannya naik," ujar Linda terkekeh.


"Ya sudah dada Linda, hati hati ya," ujar Anisa melambaikan tangannya. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," ujar Linda kemudian sambungan telefon mereka terputus.


"Sudah hampir sembuh, soalnya berat badannya naik ya," ujar Atlas membicarakan Atala.


"Iya tapi berat badan naik itu karena efek samping dari obat nya," jawab Anisa terkekeh.


"Oalah gitu loh, kamu kalau menghadapi kakak mu gimana?" Atlas memandang lekat ke arah Anisa.


"Ya tergantung, saat sedang kambuh atau lagi tenang?" Anisa tersenyum ke arah Atlas yang membuat Atlas sedikit terpesona melihat senyum lepas wajah Anisa.


"Pas lagi kambuh," ujar Atlas memandang lekat wajah Anisa.


"Ya biasa lah, ngamuk ngamuk gitu, tapi yang paling kasihan itu Linda, untung dia mengerti sedikit tentang kejiwaan," ujar Anisa tersenyum miris, membuat hati Atlas sedikit perih.


"Maaf, kalau membuat kamu sedih," ujar Atlas meraih tangan Anisa, berharap Anisa menjadi lebih baik.


"Engga apa apa kok?" Anisa tersenyum ke arah Atlas. Atlas memalingkan wajahnya menetralisir sesuatu yang membuatnya sesak di dada. "Bapak kenapa? Perlu kita ke dokter?" Anisa segera memandang wajah Atlas dengan lekat.


"Ah tidak apa apa, saya baik baik saja," ujar Atlas menggeleng. "Saya masuk ke dalam dulu ya."


"Ah iya pak, kalau ada apa apa langsung bilang saja," ujar Anisa tersenyum ke arah Atlas.


"Iya," ujar Atlas terdegar menutup pintu kamarnya.


Lama Anisa duduk sembari memainkan ponselnya, namun tiba tiba Atlas memanggilnya dari arah belakang. "Nissss..."


"Ah iya pak? Ada yang bisa saya bantu?" Anisa segera menghadap ke belakang, namun anehnya tidak ada orang di belakang. "Bapak... Nisa ga main main loh," Anisa mengerutkan keningnya.


"Di dalam ruangannya kali ya? Mungkin butuh bantuan," ujar Anisa segera berjalan menuju kamar Atlas.


Anisa segera berdiri dan berjalan menuju kamar Atlas, kemudian mengetuk pintu yang terbuat dari kaca tersebut. "Pak..." Anisa terus mengetuknya. Hingga pintu kaca terbuka.


"Iya Nis? Ada apa?" Atlas memandang penuh tanya kepada Anisa, dengan rambut yang acak jadul bertanda laki laki itu baru bangun dari tidurnya.


"Lah terserah kamu lah, sudah hampir malam, masuk ke kamar kamu gih," ujar Atlas membuat Anisa mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan.


Anisa menetralisir perasaannya dengan mandi, namun tiba tiba lampu di kamarnya mati, membuat Anisa terkejut, dan menyelesaikan mandinya dengan segera.


Anisa segera masuk ke ruangannya dan memakai bajunya, saat tengah selesai memakai bajunya, tiba tiba dari arah luar Atlas mengetuk pintu Anisa membuat gadis itu segera keluar menyusul Atlas. Mungkin saja ada yang mendesak pikir Anisa.


"Pak ada apa?" Anisa berjalan menyusul ke arah Atlas. Namun Atlas tak menghiraukan, Atlas terus berjalan meninggalakan Anisa. "Pak ada apa?"


Tiba tiba ketukan kembali terjadi tampak atlas memandang ke arah Anisa dengan pandangan yang bingung. Bulu kuduk Anisa tiba tiba berdiri, dan membuat Anisa segera memandang ke arah samping dengan pelan, ternyata hanya dirinya yang di luar. Anisa segera berjalan menuju kamar Atlas. Namun langkahnya kembali terhenti kala melihat seseorang berdiri di samping Atlas. Wajahnya tak jelas namun tampaknya tubuhnya basah kuyup dan menunduk.


"Pak siapa yang di samping bapak?" Anisa memandang Atlas dengan wajah pucat nya. Kini Anisa benar benar tidak mampu menyembunyikan ketakutannya.


"Bukan di samping saya Nis, namun di samping kamu, itu dia di samping kamu," ujar Atlas segera membuka pintu kamarnya, dan menarik Anisa yang mematung di luar pintu. "Ngucap Nis," ujar Atlas menarik Anisa ke dalam dekapannya, mencoba menetralisir ketakutan Anisa.


Tiba tiba pintu kamar mereka seperti di ketuk dari arah luar. Anisa yang terkejut segera memeluk erat tubuh Atlas. "Ngucap ngucap ngucap."


"Astaghfirullahaladzim Nisa," ujar Atlas membuat Anisa mengangguk.


"Astaghfirullahaladzim, ya ya pak. Astaghfirullahaladzim," Anisa terus berucap membuat ketukan mereda.


Atlas segera menuntun Anisa menuju sofa, sejujurnya dirinya juga takut, namun sebisa mungkin menahan diri agar tidak ketakutan di hadapan Anisa. Namun saat mengulurkan tangan ke arah Anisa, tiba tiba pintu seperti di gebrak dari arah luar membuat Anisa berlonjak masuk ke dalam pelukan Atlas.


"Astaghfirullahaladzim ya Allah..." Anisa berucap kencang membuat Atlas segera mengusap punggung Anisa.


"Lahaula walakuwwata illabillahiladzim..." ujar Atlas terus berucap.


Hingga keadaan dirasa cukup tenang Atlas menuntun Anisa ke tempat tidur. Anisa segera masuk ke dalam selimut. "Pak saya tidur di sini dulu ya, soalnya saya takut pak," ujar Anisa menyelimuti dirinya.


"Iya biar saya tidur di sofa," ujar Atlas segera berbaring dan menghadap ke arah dinding. Hingga akhirnya mereka tertidur dengan keadaan ketakutan.


Tengah malam Atlas terbangun karena haus, namun ia tak sengaja melihat ke arah jendela kaca menuju gazebo, alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat beberapa makhluk aneh nan penuh darah tengah memandang ke arahnya. Atlas yang ketakutan pun segera bangun dan berlari menuju tempat tidur, Anisa yang terkejut segera memandang Atlas dengan penuh tanda tanya.


"Jangan bertanya sekarang, besok saja saya cerita, sekalian kita pindah hotel," ujar Atlas segera berbaring di samping Anisa dengan menghadap ke arah Anisa. Anisa yang penasaran sedikit mengintip ke arah jendela kaca bening yang ada di luar, namun alangkah terkejutnya ketika melihat tiga makhluk tengah menempelkan wajah ke jendela seolah sedang berusaha mengintip. Anisa dengan ketakutan segera masuk ke dalam selimut menempelkan dirinya ke arah Atlas.


"Pak saya peluk ya, saya takut," ujar Anisa memelas ke arah Atlas. Atlas tak mengatakan apa apa segera membawa Anisa ke dalam pelukannya.


.


.


.


Not. Ini update nya pagi ya, soalnya othor penakut wkwkwk, mau nulis malam rencananya tapi takut sendiri.