Travelove

Travelove
Keluarga kamu sangat menyayangi



Seluruh keluarga berkumpul, di rumah sakit setelah mengetahui Dini telah sadar, mereka terlihat begitu bersuka cita terhadap berita tersebut.


Tak tertinggal para pasangan tak sadar usia, Juwita yang tengah duduk di samping Brayen, Bilqis yang berada di tengah tengah Brayen dan Ahmed. Di susul pasangan sableng, Chandra dan Aliya. Kemudian baru lah pasangan couple goal Daniel dan angel. Sementara pasangan junior tampaknya belum bisa datang, karena harus mewakili perusahaan untuk melakukan kerja sama.


Tak terlupakan keluarga Dini yang berasal dari Sulawesi. Mereka saat ini sedang berada di sofa panjang, yang ada di dalam kamar rawat inap VVIP tersebut. Sementara itu yang saat ini tengah berada di banker hanyalah Tate dan tante Dini yang bernama Seba tengah menyuapi Dini.


"Alhamdulillah calon kakak ipar sadar, jadi nih aku sama Iqis nikah," ujar Ahmed bersemangat, hal itu terdengar oleh Tate, sungguh Tate sebenarnya ingin tertawa namun ia tahan, alhasil Tate hanya menyunggingkan senyum dan menggeleng sembari memegangi air untuk Dini.


Namun lain halnya dengan Chandra, ayah dua anak tersebut meras malu dengan kelakuan dan ucapan anaknya sendiri. Padahal ia sendiri sebenarnya orang yang terkadang tak tahu malu juga, eh ups...


"Belum sembuh Med'i, aku nikahi sama Nola mau?" Chandra yang geram memberikan penawaran yang sungguh tidak ada menariknya sama sekali di mata Ahmed.


"Ah, ga ada apa apa nya dari Iqis," Ahmed seketika sewot sendiri di buatnya. "Ibaratny ni pah... papa itu kayak ngasi kuis di acara super seratus kemarin pilihan kantong sebelah kanan dan tirai satu sangat jauh berbeda. Tirai satu berisi mobil yang pernah di pakai di film fast and furious sementara yang di kantung sebelah kanan hanya suara mama lagi nyanyi selamat ulang tahun."


Jelas hal itu membuat Aliya sangat kesal,secara tidak langsung anak sulungnya mengatai suaranya yang menurutnya merdu merdu saja, terlebih jika itu ia bernyanyi di kamar mandi sembari di temani guyuran pancuran shower, dengan lagu sekali seumur hidup.


"Maksud mu apa? Kau tak pernah mendengar mama nyanyi kan?" Aliya jelas protes, karena menurut pancaran pendengaran dari telinganya suaranya sangat estetik.


"Lah, orang nyanyi fals aja lebih baik dari mama, nyanyi selamat ulang tahun aja kayak bebek kejepit sendal jepit Luu Chinta Lanang," ujar Ahmed mendramatisir keadaan.


"Jangan lancang kulit kamu ya, mama kutuk kamu setiap air mata kamu jadi berlian mau?" Aliya jelas tak ingin rugi, bahkan mengutuk pun harus ada keuntungannya.


"Itu mama yang untung... udah ah yang paling penting antara si Nola dan Iqia itu jauuuh..." Ahmed mengembalikan pembicaraan yang pasti akan kemana mana tersebut.


"Ya iya lah, gila kali," ujar Bilqis yang tak terima di sandingan namnya dengan seseorang yang bernama Nola tersebut.


"Tu kan Iqis aqoh cembulu, ullu cute dehch..." Ahmed menggoda Bilqis sembari menjawil jawil lengannya.


"Kak bisa minggir ga kak," akhirnya Bilqis mencoba mendorong tangan Ahmed yang terus menjawil lengannya.


"Ih ayang jangan malah malah, nanti akuh kehabisan semangat hidup," Ahmed mencoba memasang tampang yang amat menyedihkan di hadapan Bilqis "Aku hidup untuk mu loh."


"Apa sih kak," Bilqis semakin geli saja melihat laki laki yang di gadang kan akan menjadi calon suaminya kelak.


"Kamu jahat ya... berarti selama ini kamu ga sayang ya dengan aku, kamu bohong kalau ga bisa hidup tanpa ku?" Ahmed semakin menggoda Bilqis dengan cara mendramatisir keadaan, Ahmed berencana menyiapkan gombalan maut agar Bilqis bersemu.


"Kak, just for you information. Aku hidup dengan oksigen, menghirup udara segar..." jawaban Bilqis membuat otak Ahmed yang penuh gombalan seketika buyar.


"Tu kan karena papa sih..." Ahmed mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba buntu karena jawaban Bilqis tak sesuai ekspektasi.


"Med'i saya tidak suka anak saya kamu bandingkan dengan ban*ci di depan rumah kamu," ujar Brayen akhirnya melirik ke arah Ahmed yang terus berusaha menggoda anak gadis satu satunya.


"Med'i papa perban mulut kamu lama lama ya? Anak cowok kok cerewet minta ampun," Chandra yang tak terim si salahkan anaknya tentu saja segera membantah, namun ucapan selanjutnya kembali menimbulkan perdebatan. "Makanya jangan terlalu ikut mama mulutnya."


"What? Bilang sekali lagi? Ikut mama? Oh... Do it again..." Aliya dengan heboh segera memandang ke arah Chandra, ia fikir itu adalah anak mereka, hasil eksperimen mereka berdua. Kenapa hanya dia yang di salah kan? Padahal menurut Aliya Chandra jauh berkali lipat cerewet dari pada dirinya.


Huh, memang dasar pasangan sableng yang tak pernah menyadari bahwa dirinya yang sableng.


"Ha, perang lah nih, jatah hilang malam ini. Minggu ini terjadi pengurangan," gumam Ahmed cekikikan.


"Med'i... Tidak sayang. Tadi itu karna papa salah ucap aja, soalnya dia cerewet sekali di dari tadi," Chandra yang takut jatah ritual sebelum boboknya terganggu jelas segera meminta maaf.


"Gi*la lo curut ya," Aliya masih terlihat sedikit kesal kepada Chandra. Kan sudah di katakn mereka itu pasangan sableng.


"Hust tunjukkan keharmonisan kita sebagai senior yang lebih tua dan cepat menikah di hadapan kedua besan kita yang notabennya masih junior kita," bisik Chandra mencari cara agar istrinya tidak marah kepadanya.


"Lo kira nikah semacam universitas apa?" Aliya tetap tak setuju dengan pendapat Chandra.


"Semacam macam itu lah," Chandra kembali mencoba membujuk Aliya. "Ayo kita harus lebih kalem dari Juwita dan Brayen."


"Hem benar juga," ujar Aliya segera memperbaiki duduknya, Chandra membawa kepala Aliya bersender di bahunya, kembali menunjukkan kemesraan seolah mereka tak memiliki masalah apa apa barusan.


"Juwita masih menerima pasien?" Daniel yang sedikit muak, lebih banyak jijiknya melihat kelakuan dari Chandra dan Aliya akhirnya membuka suara.


"Ha... kalau hanya konsultasi biasa bisa, tapi biasanya keluarga saja. Kan aku sudah pensiun," Juwita yang belum mengerti pembahasan Daniel seperti apa, segera menjelaskan statusnya saat ini.


"Saya ingin menyarankan salah satu keluarga saya," ujar Danie masih dalam keadaan mode serius.


"Ha siapa sunit?" Angel bahkan memandang suaminya dengan sangat seksama.


"Iya siapa? Kok aku ga tau?" Chandra kini tampak benar benar penasaran, lumayan gosip baru pikirnya, untuk di jadikan bahan pembicaraan menjelang tidur bersama istri.


"Kalian berdua, suami istri yang tidak waras," ujar Chandra membuat orang orang tertawa tanpa bisa mengecilkan volume nya. Bahkan yang paling menyebalkan suara Ahmed lah yang paling besar.


"Wah gawat ini ngajak gelut," Chandra terlihat sedikit kesal dengan pernyataan sepupunya, dan tawa besar dari anaknya. yang jelas terdengar sangat jelas di kuping Kananya. "Tapi bisa request tidak? Bisa yang satu ini di suntik rabies tidak? Biar mulutnya tidak banyak bicara," Chandra yang tahu akan sangat sulit berdebat dengan sepupunya segera menyerang Ahmed yang notabennya hanya tertawa menertawai papanya.


"Papa..." Ahmed protes kesal ke arah Chandra, semkin membuat teling Chandra sakit.


Dini sedikit tersenyum melihat pertengkaran aneh para penjenguknya.


"Keluarga kamu saling menyayangi semua ya."