Travelove

Travelove
Misi penyelamatan



"Jadi pacar dia."


Tate terkejut mendengar ide gila maminya, namun hal itu juga masuk akal. "Setelah itu apa menjamin dia akan bebas dari perjodohan?"


"Belum tentu, memangnya kalau mami boleh tahu seperti apa kehidupan Dini yang sesungguhnya?" Juwita nendang lekat wajah anaknya.


"Setelah papanya menikah lagi, papanya berubah, apalagi setelah mereka memiliki anak, Dini di perlakukan tidak baik. Bahkan di jadikan sapi perah untuk keluarganya. Hanya neneknya yang melindunginya, namun setelah neneknya meninggal ia semakin di perlakukan tidak baik, bahkan terkadang di lokasi dia lebih banyak diam, dan murung," Tate menceritakan semua tentang Dini, dari yang Tate dengar hingga yang Tate lihat dengan mata kepalanya sendiri. "Namun kali ini Dini hendak di jodohkan sebagai alat pembayaran hutang, jika dini tidak mau maka dini akan di jual kepada om om atau di kurung dan di siksa kembali."


Juwita terdiam mendengar cerita dari Tate, sungguh Juwita tak habis pikir bagaimana seseorang memperlakukan anaknya seperti itu. Menjadikannya sapi perah, dan hendak di jadikan alat tukar? Sungguh hanya orang tua yang bia*dab yang melakukannya. Juwita tak tahu bagaimana keadaan gadis tersebut, jika terus berada di bawah keluarganya.


"Kamu harus bebaskan dia," ujar Juwita. Sungguh hatinya perih, ternyata ada luka yang di sembunyikan oleh gadis ceria itu.


"Iya tapi bagaimana ceritanya?" Tate memandang maminya.


"Mami punya cara, bawa paksa dia, bilang kita akan memisum dan melaporkan mereka kepada polisi," ujar Juwita memberi saran.


"Apa sekarang mi?"


"Besok kamu akan kesana besok, bawa pengawal minta dan tarik paksa Dini, jika terus begini mami khawatir kewarasannya akan hilang."


...----------------...


Sementara itu di tempat lain, Dini terus mengunci pintu kamarnya, menolak papanya untuk ikut bersamanya. Dini tahu mereka ingin mempertemukan dirinya dengan laki laki pilihan dari papanya. Sungguh dini telah mengetahui siapa yang akan di jodohkan dengannya, ia tadi mencuri dengar siapa yang akan di jodohkan dengannya.


Setelah mendengar nama laki laki itu, jelas Dini tak sudi. Bukan masalah umur yang terpaut jauh, namu. tingkah laki laki tersebut yang membuat Dini tak ingin dengan laki laki itu.


Laki laki muda dengan perjalanan penjajahan waktunya dengan jam terbang tinggi, memiliki anak dan istri. Sungguh Dini tak ingin merusak rumah tangga orang lain. Apalagi Dini kenal betul siapa istrinya.


"Dasar anak bang*sat, tidak tahu di untung keluar kamu. Masih keras kepala juga ha?" Herman terdengar berteriak dari arah luar.


"Cepat keluar, sekarang. Di beri yang bagus malah ngelunjak," terdengar Sisil ibu tiri dari Dini ikut berteriak.


Dini hanya menutupi telinganya menangis di samping tempat tidurnya, takut membuka pintu. Dini takut di pukul, di jambak, atau di sebat menggunakan tali pinggang. Dini takut itu semua. "Mama... nenek, Dini takut," Dini terisak di dalam kamarnya, hingga bunyi dobrakan membuat Dini memandang ke arah pintu. "Tolong Dini."


Pintu terbuka, dan rusak, membuat Dini terkejut bukan main. Papanya dengan wajah garang telah masuk dan membawa kayu untuk kembali memukuli Dini.


"Masih tidak mau? Masih menolak? Kau mau apa? Mau mencari yang lebih baik? Sudah baik kami menjodohkan mu," ujar Herman membuat Dini berlari ke arah sudut ruangan dini takut, sangat takut membuat Herman tersenyum puas.


Suara pukulan di punggung Dini kembali terdengar, Sisil tersenyum puas mendengarkannya. Dini tersenyum mengejek ke arah Dini. Sungguh jika begini ia akan sangat bahagia. "Sudah lah mas, besok akan berbekas, dia akan kita tunangkan, namun jika tidak mau, maka aku banyak relasi yang mencari daun muda, hanya untuk satu malam saja kita bisa mendapat sepuluh juta, bukankah itu lebih baik?"


"Kau benar juga, anak itu terlalu menyusahkan. Kenapa kau harus hadir ha?" Herman kembali menghardik Dini membuat dini semakin tertekan. "Ayo lebih baik kita pergi, sebelum mereka menunggu kita."


Tubuh Dini rasanya remuk, ia harus beristirahat, besok ada jadwal endors dirinya tak boleh terlihat lelah, dan tertekan. Dini kembali mengambil obat untuk menenangkan dirinya.


.


.


.


.


Pagi harusnya Tate telah bersiap siap, Juwita telah menceritakan seluruh kejadian kepada Brayen. Brayen terus menyemangati nya, Brayen juga tak menyangka jika ada orang tua yang seperti itu. Melepas kepergian anaknya untuk kembali ke Jakarta terlebih dahulu, membuat Brayen was was, Brayen memeluk putri satu satunya yang ia punya. Ia tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada putrinya. Wira ikut menemani Tate, menyelesaikan masalahnya. Wira memiliki banyak anak buah di Jakarta, jadi mereka bisa dengan mudah membawa pergi Dini dari kedua orang tuanya.


Di sepanjang perjalanan Brayen terus memegang tangan kedua orang yang di sayangnya, sungguh pemandangan yang sangat amat indah. Namun sesungguhnya Anisa iri, ia juga ingin seperti itu. Anisa menjadi merindukan alm ayahnya. Atlas yang menyadari pandangan Anisa, membuat laki laki itu memeluk istrinya erat.


Ahmed uang melihat semua pemandangan tersebut menjadi tersenyum masam. Ini untung calon mertua, kalau tidak ku turunkan di tengah jalan, biar jalan sampai di villa.


Di sepanjang perjalanan Wira dapat melihat betapa khawatirnya Tate. Wira dapat membaca bahwa gadis itu cukup istimewa untuknya. Selama ini hanya ada dua wanita yang mampu membuat Tate begitu khawatir. Pertama jelas Juwita sebagai wanita yang melahirkannya, dan yang kedua adiknya Bilqis sebagai permata bagi keluarga tersebut.


"Tenang lah kita akan membawanya pergi, kau tak perlu khawatir. Kita akan berusaha sekuat tenaga," ujar Wira mencoba menenangkan sepupu nya.


"Aku sangat khawatir, entah apa yang akan mereka lakukan, aku juga takut terlambat, bisa saja gadis itu berbuat nekad," Tate terus me*remas jari jarinya, menekan rasa khawatirnya. Entah kemana sudah pikirannya melayang, Tate sudah membayangkan bagaimana yang tidak tidak terjadi pada Dini. "Nomornya tak dapat di hubungi sejak kemarin, aku sangat khawatir."


"Kenapa?" Wira memandang lekat sepupunya itu.


"Iya aku khawatir, sejujurnya aku juga merasa bersalah, aku membentaknya di telfon karena ia bilang akan menerima saja perjodohan tersebut, namun tiba tiba telfonnya terputus, dan aku tak dapat menghubunginya," ujar Tate membuat Wira mengangguk mengerti.


Wira sadar akan kekhawatiran dari Tate, Wira kini ikut khawatir dengan keadaan gadis tersebut, entah bagaimana keadaannya saat ini. Pikiran Wira juga ikut berkelana, dengan pemandangan yang mengerikan.


"Aku khawatir dia setres dan tertekan hingga bunuh diri," ujar Wira tiba tiba membuat Tate menandang ke arahnya. "Tidak itu hanya pemikiran ku, semoga saja salah," ujar Wira kembali. "Ah sebentar lagi landing, ayo." Tate memilih diam, sesungguhnya dirinya juga takut hal itu terjadi.